
Wulan langsung berlari menghampiri Dion dan Ayu yang sudah membentang kedua tangannya untuk memeluk Wulan.
"Kakak pulang kok gak ngasih kabar sih?" tanya Wulan yang masih dalam pelukan Ayu.
"Biar suprise dek" jawab Ayu yang masih enggan melepas pelukannya.
"Bagaimana keadaan kak Daniel dek?" tanya Dion penasaran.
Wulan melepaskan pelukannya dan langsung menjawab pertanyaan dari sang kakak barusan "Kak Daniel udah sembuh kok. Itu dia lagi bersantai di rumah bareng istri dan anaknya".
"Dasar kakak durhaka" gumam Dion dengan gemasnya.
"Astaga, maaf kak. Kami lupa mengabari kalian berdua kalau kak Daniel udah sembuh" ucap Wulan menepuk jidatnya.
"Yaudah ayo masuk. Aku udah gak tahan ingin menjitak kepalanya itu" ucap Dion yang semakin geram dengan sang kakak.
Dion, Ayu, dan juga Wulan juga langsung masuk kedalam rumah mengingat juga sudah masuk waktu makan malam, dan mereka semua akan makan malam bersama sembari melepas rindu mereka semua.
Di dalam rumah Leny tengah sibuk mempersiapkan makanan di atas meja makan, dan Daniel sedang bermain game bersama sang putra atas permintaan Leny yang harus menjaga Damin sebentar selama ia mempersiapkan makan malam untuk mereka.
"Ayah, Dion dan kak Ayu kok gak pulang-pulang ya?. Mereka apa tidak merindukan kita?" tanya Leny sembari merapikan meja makan yang akan mereka gunakan nantinya.
"Kami sudah di sini kakak ipar" ucap seorang wanita yang sudah berdiri di depan pintu masuk.
"Dan jangan panggil aku dengan sebutan kakak lagi. karena kamu yang saat ini menjadi kakak iparku" pinta wanita itu menyebikkan bibirnya.
Daniel melihat kearah pintu sekilas, kemudian ia fokus lagi bermain game bersama sang putra tercintanya.
"Maaf ya, kami tidak menerima uang sobek" ucap Daniel sekedar bercanda.
Dion menatap tajam ke arah Daniel yang tengah sibuk dengan ponsel dan Damin yang fokus bermain game. Kemudian tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut Dion, ia langsung melayangkan sebuah jitakan tepat mengenai kepala sang kakak.
"Gak ada otak!. Adiknya pulang bukanya di sambut dengan hangat. malah di anggap aku sedang mencari uang sobek, dasar kakak durhaka" ucap Dion yang sudah sangat geram.
"Dan kau kenapa tidak mengabari kami kalau kau sudah sembuh dari luka itu?! hah?!" timpalnya sambil memiting leher Daniel.
"Damin, sini sayang sama aunty. Biarkan saja dua anak kecil itu berperang" panggil Ayu dan langsung menggendong keponakan tampannya itu.
Di dalam gendongan Ayu, Damin terlihat sangat senang dan langsung menggigit hidung Ayu, perlakuan itu membuat Ayu semakin gemas dengan keponakannya yang baru berusia 3 bulan itu.
"Aunty kangen banget sama kamu sayang" ucap Ayu yang langsung menciumi wajah Damin dengan gemasnya.
"Udah dong ributnya!. Gak malu apa sama anak tampan ini?!" tegur Ayu menatap saudara kembar itu.
tiba-tiba sebuah tangan menarik telinga mereka berdua dan langsung membuat saudara kembar itu berhenti berperang.
"Aaa...ampun Honey" rengek Daniel yang daun telinganya sudah terasa panas.
"Aduh kak, ampun kak sakit" sambung Dion merengek.
"Berantem lagi?" tanya Leny dengan geram.
"Enggak Honey, ampun" ucap Daniel merengek-rengek.
"Lagian dia dulu yang memulainya" timpalnya sembari menunjuk Dion dengan dagunya.
"Baru bertemu langsung berperang kalian berdua ini!. Gak malu apa sama anak kecil?!" ucap Leny menggelengkan kepalanya.
"Damin, jangan tiru Ayah dan Paman kamu ya sayang" ucap Leny.
