
Daniel dan yang lainnya mengikuti Souji berjalan menuju ke ruangan ICU dimana putranya sedang di rawat. Ternyata di depan ruangan tersebut sudah banyak anak buah dari Souji serta teman-teman dari putranya yang ikut dalam keributan waktu itu.
Ketika Souji mendekat, para anak buah serta teman-teman dari putranya yang bertugas menjaga di depan ruangan itu langsung berdiri dan memberi hormat pada Souji.
Kemudian mata dari para siswa itu langsung terbelak ketika mereka melihat Daniel berada di belakang Souji. Terlihat wajah ketakutan dari para murid-murid itu mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika mereka melihat wajah Daniel.
"Tu..tuan!, ke....kenapa pria itu ada di.. di sini?" tanya salah satu dari murid itu.
"Jaga bicaramu!. Pria yang kau tunjuk ini adalah atasanku" tegur Souji menepis tangan dari teman putranya yang sudah lancang menunjuk ke arah Daniel.
"Ma... maksud anda?" tanya salah satu dari anak buahnya.
"Jika kalian tau Dark Shadow, maka kalian juga harus tau tuan muda kita ini!" jawab tegas Souji memperkenalkan Daniel.
"Ya!, beliau ini adalah pemimpin Dark Shadow itu sendiri!. Seharusnya kalian semua memberi hormat pada tuan dan nona muda kita!, jangan tidak sopan seperti itu!" timpal Souji setelah ia tau maksud dari orang-orangnya yang merasa kebingungan.
"Maafkan atas kelancangan kami semua tuan muda!. Kami tidak tau kalau anda adalah Akai raion ( singa merah )" ucap salah satu dari anak buah Yakuza itu.
"Apa itu Akai raion ?" tanya Leny berbisik pada Wulan.
"Itu julukan yang di berikan oleh para orang-orang yang sangat menghormati Kak Daniel di negara ini Kak Akai raion atau bisa di sebut sebagai singa merah" jawab Wulan.
"Singa merah?" tanya Leny terkejut dan di anggukan oleh Wulan.
"Lalu kalau untuk Kakak di juluki sebagai singa betina" sambung Kevin mengejek. Akan tetapi Leny menatap adiknya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Hehe, ampun Kak ampun" jawab Kevin sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Bagaimana keadaan putramu?" tanya Daniel.
"Masih belum ada perubahan tuan, dia masih mengalami koma" jawab Souji.
"Hey nak, tolong kamu panggilkan kepala rumah sakit ini" perintah Daniel pada salah satu temannya putra Souji.
"A...apa di..dia mau datang tu..an muda?" tanya murid tersebut.
"Kau katakan saja kalau aku yang memanggilnya" jawab Daniel.
"Ba..baik tuan muda, akan saya laksanakan" ucap murid itu dan langsung berlari.
"Ayah, bagaimana keadaan anak itu?" tanya Leny khawatir.
"Dia masih mengalami koma Honey" jawab Daniel.
"Kasiannya, Bunda jadi gak bisa ngebayangin kalau Damin yang berada di posisi tersebut" ucap Leny dengan raut wajah sedihnya.
"Souji, tolong maafkan suamiku ya. Dia pasti gak sengaja melukai putramu" ucap Leny sedih.
"Kakakku meminta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan suaminya" ucap Kevin menerjemahkan.
Souji terkejut dan sedikit membuka matanya, kemudian ia langsung menunduk sambil berkata "Tidak nona muda, ini kesalahan putra saya. Tuan muda Daniel sama sekali tidak bersalah". Setelah itu Kevin mengartikan perkataan yang Souji katakan barusan agar Leny mengerti.
Tak lama kemudian kepala rumah sakit itu datang mendekati Daniel dengan langkah yang terburu-buru karena ia tak mau membuat Daniel menunggu dan kecewa karena keterlambatannya.
"Bisakah kau periksa anak itu?" tanya Daniel.
"Akan saya usahakan tuan, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan pasien. Mohon bersabar, saya akan segera memeriksanya" jawab dokter itu dan langsung buru-buru masuk ke dalam ruangan ICU.
