
Daniel beserta keluarganya begitu sangat menikmati suasana festival yang sedang mereka rayakan bersama. Leny juga sudah terlihat lebih tenang dan ia sudah melupakan masalah yang hampir membuat tubuh indahnya itu terluka.
Akan tetapi Daniel masih begitu geram dengan pria pengendara motor yang hampir saja membuat wanita yang sangat ia cintai terluka. Di saat keluarganya berbahagia, ia malah lebih banyak diam dan pikiran masih tidak bisa terlepas dari wajah sang istri yang begitu syok.
Batinnya terus berfikir motif si pengendara motor yang dengan bodohnya mencari masalah dengannya. Ia tau kalau kecelakaan yang hampir menimpa istrinya itu pasti dari musuhnya yang selama ini mengincar dirinya.
"Memang bahaya jika aku terus berada di negara ini. Banyak musuh yang mengincar, apa lagi ada istri dan putraku di sini. Akan sangat mudah bagi mereka untuk membuatku merasa lemah" batin Daniel melamun.
"Aku harus meminta bantuan pada para teman-teman Dark Shadow untuk mengawal keluargaku, terutama istri dan putraku yang sama sekali tidak bisa bela diri. Setelah melakukan eksekusi, aku akan mengadakan rapat. Aku juga akan meminta Fauzi dan Kak Rian untuk kembali ke sini. Aku yakin akan terjadi perang besar antara Dark Shadow dengan kelompok misterius yang menyewa sampah itu" timpalnya masih terus termenung.
Leny yang tengah asik menikmati takoyaki pesanan, menyadari kalau suami tampannya sedari tadi terus termenung seakan banyak pikiran. Ia sadar kalau ia cuma menjadi beban untuk Daniel. Apalagi dia tau kalau suaminya itu adalah pemimpin Assassin yang begitu di takuti. Pasti banyak orang yang ingin merebut posisi sang suami.
"Suamiku...Suamiku.. hey suamiku!!" panggil Leny terhadap sang suami yang sedari tadi hanya termenung.
"Eh, iya Honey ada apa?" tanya Daniel menoleh ke arah sang istri.
"Pasti Ayah sedang memikirkan kejadian yang tadi kan?" tanya Leny menebak.
"Maafin Bunda ya, Bunda hanya menjadi beban buat Ayah dan yang lainnya" timpal Leny cemberut namun di wajahnya ada bumbu takoyaki yang ia makan dan membuat wajahnya menjadi imut.
Daniel tersenyum sambil membersihkan sisa bumbu yang menempel pada wajah sang istri menggunakan tisu yang ada di dalam tas Leny sembari menjawab "Apa yang Bunda katakan?.
"Seharusnya Ayahlah yang meminta maaf kepada Bunda. Gara-gara Ayah membawa Bunda ke negara ini, Bunda hampir terluka sampai mengalami syok berat seperti tadi. Di negara ini Dark Shadow yang memegangnya, banyak musuh yang mencoba mengambil posisi Ayah, sudah banyak kelompok yang sudah Ayah musnahkan. Bahkan sampai saat ini banyak kelompok-kelompok baru yang ingin mencoba mengincarnya" timpal Daniel menjelaskan sambil mengelus pipi Leny dan Leny hanya bisa tersenyum mendapatkan perlakuan romantis dari sang suami.
"Kenapa sih banyak kelompok yang ingin mengincar Dark Shadow terutama Ayah yang sebagai pemimpinnya?" tanya Leny penasaran.
"Kan lebih baik Dark Shadow dan kelompok yang lainnya bekerja sama untuk membantu keamanan di seluruh negera. Ini malah saling merebut kekuasaan" timpalnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami.
"Dark Shadow memang menjadi sasaran utama untuk kelompok yang lainnya. Karena Dark Shadow lah yang mengatur semuanya, jika salah satu dari mereka bisa menumbangkan atau sampai mampu memuaskan Dark Shadow maka mereka akan menjadi pemimpin yang baru dalam dunia assassin. Ayah yakin mereka pasti akan menggunakan kekuasaan untuk menekan orang-orang yang di bawah" sambung sang mertua yaitu Leo yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Maka dari itu suami kamu menjadi target utama kelompok-kelompok yang lainnya sayang. Karena hanya Dark Shadow yang bekerja untuk melindungi orang-orang lemah dan membantu seluruh negara terutama negara Asia ini" timpal Ibu Rani tersenyum sambil membelai kepala menantunya.
