
Tak terasa sudah 5 jam mereka terbang di atas langit malam di negara tersebut, dan kini helikopter yang di tumpangi oleh Daniel dan yang lainnya sudah berada di dekat hotel mewah milik Daniel.
Karena sudah terlalu larut, Daniel memutuskan untuk menginap di hotelnya. Namun, ketiga adiknya Daniel memilih untuk pulang ke rumah mengingat Fauzi yang sudah memiliki keluarga juga. Sedangkan Kevin dan Wulan memberikan kesempatan untuk kakaknya agar bisa berbulan madu yang kedua kalinya.
"Apa kalian yakin mau pulang?, ini sudah terlalu malam" tanya Daniel.
"Aku harus kembali kak, aku takut Angel dan Keyla menungguku" jawab Fauzi memberi alasan.
"Kalau kalian berdua kenapa ingin pulang?" tanya Daniel lagi pada kedua adiknya.
"Aku rindu Ibu kak" jawab Wulan
"Kalau aku, ada kerjaan yang harus aku kerjakan kak" jawab Kevin.
Daniel memicingkan matanya menatap ketiga adiknya secara bergantian. Dia tau kalau adik-adiknya hanya memberi alasan saja untuk memberikan waktu untuk Daniel dan Leny berduaan.
"Yaudahlah!. Kalian berhati-hatilah" ucap Daniel sedikit kesal.
Setelah helikopter mendarat, dan belum ada tanda-tanda dari Leny terbangun. Daniel tersenyum dan langsung menggendong istrinya menuju ke dalam hotelnya.
Para karyawan dan juga kepala hotel sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan sang bos yang menuju ke dalam hotel.
"Selamat datang tuan dan nyonya muda" sapa sang kepala hotel menundukkan kepalanya.
"Tolong siapkan kamar" perintah Daniel yang tengah menggendong sang istri.
"Siap tuan" jawab sang kepala hotel dengan sopan dan langsung bergegas menyiapkan apa yang di perintahkan oleh Daniel tadi.
"Kamar sudah siap tuan" ucap sang kepala hotel.
"Baik, terima kasih" jawab Daniel.
"Sama-sama tuan" jawab sang kepala hotel balik.
Daniel langsung membawa Leny menuju ke kamar yang sudah di siapkan oleh si kepala hotel itu sendiri.
Sesampainya Daniel di depan pintu kamar, ia langsung membuka itu. Terlihatlah isi kamar yang begitu luas dengan ranjang yang nampak begitu nyaman untuk di tiduri orang.
Terlihat juga di dinding kamar hotel itu terdapat foto keluarga kecilnya Daniel yang terpasang. Foto yang begitu besar dan senyuman sepasang suami istri serta seorang anak kecil yang menambahkan keindahan kamar itu.
Dengan perlahan Daniel meletakkan tubuh Leny ke atas ranjang. Kemudian Daniel melepaskan sepatu yang masih menempel di kaki sang istri. Lalu Daniel melihat wajah istrinya yang tertidur begitu pulas, Daniel tersenyum dan berkata "Kamu pasti lelah ya istri".
Setelah meletakkan tubuh sang istri di atas ranjang, Daniel langsung meregangkan tubuhnya yang nampak ia juga kelelahan.
"Istriku sudah mulai bertambah berat" ucap Daniel sembari merenggangkan ototnya.
Karena di rasa kalau istrinya masih tertidur pulas, Daniel pun memutuskan untuk pergi ke kamar mandi agar keringat dan bau yang menempel pada tubuhnya bisa di bersihkan.
Setelah sudah lebih dari 20 menit Daniel berendam di bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat, ia memutuskan untuk menyudahi aktivitas mandinya dan segera ikut tidur dengan istrinya.
Saat Daniel keluar dari kamar mandi ia di buat sedikit terkejut karena melihat istrinya yang sudah terduduk di pinggir ranjang dengan wajah yang nampak kelelahan dan rambut sedikit berantakan.
"Hmm, Bunda pikir tadi Ayah pergi keluar, dan ini dimana suamiku?" tanya Leny dengan nada yang masih kantuk.
"Ayah tadi mandi Honey, ini kita sedang di dalam hotel, dan kita akan bermalam di sini" jawab Daniel sembari memakai pakaiannya yang sudah tersedia di dalam lemari.
"Kenapa kita tidak pulang kerumah saja Ayah?" tanya Leny lagi dengan nada yang sama.
"Bunda takutnya Damin dan yang lainnya pada menunggu kita" timpal Leny.
"Tadi Ayah sudah berbicara pada Wulan, dia pasti memberitahu Ibu dan yang lainnya kok" jawab Daniel yang sibuk bercermin.
"Kenapa mandi Honey?, lanjut tidur aja. Ini sudah terlalu larut" ucap Daniel.
