Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PENCARI MASALAH


Setelah menempuh perjalanan lumayan lama, akhirnya keluarga Daniel sudah sampai di sebuah kota yang dimana ada festival seperti apa yang di katakan oleh wulan. Damin tiba-tiba meminta di gendong oleh sang Nenek dan dengan senang hati Rani menggendong cucu tampannya itu.


Leny langsung menggandeng lengan sang suami menuju ke tempat Festival itu. mereka berdua seperti sepasangan kekasih yang sangat mesra layaknya baru saja melaksanakan pernikahan padahal hubungan pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari 2 tahun. Akan tetapi kemesraan mereka semakin hari semakin kuat dan orang-orang yang melihatnya merasa ikut bahagia.


"Jadi ini maksud kamu ya sayang?. Ingin Nenek menggendong kamu supaya bisa memberikan waktu untuk Ayah dan Bunda kamu berpacaran?" tanya Ibu Rani gemas dan menciumi cucunya yang ada pada gendongannya.


"Apa Damin ingin punya Adik?" sambung Ayah Leo bertanya.


"Ayah ih..." sela Leny merasa malu sedangkan Daniel hanya tertawa melihat sang istri yang sedang tersipu malu.


"Memangnya kenapa kalau Damin punya Adik Honey?" tanya Daniel menggoda sang istri.


"Damin masih kecil Ayah, belum juga genap 1 tahun. Masa mau di kasih Adik lagi. Nanti dong tunggu Damin umur 2 atau 3 tahun baru kita pikirkan" jawab Leny.


"Jika Ayah dan Ibu ingin nambah cucu, kan bisa minta dari Dion" timpal Leny tersenyum.


Ayu yang tengah meneguk air mineral, sontak langsung tersedak karena mendengar perkataan dari Leny barusan. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah dan ia juga langsung salah tingkah.


"A..apa yang kamu ka..katakan Kakak ipar?" tanya Ayu gugup dan tersipu malu.


"Damin juga ingin mempunyai Adik dari kalian" jawab Leny semakin menggoda Ayu dan membuat Ayu semakin salah tingkah.


"Sabar dong Kakak ipar, kami juga sedang berusaha agar Damin bisa segera mempunyai Adik" sambung Dion menjawab.


"Makanya sering-sering berperang ranjang, supaya semakin banyak kesempatan untuk segera mengandung" ucap Daniel sedangkan Ayu hanya memeluk lengan Dion karena begitu malu di godain terus.


Rani merasa tak tega melihat menantunya yang terus di godain langsung melerai dan membela Ayu.


"Udah dong jangan di godain terus. Yang penting mereka berdua kan sudah berusaha. Mungkin Tuhan masih belum memberi rezeki untuk Ayu mengandung. Kita harus berdoa agar Ayu dan Dion bisa segera di berikan keturunan" ucap Ibu Rani menasehati.


"Aamiin" jawab mereka semua.


"Sudah ya sayang, mereka sudah Ibu marahi kok" timpal Ibu Rani menenangkan Ayu yang masih tersipu malu.


"Ayu, saran Ayah. Sebaiknya kamu jangan terlalu lelah bekerja, jangan selalu lembur agar tubuh kamu bisa fresh dan kamu Dion. Lebih sering berolahraga jangan bermalas-malasan. Lihat Kakak kamu itu, tubuhnya lebih bagus daripada kamu yang hampir membuncit" ucap Ayah Leo menasehati.


"Bagaimana tidak buncit, kan yang ada di pikirannya hanya makan saja" sambung Daniel mengejek.


"Ya wajar dong, namanya juga lapar" jawab Dion mengejek balik.


"Kalau makan itu baca doa, supaya makanan yang masuk ke dalam lambung kamu itu tidak di ambil alih oleh setan" ucap Daniel mengejek lagi.


"Mungkin aku lupa hehehe" jawab Dion terkekeh sedangkan mereka hanya menggeleng saja.


