
Daniel terus menatap pria itu yang sudah hampir sekarat. Sedangkan Tono sama sekali belum bisa melukai Daniel sedikitpun.
"Pak tua, pak tua. Aku kasian melihatmu" decak Daniel menggelengkan kepalanya.
Dengan sisa tenaga yang ada pada dirinya, secara perlahan ia mengambil sesuatu yang ada di dalam saku celana. Kemudian ia menatap Daniel dengan senyuman liciknya.
"Mati kau bocah" ucap pria itu yang langsung mengarahkan sebuah pistol ke wajah Daniel.
Saat ingin menekan pelatuk pistol yang ia pegang, dengan gerakan yang cepat Daniel langsung menginjak pergelangan tangan pria itu sampai menyebabkan tulangnya patah.
"ARKKKKHHH" teriak pria tersebut.
"Di kasih hati malah minta jantung!. Dasar pak tua" ucap Daniel dengan kaki yang masih menginjak pergelangan tangan si Tono.
"Baiklah, karena aku masih berbaik hati. Kau akan ku kirim ke penjara saja" timpal Daniel dan langsung membawa paksa Tono menuju ke kantor polisi. Sedangkan si pria itu sudah pasrah karena kehabisan tenaga.
Setelah kejadian yang sangat memalukan itu, Tono menjadi dendam pada Daniel karena untuk pertama kalinya ia gagal membunuh targetnya.
Flashback end....
"Sudah bertahun-tahun aku memendam rasa ini, dan akhirnya aku akan bisa membalasnya" ucap Tono tersenyum yakin menatap Daniel.
Tanpa mendengar perkataan pria itu, Daniel justru celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang, dan orang yang ia cari adalah seorang polisi yang mengawal proses perpindahan Tono yang ingin di hukum.
"Pak!, pak polisi!" panggil Daniel.
"Iya saya" jawab salah satu polisi yang langsung menghampiri Daniel.
"Hoy!. Aku sedang berbicara padamu bocah!" tegur Tono yang merasa tidak di pedulikan oleh Daniel.
"Saya mau bertanya pak" tanya Daniel dan semakin tidak memperdulikan Tono yang semakin emosi.
"Tanya apa?" tanya sang polisi.
"WOY BOCAH!. KAU DENGAR TIDAK?!" bentak Tono yang semakin emosi karena Daniel tidak peduli.
"Berisik!" tegur Daniel melototi Tono.
"Kenapa si tua bangka itu berada di Indonesia ya?. Perasaan tujuh tahun yang lalu pak tua itu ku jebloskan ke bui yang ada di Jepang deh" timpal Daniel bertanya.
"Jadi orang hebat yang berhasil menjebloskan buronan Asia itu, anda tuan?" ucap polisi itu bertanya balik.
"Iya" jawab Daniel.
"Bisa bapak jelaskan kenapa pria tua itu berada di sini?" tanya Daniel lagi.
"Begini tuan. Tahanan itu ingin di beri hukuman mati di sini, karena ia minta ingin mati di tanah kelahirannya" jawab polisi itu.
"Tapi setelah sampai di sini, dia justru malah menghajar kami dan ingin melarikan diri. Jadi kami mengejarnya" timpalnya menjelaskan.
"Jujur, kami kewalahan menghadapi pria itu. Banyak rekan-rekan kami yang terluka akibat perbuatannya" sambung rekannya.
"Jadi begitu" ucap Daniel mengangguk-angguk.
Kemudian dengan sangat santai Daniel berjalan mendekati pria yang bernama Tono itu. Tono juga tersenyum senang menatap Daniel yang berjalan mendekatinya.
"Tuan!. Berhati-hatilah, pria itu sangat kuat" teriak salah satu polisi memperingati.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu bocah!" ucap Tono tersenyum bahagia.
"Dendam selama bertahun-tahun akhirnya bisa ku selesaikan di sini" timpalnya merasa sangat yakin.
"Apa kau yakin pak tua?" tanya Daniel tersenyum.
"Kau pikir aku pria tua yang bisa kau kalahkan 7 tahun yang lalu hah?!" tanya Tono dengan emosi yang memuncak.
"Dan kau pikir aku akan melakukan hal yang sama seperti 7 tahun yang lalu pak tua?" tanya Daniel balik.
"Kali ini, aku akan mengakhiri nafasmu pak tua!" timpal Daniel.
"Banyak omong!" ucap Tono yang langsung mengeluarkan sebuah pisau dan mulai menyerang Daniel.
Tebasan terus Tono lakukan, namun serangan yang ia lakukan sama sekali tidak bisa menggores tubuh Daniel sedikitpun.
Dengan gerakan cepat, Daniel langsung menendang perut Tono sampai membuat pria itu kesakitan dan terduduk dengan dengkul yang ia tumpu di atas tanah.
"Apa kau masih hidup pak tua?" tanya Daniel.
orang-orang dan para polisi yang menyaksikan secara langsung dengan kedua mata mereka sendiri sangat mengagumi kemampuan bela diri yang Daniel miliki.
