Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
BAK ISTANA


Setelah beberapa menit akhirnya kelima mobil mewah yang membawa Daniel dan keluarga sudah sampai di depan sebuah rumah yang bak seperti istana.


Chelsea, Koury, dan Silvia sangat terkejut melihat rumah milik Daniel yang berada di negara orang tersebut, sedangkan Leny masih terlelap dalam gendongan sang suami.


"Ayu, tolong gendong Damin dong, soalnya aku lagi gendong induknya ni" ucap Daniel sembari mengangkat sang istri.


"Ok kakak ipar" jawab Ayu dan langsung mengambil Damin yang masih duduk di dalam mobil.


Damin tersenyum menyengir saat melihat Ayu yang ingin menggendong dirinya. Setelah Damin dalam gendongan Ayu, Damin langsung mendapatkan puluhan ciuman dari Ayu.


"Utuh-utuh anak Mama sayang" ucap Ayu dengan gemas.


"Tuan, biarkan kami saja yang membawa barang-barang milik kalian" ucap salah satu dari supir itu ( Bahasa Prancis ).


"Baik, terimakasih pak. Maaf merepotkan" jawab Daniel ( Bahasa Prancis ).


"Tuan tidak perlu sungkan, ini memang sudah menjadi salah satu dari tugas kami, karena kami pengikut setia anda" sela supir tersebut.


Kemudian Daniel berjalan terlebih dahulu sembari menggendong sang istri yang masih terlelap dalam mimpinya.


"Sebentar, biar aku yang bukakan pintunya" ucap Koury yang langsung menyusul Daniel dan membuka pintu rumah itu.


Saat pintu berhasil Koury buka, ia di kejutkan dengan kehadiran beberapa orang yang sudah menunggu kedatangan Daniel di depan pintu utama.


"Astaga!. Terkejut saya" ucap Koury yang langsung melompat.


"Selamat datang tuan dan nyonya besar, perkenalkan nama saya Robert. Saya adalah kepala keamanan di rumah tuan Daniel" ucap si pria paruh baya itu ( Dalam bahasa Prancis ).


"Perkenalkan nama saya Sena, saya adalah kepala pelayan di rumah ini" sambung seorang wanita yang berdiri di samping Robert.


"Dan saya adalah Smoke, saya adalah kepala koki di rumah tuan muda" tambah seorang pria yang berdiri di samping Sena.


Koury yang berdiri tepat didepan mereka bertiga hanya planga-plongo melihat ketiga orang tersebut karena ia tidak memahami bahasa yang mereka bicarakan.


"Apa yang mereka bicarakan sih?. hsfhsfhsf, gak paham deh" tanya koury dengan wajah polosnya.


"Hahaha apalah kamu ini Koury" ejek Silvia.


"Mereka itu berbicara dengan bahasa Prancis loh sayang" timpalnya.


"Kalau bahasa Jepang, aku baru paham" ucap Koury terkekeh-kekeh.


Setelah kejadian yang membuat Koury sedikit terkejut, kini Daniel dan yang lainnya pergi menuju kamar masing-masing yang tersedia di rumah mewah tersebut. Seperti biasa, Wulan selalu mengambil kamar yang berada di lantai dua, dan ia tidur sekamar dengan Chelsea karena Chelsea tak ingin tidur sendirian di rumah orang. Sedangkan mereka yang sudah menikah, seakan menikmati honeymoon yang kedua di negara tersebut.


Ayu menggendong Damin menuju ke kamar Daniel, mengingat Leny yang masih terlelap pulas dalam gendongan Daniel, dan hal itu membuat Daniel tak tega untuk membangunkan sang istri yang nampak kelelahan karena perjalan jauh.


"Aduh, maaf ya Ayu. Jadi ngerepotin ni" ucap Daniel merasa tak enak hati.


"Ah, apa yang kau katakan wahai kakak ipar?!. Damin juga sudah seperti putra bagiku" bantah Ayu yang begitu sangat menyayangi Damin.


"Damin sayang, kamu doain ya. Semoga Mama dan Papa Dion bisa cepat-cepat dapat adik buat kamu" ucap Ayu.


"Amin..." Daniel yang menjawab.


