Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERMAINAN


Kevin langsung mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Kakaknya tadi. Sedangkan Leny masih terus menakut-nakuti pria yang hampir membuatnya celaka tadi. Di dalam hatinya masih terasa sangat dendam terhadap pria tersebut, karena perbuatannya Leny harus mengalami syok yang begitu berat dan ia harus membuat pria itu merasakannya 10 kali lipat dari apa yang ia rasakan siang tadi.


Dion serta para bawahannya Daniel hanya bisa menelan ludahnya secara kasar ketika melihat nona muda mereka yang seperti itu. Terutama Dion, ia tak tau kalau Kakak ipar yang selama ini memiliki sifat yang begitu lembut ternyata terdapat sisi lain.


"K...kak" panggil Dion ragu-ragu, sedangkan Leny hanya menatap kearah Dion dengan tatapan yang begitu membuatnya merinding lalu Leny mempermainkan pria yang terikat di hadapannya lagi tanpa memperdulikan orang lain.


"Kau pikir, dengan kau sudah membocorkan rahasia ini, kau bisa bebas begitu saja?" tanya Leny sambil memainkan pisaunya di tubuh pria yang sudah berkeringat dingin menatap kilauan dari pisau tersebut.


"Tidak ada satupun makhluk yang bisa lolos dariku setelah ia berani mencari masalah dengan keluargaku" timpalnya lalu langsung memotong salah satu ruas jari telunjuk pria itu dan membuat pria itu menjerit kesakitan. Sedangkan Leny hanya tertawa aneh.


Darah terus mengalir dari ruas jari yang baru saja Leny potong tadi. Dion dan para bawahannya Daniel hanya bisa bergidik ngerih melihat sosok wanita yang begitu mirip dengan watak dari sang pemimpin Dark Shadow tersebut.


Daniel cuma bisa menggeleng melihat kelakuan dari sang istri. Ia bahkan tak berani mengganggu keasikan yang di lakukan oleh wanita yang sangat ia cintai itu. Asalkan istrinya bahagia, maka ia tak ingin merusaknya.


"ARKKKKHHH!!..Ampun" teriak pria itu merengek.


"Baru segitu doang udah minta ampun. Ah cemen ni" ejek Leny sambil menusukkan ujung pisaunya pada ruas jari yang sudah terjatuh di lantai lalu ia menunjukkan potongan jari itu pada pemiliknya. Sedangkan pria itu sudah merengek kesakitan.


"A...ampun nona, to..tolong lepaskan saya" rengek pria itu memohon.


Leny mencengkram erat bibir pria tersebut lalu ia menjawab "Melepaskan?. Hahahaha, baiklah-baiklah. Aku akan melepaskan seluruh jemari milikmu itu. Hahahaha" Leny semakin tak terkendali bahkan ia menyayat daun telinga bagian kiri milik pria tersebut dan lagi-lagi pria itu hanya bisa menjerit kesakitan.


Telinga kiri pria itu menjadi terbelah menjadi dua namun tidak terlepas dari kepalanya karena memang di sengaja oleh Leny agar ia tau kalau itu bayarannya jika berani bermain dengannya.


Pria itu merasakan pedih yang sangat luar biasa pada bagian telinganya dan dia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menjerit memohon ampun kepada sosok wanita yang seperti kesurupan itu.


Dion seperti mau muntah ketika melihat Kakak iparnya melakukan hal sekejam itu terhadap manusia lainnya. Ada perasaan tak tega terhadap pria malah tersebut. Namun, ia juga sangat marah ketika mengingat kejadian yang menimpa sang Kakak siang tadi. Jadi, dia hanya bisa melihat dan menahan rasa jijik saja saat melihat Leny yang sedang melakukan eksekusi pada tahanannya.


"Ampun...Sakit... Sakit..." lirih pria itu dengan suara yang melemah.


"Kurang ajar!. Aku baru saja bermain, dan kau sudah mau mati?!" tanya Leny tak terima sambil memukul kepala pria itu menggunakan pegangan dari pisau tersebut.


Suara yang begitu nyaring terdengar begitu keras di telinga mereka, dan pria itu hanya bisa diam saja karena jika ia menjerit hanya membuang tenaga saja. Jadi dia cuma bisa pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh Leny terhadap tubuhnya yang sudah hampir tak utuh lagi.


