
Sarah dan keponakan tersenyum penuh kemenangan melihat kedatangan pria itu. Mereka berdua sudah merasa sudah berada di atas langit. Sedangkan Leny hanya tersenyum sinis menatap mereka berdua dan tidak ada rasa takut sama sekali.
"Sekarang kau akan segera menyesal anak baru" ejek Keponakannya Sarah.
"Benarkah?" tanya Leny menantang sambil bersilang dada.
Pria yang di banggakan oleh Sarah dan keponakannya itu mendekati Leny, lalu secara tiba-tiba ia langsung membungkukkan tubuhnya seakan memberi hormat pada Leny. Melihat kejadian itu, membuat mereka semua terkejut. Bahkan membuat Sarah dan keponakannya tercengang membuka mulutnya lebar-lebar.
"Maafkan saya nona muda atas keterlambatan saya ke sini" ucap pria itu yang tidak lain adalah Iyan yang merupakan asisten dari Direktur utama atau Daniel.
"Tidak apa-apa Iyan. Kamu datang tepat waktu kok" jawab Leny tersenyum.
"Apa ada kekerasan fisik yang anda alami nona muda?" tanya Iyan khawatir karena takut Leny sampai terluka.
"Kamu tenang saja Iyan. Tidak ada yang berani melakukan itu padaku" jawab Leny menatap ke arah Sarah dan keponakannya yang hanya bisa terdiam sambil menunduk saja.
"Si..siapa kamu sebenarnya?" tanya Sarah gugup.
Pada saat Iyan ingin memperkenalkan Leny, namun tiba-tiba Leny mengangkat tangannya dan Iyan langsung tidak berani berucap lagi.
"Aku hanya seorang karyawan biasa di tempat ini" jawab Leny santai.
"Aku tidak percaya" bantah keponakannya Sarah.
"Kalau kamu hanya seorang karyawan biasa, kenapa pak sekertaris Direktur sangat patuh dan menghormati kamu?!" tanya Sarah semakin bingung.
Lalu Leny mengeluarkan ponselnya dan ia menghubungi seorang untuk segera datang ke kantor dan biarkan orang yang ia hubungi yang akan menjawab semua pertanyaan mereka.
"Cepat datang kesini, jangan buat aku menunggu" ucap Leny menelepon seseorang dan langsung menutup ponselnya lagi.
"Jika aku yang menjawab, aku takut akan mengecewakan anda NYONYA SARAH!" timpal Leny menekan kata tersebut.
Tak lama kemudian orang yang di telepon oleh Leny datang dan membuat mereka semakin tercengang. Hingga sampai membuat Sarah serta keponakannya semakin ketakutan.
Orang itu tidak lain adalah Daniel yang merupakan Direktur utama dari Wijaya Syahputra dan juga merupakan suami dari Leny.
"Ada apa Honey?, kenapa buru-buru memanggil Ayah?" tanya Daniel sambil membelai rambut Leny.
Mereka semua semakin terkejut mendengar perkataan Daniel barusan. Sarah semakin tak percaya mendengar Daniel memanggil Leny dengan sebutan Honey.
"Ada apa ini?, kenapa tuan muda memanggil anak baru itu dengan sebutan Honey? " batin Sarah bertanya-tanya.
"Apakah Ayah mau menikahi wanita tua itu?" tanya Leny menunjuk ke arah Sarah dan membuat yang di tunjuk semakin terkejut.
"Apa?, menikahi?" tanya Daniel terkejut.
"Iya, Nenek lampir itu tadi berkata kalau Ayah ini adalah calon suaminya" ucap Leny menatap Sarah seakan mengejeknya.
"Hahaha, mana mungkin Ayah mau menduakan Bunda" tawa Daniel sambil mencolek hidung Leny.
"Jikapun Bunda mengizinkan Ayah untuk berpoligami, Ayah seharusnya pandai memilih juga dong" ucap Leny protes.
"Jangan pula memilih calon istri yang seperti binatang itu" ucap Leny menatap ke arah Sarah yang hanya menunduk saja.
Lalu Leny mendekati Sarah dan keponakannya yang sedari tadi terdiam dan terus menatap ke bawah. Kemudian Leny membisikkan sesuatu yang membuat Sarah serta keponakannya semakin ketakutan.
"Sekarang kau sudah tau kan aku ini siapa?" tanya Leny berbisik.
"Jika kalian ingin melawan, maka lakukan saja. Tapi jangan sampai menyesal kalau aku akan menyuruh orang-orang ku untuk mencongkel kedua bola mata kalian, memotong lidah kalian, mengiris daun telinga kalian" ucap Leny berbisik, dan membuat mereka berdua sampai menganga.