"Kamu jangan mengatakan kalau kamu itu beban kami lagi ya nak. Ayah, Ibu, suami kamu, serta yang lainnya pasti akan melindungi kalian. Tidak akan Ayah biarkan hal serupa terjadi lagi seperti yang di alami mertua kamu dulu" ucap Leo mengeratkan giginya karena geram ada yang berani mencoba untuk melukai menantunya.
"Terima kasih ya Ayah, Ibu. Kalian sangat menyayangi Leny, Windy, Riski, serta orang-orang terdekatnya Leny. Meskipun tidak ada ikatan darah, tapi kalian sudah menganggap kami seperti keluarga" ucap Leny tersenyum bahagia.
"Apa yang kamu katakan sayang?. Kalian semua itu memang keluarga kami, kami sangat senang karena Daniel mempunyai keluarga seperti kalian, apalagi keluarganya Riski yang mau menerima Daniel sejak kecil" jawab Ibu Rani tersenyum dan langsung memeluk Leny.
"Yasudah, lebih baik kita nikmati saja festival ini. Masalah yang tadi, kita pikirkan nanti saja" ucap Ayah Leo tersenyum menepuk pundak Daniel.
"Iya Ayah" jawab Daniel tersenyum.
"Yayah" panggil Damin tersenyum sambil terus menggenggam gula kapas tersebut.
"Ya ampun cucu Nenek bawa apa itu sayang?" tanya Ibu Rani tersenyum gemas melihat sang cucu yang terus memeluk jajanannya.
"Ketika kami sedang jalan-jalan, tiba-tiba tangan Damin menarik jajanan ini. Yaudah kami belikan saja untuknya" jawab Ayu tersenyum gemas melihat wajah Damin yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.
"Memangnya kamu bisa memakannya sayang?" tanya Ibu Rani mengelus kepala Damin yang sibuk dengan jajan yang berada di tangan mungilnya.
"Paling Bundanya yang akan menghabisinya" sambung Daniel menjawab sambil terkekeh dan mereka semua ikut tertawa mendengar celotehan dari Daniel barusan.
"Iiih Ayah sok tau" jawab Leny geram sambil mencubit pinggang Daniel dan lagi-lagi mereka hanya bisa tertawa melihat tingkah laku suami istri yang selalu romantis itu.
Tak lama kemudian Wulan datang bersama Kevin yang tengah membawa sebuah boneka beruang yang berukan begitu besar. kemudian mereka berdua menghampiri yang lainnya.
"Besar sekali boneka yang kamu bawa Kevin?" tanya Leny terkejut.
"Kamu habis maling dari mana?" tanya Dion mengejek.
"Enak aja maling. Ini hasil usahaku memenangkan permainan menembak tau Kak" jawab Wulan merasa tak terima.
"Memang susah kalau penembak jitu ikut bermain permainan seperti itu" ucap Daniel sambil tertawa.
"Biarin welk" jawab wulan menjulurkan lidahnya.
"Oh iya. Boneka ini buat Kakakku yang sudah begitu baik dan sangat menyayangiku" timpal Wulan mengambil boneka beruang tersebut dari tangan Kevin dan ia serahkan pada Leny.
"Ha?, Kok buat Kakak sih dek?" tanya Leny kebingungan.
"Kan kamu sudah susah payah untuk memenangkan hadiah ini" timpalnya merasa tak enak.
"Aku memang bermain permainan itu demi Kakak, dan jika aku menang, hadiah ini memang aku berikan pada Kakak" jawab Wulan tersenyum.
"Lagipula itu permainan yang sangat mudah bagi Adikmu ini Kak. Jadi tolong di terima ya" timpalnya tersenyum sambil menyerahkan boneka yang berukuran besar itu kepada Leny.
"Kalau begitu terima kasih banyak sayang" jawab Leny dan langsung menarik wulan dalam pelukannya, kemudian tak lupa juga ia menciumi wajah sang Adik hingga membuat wulan kegelian. Sedangkan mereka yang melihatnya cuma tersenyum bahagia karena Leny dan Wulan yang begitu saling menyayangi satu sama lain meski bukan sekandung.
Mereka semua melanjutkan untuk menghabiskan waktu serta menikmati acara keluarga yang membuat Leny sangat bahagia. Daniel juga tak ingin mengingat masalah yang menimpa istrinya tadi. Ia tak mau membuat Leny merasa sedih dan merasa bersalah lagi karena selalu menyusahkan dirinya. Jadi ia memutuskan untuk ikut menikmati waktu liburannya bersama keluarga besarnya.