Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
ADA PERLAWANAN?


Marcel berusaha untuk bangkit dari tempat ia terkapar, rasa sakit serta pusing yang ia alami, membuat dirinya merasa sangat berat untuk bisa berdiri.


Sedangkan Mario hanya terdiam dan masih enggan untuk berdiri.


Sementara itu, Daniel terus menghajar para bawahan dari orang-orang yang di pimpin oleh Marcel dan juga Mario.


Tak ada satupun orang yang mampu mengimbangi kecepatan yang di lakukan oleh Daniel, bahkan mereka sudah di kalahkan dengan sangat mudah, sebelum mereka dapat menangkis tebasan pedang milik Daniel yang secara tiba-tiba menyerang mereka.


Hampir seluruh anggota dari Harimau Berdarah tumbang di tangan Daniel seorang diri. Namun, ada satu orang pria misterius yang mengawasinya dari kejauhan. Pria itu seakan-akan membaca setiap gerakan-gerakan yang Daniel lakukan. Tanpa memalingkan pandangannya, ia hanya terfokus pada Daniel saja.


"Ayah, kenapa Kakak terlihat sangat marah?" tanya Dion khawatir.


"Mungkin dia ingin menebus kesalahan yang ia lakukan 8 tahun yang lalu saat perang besar melawan Harimau Berdarah" jawab Leo sambil menikmati permainan yang di lakukan oleh putranya.


Kemudian, kedua bola mata Dion mengarah ke tempat dimana Mario terkapar. Dengan tatapan penuh amarah, ia mengepalkan tangan seakan ada sebuah rasa dendam yang ingin ia lampiaskan pada pria paruh baya tersebut.


"Pria tua itu!" gumam Dion geram sambil mengepal tinjunya.


Hyuga merasa kesal karena Daniel tak menyisakan mainan untuknya. Dia terus memanggil Daniel, akan tetapi Daniel tak menggubrisnya, membuatnya semakin kesal melihatnya.


"Hoy! Kapten!, bagi-bagi dong" teriak Hyuga kesal. Namun Daniel malah semakin mengganas, seakan-akan mengejek Hyuga.


Sedangkan pria misterius yang sedari tadi memperhatikan pergerakannya Daniel hanya tersenyum aneh, sambil memegangi sebuah senjata yang ia ikat di punggungnya.


"Aku sudah membaca semua gerakanmu. Bersiap untuk mati" gumam pria misterius itu tersenyum sinis.


Dengan rasa percaya diri yang begitu tinggi, pria itu langsung bergerak dengan sangat cepat menuju ke arah Daniel, sambil menebaskan pedangnya ke arah punggung Daniel.


Suara benda tajam yang saling beradu terdengar sangat nyaring di telinga orang-orang yang berada di sana bercampur dengan raut wajah terkejut dari pria misterius itu.


"Ba...ba... bagaimana mungkin?" pria itu terkejut, karena Daniel bisa menangkis tebasan pedang milik pria itu, meskipun ia menyerang dari titik buta nya Daniel.


"Apa kau pikir, aku tidak tau tempat persembunyian mu itu?" tanya Daniel sambil menempelkan pedang miliknya di area punggungnya, dan tanpa melihat ke arah pria misterius tersebut.


Kemudian, Daniel melakukan sebuah teknik yaitu tendangan huruf T mengarah ke kepala pria itu. Namun dengan reflek cepat pria misterius itu langsung menundukkan kepalanya sembari menebaskan pedangnya ke arah Daniel. Sama seperti apa yang di lakukan oleh pria misterius itu, dengan reflek cepat Daniel melakukan sebuah teknik lompatan harimau ke arah depan.


Belum sempat Daniel berbalik badan, pria misterius itu langsung berlari ke arah Daniel sambil bersiap-siap untuk mengayunkan pedangnya ke arah Daniel.


Namun Daniel masih menghadapi situasi itu dengan sangat santai. Daniel melakukan gerakan salto ke arah depan, lalu berbalik badan kemudian ia melakukan gerakan salto beberapa putaran ke arah belakang, untuk menghindari tebasan-tebasan yang di lakukan pria tersebut.