Kevin yang sedari tadi sibuk dengan layar laptopnya dan tidak memperdulikan apa yang sedang di lakukan oleh Kakak iparnya karena sudah terbiasa melihat kebrutalan dari sang Kakak, akhirnya ia sudah menemukan lokasi dan keberadaan William si pemimpin Valkery tersebut.


"Aku sudah menemukannya Kak" ucap Kevin dan langsung menunjukkan kepada sang Kakak.


Leny yang tengah asik bermain dengan mainannya pun di buat penasaran dengan apa yang sedang di lihat oleh suami dan Adik iparnya itu. Tanpa dia sadari, ia langsung menancapkan pisau yang sedari tadi berada di tangannya ke ubun-ubun pengendara motor tersebut. Lalu ia langsung menghampiri sang suami dan ikut melihat isi dari layar laptopnya Kevin.


Kejadian tersebut membuat para bawahannya Daniel yang menyaksikannya secara langsung, cuma bisa terkejut melihat perlakuan dari nona muda mereka yang tak kenal kata kasian pada musuhnya. Bahkan Leny malah menghiraukan pengendara motor yang sudah tak bernyawa itu atas dasar perbuatannya barusan seakan-akan ia tak menyadari dengan apa yang sudah ia lakukan. Leny justru menggandeng lengan Daniel dan bertingkah manja pada sang suami.


"Dasar keluarga monster" batin salah satu dari bawahannya Daniel menelan ludahnya.


"Aku tidak akan berani berbuat macam-macam pada keluarga ini" batin yang lainnya merinding ketakutan.


"Besok aku akan mencoba masuk dan langsung menemui pria yang bernama William itu" ucap Daniel sembari memikirkan cara agar ia bisa bertemu secara langsung dengan William.


"Apa kami perlu ikut Kak?" tanya Kevin mengajukan diri.


"Tidak perlu. Aku hanya ingin berdiskusi dengan, bukan memulai peperangan. Karena itu bukan gaya kita" jawab Daniel.


"Jadi, besok biar aku sendiri yang akan menemuinya. Kau dan yang lainnya hanya berjaga-jaga saja. Ingat, jangan sampai ketahuan" timpal Daniel.


"Baik Kak" jawab Kevin tersenyum penuh arti.


Daniel melihat ke arah sang istri yang tengah asik bermanja-manja dengan dirinya. Kemudian ia bertanya dengan lembut "Apa Bunda sudah selesai bermainnya?" Daniel sambil membelai kepala Leny dan di anggukan oleh sang istri.


"Sudah suamiku. Tuh, lihat" jawab Leny tersenyum tanpa rasa bersalah sambil menunjuk ke arah pria yang kepalanya tertancap sebuah pisau dengan darah yang terus saja mengalir, dan tentu saja nyawa si pria itu sudah tidak ada di dalam raganya lagi.


"Yaudah, sekarang kita pulang ya. Kita harus istirahat" ajak Daniel menggenggam tangan sang istri dan Leny hanya menurutinya.


Keluarga Daniel langsung pergi menuju ke mobil dan pulang ke hotel mereka yang dimana sudah ada keluarga yang mengkhawatirkan mereka semua karena waktu juga sudah mulai larut malam.


Pada saat mereka ingin keluar dari gedung mewah tersebut, tiba-tiba salah satu bawahannya Daniel membuka suara dengan keadaan gugup karena takut dengan aksi yang di lakukan oleh Leny barusan.


"Ma...maaf nona muda" panggil salah satu dari mereka menggunakan bahasa Inggris.


"Ya?, ada apa?" tanya Leny yang langsung menghentikan langkahnya.


"Ba... bagaimana dengan ma..mayat yang di sana?" tanya pria itu masih dalam keadaan gugup.


Leny menatap ke arah yang di tunjuk oleh bawahannya namun hanya sebentar saja, kemudian ia berjalan menggandeng lengan sang suami lalu ia menjawab "Bakar saja!". Jawaban dari Leny barusan membuat mereka semakin ketakutan akan kekejaman yang ada di dalam diri sang nona muda. Akan tetapi mereka harus menuruti perintah apa yang sudah di sampaikan oleh Leny. Setelah Leny dan keluarganya pergi meninggalkan gedungnya Dark Shadow, para bawahannya langsung mengerjakan apa yang sudah di sampaikan oleh Leny barusan yaitu membakar mayat pria tersebut hingga tak tersisa sedikit di tempat itu, bahkan barang bukti juga tidak ada hilang tak tersisa.