
Daniel sudah berdiri tepat di depan bos Yakuza itu. Daniel terus menatap dingin ke arahnya namun tatapan itu membuat pria bertato itu semakin ketakutan karena ia tau siapa sosok pria yang berdiri di depan itu.
"Kau sudah berani berbuat seenaknya saja di tempat ini!" ucap Daniel dingin.
"Apa kau sudah berani menentang ku? apa tulang mu itu sudah kuat untuk menahan serangan yang akan ku lakukan terhadapmu?" tanya Daniel dan membuat bos Yakuza itu ketakutan.
Para anak buah Yakuza itu ingin menyerang Daniel lagi karena mereka semua tidak terima jika bos besar mereka di rendahkan oleh seorang guru yang mereka pikir Daniel itu hanya pria lemah saja.
"Berani sekali kau merendahkan bos kami!" teriak salah satu dari anggota Yakuza itu berlari untuk menyerang Daniel dan rekannya yang lain ikut berlari.
Akan tetapi sebelum mereka berhasil mendekati Daniel, tiba-tiba tubuh mereka terhenti dan kaki mereka tak mau melangkahkan kakinya menuju ke tempat Daniel berdiri, membuat mereka semua saling pandang satu sama lain.
"Kenapa ini?, kenapa tubuhku tiba-tiba tidak mau di gerakan?!" ucap mereka bertanya-tanya.
Lalu tiba-tiba tubuh mereka semua merasa aura yang sangat gelap menyelimuti mereka semua. Pada saat mereka melihat ke arah Daniel, mata mereka langsung terbuka lebar karena ada sosok bayangan singa dan juga seekor naga tepat berada di belakang Daniel.
Mereka juga semakin ketakutan ketika pandangan Daniel justru beralih ke arah anak buah dari seorang Yakuza itu. Tatapan yang begitu dingin nan sadis seperti hewan pemburu yang harus darah.
"Nanti akan ada saatnya giliran untuk kalian" ucap Daniel begitu dingin.
Mendengar perkataan barusan, mereka semua semakin takut dengan sosok Daniel, mereka merasa kalau hari ini adalah hari terakhir mereka bisa melihat dan menghirup udara segar sebelum Daniel menghilangkan mereka semua dari dunia manusia.
Kemudian Daniel kembali menatap bos Yakuza itu yang sudah ketakutan hingga berkeringat dingin. Tanpa adanya rasa iba, Daniel justru malah menendang wajah pria bertato itu hingga tubuhnya terpental menabrak sebuah tiang ring basket sampai tiang itu bengkok karena terlalu kerasa suara benturan antara besi dengan tubuhnya.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu secara reflek langsung menjerit bercampur rasa takut karena kejadian tersebut tepat di depan mata mereka yang memang belum pernah melihat orang yang mengalami itu.
Pria bertato itu masih terduduk lemas bersandar di tiang gawang tersebut, Bahkan untuk mengeluarkan suara saja dia tak mampu lagi karena Daniel sudah membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
Di sisi lain...
Leny, Kevin, dan juga Wulan sedang berada di dalam perjalanan menuju ke tempat Daniel menjadi seorang guru. Leny terus menekan Kevin agar menyetir lebih cepat lagi karena perasaan buruknya terhadap sang suami semakin kuat.
"Kevin buruan dong!" ucap Leny panik.
"Sabar kak, kita tidak boleh terburu-buru, takut terjadi apa-apa dan kita juga nanti bisa di tegur oleh polisi" jawab Kevin sambil fokus menyetir.
Tiba-tiba tubuh Wulan dan Kevin langsung tersentak karena mereka berdua bisa merasakan aura yang begitu besar berasal dari jarak yang lumayan jauh.
"Bukankah ini auranya kak Daniel?" batin Wulan berubah menjadi khawatir.
"Kenapa kakak mengeluarkan aura sampai sebesar ini?, apa yang terjadi di sana?" batin Kevin bertanya-tanya.
Lalu Kevin dan Wulan saling pandang kemudian mereka berdua sama-sama mengangguk, setelah itu Kevin semakin mempercepat laju mobil yang ia kemudikan.
"Ternyata filing dari seorang istri memang sangat tajam dan begitu kuat" batin Wulan menatap Leny yang sedang memberi Damin susu formula.
"Ada apa Kevin?, kenapa tiba-tiba wajah kalian berdua berubah menjadi seserius itu?" tanya Leny bingung.