"Parah ini. Polisi-polisi aja gak mampu menghajar pria tua itu. Tapi tuan itu dengan mudahnya bisa membuat pak tua itu tak berdaya!." ucap salah satu penonton.
"Iya ya. Jago banget" sambung yang lain.
"Waduh, sepertinya udah mati tu pak tua" ucap Daniel terus memperhatikan Tono yang belum juga bangkit.
Leny yang sedari tadi menunggu di dalam mobil juga merasa kesal karena sang suami belum juga kembali, dan ia memutuskan untuk menyusul sang suami berada.
"Lama banget sih ni Ayahnya Damin" decak Leny yang sedikit kesal dan langsung keluar dari mobil.
Dengan sedikit dorongan Leny menerobos para kerumunan massa yang mengelilingi tempat terjadinya keributan itu, dan dengan susah payah akhirnya Leny bisa melihat sang suami yang tengah bertarung.
"Pantesan lama, ruapnya Ayah main-main ya di sini" ucap Leny menegur sang suami dan sampai membuat dirinya langsung menjadi pusat perhatian para warga.
"Lah-lah. Bukannya itu Leny ya?" tanya salah satu warga.
"Iya. Jadi pria tampan yang berdiri di sana adalah suaminya Leny si artis terkenal itu?" sambung warga yang lainnya.
"Yah...!. Aku pikir pria tampan itu single" keluh salah satu warga wanita muda itu.
"Iya, ternyata dia udah menikah, dan istrinya juga seorang artis pula" sambung temannya yang merasa ikutan kecewa.
"Bunda kok nyusul?" tanya Daniel.
"Ya karena Ayah lama banget!. Bunda bosan tau di dalam mobil" jawab Leny menyebikkan bibirnya.
"Ka..kak, maaf ni. Pria tampan itu suami kakak ya?" tanya salah satu wanita muda yang berada di samping Leny.
"Eh, iya. Dia suamiku" jawab Leny tersenyum.
"Kok gak ada berita tentang pernikahan kakak ya?. Secara kan kakak seorang artis Indonesia yang terkenal juga" tanya wanita itu lagi.
"Hehe, pernikahan kami memang di rahasiakan" jawab Leny tersenyum.
"Gak tau aja mereka kalau suamiku itu seorang assassin" batin Leny bergumam.
"Oooo... Pantesan" ucap wanita itu tersenyum.
Tiba-tiba Tono mencoba untuk bangkit, dengan sedikit susah payah dan tubuh yang gemetaran ia memaksa kakinya untuk menopang berat tubuhnya.
"Da..dasar bocah ingusan!" ucap Tono tersengga-sengga.
"Masih bernafas rupanya kau pak tua" ucap Daniel tersenyum.
"Lah siapa lagi ini?, banyak banget musuh suamiku" gumam Leny bertanya-tanya.
"Baiklah, karena aku sedang buru-buru. Aku akan menyelesaikan ini dengan cepat!" ucap Daniel.
"Oh iya. Pak polisi!, kalau si tua ini saya bikin sekarat gapapa?" timpal Daniel bertanya.
"Di hilangkan nyawanya pun tidak masalah" jawab para warga yang memang sudah benar-benar geram dengan pria yang bernama Tono itu.
"Lakukan saja tuan, asalkan jangan sampai mati. Agar kami bisa mudah membawanya" sambung salah satu polisi tersebut.
"Baiklah" ucap Daniel sembari melompat-lompat kecil di tempat ia berdiri.
Dengan cepat Daniel langsung menendang perut pria itu kembali dan lagi-lagi membuatnya terpental namun kali ini tubuhnya malah menghantam sebuah pohon.
Pukulan yang di berikan Daniel sampai membuat Tono memuntahkan darah dari mulutnya dan ia juga semakin tak berdaya.
"RASAKAN!" teriak para warga.
Kemudian Daniel mematahkan tulang kaki kiri pria itu dan orang-orang yang melihatnya secara langsung merasa ngilu bahkan sampai ada yang tidak berani melihatnya. Sedangkan Tono terus menjerit kesakitan karena sakit yang sangat luar biasa yang Daniel berikan padanya.
Perlahan kesadaran Tono mulai menghilang, matanya menjadi berkunang-kunang saat menatap Daniel, dan lama kelamaan pandangan mulai gelap lalu ia sudah tak sadarkan diri.
Daniel yang tau kalau Tono sudah tak berdaya dan pingsan, langsung mengangkat tubuh pria itu seperti membawa sebuah beras di pundaknya. Kemudian ia mencampakkan tubuh Tono ke hadapan para polisi yang tersenyum senang menatap Daniel.
"Ni sampahnya saya pulangkan pak" ucap Daniel, dan suara tepuk tangan di sertakan pujian di lontarkan oleh para warga yang melihat kehebatan Daniel tadi.