
Alvin hanya terdiam meresap semua perkataan Daniel. Menurutnya, sampai saat ini belum ada wanita yang mampu menggantikan sosok Aisyah dalam hatinya meskipun Alvin mencoba membuka hatinya untuk wanita lain.
"Kau tau betapa berharganya Aisyah dalam hidupku kan?" ucap Alvin bertanya.
"Iya aku tau Alvin. Tapi Aisyah sudah tidak ada lagi di dunia ini, dia sudah bahagia di alam sana" jawab Daniel
"Aku yakin Aisyah akan sangat sedih jika melihat kau si pangerannya seperti ini" timpal Daniel.
Sedangkan Leny hanya menyimak dari obrolan kedua lelaki itu, ia masih saja terus menikmati makanannya bahkan makanan milik sang suami juga di ambilnya.
"Lah Bunda?. Itu kan punya Ayah" ucap Daniel sedikit terkejut melihat nafsu makan sang istri yang begitu besar.
"Hehe. Bunda lapar banget Ayah" jawab Leny cengengesan.
"Kan bisa pesan yang baru Honey" ucap Daniel sembari mengelus kepala sang istri.
"Ummm. Kalau pesan yang baru, pasti nunggunya lama. Sedangkan Bunda sudah gak tahan" jawab Leny menyebikkan bibirnya.
Alvin tersenyum melihat keharmonisan rumah tangga dari Daniel dan Leny. Ada sedikit rasa iri di hatinya karena nasib cintanya dengan Aisyah harus terpisah karena kematian.
"Andai saja aku sudah menjadi dokter sebelum kamu terkena penyakit itu, mungkin sampai saat ini kita masih bersama sayang" batin Alvin tersenyum pahit.
"Tapi Tuhan lebih sayang padamu, dan akhirnya kamu harus pulang menemui sang pencipta" timpalnya.
"Ayah" bisik Leny sembari menunjuk ke arah Alvin menggunakan dagunya. Daniel menoleh ke arah Alvin dan langsung menyadarkannya dari lamunan.
"Udah jangan banyak melamun. Ikhlaskan Aisyah, buka hatimu untuk wanita baru" ucap Daniel menasehati.
"Iya tuan. Aku akan berusaha" jawab Alvin tersenyum terpaksa.
"Udah siang banget ni, kami harus menjemput Damin" ucap Daniel sembari melihat arloji yang melekat pada pergelangan tangannya.
"Iya, aku juga harus kembali ke rumah sakit. Aku gak mau di bilang makan gaji buta" sambung Alvin menyindir.
"Yaudah, kami berangkat dulu. Biar aku yang bayar" ucap Daniel dan langsung pergi bersama sang istri.
_____________________________________
Setelah sampai di ruangannya, konsentrasinya menjadi buyar setelah Daniel mengingatkan antara hubungannya dengan Chelsea.
Namun kenangannya bersama Aisyah masih teringat dalam memori otaknya meski sudah hampir 3 tahun Aisyah wafat.
Kemudian Alvin memejamkan matanya dengan dagu yang ia tumpu dengan kedua tangannya, dan kenangannya bersama dengan Aisyah pun terngiang dalam pikirannya.
_______________________________
flashback...
Aisyah dan Alvino sedang berjalan-jalan di sebuah mall untuk sekedar melepas penat setelah satu Minggu bekerja. Alvino mengajak Aisyah untuk membeli sebuah baju couple untuk mereka berdua gunakan jika nanti berjalan-jalan.
Alvino meminta sang kekasih yang memilih baju yang ia sukai untuk mereka kenakan di kemudian hari. Disaat Aisyah tengah sibuk memilih, tiba-tiba ide nakal Alvino muncul untuk menjaili sang pujaan hatinya itu.
Alvino mengambil sebuah baju lingerie kemudian langsung ia cocokan ke tubuh Aisyah dan alhasil membuat wajah Aisyah merah merona karena malu.
"Ih sayang!. Kamu sudah mulai nakal ya?!" gerutu Asiyah dengan suara manjanya
Aisyah langsung merebut baju haram yang Alvino pegang tadi dan langsung mengembalikan baju itu ketempat ia berasal.
"Awas kamu ya!" ancam Aisyah menunjuk-nunjuk Alvino, sedangkan yang di tunjuk hanya bersiul seakan tak melakukan kesalahan apapun.
Setelah barang yang mereka butuhkan telah terbeli, kini Aisyah dan Alvino berkeliling di dalam mall itu dan Aisyah berniat ingin membeli sebuah buku yang akan ia baca ketika ia merasa bosan nantinya.
Saat mereka melewati sebuah toko perhiasan, tiba-tiba langkah kaki Alvino terhenti ketika ia melihat sebuah cincin dari kejauhan. Karena melihat pangeran tampannya tiba-tiba berhenti, mau tak mau Aisyah juga harus menghentikan langkahnya dan menghampiri Alvino.
Aisyah melihat arah mata Alvino tertuju, dan di saat ia mengetahui apa yang di lihat oleh pangeran tampannya itu, sontak membuat Aisyah langsung tersenyum dan mengagetkan Alvino yang tengah fokus menatap kearah sebuah cincin.
Aisyah menepuk pundak Alvino dengan lembut dan membuat Alvino langsung tersadar kemudian Alvino tersenyum manis ke arah bidadarinya itu.