Sudah 1 jam lebih dokter itu berada di dalam memeriksa keadaannya putra Souji. Sedangkan Souji sedari tadi hanya mondar-mandir di depan pintu ruangan ICU menantikan kabar tentang putranya yang terus berjuang melawan masa kritisnya.
30 menit kemudian dokter itu keluar dari ruangan ICU dengan raut wajah sedih bercampur rasa takut karena ia tak mampu menyembuhkan pasien tersebut.
"Bagaimana keadaan putra saya?, apa dia sudah lebih baik?!" tanya Souji panik.
"Mohon maaf tuan, saya sudah sekuat tenaga mencoba untuk mengobatinya, namun saraf pada bagian kepala milik pasien sangat sulit di satukan karena ada beberapa bagian yang hampir putus. Saya tidak berani melakukan operasi pada bagian tersebut" jawab dokter itu ketakutan menatap wajah Daniel yang terus menatap dingin dirinya.
Daniel mendekati dokter itu, lalu ia menyentuh pundaknya. Raut wajah dokter itu semakin menunjukkan rasa takutnya ketika tangan kekar Daniel menyentuh tubuhnya.
"Tidak udah takut, kau sudah melakukan yang terbaik. Aku tidak akan berbuat sesuatu padamu" ucap Daniel tersenyum.
"Se...sekali lagi ma..maafkan saya tuan" ucap dokter itu ketakutan.
Souji terduduk lemas di kursi sebelahnya. Ia hanya menundukkan kepalanya karena ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Daniel dan yang lainnya.
"Jika memang dengan kematian bisa membuat putraku tidak menderita lagi, maka cabut saja nyawanya Tuhan, saya ikhlas" lirih Souji menunduk.
Daniel menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya, lalu ia mendekati Souji dan memegang pundak pria bertato itu untuk menghiburnya.
"Apa yang kau katakan bodoh?!, kau mau menyerah begitu saja?, apa kau rela kehilangan putramu untuk selamanya?" tanya Danie, namun pria itu hanya menatap wajah Daniel dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Hahaha. Untuk apa kau menangis?!, malu sama lukisan di tubuhmu itu. Ingat! seorang pemimpin harus kuat. Jangan menyerah, putramu pasti bisa sembuh, percaya samaku" timpal Daniel menyemangati.
"Tapi apa yang saya lakukan tuan?, bahkan dokter terbaik di rumah sakit ini saja tak sanggup mengobati putra saya?" tanya Souji serasa putus asa.
Daniel terdapat tipis lalu ia menjawab "Kau tenang saja, aku punya sahabat yang merupakan seorang dokter hebat, bahkan lebih hebat dari pemilik rumah sakit ini".
"Benarkah tuan?" tanya Souji dengan mata yang berbinar dan di anggukan oleh Daniel.
"Jika seperti itu, tolong pertemukan kami tuan" timpal Souji bersemangat.
"Saat ini dia sedang berada di Indonesia" ucapan Daniel belum selesai karena Souji langsung memotong perkataan Daniel akibat ia terlalu bersemangat.
"Berapapun biayanya akan saya tanggung tuan" potong Souji.
"Hahaha, dasar bodoh!. Sangking terlalu bersemangat kau sampai memotong perkataan ku" ucap Daniel tertawa senang karena melihat Souji yang sudah mulai ceria lagi.
"Hehehe, maaf tuan muda, saya sudah lancang" jawab Souji menunduk salah tingkah.
"Untuk masalah biaya, kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan mengurusnya, kau cukup duduk tenang dengan wajah seperti itu. Karena aku tidak suka melihat wajahmu yang tadi" ucap Daniel sambil menepuk pundak Souji.
"Te.. terima kasih tuan muda, anda memang sosok pemimpin terbaik" jawab Souji berlutut di kaki Daniel dan sontak membuat para anak buahnya melakukan hal yang sama.
"Hey-hey!. Apa yang kalian lakukan bodoh!, bangun kalian, aku bukan Tuhan" ucap Daniel memerintah dan mereka semua langsung bangkit.