Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
DANIEL DAN DION


Anita menghela nafasnya dan menatap kedua lelaki kembar yang tampan itu.


"Sebenarnya Kak Aqila dan mas Elang memiliki anak kembar, yaitu kamu dan Dion sayang" ucap Anita mengelus pipi Daniel


"Lalu mengapa tidak ada yang memberitahu kami?, kapan kami terpisah?" tanya Daniel sedikit sedih


"Saat kalian berusia 2 tahun" jawab Yoga


"Jadi begini. Setelah kalian lahir, tante membujuk mama kalian agar tante dan om Yoga merawat salah satu dari kalian. Awalnya mama kalian tidak setuju, tapi karena melalui perdebatan yang sedikit panjang, akhirnya mama kalian setuju namun dengan syarat ketika kalian berusia 2 tahun" jelas Anita


"Terus apakah mama dan papa tau kematian kedua orangtua kami?" tanya Dion


Raut wajah Anita berubah menjadi sedih dan menggelengkan kepalanya


"Yang mama tau kedua orangtua kalian meninggal karena kecelakaan, itupun di beritahu oleh kak Leo"


"Apa ayah?" tanya Daniel terkejut


"Sepertinya kak Leo dan nenek kalian yang mengetahui semua tentang keluarga kalian, karena tentang kelahiran kalian semua di rahasiakan oleh mereka" jawab Yoga


"Dion sebaiknya besok kita tanyakan pada ayah" ucap Daniel


"Ayah?, kan ayah kita sudah meninggal kak" jawab Dion polos


"Aduh!, maksudnya paman Leo" jawab Daniel sambil menepuk jidatnya


"Eh iya kak maaf, baiklah" jawab Dion menunduk menatap kebawah


Leny mengerutkan keningnya


"Kenapa ni orang?, kok seperti ketakutan?" batin Leny menatap Dion


"Oiya sayang, berapa usia kandungan kamu?" tanya Anita mengalihkan topik pembicaraan


"Eh.. mau jalan 5 bulan tan, hehehe" jawab Leny terkejut


"hmm, yang sehat ya cucu Oma" ucap Anita mengelus perut Leny


"Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi" batin Daniel


Tak lama kemudian pesanan mereka sampai di meja, dan suasana panas berubah menjadi tenang degan pandangan makanan yang begitu lezat berada di depan mata mereka.


Setelah selesai makan mereka memutuskan pulang kerumah mereka masing-masing, dan Daniel akan mengajak Dion untuk menemui ayah angkatnya besok.


Keesokan harinya....


Daniel sedang duduk santai di depan teras. sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Karena hari ini dia ingin mengajak Dion untuk bertemu dengan ayah angkatnya, jadi Daniel tidak pergi kekantor dan pekerjaan kantor di serahkan kepada Riski.


"Suamiku aku ikut ya kerumah ibu" ucap Leny memeluk leher Daniel dari belakang


"Iya sayang" jawab Daniel mengelus kepala Leny


Setelah selesai bersiap-siap, Daniel dan Leny segera menuju ke kediaman rumah Anita dan Yoga untuk menjemput Dion saudara kembarnya Daniel.


Perjalanan menuju ke rumah Dion lumayan sedikit jauh, jika macet bisa memakan waktu satu jam setengah. Jika lancar hanya memakan waktu 45 menit saja.


Daniel dan Leny sudah sampai di pekarangan rumah milik Yoga. Anita menyambut kedatangan keponakannya dengan semangat.


"Wah sayangnya Tante" ucap Anita memeluk Leny


"Tante..." jawab Leny membalas pelukan Anita


Daniel langsung membawa Dion untuk segera menuju rumah ibunya agar mereka cepat tau kebenaran mereka selama ini.


Daniel sesekali melirik kembaran dirinya dari kaca spion. Dion merasa sedikit canggung mendapat tatapan dari saudara kembarnya itu.


"Maa..maaf ada a..apa ya kak?" tanya Dion sedikit gugup


Daniel tersenyum dan menjawab


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak menyangka kalau aku memiliki saudara kembar"


"Hehehe, aku juga tidak tau kak" jawab Dion sedikit salah tingkah


"Apa kamu sudah memiliki pasangan?" timpal Leny bertanya


"Maaf kak belum hehe" jawab Dion polosnya


Leny tersenyum, terlintas di pikirannya teringat dengan sosok Ayu. Dia bisa menjodohkan Dion dengan Ayu.


"Jika kak Ayu aku jodohkan dengan Dion, mungkin dia akan senang hehehe" batin Leny tersenyum penuh arti


"Ma..maaf kak, kakak ipar kenapa ya? kok senyum-senyum sendiri?" tanya Dion


"Eh tidak apa-apa" jawab Leny langsung menatap ke depan


Daniel dan Dion hanya memiliki wajah dan fisik yang sama, berbeda dengan sifat mereka yang berbalik 180°. Daniel yang begitu di segani dan berwibawa, sedangkan Dion seperti seorang pengecut dan tidak tegas. Terlihat dari penampilannya begitu kutu buku.


Daniel berhenti di sebuah minimarket dan ingin membeli minuman untuk mereka bertiga.


"Sayang kamu mau minum apa?" tanya Daniel


"Orange juice suamiku" jawab Leny tersenyum


"Kamu Dion?" tanya Daniel menatap Dion


Daniel tersenyum dan segera keluar untuk membeli pesanan mereka. Namun ketika hendak keluar dari mobil, tiba-tiba Dion memanggilnya


"Ma..maaf kak, biarkan saja a..aku yang kesana" ucap Dion sedikit gugup


"Sudah kamu di sini saja temani kakak ipar kamu" jawab Daniel tersenyum


"I..iya kak ma..maaf merepotkanmu" jawab Dion menunduk


Daniel tersenyum dan menggeleng saja setelah itu ia segera menuju minimarket itu.


