Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MASALAH BARU


Chiaki terkejut mendengar ucapan Leny yang akan menghadiahkan sebuah mobil untuknya. Souji langsung memotong dan menolak pemberian dari Leny karena itu sangat di luar nalar.


"Mohon maaf nona muda. Kami tidak bisa menerima hadiah tersebut" ucap Souji dan Chiaki mengatakan ulang ucapan dari sang Papa menggunakan bahasa Inggris agar Leny mengerti.


Ayu mendekati Leny dan mencoba menasehati Kakak iparnya itu agar memikirkan lagi atas apa yang baru saja ia katakan.


"Kakak ipar, apa yang kau lakukan?. Itu terlalu berlebihan, aku yakin suami kamu juga tidak akan setuju" tegur Ayu berbisik.


"Aku yakin pasti kamu sedang mengigau kan?" timpal Ayu bertanya.


"Aku tidak sedang mengigau Adik ipar. Apa yang aku katakan tadi memang benar adanya" jawab Leny tersenyum sambil memegang kedua pundak Ayu.


"Kamu memberikan sebuah mobil loh, bukan sebungkus kerupuk" tegur Ayu masih tak percaya.


"No...nona besar, sa...saya tidak bisa menerima benda tersebut" ucap Chiaki menyela.


"Dengan tuan dan nona besar yang sudah menyelamatkan nyawa saya saja sudah lebih dari cukup untuk membalas semua kebaikan kalian. Jadi tolong jangan berikan itu pada saya" timpalnya menolak secara halus.


"Jika kamu tidak menerima pemberian itu, berarti kamu dan Papamu tidak mau memaafkan suamiku" ucap Leny dengan wajah sedihnya.


"Kami benar-benar sudah memaafkan tuan besar. Akan tetapi tidak perlu dengan memberikan hadiah juga" jawab Chiaki.


"Kamu pikir, dengan aku memberikan salah satu mobil milikku, bakal membuat kami menjadi miskin?" tanya Leny tegas.


"Kamu salah paham Chiaki. Benda itu sudah terlalu banyak. Jadi jika aku memberikan salah satu benda tersebut kepadamu, tidak akan membuat kami menjadi miskin juga" timpal Leny menjelaskan.


"Tu...tuan muda, tolong tegur istri anda agar nona muda bisa membatalkan apa yang ia katakan barusan" ucap Souji meminta bantuan pada Daniel.


"Maaf, aku tidak bisa Pak tua. Aku tak bisa berbuat apa-apa jika istriku sudah memutuskan itu" jawab Daniel menepuk pundak Souji.


"Tapi itu kan milik anda tuan muda, sudah menjadi hak anda untuk memutuskannya. Lagi pula anda juga kepala keluarganya, tentu saja nona muda pasti akan menuruti apapun perkataan anda" ucap Souji semakin memohon.


"Seharusnya kau dan putramu bisa menerimanya Pak tua. Karena kau sudah tau aku, kau tau harta yang ku miliki" ucap Daniel meyakinkan Souji agar mau menerima pemberian dari Leny.


"Iya saya tau tuan muda. Tapi, dengan anda yang sudah menyelamatkan putra saya, itu sudah lebih dari cukup. Kami sudah tak ingin merepotkan keluarga anda lagi" jawab Souji.


"Hahaha. Aku sama sekali merasa tidak di repot kan kok. Justru aku senang bisa menyelamatkan nyawa orang yang begitu setia padaku dan juga Dark Shadow" ucap Daniel.


Souji hanya terdiam mendengar penjelasan dari Daniel. Chiaki dan Souji cuma saling menatap seakan mempertimbangkan apa yang Leny berikan pada mereka. Chiaki benar-benar tidak mampu menerima hadiah tersebut karena kebaikan dari pasangan Dark Shadow itu sudah sangat besar untuk keluarganya.


"Sudah begini saja. Kalian terima hadiah itu. dengan syarat, kalian berdua harus terus berada di bawah pimpinan suamiku, menjaga dan melindungi keluarga kami, terutama untuk putra kami" ucap Leny menawarkan persyaratan.


"Kalau soal setia dan menjaga keluarga anda, tidak perlu dengan hadiah juga sudah pasti kami akan melakukannya nona" jawab Chiaki.