"Yayah, Yayah" panggil Damin.
Namun tanpa di duga Damin justru terlihat menikmati pertunjukan yang di berikan pada sang Bunda yang tengah menjewer telinga dari two twins itu.
"Haha. Akhirnya putraku mendukungku" ucap Leny tertawa senang.
"Biasanya kamu selalu memihak pada Ayah kamu nak" timpalnya merasa heran.
"Udah dong, Wulan lapar ni" ucap Wulan menyela pertikaian yang sama sekali tidak penting.
"Benar juga, pasti kak, eh Ayu sudah lapar juga" ucap Leny yang lupa akan status baru mereka di keluarga Syahputra itu.
"Arkh!. Aku masih belum terbiasa" timpalnya yang geram sendri.
"Tidak apa-apa. Pasti nanti bakal terbiasa Kakak ipar" ucap Ayu mengejek.
Kemudian mereka berlima langsung menikmati makan malam bersama dengan hangat dan bahagia.
Keesokan harinya, Daniel dan Leny mengajak pasangan pengantin baru itu ke rumah sakit mereka untuk memperkenalkan Alvin pada mereka berdua.
"Kak, kami baru saja pulang. Jangan kau suruh istriku untuk bekerja!" ucap Dion tidak terima.
"Yang menyuruhnya bekerja siapa?!" tanya Daniel dan langsung memukul kepala Dion, sedangkan Ayu dan Leny hanya menggeleng saja melihat suami mereka berdua.
"Lalu untuk apa kalian mengajak kami ke rumah sakit?" tanya Dion penasaran.
"Ikut saja, jawaban ada di sana" jawab Leny tersenyum penuh tanda tanya.
"Jangan yang aneh-aneh loh" ucap Dion lagi mengancam.
"Bawel banget deh!" tegur Daniel sembari menoyor kepala sang adik.
"Apa jatah yang di berikan oleh istrimu kurang?" timpalnya menggoda pengantin baru itu, sampai membuat wajah Ayu terlihat merah merona karena malu mendengar pertanyaan itu.
"Ayah!" ucap Leny menegur.
"Apa iya?. Kamu memberikan jatah untuk Dion kurang?" timpal Leny ikut-ikutan menggoda Ayu.
"Apaansih!" tegur Ayu dengan pipi yang semakin memerah.
"Hahaha" tawa Leny.
"Huh!. suami-istri sama saja" ucap Dion memutar bola matanya jengah.
Kemudian mereka berempat langsung menuju ke rumah sakit milik almarhum sang papa yang sudah di berikan pada kedua saudara itu.
Di rumah sakit itu, Alvin yang menjabat sebagai wakil dari Ayu yang merupakan direktur utama dari rumah sakit tersebut mendapatkan sambutan hangat dari dokter dan para dokter yang bekerja di sana.
Ternyata nama Alvin yang memiliki sebuah julukan si tangan ajaib itu sudah sangat terkenal di kalangan medis di Asia. Banyak juga pemilik rumah sakit yang berada di Asia menginginkan Alvin bekerja di tempat mereka. Berapapun yang Alvin minta, maka mereka akan memberikannya asal ia bisa bekerja pada mereka.
Namun semua tawaran itu di tolak oleh Kevin dengan halus. Ia tidak ingin terikat dengan siapapun kecuali dengan Daniel. Alvin akan menuruti apa yang Daniel katakan untuknya. Jika Daniel sudah berkata Alvin di tempatkan di rumah sakit miliknya, maka Alvin akan bekerja disana meskipun tak bayar oleh Daniel. Akan tetapi Daniel bukan tipekal orang yang seperti itu, bahkan ia mampu membayar Alvin ratusan juta perbulan.
Setelah sekitar 30 menit, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Daniel sudah tiba di rumah sakit miliknya. Kemudian ia mereka langsung menuju ke ruangan Alvin.
"Alvin itu siapa?. Mengapa ia menjadi wakil istriku?" tanya Dion penasaran.
"Kau memutuskan sesuatu tanpa bertanya padaku kak!" timpalnya menatap tajam Daniel.
"Berisik!" ucap Daniel dan langsung memukul kepala sang adik.