Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
POSESIF


Windy menghela nafas dan berkata


"Apa kamu sudah lupa dengan hadiah-hadiah yang mereka berikan pada kita waktu menikah?"


Riski tersenyum dan mengangguk saja


"Daniel yang memberikan sebuah cek dengan jumlah uang yang sangat banyak, Ayah Leo yang memberikan sebuah rumah, dan ibu Rani yang memberikan sebuah mobil serta tiket kita untuk berbulan madu. Semua itu membuatku tak bisa tenang, bagaimana caranya membalas kebaikan mereka"


Riski melepaskan pelukannya dan berdiri disebelah Windy sembari memandangi ombak pantai yang indah. Lalu Windy menyandarkan kepalanya pada pundak Riski. Keharmonisan semakin erat pada pengantin baru itu.


"Begitulah keluarga mereka. Aku sudah berusaha menolak semuanya, namun ibu selalu cemberut saat aku tidak menerima pemberian darinya"


Windy memeluk Riski dari samping dan berkata


"Iya sayang, ibu Rani juga selalu mengomeliku kalau aku tidak menerima pemberian darinya. Bahkan dia akan mengancam tidak boleh berteman dengan menantunya lagi"


Riski membelai kepala Windy lalu mencium ujung kepalanya


"Maafkan ibu angkatku ya sayang karena membuatmu tertekan"


Windy menggelengkan kepalanya dan menjawab


"Tidak suamiku, justru aku sangat senang karena dia sangat menyayangi kita. Meski kita tidak ada ikatan darah, tapi ibu Rani sudah menganggap kita sebagai anaknya"


Mereka berpelukan dan terus memandangi pantai yang berada didepan. Udara pantai yang sejuk membuat mereka menjadi semakin lengket. Riski melamun, dia merindukan sosok sahabat kecilnya. Dia mengingat kenang kecil mereka yang sedikit nakal. Namun Daniel tidak senakal dirinya, dia selalu memaksa Daniel untuk ikut dalam kenakalannya. Karena Daniel tidak memiliki sahabat lagi selain Riski, maka mau tak mau dia harus mengikuti kelakuan sahabatnya itu. Kadang sesekali Daniel menasehati Riski di saat melakukan kenalkan.


Windy menatap Riski yang termenung dan mengagetkannya


"Sayang, sayang,sayang!"


Riski terkejut dan menjadi linglung


"E..eh ada apa sayang?"


"Kamu kenapa melamun?, apa yang kamu pikirkan?" tanya Windy sambil mengelus pipi Riski


Riski tersenyum dan menjawab


"Aku merindukan Daniel. Dia sedang apa ya sekarang?"


Windy menyenderkan kepalanya di pundak Riski kembali dan berkata


"Iya sayang. Aku juga merindukan Leny, pasti perutnya sudah sedikit membesar dengan usia kandungan yang menginjak 4 bulan".


Di tempat lain tentu saja dikediaman keluarga kecil Daniel. Daniel, Leny, dan Wulan sedang asyik menikmati sarapan pagi. Tiba-tiba Daniel dan Leny bersin secara bersamaan.


"Wah sepertinya ada yang merindukan kalian ni" cetus Wulan tersenyum


Daniel menggosok hidungnya dan berkata


"Apaan sih dek, percaya banget sama yang begituan"


Wulan menyulangkan sendok kemulutnya dan berkata


"Ya yang aku denger sih gitu"


Leny meletakkan Ayam goreng pada piring Wulan dan berkata


"Sudahlah masalah kecil jangan ributkan, makan saja dulu"


Wulan tersenyum dan berkata


"Terimakasih kak"


"Iya sayang" jawab Leny tersenyum


Daniel tersenyum memperhatikan kedekatan antara Leny dan Wulan. Meski tidak sedarah, namun Leny sangat menyayangi adik perempuannya itu. Bahkan ketika Daniel dan Wulan sedang berdebat, Leny langsung membela adik kecilnya itu sampai mencubiti Daniel.


"sayang, adikku, aku berangkat ke kantor dulu ya. Riski sedang tidak ada, jadi aku harus mengerjakan semuanya sendiri" ucap Daniel mengelus kepala Wulan dan perut Leny


"Iya kak, hati-hati" jawab Wulan tersenyum


Leny mengantar Daniel sampai mobil. Namun tidak dengan Wulan, dia terus menikmati sarapan paginya dan tidak ingin mengganggu kemesraan dari kakaknya itu.


"Ingat ya!. Disana jangan nakal-nakal, jangan ganjen sama karyawan wanita kamu" ancam Leny merapikan dasi Daniel


Daniel mengangkat alisnya dan berkata


"Kamu kok berkata seperti itu istriku?, aku kan kerja bukan bersenang-senang"


Leny merapikan jas Daniel dan berkata


"Iya awas aja kalau berani macem-macem di belakang aku!, kupotong burungmu!"


"Ingat di sini ada bayimu, jadi jangan berbuat yang tidak-tidak" timpal Leny mengelus perutnya


Daniel tersenyum dan berjongkok lalu berbicara pada perut Leny yang sudah sedikit membesar


"Sayang, ayah berangkat ke kantor dulu ya. Jaga bunda kamu, jangan nakal-nakal didalam sana"


Daniel mencium perut Leny dan tak lupa juga dengan seluruh wajah Leny. Daniel menciumnya tanpa terlewat sedikitpun. Dia masuk mobil dan berangkat ke kantor.


