Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
LAUTAN DARAH


Setalah Jhonatan dan kelompoknya yang bernama Wild Tiger itu telah musnah di tangan Daniel, kini pulau tersebut seketika langsung berubah menjadi lautan darah akibat kemarahan yang di buat oleh Daniel tadi.


Daniel berjalan sempoyongan karena kelelahan sehabis menghajar Jhonatan dan kedua peliharaan gaibnya juga mengambil energi dirinya, membuat tenaga Daniel hampir habis sepenuhnya.


"Maafkan kami tuan. Tuan sampai lemas seperti ini karena kami berdua menyerap energi anda terlalu banyak" ucap Mery merasa bersalah.


"Itu bukan salah kalian, aku yang ingin memberikan itu pada kalian berdua. Sebagai tanda terima kasih dariku karena kalian membantuku untuk menghabisi mereka semua" jawab Daniel melalu batinnya.


Setelah berjalan lumayan cukup jauh dari tempat mayatnya Jhonatan berada, Daniel tiba-tiba langsung berhenti. Tubuhnya semakin melemah, hingga ia harus menopang tubuhnya menggunakan katana yang ia tancapkan di atas tanah agar bisa menahan tubuhnya untuk tetap berdiri.


Semakin lama ia berdiri, semakin tak sanggup kedua kakinya bertahan. Lama kelamaan pegangan tangannya pada katana miliknya mulai goyang, seakan-akan tubuhnya ingin terjatuh. Namun pada saudaranya Daniel menyadari kalau Daniel sudah kehabisan tenaga. Dengan buru-buru Rian langsung bergegas menuju ke tempat Daniel dan langsung menangkap tubuhnya yang mulai jatuh.


"Kita menang Kak" ucap Daniel dengan lirih suara yang melemah dan nafas yang hampir habis.


"Kau selalu saja membuat kami semua khawatir kapten" ucap Hyuga dengan wajah sedihnya.


"Untuk apa kau menangis bodoh?, aku tidak mati!" tegur Daniel dengan suara yang lemah sambil memukul lengan Hyuga, namun pukulan itu sangat lemah karena Daniel memang sudah tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.


Rian menggendong Adiknya itu di punggungnya agar mereka semua bisa segera pulang ke hotel dan Daniel juga bisa beristirahat.


"Sebaiknya kita pulang, pasti mereka sudah menunggu kita dan mungkin sangat mengkhawatirkan kita. Terutama kamu Daniel, kamu harus segera istirahat agar tenagamu pulih" ucap Rian setelah ia menggendong Daniel di punggungnya.


Dark Shadow langsung pergi meninggalkan pulau yang sudah menjadi lautan darah itu. Mereka semua sudah merasa lelah karena pertarungan tadi.


"Aku benar-benar terkejut saat melihat katana ini bisa terbang dan bahkan mampu menghabisi Wild Tiger itu tanpa tersisa" ucap Kevin sambil melihat-lihat senjata Kakaknya yang sudah ada di dalam sarungnya.


"Mungkin benda ini benar-benar memiliki nyawa sendri ya?" timpalnya masih tak percaya. Sedangkan Kedua mahkluk gaib yang berada di atas mereka hanya tertawa mendengarnya.


"Bahkan saudara dari tuan kita saja tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan" ucap Caty tertawa.


"Ya wajar dong, lagian hanya tuan kita dan tuan kecil saja yang bisa melihat keberadaan kita" jawab Mery ikut tertawa.


Daniel yang berada di gendongan Rian hanya bersandar dan sudah tertidur pulas di sana. Sedangkan Jasmine yang sudah turun dari tempat persembunyiannya telah menunggu mereka semua.


Dia sangat terkejut saat melihat senjata milik Daniel bisa sampai seperti itu. Entah trik apa yang sudah di gunakan oleh sahabatnya itu sampai-sampai bisa membuat benda mati terbang dengan sendirinya.


"Bagaimana keadaannya Kak?" tanya Jasmine khawatir setelah mereka sudah tiba di tempat mobil mereka terparkir.


"Dia hanya kelelahan saja. Tenaganya sudah habis terkuras di pertarungan tadi" jawab Rian sambil menoleh ke arah belakangnya melihat Daniel yang telah terlelap sambil tersenyum.