"Jika tabungan kita sudah cukup, aku ingin memakaikan cincin itu ke jari manis kamu" ucap Alvino tersenyum manis
Tiba-tiba raut wajah Alvino berubah dan ia langsung menundukkan kepalanya sambil berkata dengan lirih "Terima kasih ya bidadariku, kamu sudah mau menemaniku dari aku tak memiliki apa-apa, sampai aku sudah mempunyai pekerjaan tetap"
Aisyah menghela nafasnya dan berkata "Kamu adalah sosok lelaki yang hebat, aku bangga memiliki kamu"
"Udah ayo buruan sayang, sebentar lagi masuk waktu Dzuhur ni, kita harus udah di rumah sebelum Dzuhur" timpalnya sambil melihat arloji di pergelangan tangannya
"Siap buk bos!" jawab Alvino sambil memberikan hormat dan membuat Aisyah tersenyum sambil menggeleng
"Silahkan tuan putri" pinta Alvino menyuruh Aisyah berjalan terlebih dahulu
"Hehe, terima kasih pangeran tampan" jawab Aisyah melangkahkan kakinya terlebih dahulu dan di ikuti Alvino dari belakang bak seorang bodyguard
Alvino mengikuti kemanapun langkah si bidadarinya menuju, lalu pada akhirnya mereka sudah sampai di sebuah toko buku dan Aisyah langsung menuju masuk kedalam untuk mencari buku yang akan ia baca nanti.
Aisyah masih sibuk mencari novel yang akan ia beli nantinya. Karena banyak cerita yang menarik, membuat Aisyah kebingungan harus memilih buku yang mana. Sedangkan Alvino dengan sangat setia ia terus mengawal bidadari cantiknya itu agar tak lepas dari pandangan matanya.
"Yang mana ya?" ucap Aisyah sambil memegangi dagunya dengan jari telunjuk
"Pilih saja apa yang kamu suka sayang" ucap Alvino memberikan sebuah saran
"Tapi aku bingung sayang, semua ceritanya bagus-bagus" jawab Aisyah dengan wajah imutnya sampai membuat Alvino menjadi gemas melihatnya
"Sepertinya ini bagus deh sayang" ucap Alvino menunjukkan sebuah novel yang berjudul Suami terbaik.
"Coba sini aku lihat" pinta Aisyah dan langsung Alvino berikan buku yang ada di tangannya kepada sang bidadarinya itu.
Dengan serius Aisyah melihat buku yang di sarankan oleh Alvino tadi. Ia membolak-balikkan buku yang berada di tangannya dan ia tersenyum lalu berkata "Iya kamu benar sayang, yaudah aku ambil yang ini saja"
Aisyah langsung memutuskan pilihan pada sebuah buku yang di sarankan oleh pangeran tampannya itu, dan ia langsung menuju kasir untuk membayar buku yang ada di tangannya.
Tiba-tiba Alvino mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang lembaran seratus ribu lalu ia berikan pada sang bidadari cantiknya itu.
"Apa ini?" tanya Aisyah saat melihat Alvino yang tengah menyodorkan uangnya yang berwarna merah tersebut
"Untuk membayar buku yang berada di tanganmu" jawab Alvino yang tengah menyodorkan uangnya
"Tidak perlu Sayangku, aku punya uang kok" tolak Aisyah dengan lembutnya.
"Tidak apa-apa sayang, ambilah" pinta Alvino
Aisyah mendorong lembut tangan Alvino yang tengah memegang uang lembaran seratus ribu itu dengan lembut lalu ia berkata "Simpanlah uang kamu untuk tambahan biaya pernikahan kita"
"Aku tak boleh meminta uangmu karena aku belum menjadi Istrimu" timpalnya tersenyum
"Ambil saja sayang, toh sebentar lagi kamu kan sudah resmi menjadi Istriku" ucap Alvino tersenyum
"Tidak sayang, aku tidak mau menyusahkan kamu" tolak Aisyah lagi
"Tapi..." ucapan Alvino terhenti karena langsung di potong oleh Aisyah
"Tidak usah sayang, aku masih bisa membayarnya sendri" jawab Aisyah
"Simpan saja lagi" timpalnya dan langsung pergi menuju ke meja kasir untuk segera membayar buku yang akan ia beli
Alvino memasukan kembali uangnya kedalam dompet, kemudian ia menatap punggung bidadarinya itu, lalu iya berkata "Kamu memang Istri idaman sayang"
"Gak menyesal aku jika jadi Suamimu kelak" timpalnya tersenyum menatap sang kekasih dari kejauhan
Setelah selai membayar, Alvino dan Aisyah langsung pergi meninggalkan mall itu karena apa yang mereka inginkan telah mereka dapatkan.
Dengan motor kesayangan, Alvino dan Aisyah langsung pergi menjauh dari mall mewah tersebut, menuju ke rumah calon Istrinya kelak.
Flashback end...
Air mata Alvin kembali mengalir saat mengingat kenangan manis mereka berdua tadi. Ia merasa benar-benar sangat kehilangan sosok wanita yang dengan setianya menemaninya dari nol
"Mungkin tak akan pernah ada wanita yang seperti dirimu lagi di dunia ini sayang" lirih Alvino menangis sambil menggenggam erat surat tulisan milik Aisyah.