"Sudah cukup nona muda. Dengan tuan muda yang sudah menyelamatkan nyawa saya dan Papa saya saja sudah membuat kami akan terus setia serta akan terus menjaga keluarga anda" timpal Chiaki.


"Sudah ku putuskan!. Kalian harus menerimanya dan jangan ada komplain atau penolakan lagi!" ucap Leny tegas.


"Tapi nona..." ucapan Chiaki terhenti karena Leny langsung menatap kejam ke arahnya.


"Jika kamu menolaknya, maka aku akan buat perhitungan pada keluargamu!" ucap Leny mengancam dengan tatapan kejamnya.


"Ba...baik nona besar, saya akan menerima hadiah tersebut. Tolong jangan apa-apakan keluargaku" jawab Chiaki memohon.


"Selama kamu tidak membantah, aku tidak akan menyuruh suamiku melakukan hal tersebut" ucap Leny tersenyum sambil menyilang kan kedua tangannya.


Daniel hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya saja melihat istrinya yang terus memaksa keluarga Souji. Ia sangat senang melihat istrinya yang begitu mendukung pekerjaan ia selama ini di jalankan nya meskipun Daniel harus merahasiakannya setahun yang lalu, namun tidak membuat Leny kecewa ataupun ketakutan setelah mengetahui hal yang sebenarnya.


"Tumben" gumam Daniel.


"Iya, ada apa Iyan?" tanya Daniel setelah ia mengatakan telpon dari orang yang ia sebut Iyan.


"Mohon maaf mengganggu waktu anda tuan muda" ucap Iyan lewat panggilan telepon.


"Sudah katakan saja, jangan sungkan-sungkan" jawab Daniel.


"Begini tuan muda, ini tentang salah satu cabang perusahaan anda yang ada di negara ini" ucap Iyan merasa ragu.


"Memangnya ada apa?, ada masalah?" tanya Daniel santai.


"Sepertinya begitu tuan muda" jawab Iyan ketakutan


"Baiklah, sebaiknya kita bicarakan masalah ini secara langsung. Jika lewat telepon rasanya sedikit sulit" ucap Daniel.


"Iya tuan muda, saya akan menemui anda" jawab Iyan.


"Kalau begitu kau datang ke salah satu restoran milikku" ucap Daniel memerintah.


"Maksud tuan, tempat biasa kita bertemu?" tanya Iyan memastikan.


"Iya tentu saja" jawab Daniel.


"Baik tuan muda. Kalau begitu terima kasih dan maaf jika saya menggangu waktu anda" ucap Iyan dengan sopan lalu menutup panggilannya.


Daniel menghela nafasnya sambil menggelengkan kepalanya lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Leny yang penasaran melihat wajah sang suami yang tiba-tiba berubah, membuatnya penasaran dan bertanya-tanya.


"Ada apa suamiku?" tanya Leny memegang lengan Daniel.


"Tidak ada Honey, hanya masalah kecil" jawab Daniel tersenyum sambil mengelus pipi istrinya.


"Katakan suamiku!. Ada apa?!" tanya Leny lagi dengan sedikit kesal.


"Ada sedikit masalah di salah satu cabang kantor kita Honey" jawab Daniel.


"Kantor?" tanya Leny bingung.


"Iya Honey. Di negara ini kita memiliki beberapa kantor properti, anggap saja Ayah meneruskan perusahaan milik Mama Aqila dan memperluasnya sampai ke negara ini" jawab Daniel menjelaskan.


"Kenapa Ayah tidak pernah memberi tau Bunda?" tanya Leny.


"Menurut Ayah, itu tidak penting Honey" jawab Daniel santai.


"Dasar suami bodoh!" ucap Leny sedikit kesal.


"Tentu saja ini sangat penting suamiku!. Karena ini menyangkut tentang pekerjaan Ayah, jadi sebagai pasangan suami istri seharusnya tidak ada yang harus di rahasiakan" timpal Leny.


"Baiklah-baiklah istriku, maafkan Ayah karena sudah merahasiakan ini dari Bunda" ucap Daniel memegangi kedua pipi Leny.


"Yaudah. Mulai sekarang jangan ada rahasia-rahasia lagi ya" ucap Leny.


"Iya istriku, tidak akan" jawab Daniel tersenyum sambil mencubit kedua pipi Leny.