
Setelah selesai berkomunikasi lewat panggilan telepon, Daniel langsung masuk kedalam rumah managernya itu dan bergabung dalam obrolan mereka yang penuh canda tawa.
Pandu yang merupakan seorang salah satu pekerja di perusahaan milik Daniel sangat beruntung karena walaupun Daniel itu seorang bos besar, akan tetapi Daniel tidak pernah membeda-bedakan statusnya pada seluruh karyawannya, malahan para karyawan Daniel yang sadar akan posisi mereka dan tak akan berbuat semena-mena pada Daniel meskipun Daniel tidak meminta itu semua.
"Udah lama banget kita gak bertemu ya. Terakhir waktu kita kelas 6 SD" ucap Vinny tersenyum mengenang masa kecil mereka.
"Ya kan kamu setelah lulus SD, langsung pergi ke pesantren sampai kita terpisah lebih 20 tahun, dan sekarang baru bertemu" jawab Leny.
"Bagaimana kabar Windy ya?" tanya Vinny yang begitu merindukan sahabatnya waktu di sekolah dasar dulu.
"Dia juga sudah menikah, dan baru melahirkan 2 bulan lalu" jawab Leny.
"Wah benar kah?, siapa suaminya?, dan anaknya laki-laki, atau perempuan?" tanya Vinny dengan wajah bahagianya.
"Suaminya itu teman yang sudah seperti saudaraku, dan anak mereka juga seorang jagoan sama seperti Damin." jawab Daniel menyela
"Aku jadi ingin bertemu dengannya" ucap Vinny tersenyum senang.
"Mama, apa Rere punya adik lagi?" tanya Rere tiba-tiba menyela.
"Iya sayang, kamu punya dua adik laki-laki" jawab Leny tersenyum.
"Rere mau lihat adik Rere Mama" pinta Rere dengan gemasnya.
"Iya nanti kita main kesana ya sayang" jawab Vinny tersenyum dan mengelus kepala putrinya itu.
"Yaudah, kalau begitu kalian bersiap-siap. Kita bakal kasih kejutan untuk Windy" sambung Leny.
"Rere mau ketemu adik Rere yang satunya kan?" tanya Leny tersenyum.
"Mau Tante, Rere mau ketemu adik Rere" jawab Rere penuh semangat.
"Serius?, nanti kamu dan suamimu ada urusan penting?" tanya Vinny memastikan.
"Iya, kami gak mau merepotkan Ibu dan Pak bos" sela Pandu.
"Mau sampai kapan sih kamu bersikap formal seperti itu Pandu?" tanya Daniel.
"Ini kita sedang berada di luar kantor, dan ini juga sedang tidak bekerja" sambung Daniel.
"Maaf Pak, sudah kebiasaan dari kecil. Hehe" jawab Pandu.
"Ayah, Ayah mau kan ke rumah mereka?" tanya Leny memastikan.
"Ayah ikut aja deh Honey. Ayah juga sih masih ada perlu dengan monyet satu itu ( Riski )" jawab Daniel.
"Monyet?, apa Windy memelihara seekor monyet?" tanya Vinny kebingungan.
"Haha bukan. Yang di maksud oleh Ayahnya Damin itu, suaminya Windy" jawab Leny tertawa.
"Haha. Jahat banget suami kamu Leny. Masa saudaranya sendiri di samain dengan monyet" ucap Vinny tertawa.
"Ya begitulah lah mereka" jawab Leny dengan nada malas.
"Yaudah. Kalian bersiap-siap aja dulu, kami juga mau pulang, bersiap-siap, dan ambil mobil untuk jemput kalian" timpal Leny dan langsung bangkit.
"Yaudah kami antar kalian sampai depan" jawab Vinny yang ikut berdiri dan berjalan mengikuti Leny dari belakang.
Lalu mereka semua langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Riski. Meskipun Pandu satu kantor dengan Riski, akan tetapi dia belum tau kalau orang yang merupakan suami dari Windy adalah Riski, wakil direktur di kantor tempat ia bekerja.
30 menit kemudian Leny dan Daniel datang kembali ke rumah Pandu dengan menggunakan sebuah mobil BMW X7 yang memiliki harga sekitaran 2M lebih.
Pandu yang melihat kendaraan yang di bawa oleh atasannya hanya menelan ludah, ia sangat kagum dengan sosok Daniel karena setiap Daniel pergi ke kantor, Daniel sering berganti-ganti mobil.
"Masya Allah, berapa banyak mobil yang kamu punya Pak bos?" batin Pandu bertanya.
"Ma. Papa rasa, Pak bos Daniel memiliki banyak mobil deh. Soalnya setiap pergi ke kantor, Pak bos sering gonta-ganti mobil, dan mobil yang di bawa Pak bos itu, Papa juga baru melihatnya" bisik Pandu pada sang istri.
"Malah bengong. Ayo buruan dong" tegur Leny mengajak.
