
Ternyata usaha Mery menasehati sosok wanita yang sejenis dengannya nampaknya membuahkan hasil. Karena ia melihat kalau sosok wanita yang terduduk di depannya tengah menyesali perbuatannya.
"Apa kau meresap kata-kataku tadi?" tanya Mery yang melihat sosok wanita itu tengah termenung.
"Diam lah dulu, biarkan aku berpikir" jawab sosok wanita tersebut.
"Yaelah, ngapain kau berpikir panjang" ucap Mery sembari menoyor kepala sosok wanita tersebut.
"Udahlah terserah kamu aja. Jika kau masih menempel pada sahabatnya tuanku, jangan menyesal kalau kau habis di tangan suaminya" ucap Mery menasehati dan berniat untuk pergi, karena menurutnya tak ada gunanya jika terus berdebat dengan setan yang tak berguna.
Pada saat Mery ingin pergi melayang, tiba-tiba kakinya di pegang oleh sosok wanita tersebut, dan membuat Mery sampai tersungkur dengan wajah yang menghantam tanah.
"Aduh!. Bodoh banget sih" ucap Mery sedikit emosi.
"Ada apa?!, kenapa kau menarik kakiku? gara-gara ulahmu, wajahku sampai terbentur tanah gini. Mana ada kotorannya lagi ni" keluh Mery ngedumel.
"Bawel banget sih. Yaudah-yaudah, aku minta maaf" ucap sosok wanita tersebut.
"Kau juga aneh, aku belum selesai berbicara dan membuat keputusan, kau malah pergi begitu saja" timpal sosok wanita tersebut dengan nada yang sedikit kesal.
"Ya buat apa aku harus bertahan disini dengan setan yang otaknya bebal seperti anda" jawab Mery.
"Aku mau" jawab sosok wanita tersebut.
"Mau apa?, aku masih normal" ucap Mery sembari membersihkan wajahnya yang terkena kotoran hewan.
"Ada gilanya kurasa kau ya!" ucap sosok wanita tersebut sambil memukul kepala Mery.
"Wah, wah. Main fisik kau ya setan!" ucap Mery sedikit kesal.
"Pfttt.. hahaha" tiba-tiba sosok wanita tersebut tertawa, lalu Mery juga ikut tertawa. Pada akhirnya mereka berdua tertawa bersama seakan sudah akrab satu sama lain.
"Aku Caty, namaku Caty" ucap sosok wanita tersebut mengenalkan diri.
"Aku Mery" ucap Mery ikut memperkenalkan dirinya.
"Jadi kau sudah sadar dan tak mau menggangu sahabatnya nona ku lagi?" tanya Mery memastikan dan di anggukan oleh Caty.
"Tapi aku bingung, setelah ini aku harus kemana dan tinggal dimana. Selama ini aku tinggal di rumah itu bersama keluarga wanita berhijab itu" ucap Caty menunduk.
"Tenang saja, kau bisa tinggal bersamaku dan kita berdua bisa menjadi penjaga tuan mudaku. Itupun kalau kau mau" ucap Mery menyarankan.
"Benarkah?, tentu saja aku mau" jawab Caty tersenyum bahagia.
"Okey, mulai sekarang kau dan aku akan menjaga tuan mudaku" ucap Mery.
"Kalau begitu kita harus kembali, aku akan melapor pada tuanku dan meminta izin untukmu agar tinggal bersamaku" timpal Mery.
Kemudian mereka berdua langsung pergi menuju ke rumah Riski lagi dimana Daniel dan yang lainnya tengah berkumpul. Tak butuh waktu lama, mereka berdua sudah sampai ke rumah Riski. Lalu Mery langsung menghampiri Daniel dan ia memberikan laporan serta ingin meminta izin agar ia dan Caty bisa tinggal bersama untuk menjadi penjaga Damin.
"Bagaimana?" tanya Daniel dalam batinnya.
"Semua sudah beres tuan. Tapi aku ingin meminta izin agar aku dan dia tinggal bersama, lalu sama-sama menjadi penjaga tuan muda" jawab Mery menjelaskan.
"Baiklah tuanku, terima kasih banyak" ucap Mery tersenyum dan Caty juga ikut tersenyum bahagia karena Daniel mengizinkannya untuk tinggal bersama Mery.
