Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PENYAKIT ANEH


Setelah mendengar kabar buruk tentang sang Nenek, kini Daniel dan keluarganya langsung pergi menuju ke Bandung. Daniel juga sudah memberi tau pada Ayah dan Ibunya tentang apa yang di alami oleh Nenek Ani. Lalu Ayah dan Ibunya akan menyusul mereka kesana.


Mama Yuni dan juga Leny terlihat sangat cemas tentang keadaan Nenek Ani. Mereka berdua takut sampai terjadi apa-apa padanya. Akan tetapi Daniel terus menenangkan mereka berdua.


Perjalanan menuju ke Bandung memakan waktu sekitar 2 jam lebih. Namun Daniel berusaha secepat mungkin mengemudikan mobilnya agar bisa cepat-cepat tiba di Bandung dan segera melihat keadaan dari Nenek Ani.


Daniel merasa ada yang ganjal dengan penyakit yang di alami Nenek Ani setelah mendengar penjelasan dari asisten rumah Nenek Ani tadi sewaktu di telepon. Ia merasa yakin kalau penyakit yang di alami oleh Nenek Ani bukan penyakit medis, melainkan di buat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.


"Jika ini benar perbuatan orang, dan bukan penyakit medis, akan ku giling orang itu" batin Daniel sembari fokus menyetir dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


Mertuanya, si Papa Galuh, yang tau tentang identitas dari menantunya itu hanya menelan ludah saat melihat tatapan mata Daniel yang begitu menakutkan menurutnya.


"Kamu kenapa nak?" tanya Papa Galuh pada Daniel.


"Tidak apa-apa Pa" jawab Daniel.


"Memangnya apa yang terjadi pada menantuku?" tanya Mama Yuni.


"Tidak apa-apa Ma" jawab Daniel tersenyum.


"Terus kenapa tadi Papa bertanya seperti itu?" tanya Mama Yuni lagi.


"Papa pikir tadi Daniel terlihat marah" jawab Papa Galuh.


"Benarkah seperti itu sayang?" tanya Mama Yuni memastikan.


"Hehe, enggak kok Ma. Mungkin Papa yang salah lihat" jawab Daniel.


"Ih, Papa ini" ucap Mama Yuni dan Papa Galuh hanya terkekeh kecil.


"Pasti Nak Daniel sendang memikirkan sesuatu. Tapi dia tidak bisa menjawabnya karena ada Mama dan yang lainnya di sini" batin Papa Galuh yakin.


2 jam lebih sudah berlalu, kini Daniel serta keluarga sudah sampai di kota Bandung dan segera menuju ke rumah sakit tempat dimana sang Nenek di rawat.


Sesampainya di rumah sakit tempat dimana sang Nenek di rawat, Leny langsung buru-buru masuk agar ia bisa tau bagaimana keadaan dari Neneknya itu. Dia terlihat sangat cemas akan kondisi dari Nenek Ani.


Daniel menggendong putranya menuju ke dalam rumah sakit menyusul istri, adik, dan Mama mertuanya yang sudah masuk kedalam terlebih dahulu di susul oleh Papa Galuh yang berada di belakang Daniel.


"Maafin Ayah ya sayang, Ayah terpaksa membawa kamu ke rumah sakit. Karena gak mungkin juga kamu kami tinggal di Jakarta" ucap Daniel yang takut jika putranya yang masih berusia belum genap satu tahun harus di bawa ke dalam rumah sakit.


"Nak Daniel" panggil Papa Galuh.


Daniel menghentikan langkahnya dan menjawab "Iya Pa?, ada apa?" tanya Daniel.


"Papa tau apa yang kamu pikirkan waktu kita berada di dalam mobil tadi. Kamu terlihat seperti menahan amarah" ucap Papa Galuh.


Daniel menghela nafasnya dan tersenyum, lalu ia berkata "Hehe, susah memang menyembunyikan sesuatu dari Papa".


"Ini tentang penyakit yang di alami oleh Nenek Pa. Karena aku yakin kalau ini bukan penyakit medis, pasti ada orang di balik ini semua" timpal Daniel menjelaskan.


"Maksud kamu?" tanya Papa Galuh yang belum memahami penjelasan dari menantunya itu.


"Hmm.. Apa yang kamu pikirkan memang ada benarnya juga sih. Tapi siapa orang yang melakukan hal seperti itu?. Setau Papa, Neneknya Leny itu tidak memiliki musuh atau saingan di dunia bisnisnya dulu deh" ucap Papa Galuh yang sudah paham apa yang di maksud Daniel barusan.