Leny masuk kedalam dan membantu adiknya membersihkan bekas sarapan mereka. Kini Leny menjadi semakin posesif terhadap suaminya. Semenjak kehamilan yang berusia 4 bulan, membuat Leny semakin bawel dan selalu memberi pesan kepada Daniel agar tidak nakal.


"Kak!. Kok melamun?, awas jatuh itu piringnya"


Leny terkejut


"Eh. I..iya sayang maaf"


Mereka berdua melanjutkan mencuci piring kembali. Setelah selesai, Wulan izin ke Leny untuk ke kamarnya. Leny mengangguk dan beranjak menuju sofa. Setelah sampai di sofa, dia mengambil ponselnya dan terus memandangi layar ponselnya yang kosong tanpa ada notifikasi yang masuk.


Leny menunggu pesan masuk dari suami tercinta, namun Daniel belum mengirim pesan untuknya. Leny sedikit kesal karena Daniel tidak memberi kabar padanya, dia menatap jam yang berada di dinding.


"Ini sudah pukul 08.45, seharusnya dia sudah sampai kantor, kenapa tidak memberi kabar?!" kesal Leny menggerutu sendri


Dia menelepon Daniel, namun semakin kesal karena Daniel belum mengangkatnya. Daniel yang baru sampai di kantor dan belum keruangannya. langsung mendapatkan panggilan video dari Leny. Dia mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan dia?, mengapa akhir-akhir ini sedikit berlebihan" batin Daniel


Daniel langsung buru-buru menuju ruangannya dan langsung mengikat teleponnya


"Halo istriku, ada apa? kangen?" ucap Daniel tersenyum


"Jangan sok manis!. Darimana saja kok tidak memberi kabar?!" jawab Leny cemberut


Daniel terkejut dan menjawab


"Aku baru sampai kantor istriku, jalanan tadi macet, jadi agak telat. Maaf ya sayang"


Leny menatap tajam Daniel dan berkata


"Alasan!. Pasti kamu menggoda karyawan wanita disana kan?!"


Daniel cemberut dan menjawab


"Ya Tuhan sayang!, mengapa kamu berkata seperti itu?!. Aku tidak macem-macem disini istriku"


Leny semakin kesal dan berkata


"Siang nanti aku akan kesana, aku akan mengawasi kamu!"


Daniel menghela nafas dan menjawabnya


"Iya istriku. Yaudah aku lanjut kerja ya, love u"


Leny tersenyum dan berkata


"Love u to suamiku"


Daniel mematikan teleponnya dan menepuk jidatnya sendiri. Dia sangat bingung kenapa akhir-akhir ini Leny menjadi sangat mengekang dirinya. Bakan terlalu curiga kalau Daniel akan bermain wanita dibelakangnya.


Daniel terduduk dan berfikir positif


"Mungkin ini pengaruh bayi yang ada di perutnya. Jadi dia menjadi posesif begini"


Daniel membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya yang semakin menumpuk karena dia juga harus mengambil alih pekerjaan Riski. Daniel semakin sibuk dengan pekerjaan yang Doble itu. sampai tidak menyadari sudah banyak pesan yang masuk. Tentu saja pesan dari sang istri.


Leny yang dirumah menjadi kesal karena sang suami tidak membalas pesan darinya. Bahkan dia tidak menghiraukan kedatangan Wulan yang sedari tadi memperhatikan tingkah Leny yang sangat aneh.


"Kak, kak!" tegur Wulan


Leny menatap Wulan


"Eh ada apa sayang?"


Wulan duduk disebelah Leny dan bertanya


"Kakak kenapa sih dari tadi terus menatap ponsel itu?"


Leny menjawab dengan nada kesal


"Ini nih!. Kakak kamu tidak membalas pesan dariku, bikin kesal saja"


Wulan mengerutkan keningnya dan berkata


"Mungkin kak Daniel sedang fokus bekerja atau sedang meeting dengan client, jadi tidak sempat membalas pesan kakak"


Leny melotot dan langsung berdiri


"Apa?!. Ih!, aku harus segera ke kantornya!"


Wulan terkejut dan berkata


"Ada apa kak? mengapa tiba-tiba ingin kesana"


"Aku harus menjaga mata kakak kamu itu" jawab Leny meninggalkan Wulan dan menuju kek kamar


Wulan hanya menggeleng saja


"Mungkin karena bawaan bayi"


Di sisi lain Daniel tengah sibuk menatap layar laptopnya dan merevisi pekerjaannya. Dia takut ada kesalahan dalam pekerjaan karena ini adalah proyek yang mencapai ratusan miliar, jadi dia harus konsentrasi untuk membaca setiap isi tulisan yang ada pada layar laptopnya.


tiba-tiba "Bruakk" suara bantingan pintu yang sangat keras, Daniel terkejut dan menoleh ke arah pintu itu. Dia terkejut melihat sang istri sudah ada di sana dengan tatapan tajam seakan ingin menelan dirinya.