"Kalian berdua pulanglah, jangan sampai anak-anak itu melihat kalian. Kalau Damin sudah terbiasa, tapi anak-anak yang lainnya bisa mengadu kalau kalian ada disini" ucap Daniel memerintah.
"Baik tuan, kami akan pulang lebih dulu" jawab Mery dan Caty hanya mengikuti Mery pergi.
___________________________
Setelah masalah itu selesai, kini Vinny merasa lebih tenang dan seakan tidak memiliki beban yang berat lagi pada tubuhnya. Vinny juga merasa lebih tenang dan nyaman saat melakukan ibadah. Karena sewaktu ia ingin melakukan sholat dan membaca Alquran, ia merasa ada beban yang begitu berat menggangunya. Tapi setelah Caty pergi dari tubuhnya, Vinny menjadi lebih khusyuk melakukan ibadah-ibadah.
Mery dan Caty juga nampak semakin akrab. Mereka berdua merasa sangat senang saat bisa melihat dan menjaga Damin. Walaupun Daniel tidak meminta mereka untuk melakukan hal itu, mereka berdua dengan senang hati melayani keluarga Syahputra dengan setia.
Hari ini Daniel tengah duduk termenung di teras rumahnya. Ia seakan memikirkan sesuatu. Sedari tadi Daniel tak bosan-bosannya terus menatap ponselnya yang tidak memiliki notifikasi sedikitpun.
Mery dan Caty yang melihat tuan mereka seperti itu, menjadi khawatir. Lalu mereka berdua mencoba mendatangi Daniel dan mempertanyakan apa yang sedang tuan mereka pikirkan sampai terlihat gelisah seperti itu.
"Ada apa tuan?, kenapa anda nampak sangat gelisah seperti itu?" tanya Caty yang sudah berdiri di samping Daniel.
"Oh iya, aku lupa kalau aku punya kalian berdua" ucap Daniel yang langsung teringat dengan penjaga ghaib milik putranya itu.
"Aku ingin memberikan tugas untuk kalian berdua, apa kalian bersedia?" tanya Daniel.
"Tentu saja tuan, dengan senang hati kami akan melakukannya" jawab Mery.
"Bagus" ucap Daniel tersenyum pahit.
"Lalu, apa perintah anda tuan?" tanya Caty.
"Kalian berdua pergilah ke tempat dukun tersebut. Cari tau apakah orang itu sudah datang ketempat mereka atau belum. Karena hari ini dukun itu berkata kalau orang yang membayarnya akan datang" jawab Daniel memerintah.
"Dukun mana yang anda maksud tuan?" tanya Caty yang belum mengetahui masalahnya.
"Mery yang akan menjelaskannya" jawab Daniel.
"Sebaiknya kalian berdua cepatlah ketempat itu, perasaanku tidak enak sedari tadi" ucap Daniel memerintah.
"Baik tuan, kami akan segera kesana dan segera kami berikan laporannya pada anda" ucap Mery.
Lalu Mery menarik Caty agar ikut bersamanya pergi ke Bandung dimana mantan tuanya tinggal. Di dalam perjalan, Caty terus bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa tuan mereka terlihat begitu cemas tentang ini.
"Hey Mery, apa yang terjadi sebenarnya?, kenapa tuan kita terlihat sangat cemas seperti itu?" tanya Caty penasaran.
Kemudian Mery menceritakan semua kejadiannya. Awal mula pertemuan mereka, pertarungan dia dengan Daniel, bahkan sampai ia menjadi penjaga keluarga Syahputra tersebut.
"Bahkan aku hampir mati dibuatnya. Jika saja dia tak berbelas kasih, mungkin aku sudah lenyap dari dulu" ucap Mery menjelaskan.
"Sekuat itukah tuan kita?" tanya Caty.
"Tentu saja. Apa kau tidak bisa merasakan ada energi yang sangat besar dan menakutkan dalam dirinya?" jawab Mery.
"Sebaiknya kita jangan melakukan kesalahan yang membuat tuan kita marah, apa lagi sampai menghabisi kita berdua. Kita jangan sampai mengkhianati kepercayaan dia, jika kau masih sayang nyawa" ucap Mery memberi saran.