"Apa tadi kau melihatnya Jasmine?" tanya Hyuga, dan saat ia ingin melanjutkan ucapannya tiba-tiba tangan Jasmine langsung menutup wajahnya Hyuga sambil memotong pembicaraannya.


"Iya-iya bawel, aku sudah melihat itu semua dengan kedua bola mataku sendiri. Jadi tidak usah kau jelaskan lagi!. Mulutmu bau tau!" jawab Jasmine acuh, sedangkan mereka hanya tertawa melihat tingkah dari Jasmine dan Hyuga.


"Aku seperti melihat capung dan kucing kecil versi lite yang tengah bertikai" ucap Fauzi menyindir Kevin sambil merangkul bahu Kevin.


"Diam kau!" jawab Kevin sambil membuang mukanya.


"Aduh, aku jadi rindu padanya" timpal Kevin.


"Udah-udah!. Sebaiknya kita segera pulang!, ini sudah larut" sela Rian selaku Kakak tertua di antara mereka semua.


Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil masing-masing agar bisa segera kembali ke hotel milik Daniel.


Rian meletakkan Daniel di kursi sebelahnya secara perlahan-lahan dan di bantu oleh Fauzi agar kepala Daniel tidak terbentur.


Setelah berhasil meletakkan Daniel, Rian langsung buru-buru masuk ke dalam mobil dan segera menancapkan pedal gasnya agar mereka bisa segera tiba di hotel.




Leny yang masih terus memikirkan sang suami sedari tadi hanya mondar mandir di dalam kamarnya sambil terus memperhatikan arloji yang berada di pergelangannya.


Ia sangat merisaukan keadaan sang suami yang tak kunjung kembali.



"Kamu kemana sih suamiku?!, ini udah larut loh!. Kok belum pulang-pulang?!" gerutu Leny khawatir.




Merasa semakin khawatir, Leny keluar dari kamarnya dan menuju ke tempat parkir mobil mereka. Ia berniat untuk menyusul suaminya yang menurutnya masih bertarung di pulau tersebut.



Mama Yuni dan Ibu Rani yang tengah asik mengobrol di tempat duduk yang tak jauh dari kamarnya Leny sedikit terkejut saat melihat Leny berjalan dengan buru-buru bahkan ia tak menyadari kalau ada kedua wanita paruh baya di sana.



"Loh, kamu mau kemana sayang?" tanya Mama Yuni sedikit bingung saat melihat putrinya yang menyelonong begitu saja.



"Ini sudah malam sayang, kamu mau pergi kemana?" sambung Ibu Rani bertanya.



"Maaf Ma, Ibu, Leny tidak mengetahui kalau kalian ada di sini" jawab Leny merasa tidak enak.



"Jawab sayang!, kamu mau kemana?. Kamu terlihat sedang buru-buru?" tanya Mama Yuni semakin penasaran.



"Leny sangat mengkhawatirkan keadaan menantu Mama" jawab Leny.



"Daniel?" tanya Mama Yuni memastikan.



Leny mengangguk seraya menjawab "Memangnya siapa lagi menantu Mama kalau bukan Ayahnya Damin?".



"Memangnya kemana dia sayang?" tanya Mama Yuni ikut khawatir.



Pada saat Leny ingin menjawab pertanyaan sang Mama, tiba-tiba Rian datang sambil menggendong Daniel yang tertidur pulas di punggungnya. Sontak membuat Leny langsung buru-buru mendatangi sang Kakak, di ikuti oleh kedua wanita paruh baya itu.



"Ayah!" panggil Leny khawatir setelah ia berada di sampingnya Rian.



"Apa yang terjadi pada Adikmu sayang?" tanya Mama Yuni khawatir.



"Tidak apa-apa Ma, menantu Mama ini hanya kelelahan saja" jawab Rian tersenyum.



"Memangnya kalian habis melakukan apa?, kok Mama lihat Daniel sampai seperti ini?!" tanya Mama Yuni semakin khawatir.



"Sudah tidak apa-apa besan. Putraku pasti bakal baik-baik saja kok" sela Ibu Rani tersenyum sambil mengelus punggungnya Mama Yuni.



"Sebaiknya bawa Daniel ke kamarnya, biar dia bisa istirahat" sambung Ibu Rani tersenyum sambil mengelus kepala Daniel yang masing memejamkan mata dan bersandar pada punggung Rian.