Ketika mereka semua sedang asyik berjalan menuju ke tempat Festival itu, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang melaju lumayan kencang melintas ke arah mereka. Wulan yang menyadari kalau sepeda motor itu ingin melukai orang yang berada di depannya refleks langsung berteriak agar mereka bisa menghindar.


"Kak awas!" teriak Wulan yang melihat sepeda motor itu semakin mendekati Daniel dan Leny yang sedang bergandengan.


Benar saja, motor yang melaju kencang itu melintas menuju ke arah Leny. Daniel langsung memeluk Leny kemudian ia melompat ke arah kiri dan mereka berdua terjatuh ke tanah dengan posisi Daniel yang terus memeluk sang istri agar ia tidak terluka sedikitpun.


Ibu Rani serta yang lainnya langsung menghampiri Daniel dan Leny yang masih berada di tanah. Mereka semua sangat mengkhawatirkan keadaan Leny karena mereka yakin kalau Leny pasti akan mengalami syok.


"Bunda tidak apa-apa kan?" tanya Daniel khawatir sambil mengecek tubuh Leny memastikan kalau sang istri baik-baik saja. Sedangkan Leny hanya menggeleng dengan wajah yang pucat karena syok.


Orang yang mengendarai motor itu berhenti lalu menoleh ke arah Daniel dan Daniel juga menatap ke arah pria itu dengan tatapan penuh amarah. Perlahan aura pembunuhnya muncul, rahangnya mengeras dan ia juga sampai mengeluarkan suara seperti seekor singa yang tengah menatap mangsanya.


Melihat wajah Daniel yang menyeramkan, sontak membuat pengendara motor itu langsung melajukan motornya dengan sangat kencang. Meskipun orang itu menggunakan sebuah helm, namun mereka begitu yakin kalau pengendara motor itu sangat ketakutan melihat dan merasakan aura Daniel yang begitu besar.


"JANGAN LARI KAU BINATANG!" teriak Daniel penuh emosi dan langsung mengejar pengendara motor itu yang melaju ke arah orang ramai.


Leny hanya terdiam dan membiarkan suaminya mengejar pengendara motor yang hampir melukai dirinya. Jantungnya berdetak kencang dengan tubuh yang masih bergetar karena masih mengalami syok.


Ibu Rani langsung menenangkan menantunya yang masih mengalami syok berat akibat kejadian barusan. Wulan begitu emosi melihat sang Kakak yang mengalami ketakutan seperti itu. Ia berteriak dan berniat ingin membantu Daniel mengejar pengendara motor itu namun Kevin langsung menahan tangannya. Saat Wulan menatap wajah Kevin, ia melihat kalau wajah capung kesayangan itu menggambarkan emosi yang sangat menyeramkan dan Wulan hanya bisa menelan ludahnya.


"Kamu disini saja dan jaga Kak Leny. Biar aku dan Kak Daniel saja yang mengejar bajingan itu" ucap Kevin dengan nada dingin namun penuh tekanan. Wulan hanya mengangguk pelan menuruti perkataan Kevin.


Perlahan Kevin melepaskan genggaman tangannya pada lengan Wulan kemudian ia langsung berlari menyusul sang Kakak yang sudah mengejar pengendara motor itu.


Karena jalanan cukup ramai, jadi Daniel menggunakan teknik parkour untuk mengejar pengendara motor itu yang tengah kesusahan melewati orang-orang ramai.


Orang-orang yang tengah menikmati festival itu hanya berlarian ketakutan karena pengendara motor itu melewati mereka dengan panik karena Daniel terus mengejarnya.


Setelah pengendara motor itu berhasil melewati orang ramai, wajahnya langsung tersenyum senang karena merasa bisa lolos dari pengerjaan Daniel. Akan tetapi ketika ia ingin melajukan motornya dengan kencang, tiba-tiba Daniel langsung melompat ke arahnya hingga ia terjatuh dan mereka berdua berguling ke aspal.