"Maafkan saya nona muda, saya tidak tau kalau anda adalah istri dari Pak Direktur utama. Maafkan saya nona, saya menyesal" rengek Sarah memohon ampun.
"Jadi, kalau aku bukan istri dari pemilik tempat ini, kau akan semakin semena-mena?!" tanya Leny dingin.
"Ampun nona, ampun. Saya menyesal" rengek Sarah memohon berlutut di kaki Leny.
"Tolong lepaskan kami nona muda, kami berjanji kami akan berubah" ucap si keponakannya Sarah menyambung.
"Kau juga sama saja hina nya seperti Tante mu si Nenek sihir ini!. Menyalahgunakan kekuasaan!" ucap Leny emosi.
"Ingat!. Di atas langit, masih ada langit!. Kesombongan kalian ini bisa langsung aku patahkan kan?!" tanya Leny mengejek.
"Iya nona muda, kami mengaku salah. Saya mohon jangan apa-apakan kami" pinta Sarah semakin ketakutan.
"Kemana tadi Ibu Manager yang begitu sombong, yang sangat angkuh, yang suka menindas bawahannya, yang selalu membuat peraturan sesuka hatinya?!, kemana hah?! kemana?!" tanya Leny menyindir dan membuat Sarah tertunduk malu.
"Hey, Nenek lampir?!. Sudah berapa lama kau bekerja di sini?!" tanya Leny lagi.
"Li..lima tahun nona" jawab Sarah gugup.
"Dan selama lima tahun juga kau berbuat sesukamu di tempat ini?!" tanya Leny menekan dan di anggukan oleh Sarah.
"Kau memang manusia tidak tau untung!. Masih baik suamiku memperkerjakan kamu dan memberikan sebuah jabatan yang lumayan tinggi untukmu!" ucap Leny emosi.
"Leny stop Leny. Sabar, jangan termakan emosi" sela Olivia menenangkan Leny yang semakin emosi.
"Oliv, kamu bebas mau berbuat apa pada kedua orang sampah ini!. Jika kamu ingin membalaskan perbuatan mereka selama ini kepadamu, maka lakukan saja. Aku akan selalu mendukungmu" ucap Leny tersenyum.
"Tidak perlu Len... eh nona muda, saya ikhlas kok" jawab Olivia tersenyum tulus.
"Kamu jangan takut, jangan sungkan. Mereka hanya sampah bagiku. Balas saja perbuatan mereka berdua!, luapkan semua amarahmu selama ini Oliv" ucap Leny semakin mendukung.
"Nona muda... Jika aku melakukan hal itu, maka sama saja aku buruknya seperti mereka. Jadi, biarkan saja Tuhan yang membalas itu semua. Dengan adanya karma ini, aku sudah merasa cukup kok" jawab Olivia.
"Kamu memang manusia berhati malaikat Oliv, aku salut dengan kebaikan hati yang kamu miliki selama ini" ucap Leny tersenyum.
"Baiklah!.. Iyan!" panggil Leny tegas.
"I..iya nona" jawab Iyan terbata-bata karena terkejut.
"Tolong kamu panggilkan satpam dan kalian usir dua anjing ini dari hadapanku. Jangan sampai wajah anjing-anjing ini terlihat lagi di tempatku ini!" ucap Leny memberi perintah dengan tegasnya.
"Kalau perlu buang ke laut saja!. Biar dimakan oleh binatang buas yang tinggal di dasar laut itu" timpal Leny menatap dingin ke arah Sarah dan keponakannya.
"Baik nona muda!" jawab Iyan tegas dan langsung menghubungi pihak keamanan.
Selang beberapa menit kemudian dua orang petugas keamanan masuk kedalam dan mereka berdua langsung memberi hormat pada Leny serta Daniel.
"Iya tuan dan nona muda?. Apakah kalian memanggil kami?" tanya salah satu dari satpam itu.
"Pak satpam!, tolong kalian berdua buang sampah ini jauh-jauh dari tempatku ini ya. Kalau bisa buat sampai tidak kembali lagi ke sini" ucap Leny memerintah.
"Baik! nona muda, akan segera kami laksanakan" jawab salah satu dari mereka.
"Ayo! kalian berdua keluar!" ucap dari pihak keamanan itu menyeret paksa Sarah dan keponakannya.
"Tidak nona! ampun nona. Tolong beri kami kesempatan sekali lagi" rengek Sarah mencoba melawan namun kedua satpam itu semakin menyeret paksa Sarah dan keponakan sampai tak terlihat lagi dari pandangan mata Leny.