Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KEBAHAGIAAN MEREKA


Di sebuah rumah sakit yang di miliki oleh seorang pemuda tampan dan sangat sukses, terdapat seorang pria yang nampak gelisah. Pria itu terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin seakan menunggu sebuah kabar.


"Sayang, kamu jangan gelisah seperti itu dong, istri kamu pasti baik-baik saja kok" ucap sang mertua dari pria itu.


"Bagaimana aku tidak gelisah Ma, ini anak pertama kami. Aku mengkhawatirkan keadaan istri dan juga calon bayi kami" jawab pria itu dengan masih mondar-mandir.


"Kamu dan Papamu sama saja" ucap si Mama dari pria itu.


"Ya wajar dong Ma" sambung seorang pria paruh baya.


Di tengah-tengah suasana yang sedikit menegangkan, tiba-tiba datang sepasang suami istri yang langsung menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaan Windy dan bayinya?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka.


"Mereka masih di dalam, kemungkinan anak kami belum lahir" jawab Riski.


"Eh tunggu-tunggu. Kau kok ada disini?" tanya Riski yang langsung tersadar dengan kehadiran Daniel di dekatnya.


"Haha. Karena terlalu panik, kau sampai tidak menyadari kedatangan kami?" tanya Daniel balik sambil menepuk pundak Riski.


"Wah anak mama" ucap Mama siksa dan langsung memeluk Daniel.


"Mama kangen banget loh" timpalnya yang masih memeluk Daniel.


"Hehe. Daniel juga kangen banget sama Mama dan Papa" jawab Daniel.


"Oh iya, mana cucuku yang tampan itu?" tanya Mama Siska yang sudah melepas pelukannya pada Daniel.


"Damin langsung pulang ke rumah sama yang lainnya Ma. Dia kan masih bayi, gak boleh di bawa ke rumah sakit" jawab Leny menyambut.


"Yah, Mama kangen banget sama si kecil tampan itu" ucap Mama siksa dengan tampang wajah kecewa.


"Hehehe. Kalau Mama kangen, datang dong ke rumah, pasti Damin seneng" ucap Leny.


"Iya sayang, nanti Mama bakal datang" jawab Mama siksa.


"Bagaimana?, apa istrimu sudah melahirkan Riski?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah berada di tengah-tengah mereka dengan menggunakan pakaian dokter.


"Loh Ayu?, kamu kok ke sini?. Seharusnya kamu istirahat saja sayang" tanya Mama Siska.


"Ayu tidak bisa jika harus diam saja di saat keponakanku akan segera melahirkan Ma. Ayu harus turun tangan" jawab Ayu.


"Kamu kenapa berada di luar? seharusnya kamu berada di dalam dan menemani Windy bersalin" tanya Ayu.


"Aku juga tidak tau, dokter yang berada di dalam menyuruhku untuk menunggu di luar" jawab Riski.


"Owala memang g0bl0k mereka itu" ucap Ayu dan langsung menarik Riski ke dalam.


"Ayu marah?" tanya Mama Siska pada Leny, dan di jawab Leny dengan cengengesan.


Masuknya Ayu dan Riski secara tiba-tiba membuat dokter serta para suster yang mengurus persalinan Windy terkejut.


"Bu...buk kepala?" sapa dokter yang menangani Windy.


"Bagaimana proses persalinannya lancar?" tanya Ayu.


"Be..belum Buk kepala" jawab sang dokter dengan gugupnya.


"Su..sudah 10 jam, tapi si bayi belum keluar juga" timpalnya.


Ayu menggeleng sembari berkata "Dasar kalian ini!" Ayu berkata dengan nada yang sedikit kesal dan dokter serta suster yang berada di dalam ruangan tersebut hanya tertunduk takut.


"Biar aku yang menanganinya, kalian lihat dan pelajari" ucap Ayu yang langsung mengambil alih persalinan Windy.


"Ba..baik Buk kepala" jawab mereka ketakutan.


"Windy, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ayu.


"Hehe, sakit kak" jawab Windy cengengesan sambil menahan rasa sakitnya.


"Tahan ya, sekarang kan sudah ada suami kamu yang akan mendampingi kamu" ucap Ayu dan menyuruh Riski untuk berdiri di samping Windy untuk memberikan semangat.


"Windy, ikut aba-aba dariku ya" ucap Ayu yang memulai proses persalinannya Windy.


"Tarik nafas, lalu lepaskan" ucap Ayu dan di ikuti oleh Windy.


Ayu terus menerus melakukan hal itu, dan selang tak beberapa lama akhirnya seorang malaikat kecil mereka sudah lahir dengan selamat dan sehat.


Suara tangisan bayi itu terdengar di luar dan membuat keempat orang paruh baya itu sangat bahagia karena cucu pertama mereka akhirnya lahir di muka bumi.


Tangisan haru menghiasi mereka semua, dan Leny juga ikut menangis bahagia karena saat ini ia dan sahabatnya sudah sama-sama menjadi seorang ibu untuk anak mereka masing-masing.