"Lalu kenapa kamu membawa mobilnya sedikit lebih cepat?, bukankah kamu bilang akan bahaya dan bisa juga di berhentikan oleh polisi?" tanya Leny lagi.
"Aura ini semakin gelap. Ada apa sebenarnya di sana kak?" batin Kevin dengan raut wajah khawatir.
"Semoga kak Daniel tidak mengamuk lagi. Aku tidak takut kalau dia kalah, karena hal itu tidak akan pernah terjadi pada kakakku. Yang aku takutkan, dia akan mengamuk dan menyiksa musuh tanpa henti" batin Wulan dengan raut wajah yang sama.
Damin yang sedang santai sambil menikmati susu buatan dari sang Ibunda, tiba-tiba ia menangis seakan-akan Damin bisa merasakan aura dari sang Ayah yang begitu besar.
"Damin kenapa sayang?, kok tiba-tiba kamu nangis?" tanya Leny khawatir.
"Yayah..." jawab Damin dalam tangisnya, dan dia juga terus menerus menyebutkan kata-kata barusan.
"Iya sabar sayang, sebentar lagi kita akan bertemu dengan Ayah kamu kok" ucap Leny mencoba menenangkan putranya yang terus menangis tanpa sebab.
"Bentar ya keponakan tampannya Tante, sebentar lagi kita akan sampai ke tempat Ayah" sambung Wulan ikut mencoba menenangkan Damin.
"Sebentar lagi kita sampai kok Damin" tambah Kevin agar Damin bisa berhenti menangis.
Setibanya mobil Kevin di sekolah tersebut, tiba-tiba mereka bertiga langsung terkejut karena ada banyak mobil berwarna hitam serta gerbang sekolah yang sudah hancur berantakan.
"Kenapa ini?, kok banyak mobil-mobil di depan sini?, ini kenapa juga gerbangnya sampai rusak begitu?!" ucap Leny bertanya-tanya.
"Kakak yang tenang dulu ya, semua akan baik-baik saja kok. Jika pemilik mobil-mobil itu adalah musuh, Kak Daniel pasti bisa menyelesaikan mereka dengan sangat mudah kok" ucap Wulan mencoba menenangkan kakaknya.
"Setelah kamu mengatakan itu, hati Kakak menjadi semakin gelisah. Di tambah Damin yang terus menangis" ucap Leny sambil terus menenangkan anaknya itu.
"Kucing kecil, sebaiknya kamu dan Kak Leny tetap berada di mobil ini ya. Jangan ada yang coba-coba keluar dari dalam tempat ini" ucap Kevin.
"Baiklah, aku dan kak Leny akan menunggu di dalam mobil" jawab Wulan.
"Tidak bisa begitu dong dek, kakak sangat khawatir dengan keadaan Ayahnya Damin itu, kakak harus ikut" ucap Leny membantah.
"Kak, ini hanya sementara saja, kalau semua sudah beres dan merasa aman. Barulah kakak dan kucing kecil keluar dari sini" jawab Kevin menjelaskan.
"Oke. Tapi kamu harus memberi tau alasan yang tepat untuk kakak yang harus menunggu di dalam mobil" ucap Leny menatap serius ke arah Kevin.
"Aku dan kucing kecil bisa merasakan aura milik kak Daniel. Aura ini jarang ia keluarkan bahkan tidak pernah sama sekali" jawab Kevin menjelaskan.
"Kenapa Damin dari tadi nangis terus?" tanya Leny lagi.
"Kak Daniel dan Damin adalah seorang Ayah dan anak. Otomatis, batin mereka berdua sangat kuat. Pada saat Ayahnya mengeluarkan aura seberat ini, Damin menangis karena ia bisa merasakan seberapa kuatnya aura kak Daniel" jawab Wulan menjelaskan.
"Oleh karena itu, kakak dan kucing kecil harus berada di sini. Jika kakak ikut keluar, aku takut mereka akan memanfaatkan situasi ini dengan menyandra kalian berdua" ucap Kevin.
"Baiklah, kakak dan Wulan akan di sini. Menunggu kalian datang menemui kami" jawab Leny sesuai perintah dari Kevin demi ke selamatan Leny dan Damin juga.
Setelah mendengar perkataan barusan, Kevin dengan buru-buru menuju ke bagasi mobil miliknya dan mengambil sesuatu dari dalam tempat tersebut. Setelah barang ia cari sudah berada di tangan, Kevin langsung berlari menuju ke dalam sekolah untuk membantu sang Kakak.