Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
SELAMA TINGGAL


Satu minggu telah berlalu, dan kini saatnya bagi Dion untuk berlatih pada sang kakak. Hari ini Dion lebih bersemangat dari biasanya, entah apa yang dia rasakan saat ini, intinya dia ingin segera sampai kerumah sang kakak untuk memulai latihan yang di katakan Daniel begitu berat untuknya.


"Kak, tunggu adikmu ini" ucap Dion penuh semangat


Saat di lampu merah, mobil Ayu berada di samping mobil milik Dion. Ketika Ayu melihat ke arah kanan ia sedikit terkejut melihat ada sosok Daniel berada di samping mobil miliknya namun Daniel tidak bersama Leny


"Daniel?, kok sendiri?, kemana istrinya? biasanya kan mereka seperti perangko" gumam Ayu


Lampu sudah hijau, Dion telah melaju, namun tidak dengan Ayu, dia malah termenung setelah melihat Daniel tadi. Entah apa yang ia pikirkan, antara senang atau heran melihat sosok pria yang selama ini masih berada di hatinya.


"TIN..TIN...TIN.."


Ayu tersadar dari lamunannya karena mendengar suara klakson mobil yang berada di belakangnya.


"Ah! apa yang aku pikirkan!?" gumam Ayu menggelengkan kepalanya lalu ia pergi dari tempat itu


Sepanjang perjalanan ia masih teringat dengan Daniel yang baru ia lihat tadi. Dia takut kalau Daniel dan Leny sedang bertengkar, pikirannya tak karuan memikirkannya.


Karena kehilangan konsentrasi, dia terpaksa memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ternyata dia berhenti di depan sebuah minimarket, dia berniat untuk membeli sebuah minuman untuk meningkatkan konsentrasinya lagi.


Saat ia melangkahkan kakinya menuju minimarket itu, saat ingin membuka pintu, dia di kejutkan dengan sosok lelaki tampan yang baru keluar dari minimarket tersebut sedang membawa banyak belanjaan, namun lelaki tampan itu tidak mengenali sosok wanita yang sedari tadi terus memperhatikan dirinya.


"Daniel?!" ucap Ayu memanggil lelaki itu


Lelaki itu terhenti dan melihat keseliling mencari seseorang yang memiliki nama yang wanita panggil tadi, dia tak tau kalau wanita itu sedang memanggilnya.


"Hey! kok seperti orang linglung?" tanya Ayu menepuk pundak Dion


"Mbak manggil saya?" tanya Dion menunjuk dirinya sendiri


Ayu mengerutkan keningnya, ia merasa bingung dengan sosok lelaki tampan yang berdiri tepat di depannya.


"Iya kamu dong, kan di sini yang namanya Daniel cuma kamu doang" ucap Ayu menjelaskan


"Apa jangan-jangan dia temannya kakakku?" batin Dion memperhatikan sosok wanita cantik yang ada tepat didepannya dari atas sampai bawah


"Gila... kakakku keren banget bisa memiliki teman secantik ini, tidak kalah cantiknya dengan kakak ipar" gumam Dion terus memperhatikan Ayu


"Kamu kenapa sih? kok ngelihatin aku sampe segitunya?, aku kan jadi malu" ucap Ayu salah tingkah karena terus di perhatikan oleh lelaki yang ia cintai itu


"Eh... gak mbak hehe, maaf ya maaf" jawab Dion menggaruk tengkuk lehernya


"Mbak?" tanya Ayu heran


"Iya dong, kan aku belum kenal sama kamu" jawab Dion jujur


"Kamu kenapa sih? amnesia? masa sama aku lupa" tanya Ayu khawatir


"Aduh maaf ya mbak, aku lagi buru-buru, ada seseorang yang ingin aku temui" ucap Dion sopan dan meninggalkan Ayu yang masih bingung dengan dirinya


"Aneh, masa dia lupa samaku, huh!" ucap Ayu kesal dan langsung masuk kedalam minimarket tersebut


Ayu sudah masuk kedalam minimarket tersebut dan langsung menuju barisan minuman dingin, dia terus saja kepikiran tentang yang tadi


"Apa benar dia lupa denganku?" gumam Ayu


Pikirannya semakin kacau, ada rasa yang sangat sesak di dalam hatinya, tanpa ia sadari air matanya menetes.


"Mbak, mbak, maaf. Jangan menangis" ucap pengunjung wanita yang berada di samping Ayu


"Eh... enggak kok mbak, mungkin ada kotoran aja di mata saya.. hehehe" jawab Ayu menyeka air matanya


"Kotoran apaan? orang habis nangis gitu" batin Wanita itu langsung meninggalkan Ayu yang masih sibuk di tempat minuman dingin itu


Ayu menggambil 1 botol minuman dingin dan beberapa roti.


Setelah belanjaan sudah di scan oleh pihak kasir, Ayu terus saja termenung memikirkan sosok lelaki yang selama ini ia cintai itu. Sampai-sampai seorang kasir terus memanggilnya.