"Ini juga harus di selidiki Pa. Serahkan saja padaku, aku yang akan membereskannya" jawab Daniel.


"Iya Nak, Papa percaya kalau kamu bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Papa Galuh.


"Sebaiknya kita menyusul mereka Pa, Daniel takut mereka semakin down karena tidak ada kita" ucap Daniel dan melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan tempat Nenek Ani berada.


Sesampainya Daniel dan Papa Galuh di ruangan Nenek Ani, mereka heran dengan apa yang Leny lakukan di depan pintu kamar Nenek Ani di rawat. Karena sedari tadi ia hanya mondar-mandir di depan pintu tersebut.


Tak lama kemudian, Ayah Leo dan Ibu Rani juga sudah sampai di rumah sakit, menyusul putranya yang sudah di rumah sakit terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaan Nenek Ani sayang?" tanya Ibu Rani.


"Kami juga tidak tau Bu. Dokter yang memeriksa kondisi Nenek sama sekali belum ada keluar dari pintu itu.


Handle pintu kamar rumah sakit itu tiba-tiba terbuka, dan dokter yang menangani Nenek Ani juga keluar dan mulai menjelaskan tentang keadaan yang di alami oleh Nenek Ani.


"Bagaimana keadaan Nenek saya dok?" tanya Leny dengan wajah yang begitu khawatir.


"Hmmm... Bagaimana cara saya menjelaskannya ya. Karena pasien secara medis tidak terkena penyakit apa-apa. Suhu tubuhnya normal, tekanan darah beliau juga baik-baik saja, tidak tinggi, maupun rendah. Secara medis, beliau sama sekali tidak mengidap penyakit apapun, tapi entah kenapa beliau malah mengalami koma" jawab sang dokter menjelaskan.


"Sudah kuduga. Pasti ada orang yang berbuat jahil pada Nenek Ani" batin Daniel memicingkan matanya.


"Berani sekali binatang itu mengganggu keluargaku, dan dia juga sudah membuat istriku menangis tak henti-hentinya. Lihat saja, gak akan ku kasih ampun kau" timpalnya mengepalkan tangannya.


"Apa kami bisa menjenguknya?" tanya Daniel.


"Boleh saja tuan. Tapi jangan sampai membuat pasien terganggu ya. Yaudah kalau begitu saya permisi dulu" jawab dokter tersebut dan langsung pergi.


Setelah dokter itu pergi, Leny langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan tempat Neneknya di rawat dan di ikuti yang lainnya. Sesampainya mereka di dalam, Leny langsung menangis dan tangannya tak mau lepas dari pegangan tangan sang Nenek.


"Nek, hiks... hiks... Nenek bangun dong. Ini Leny loh" ucap Leny dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipinya.


"Ibu kenapa?, kok tiba-tiba jadi seperti ini sih Bu?" sambung Mama Yuni yang ikut menangis juga.


Disaat yang bersamaan, Damin tiba-tiba menangis dan memeluk erat Ibu Rani yang tengah menggendongnya. Tangisan Damin membuat mereka semua bingung karena reaksi Damin seakan orang yang ketakutan, dan ini pertama kalinya Damin terlihat ketakutan seperti itu.


Ibu Rani yang tengah menggendong cucunya sudah berusaha menenangkan Damin, akan tetapi tangisan Damin semakin histeris dan semakin erat memeluk Neneknya.


Daniel melihat putranya yang bersaksi seperti itu semakin curiga dengan penyakit yang di alami oleh Nenek Ani. Lalu ia mencoba membuka mata batinnya, dan setelah ia sudah membuka mata batinnya, ia langsung terkejut saat melihat tubuh Nenek Ani. Karena ada sosok wanita yang sangat jelek yang sedang berada di dalam tubuh Nenek Ani yang tengah menekan jantungnya.


"Ternyata kau yang membuat Nenek Ani sampai seperti ini. Pantas saja putraku sangat ketakutan, wajahmu sangat jelek dan tak beraturan" gumam Daniel mengepalkan tangannya.


"Awas saja kau setan. Akan ku siksa kau" timpalnya tersenyum sinis.


Sosok wanita yang sangat jelek itu juga sadar jika Daniel bisa melihat dirinya dan mereka berdua saling tatap, namun sosok wanita tersebut tersenyum meremehkan sambil menjilat leher Nenek Ani seakan mengejek Daniel.