"Sudahlah kamu jangan terlalu canggung dengan kami, lagian Daniel itu saudara kandung kamu" ucap Leny


"I..iya kak ma..maaf" jawab Dion


"Sudah berapa kali kamu meminta maaf terus?, ini bukan suasana lebaran" ucap Leny sedikit kesal


"Ma..maaf" jawab Dion gugup


Leny langsung menatap tajam kearah Dion karena begitu geram melihat cerminan dari sosok suaminya yang begitu sangat cupu menurutnya.


Saat mendapatkan tatapan itu Dion menelan ludahnya dan langsung memandang kearah luar kaca mobil.


Di dalam minimarket...


Daniel sedang memilih 3 botol minuman dan beberapa makanan ringan untuk mereka bertiga. Tiba-tiba ada 4 orang yang sepertinya mengenali sosok Daniel. Keempat orang itu mendekati Daniel dan mengganggunya.


"Hey cupu! apa kabar?" tanya salah satu dari mereka


"Bagaimana jatah kami? sudah kau siapkan?" timpal rekannya


Daniel hanya menatap mereka dengan senyuman sinis lalu fokus kedepan lagi.


Mereka berempat menjadi geram karena mendapat balasan seperti itu dari Daniel.


"Kau sudah berani mengabaikan kami Dion?!" bentak salah satu dari mereka


Daniel mengerutkan keningnya dan bertanya dalam hati


"Dion?"


kemudian Daniel menggelengkan kepalanya dengan pelan dan terus mengabaikan sampah-sampah itu.


Mereka semakin geram karena Dion yang selalu mereka palak kini tidak memperdulikan mereka dan bahkan merasa tidak takut pada mereka berempat.


Daniel melangkahkan kakinya menuju kasir, dan mereka masih mengikutinya. Sampainya di luar, Daniel langsung di kepung oleh mereka berempat. Dia terkejut lalu menguap seakan tidak peduli dengan keberadaan mereka.


"Wah sombong sekali si cupu ini" ucap salah satu dari mereka


"Udah kita geledah aja, cari hartanya"


Dion yang melihat Daniel sedang dikeroyok, dia menjadi panik.


"Kak, kak, kak" ucap Dion panik mengagetkan Leny


"Ada apa sih?" tanya Leny sedikit kesal karena di ganggu Dion saat ia sibuk memainkan ponselnya


"I..itu kak Daniel" jawab Dion sambil menunjuk ke arah Daniel


Leny melihat arah dari jari telunjuk Dion dan melihat Daniel sedang di kelilingi oleh 4 orang. Namun dia tidak ada rasa khawatir sedikitpun karena ia pasti tau sang suami akan menang begitu mudah.


"Oh, biarkan saja" jawab Leny santai lalu fokus pada layar ponselnya lagi


Dion mengerutkan keningnya saat melihat Leny tidak mengkhawatirkan keselamatan suaminya sendiri.


"Kakak apa tidak khawatir dengan suami kakak sendiri" tanya Dion panik


"Buat apa? kamu lihat aja nanti hasilnya" jawab Leny santai sambil fokus ke layar ponselnya.


Dion terdiam lalu fokus melihat kakak kembarnya yang sedang di kepung oleh preman kampung itu. Ada rasa khawatir pada diri Dion, namun juga ada rasa takut dalam dirinya. Dion ingin membantu namun rasa takutnya lebih besar.


Dia takut saudara kembarnya kenapa-kenapa, namun dia juga bingung karena tidak bisa berbuat apa-apa. Sedangkan Leny tetap santai dan tidak memperhatikan suaminya yang tengah dalam bahaya menurut Dion.


"Sudah kita hajar aja dulu si cupu ini, baru kita nikmati hartanya" usul salah satu mereka


"Oke" jawab mereka


Salah satu dari mereka melancarkan satu pukulan mengarah ke wajah Daniel, namun Daniel sedikit membungkuk karena melihat tali sepatunya lepas. Jadi pukulannya meleset justru malah mengenai wajah temanya sendri yang berada di sebelah kiri Daniel.


"Aduh! bodoh! mengapa kau memukulku?!" tanya rekannya menahan sakit di wajahnya


"Aduh sorry" jawab rekannya


Lalu salah satu dari mereka melakukan tendangan, tiba-tiba Daniel berjongkok dan membenarkan tali sepatunya dan tendangannya meleset lagi mengenai mahkota temannya yang berada di belakang Daniel.


"Aduh bijiku!" teriak temannya menjerit kesakitan memegangi bagian mahkotanya


Kedua orang itu terkapar di bawah karena terkena pukulan rekannya sendiri. Kini hanya tinggal 2 orang yang tersisa.


Ketika rekannya melancarkan pukulan kearah samping ingin mengincar wajah bagian kiri Daniel, namun sayangnya Daniel bersin dan membungkukkan badannya, alhasil pukulannya meleset lagi dan mengenai hidung temannya hingga membuat mimisan lalu tergeletak di tanah.


"Aduh hidungku rasanya patah!" teriak temannya kesakitan


Daniel tersenyum sinis menatap sisa 1 sampah yang berada didepannya. Daniel hanya memukul pundak preman itu dan langsung membuat sampah itu tersungkur kebawah dan pingsan. Daniel memandangi mereka semua lalu menaikan kedua pundaknya dan segera menuju mobilnya kembali....