"Bunda tidak bisa tidur kalau dalam keadaan bau dan berkeringat begini Ayah" jawab Leny yang berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah berada di dalam kamar mandi, Leny tidak langsung membasuh atau berendam di bak mandinya. Ia justru menatap cermin dan teringat hal yang telah ia lakukan pada Saka.
Leny terlarut dalam lamunannya dan masih membayangkan kekejaman itu. Kemudian ia menampar pipinya dengan pelan agar tersadar dari lamunannya dan langsung membasuh wajahnya dengan air.
"Kenapa denganku?, kenapa aku seakan tidak memiliki rasa takut lagi?. Apa aku sudah berubah menjadi seperti suamiku yang berbuat kejam pada musuhnya?" ucap Leny bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Bahkan aku tak sadar dengan apa yang kulakukan pada perusak nama Dark Shadow tadi. Apa suamiku juga seperti itu" timpalnya.
"Ah sudahlah, untuk apa aku memikirkan itu semua. Jika sifat suamiku yang kejam itu turun kepadaku, ya bagus dong, aku dan suamiku akan menjadi pasangan terkuat di Asia, hehe" ucap Leny dengan tawa jahatnya.
Setelah melupakan masalah yang sudah ia lakukan pada mantan murid yang tak di akui oleh suaminya, dengan santai Leny berendam pada bak mandi yang sudah ia isi dengan air hangat, dan ia mulai menikmati mandinya.
Sudah hampir satu setengah jam istrinya tidak keluar dari kamar mandi, dan rasa khawatir Daniel semakin menjadi-jadi.
"Kemana istriku ini?, kenapa belum selesai juga?" tanya Daniel merasa khawatir.
"Sudah jam 1 malam, tapi Istriku belum juga keluar dari kamar mandi" timpalnya menatap sebuah jam yang menempel di dinding kamarnya.
Karena merasa khawatir, dengan buru-buru Daniel langsung melangkah ke kamar mandi. Pada saat ia ingin mengetuk pintu kamar mandi, tiba-tiba handel pintu terbuka dan keluarlah seorang wanita yang sangat cantik dengan tubuh yang berbalut handuk.
"Bunda gak kenapa-kenapa kan di dalam sana?" tanya Daniel sembari mengecek tubuh istrinya dengan memutar-mutar tubuh Leny.
"Ayah!, Bunda tidak apa-apa loh. Ayah pikir Bunda di makan buaya di dalam?, Bunda kan lagi mandi, wajar dong seorang wanita memakan waktu lama kalau mandi.
Daniel langsung memeluk istrinya dan berkata "Syukurlah Bunda gak kenapa-kenapa, Ayah begitu khawatir" dan Daniel semakin mempererat pelukannya.
"Sudah Bunda katakan kalau Bunda gak kenapa-kenapa suamiku" jawab Leny yang bingung dengan sikap suaminya yang terus memeluk dirinya.
"Udah deh Ayah sesak tau, Ayah memeluk Bunda terlalu kuat" timpal Leny yang melepaskan pelukan suaminya dengan perlahan.
"Hehe, maaf Honey. Ayah begitu khawatir, Bunda lama banget keluarnya" ucap Daniel sembari mencubit hidung istrinya.
"Yaudah Bunda mau pakai baju dulu" ucap Leny yang berjalan mendekati lemari pakaian.
Kemudian Leny berhenti dan berbalik arah menatap Daniel dan lalu bertanya "Oh iya Ayah. Bunda kan gak bawa baju".
Daniel tersenyum dan menjawab "Coba Bunda buka dulu lemarinya".
"Iya deh iya" jawab Leny yang menuruti perkataan sang suami dan melangkah mendekati lemari pakaian.
Leny membuka pintu lemari itu, dan matanya sedikit terbelak saat melihat isi yang ada didalamnya. Matanya terus melihat ke seluruh lemari yang berada di depan matanya.
"Kok banyak banget pakaian laki-laki dan perempuan di dalam lemari ini Ayah?" tanya Leny yang terus melihat isi lemari itu.
"Itu baju-baju kita Honey. Ayah sengaja menyuruh petugas hotel mempersiapkannya" jawab Daniel.
"Kamar ini memang kamar khusus untuk kita Honey. Jika Bunda tidak percaya, Bunda bisa melihat foto itu, karena hanya kamar inilah yang memilikinya" timpal Daniel sembari menunjuk sebuah foto yang begitu sangat besar menempel di dinding kamar mereka.
"Loh itu kan foto keluarga kecil kita" ucap Leny sambil menunjuk ke arah foto yang di katakan oleh Daniel tadi.
"Wah putraku terlihat tampan" ucap Leny tersenyum yang melihat foto putranya yang tersenyum manis.
Setelah selesai berpakaian, Daniel dan Leny memutuskan untuk tidur, mengingat waktu yang semakin larut.