"Totalnya 25 ribu rupiah ya mbak" ucap seorang kasir itu namun Ayu terus saja termenung


"Mbak... mbak?" panggil kasir itu mengibaskan tangannya di depan mata Ayu yang masih termenung


"Mbak! buruan, saya juga mau bayar ini!" ucap seorang lelaki yang sedari tadi menunggu di belakang Ayu


"Eh maaf ya" ucap Ayu tersadar dari lamunannya dan langsung menyerahkan uang lembaran 50 ribu, lalu langsung pergi meninggalkan meja kasir menuju mobilnya


"Ck!, cantik-cantik kok tukang melamun, kesambet baru tau rasa" ucap lelaki itu namun tidak terdengar oleh Ayu karena dia telah masuk kedalam mobilnya


"Daniel kamu kok jahat banget sih? kenapa kamu bisa tidak mengenaliku?!" ucap Ayu sedih


_________________________________


"Daniel sayang, maafkan mama ya nak, mama telah menelantarkan kamu dan adikmu" ucap seorang wanita paruh baya yang telah meneteskan air matanya


"Apa yang mama katakan? mama tidak salah kok, Daniel dan Dion sayang mama" jawab Daniel sedih


"Maafkan mama dan papa karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian putraku-putraku. Mama dan papa sangat menyayangi kalian anak-anakku" ucap wanita itu


"Iya ma, Daniel dan Dion tau kok, kami juga sangat menyayangi kalian" jawab Daniel tanpa sadar meneteskan air matanya


"Jangan sedih sayang, nanti mama dan papa semakin merasa bersalah" ucap wanita itu menyentuh kedua pipi Daniel


"Iya ma" jawab Daniel mengangguk dan menyeka air matanya


"Mana papa ma?" tanya Daniel mencari sosok keberadaan sang ayah kandungnya


"Papa di sini nak" jawab seorang lelaki paruh baya yang sudah berada di belakang Daniel


"Pa!" ucap Daniel langsung memeluk lelaki itu, dan mereka bertiga langsung berpelukan untuk melepaskan rasa rindu masing-masing.


Wanita itu terus membelai rambut Daniel dengan penuh kasih sayang, dan dia menangis dalam pelukan Daniel.


"Oh iya ma, pa, aku juga sudah memiliki keluargaku loh, menantu mama tidak kalah cantiknya dari mama" ucap Daniel tersenyum manis


Wanita itu tersenyum dan masih membelai kepala anak tampannya itu.


"Wah benarkah nak?, Alhamdulillah mama dan papa ikut bahagia"


"Dan sebentar lagi kalian akan mempunyai cucu" ucap Daniel dengan semangat


"Wah, papa ikut bahagia atas keluarga kecil kamu nak" ucap lelaki itu menepuk pundak Daniel


"hmm, sepertinya kami harus pergi nak" ucap sang papa


"Kemana ma? pa?" tanya Daniel sedih


"Kita kan baru bertemu ma, pa. Apa kalian tidak merindukan Dion?, apa kalian tidak ingin bertemu dengan istriku? apa kalian tidak mau melihat saat cucu kalian lahir? dan.. dan... hiks.. hiks.. dan apa kalian... tidak ingin bertemu dengan.. hiks.. Ayah Leo dan..hiks.. ibu Rani? mereka pasti sangat merindukan kalian" ucap Daniel sambil menangis


Lelaki dan wanita paruh baya itu tersenyum manis. Mereka mendengarkan keluhan dari anak mereka, tak henti-hentinya mereka membelai kepala Daniel.


"Papa dan mama sangat bahagia kalau Leo dan Rani mau membesarkan kamu, dan papa senang Anita merawat Dion dengan sangat baik. Kalian anak-anak kami yang sangat kami sayangi, kami sangat bahagia bisa menjadi orang tua kalian nak. Jaga adikmu, jaga juga keluarga kecilmu nak. Papa dan mama titip Dion ya nak. Sayangi istrimu, lindungi dia, jangan sekali-kali kamu sakiti dia, cintailah dia seperti kamu mencintai mama kamu ini ya nak. Anggap saja ini adalah pesan terakhir dari papa"


"Mama sayang kalian anak-anakku, mama selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian berdua, mama juga ingin bertemu dan memeluk menantu dan calon cucu mama. Tapi mama hanya bisa menitipkan mereka pada kamu, jaga mereka ya sayang, mama percaya kamu bisa melindungi mereka, jangan pernah membantah perkataan Rani dan Leo, jangan buat mereka bersedih ya nak, lindungi istrimu, sayangi dia, contoh papa kamu yang selalu menjaga mama kamu, kami harus pamit nak, sekali lagi mama dan papa menitipkan adikmu ya sayang"...


Perlahan kedua orangtua Daniel memudar dari pandangannya, Daniel semakin histeris tak terima akan perpisahan ini..


"Mama! papa!" teriak Daniel merentangkan tangannya ke arah mereka.