"Ha?, iy... iya-iya" jawab Vinny dan langsung menuntun Rere menuju ke dalam mobil, di ikuti oleh Pandu di belakangnya.
"Bagaimana?, Rere udah gak sabar ingin bertemu adiknya?" tanya Leny tersenyum.
"Iya Tante, Rere mau main sama adik-adiknya Rere" jawab Rere tersenyum bahagia.
"Ok, kita let's go" ucap Leny tak kalah semangat.
"Let's go Tante" sambung Rere penuh kegirangan.
"Jika ada yang ingin di katakan, atau di pertanyakan, katakan saja Pandu. Jangan seperti orang kebingungan seperti itu" ucap Daniel yang sudah menyadari dari tingkah dari manager kantornya itu.
"Saya takut. Jika saya bertanya, nantinya bakal menyinggung Pak bos" jawab Pandu sedikit kebingungan.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan?" sela Leny bertanya.
"Begini Buk Bos" jawab Pandu sedikit canggung.
"Udah, katakan saja. Jangan sungkan-sungkan" ucap Leny.
"Hmm.. Kalau boleh tau, mobil yang Pak Bos miliki, ada berapa unit?" tanya Pandu sedikit gugup.
"Hahaha.. Apa hanya itu saja yang ingin kamu tanyakan?" tanya Daniel balik.
"Aduh, tapi maaf Pak Bos. Tolong jangan tersinggung" ucap Pandu ketakutan.
"Ya, jika Pak dan Buk Bos gak mau menjawabnya, gapapa kok. Maaf atas pertanyaan saya yang tidak sopan ini" timpalnya salah tingkah.
"Sekitar 10 atau lebih" jawab Daniel santai.
"Apanya Pak Bos?" tanya Pandu yang seketika mendadak telmi.
"Tadi kamu bertanya tentang apa?" tanya Daniel balik.
"Ya segitu jumlahnya" timpal Daniel.
"Mereka punya lebih dari 10 mobil mewah?" batin Vinny.
"Subhanallah, apa pekerjaan yang dilakukan oleh suaminya Leny?. Kenapa mereka bisa memiliki mobil sebanyak itu?" timpal Viny yang masih berkata dalam hati.
"Jadi mobil yang Pak Bos miliki, lebih dari 10 unit?" tanya Pandu dan di anggukan oleh Daniel.
"masya Allah... Kamu sangat beruntung Leny. Selain cantik, kamu juga mempunyai suami yang kaya raya" batin Vinny.
"Papa, Mama, apa masih lama lagi?, Rere ingin Pipis" ucap Rere memotong obrolan mereka.
"Enggak kok sayang, sebentar lagi kita sampai, setelah melewati perempatan yang berada di depan itu, kita sampai kok" jawab Leny sembari menunjuk ke arah depan.
"Sabar ya nak, sebentar lagi sampe kok" ucap Vinny tersenyum sambil mengelus kepala sang putri.
"Iya Mama" jawab Rere tersenyum manis.
"Anak pinter" sambung Pandu ikut mengelus kepala Rere.
Setelah melewati perempatan, akhirnya mobil yang membawa Daniel serta yang lainnya sudah sampai di depan pekarangan rumah milik Riski. Riski yang tengah asik bersantai di depan teras rumahnya sedikit terkejut karena Daniel datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Manusia kampret itu datang gak bilang-bilang, mendadak banget" gumam Riski menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Windy keluar bersama seorang bayi laki-laki yang masih berusia 2 bulan. Ia langsung keluar karena mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya.
"Siapa yang datang Pa?" tanya Windy.
"Itu, Mama bisa melihatnya sendiri" jawab Riski sambil menunjuk ke sebuah mobil mewah dengan dagunya.
Lalu Leny keluar dari mobilnya dengan menggendong Damin dan langsung memanggil Windy dengan sedikit berteriak.
"Windy!" panggil Leny.
"Eh, Leny..!" jawab Windy tersenyum senang.
Saat pintu mobil pada bagian belakang terbuka, Windy sedikit bingung ketika melihat seorang wanita yang keluar dari dalam mobil tersebut.
Kemudian Leny mengajak Vinny untuk menuju rumah milik Windy, sedangkan Pandu terkejut melihat Riski yang merupakan atasannya di kantor ternyata suami dari sahabat istrinya itu.
"Windy... Aku sangat merindukanmu" ucap Leny sembari memeluk Windy yang tengah menggendong bayinya.
"Ah lebay deh. Baru seminggu yang lalu kita bertemu" jawab Windy mengejek.
"Halo Windy, apa kau masih mengingatku?" tanya Vinny tersenyum.
Windy terdiam dan terus menatap ke arah Vinny dengan tatapan serius dari atas sampai bawah. Ia masih terus berfikir siapa wanita berhijab yang berada di depannya.
"Udah jadi emak-emak, malah pikun ya.." ucap Leny sembari mencubit pipi Windy dengan gemasnya.
"Ini Vinny, teman SD kita dulu" timpal Leny menjelaskan.