Dengan geram dan penuh emosi Daniel langsung menindih pengendara motor itu. Ia meremas jaket pengendara motor itu yang merupakan seorang laki-laki.


"SIAPA KAU!. APA MAKSUDMU MELAKUKAN ITU HAH!" teriak Daniel sambil terus menarik-narik jaket pria misterius yang berada di bawahnya. Pria tersebut hanya diam saja dan membuat Daniel semakin emosi.


"SIAPA YANG MENYURUHMU!" tanya Daniel lagi membentak. Namun pria itu masih tutup mulut dan tersenyum mengejek di balik helm yang menutupi wajahnya.


"Itu bukan urusanmu!" jawab pria itu meremehkan Daniel karena ia menggunakan alat yang aman dari luka.


Daniel tersenyum psikopat lalu berkata "Berani sekali kau meremehkan ku!".


Daniel mengepalkan tinjunya, akan tetapi pria itu semakin menantang Daniel karena ia merasa yakin kalau Daniel tidak berani memukul helmnya yang melindungi kepala.


Akan tetapi Daniel yang di selimuti emosi yang sudah sampai di ubun-ubun karena pria itu sudah berani ingin membuat istrinya hampir terluka. Ia langsung memukul helm yang pria gunakan itu dengan penuh amarah sampai benda keras itu pecah terbelah dua. Akibat benturan keras antara helm yang pria itu gunakan, pria itu langsung tak sadarkan diri karena kepala yang terasa begitu sakit.


"BANGUN KAU BAJINGAN!" teriak Daniel sambil terus memukul wajah pria itu dengan sangat keras.


Daniel terus memukuli wajah pria yang sudah pingsan itu hingga wajahnya babak belur dan darahnya juga sudah melukis di wajahnya namun Daniel masih terus memukuli wajahnya meski pria itu sudah pingsan tak berdaya.


"BANGUN KAU B4N6S4T!" teriak Daniel dan ingin memukul wajah pria itu dengan seluruh tenaganya namun tiba-tiba tangan Kevin langsung menangkap tangan Daniel meskipun ia hampir terhempas karena tenaga Daniel memang jauh di atasnya.


"Sudah Kak, jangan terus di hajar. Jika pukulan ini tidak aku tahan, mungkin orang itu sudah mati. Aku saja hampir terhempas menahan tenaga milikmu" ucap Kevin menasehati.


"TAPI SAMPAH INI SUDAH MEMBUAT ISTRIKU HAMPIR TERLUKA!" jawab Daniel penuh emosi.


"Iya Kak, aku tau. Aku juga marah karena dia mencoba melukai Kakak ipar ku. Tapi kita harus membiarkan dia hidup dan kita harus mendapatkan informasi darinya" jawab Kevin mencoba menenangkan amarah sang Kakak.


Mendengar ucapan Kevin tadi, perlahan membuat amarah Daniel mulai mereda. Tangan Kevin yang memegangi pergelangannya juga di lepas olehnya karena sang Kakak juga sudah mulai mengendalikan emosi dalam dirinya.


Daniel menyentuh pundak Daniel dan mengajak Kakaknya untuk kembali ke keluarganya yang menunggu mereka kembali. Daniel setuju dan menyuruh Kevin membawa pria yang sudah tak sadarkan diri. Kemudian Kevin ingin mengangkat pria itu agar ia gendong di atas pundaknya, akan tetapi Daniel menyuruh untuk menyeretnya saja karena ia masih begitu emosi dengan pria itu.


"Untuk apa repot-repot kau menggendongnya?!. Seret saja dia, tarik kakinya dan biarkan kepalanya menyeret di jalan!" ucap Daniel memerintah dan Kevin harus terpaksa menuruti perintah dari sang Kakak, kemudian mereka berdua kembali menuju ke tempat di mana keluarganya menunggu dengan Kevin yang menyeret kaki pria yang pingsan itu sesuai perintah dari Daniel.