"Yaudah deh, aku juga lelah kakak ipar. Aku ke kamar dulu ya" ucap Ayu setelah meletakkan Damin di atas tempat tidur.


"Ok, sekali lagi terima kasih adik ipar" jawab Daniel dan di balas dengan jari berbentuk OK oleh Ayu.


Chelsea dan Wulan terlihat belum lelah. Mereka berdua juga saling bertukar cerita, dan Chelsea tidak menyangka kalau Daniel adalah sosok pria muda yang kaya raya. Bahkan menurutnya, kekayaan yang dimiliki Daniel mungkin melebihi seorang milyarder yang pernah menyukai dirinya.


"Wulan, kakak kamu itu seperti seorang milyarder ya. Rumahnya ini aja seperti sebuah istana. Terus tadi aku sempat melihat banyak banget mobil-mobil sport di garasi depan" ucap Chelsea.


"Oh..., Iya kak, itu memang milik kakakku. Bukan itu saja, dia bahkan memiliki sebuah bisnis hotel di negara ini kak" ucap Wulan menjelaskan.


"Hah?. Hotel?" tanya Chelsea terkejut.


"Iya, hotel milik kakakku itu salah satu hotel terbesar di kota ini. Bahkan banyak orang-orang yang menginap di sana kak. Karena selain murah, suasananya dekat dengan pantai di kota ini kak" jawab Wulan.


"Ibaratnya. Harga kaki lima, kualitas bintang lima" sambung Chelsea terkekeh.


"Hahaha" mereka berdua tertawa.


Malam harinya, para pelayan sudah mempersiapkan makanan di atas meja makan, terlihat begitu mewah dan lezat makanan hasil karya dari para pelayan itu. Bahkan aroma lezat tersebut sampai tercium ke kamar mereka semua.


Leny yang tengah tertidur pun langsung terbangun karena ada sebuah aroma yang sangat lezat masuk kedalam rongga hidungnya itu.


"Bau apa ini?, kok enak banget?" gumam Leny sembari mengendus-endus dari bau makanan tersebut.


Daniel yang keluar dari kamar mandi bersama sang putra pun melihat Leny yang tiba-tiba sudah terduduk namun masih dalam kondisi setengah sadar.


"Bunda, mandi dulu gih. Setelah itu kita makan" ucap Daniel sembari mengeringkan tubuh sang putra.


"Kita dimana Ayah?" lirih Leny bertanya.


"Di rumah Honey" jawab Daniel yang masih sibuk mengeringkan tubuh sang putra.


"Loh? kok di rumah?. Bukannya kita semalam sudah sampai di Paris?" tanya Leny lagi dalam keadaan setengah sadar.


"Iya rumah kita yang di Paris loh Honey" jawab Daniel.


"Hmmm" Leny merentangkan tubuhnya.


"Huaaammmm... Yaudah Bunda mandi dulu" ucap Leny sambil menguap.


"Yaudah buruan, Ayah sama Damin tunggu di sini" ucap Daniel.


"Memangnya Damin udah mandi?" tanya Leny.


"Udah dong, dia mandi sama Ayahnya" jawab Daniel.


"Iya kan sayang?" tanya Daniel pada sang putra yang tengah asyik memainkan wajah Daniel.


"Yaudah Bunda mau mandi dulu" ucap Leny dan langsung menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.


Setengah jam kemudian, Daniel dan Leny beserta sang putra pun akhirnya keluar dari kamar mereka dengan pakaian yang sudah sangat rapih dan Damin yang terlihat sangat menggemaskan dalam gendongan Leny.


Kemudian mereka bertiga langsung turun menuju ke meja makan dimana yang lainnya sudah menunggu kedatangan Daniel dan Leny, agar mereka semua bisa makan bersama.


"Wih lama banget sih pengantin baru ini" ucap Dion mengejek sang kakak setelah Daniel dan sang istri sudah tiba di meja makan.


"Hahaha, ya mau gimana lagi. Namanya juga enak" jawab Daniel ikut mengejek.


"Udah-udah, ayo kita makan!. keburu dingin ini" sela Ibu Rani menegur kedua putranya itu.