Setelah di rasa cukup jauh dari jangkauan pria misterius tersebut, Daniel menghentikan gerakan saltonya, dan pria tersebut juga merasa kelelahan karena tebasan pedang yang ia lakukan hanya sia-sia karena ia hanya menebas udara saja.


"Menarik, ada sedikit perlawanan" ucap Daniel tersenyum sinis memuji gerakan dari pria yang mencoba menyerangnya tadi.


"Cih" jawab pria itu kesal.


Marcel masih berusaha untuk bangkit meskipun dengan susah payah. Dengan mengeluarkan semua sisa tenaga yang ia miliki, akhirnya ia bisa berdiri meskipun masih dalam keadaan terhiung-hiung.


"Ka...kau harus bi...bisa membunuh pria itu Jerammy!" ucap Marcel terbata-bata sambil memegangi dadanya dan dengan raut wajah yang masih menahan kesakitan.


"Tanpa anda perintahkan pun, saya pasti akan membawa kepala pria sombong itu kehadapan anda tuan" jawab pria misterius itu yang bernama Jerammy.


Setelah beristirahat sejenak, Jerammy melaju dengan cepat sambil menebaskan pedangnya ke arah Daniel, namun Daniel bisa membaca serangan dari pria yang bernama Jerammy itu dengan sangat mudah, dan berhasil menghindar dari serangan barusan.


Daniel hanya tersenyum sinis melihat wajah Jerammy, sedangkan Jerammy berdecak kesal sambil melakukan serangan berikutnya. Kemudian terjadilah pertunjukan yang sangat menarik di antara mereka berdua.


"Jerammy adalah salah satu petarung hebat yang di miliki oleh Harimau Berdarah, pedang adalah senjata yang sudah menyatu dengan jiwanya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengimbangi keterampilan pedang yang ia miliki. Aku yakin dia bisa mengalahkan pemimpin Dark Shadow yang sangat sombong itu" batin Marcel tersenyum sinis sambil melihat Daniel dan Jerammy yang tengah bertarung.


Dengan percaya diri Marcel merasa yakin kalau salah satu bawahannya bisa mengalahkan Daniel, karena yang ia lihat Daniel kewalahan menghadapi keterampilan pedang yang di lakukan oleh Jerammy terhadap Daniel. Jadi dengan yakin kalau Harimau Berdarah akan memenangkan peperangan kali ini.


"Akhirnya Dark Shadow akan musnah, dan Harimau Berdarah akan berada di puncak untuk menggantikan posisi yang selama ini di pegang oleh Dark Shadow, hahahaha" tawa Marcel percaya diri.


Dion yang melihat keadaan sang Kakak yang terpojok merasa khawatir. Ia berniat untuk membantu sang Kakak yang nampak kewalahan menghadapi pria yang bernama Jerammy itu.


Namun, saat Dion ingin maju, tiba-tiba tangan Hyuga menyentuh pundaknya seakan menahan langkah Dion. Hal yang di lakukan oleh Hyuga membuat Dion sedikit kesal dan bertanya-tanya pada Hyuga yang menghentikannya.


"Kenapa aku menghentikan ku?!" tanya Dion kesal.


"Apa kalian tidak mengkhawatirkannya?" timpalnya.


"Tenanglah Kak. Apa yang Kakak pikirkan, tidak akan pernah terjadi padanya" sela Kevin menjawab.


"Apa yang kau katakan?. Bukankah sudah terlihat jelas kalau Kak Daniel sedang terpojok?!" tanya Dion kesal sambil menarik kerah baju Kevin.


"Coba anda lihat raut wajah yang tergambar di bibirnya, apa menurut anda kapten sedang terlihat kewalahan ataupun terpojok?" tanya Hyuga sambil mencoba untuk menenangkan Dion yang sudah di selimuti dengan rasa amarah.


Mendengar perkataan dari Hyuga, sontak membuat Dion memperhatikan raut wajah sang Kakak yang seakan menikmati permainan tersebut.


"Dia, tersenyum?" tanya Dion sedikit bingung.


"Ya, begitulah kapten kami. Semakin kuat musuh yang ia hadapi, maka semakin kuat rasa semangat yang keluar dari dalam dirinya" jawab Hyuga tersenyum sembari melepaskan genggamannya pada pundak Dion.