"Selamat Windy sayang" lirih Leny dalam tangisnya. Daniel tersenyum dan langsung merangkul sang istri untuk menenangkan dirinya.


"Sekarang kau sudah resmi menjadi seorang Ayah, Riski" Ucap Daniel tersenyum sembari membelai punggung Leny yang masih menangis.


"Selamat ya, bayi kalian berjenis kelamin lelaki. Sepertinya Damin akan punya teman berkelahi nantinya" ucap Ayu terkekeh dan langsung membersihkan Bayi dari Riski dan juga Windy tersebut.


Setelah Bayi mereka sudah di bersihkan dan juga sudah di adzan kan oleh Riski, saat ini Bayi mungil itu sedang berada dalam pelukannya Windy untuk memberikannya asi pertamanya.


"Sayang, aku keluar sebentar ya. Aku harus memberi tau mereka" ucap Riski dengan lembut dan mencium kening Windy.


"Baik Papa, jangan lama-lama ya" jawab Windy tersenyum.


"Hehe Baik Mama" ucap Riski ikut tersenyum dan langsung keluar menuju orang-orang yang sudah menunggu kabar baik darinya.


Saat Riski baru keluar dari ruang bersalin, ia langsung di serang oleh kedua Nenek dari bayinya dan sampai membuat Riski sedikit kerepotan, akan tetapi menjadi sebuah lelucon untuk Daniel.


"Bagaimana Cucu Mama sayang?" tanya mertuanya Riski.


"Apa jenis kelamin Cucuku?" sambung Mama Siska.


"Iya sabar Ma, sabar. Satu-satu dong" jawab Riski agar kedua wanita paruh baya itu agak tenang.


"Cucu kalian sehat, dan dia berjenis kelamin laki-laki" jawab Riski menjelaskan pertanyaan mereka berdua.


"Alhamdulillah" ucap mereka bersamaan.


"Laki-laki ya. Hmm, mungkin nanti bakal ada teman berkelahinya Damin ni" ucap Daniel tersenyum penuh arti.


"Udah gila kau. Masa anakku mau kau suruh berkelahi sama anakmu" ucap Riski sedikit jengkel.


"Hahaha. Hanya untuk membentuk kejantanan mereka berdua" jawab Daniel menggoda.


"Jangan samakan anak kita berdua dengan kamu ya" ucap Riski sambil menoyor kening Daniel dengan telunjuknya.


"Hahaha. Selamat saudaraku, kau sudah resmi menjadi seorang Ayah" ucap Daniel sambil menepuk pundak Riski.


"Haha thanks brother" jawab Riski tersenyum.


Tiba-tiba penjaga keamanan rumah sakit milik Daniel datang terburu-buru dengan dengan nafas yang sudah hampir habis.


"Ada apa pak Haikal?" tanya Daniel penasaran.


"Di luar... hosh... hosh.." jawab Haikal sembari mencoba mengatur nafasnya.


"Katakan saja pelan-pelan pak, jangan panik" sambung Leny.


"Di.. di luar ada sekelompok orang yang tiba-tiba datang membuat keributan, dan mereka mencari pak bos sambil berteriak-teriak keluar kau Daniel, kami ingin membalas perbuatan dulu." ucap Haikal menjelaskan.


"Hah? balas dendam?" ucap Leny bertanya.


"Siapa mereka Ayah?" tanya Leny menatap Daniel.


"Ayah juga tidak tau Honey" jawab Daniel.


"Haaa!!!. Mengganggu saja!. Di saat seperti ini" ucap Leny sedikit kesal.


"Berapa jumlah mereka?" tanya Daniel.


"Sekitar 20 orang lebih pak bos. Kami sudah mencoba menahan mereka semua, tapi mereka mengancam, kalau pak bos tidak keluar untuk menemui mereka, maka tempat ini akan menjadi hancur katanya pak bos" jawab Haikal menjelaskan.


"Baiklah, akan segera ku bereskan nyamuk-nyamuk itu" ucap Daniel santai dan langsung pergi menuju ke luar.


"Tunggu sayang" ucap Mama Siska menarik tangan Daniel.


"sangat berbahaya di luar. Sebaiknya kita biarkan polisi saja yang menyelesaikan masalah ini" timpal Mama Siska yang sangat mengkhawatirkan Daniel.


Daniel tersenyum dan berkata "Ma, Mama jangan khawatir. semua akan Daniel bereskan tanpa meninggalkan luka padaku kok".


"Kalau menunggu polisi datang, pasti semua akan hancur terlebih dulu. Kebanyakan polisi di negara ini selalu datang terlambat" ucap Daniel menjelaskan.


"Apa Mama lupa siapa putramu ini?" tanya Daniel tersenyum.


"Ah, iya Mama terlupa masalah itu, hehe" jawab Mama Siska.


"Yaudah kalau begitu kamu hati-hati sayang. Mama mau kamu harus kembali ke tempat ini" timpal Mama Siska mengancam. Daniel tersenyum dan langsung pergi keluar dengan wajah yang tersenyum seperti iblis yang haus akan pertarungan.