
Dion yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka akhirnya angkat bicara dan ucapan Dion juga menjadi sebuah perdebatan yang lumayan tegang karena sebagai seorang Kakak yang harus melindungi Adik kandungnya Daniel ingin menentangnya namun Dion terus meyakinkan mereka kalau dia bukan beban untuk Daniel dan yang lainnya.
"Aku ikut ya Ayah" pinta Dion pada Leo.
"Tidak perlu, kau di rumah saja. Jaga pada wanita bersama Alvin" ucap Daniel menjawab.
"Aku juga ingin mengalahkan orang-orang yang telah mencoba membuat Kakak ipar ku hampir terluka" ucap Dion bersikeras.
"Ini masalahku, biarkan aku saja yang memusnahkan mereka semua. Kamu duduk manis saja di rumah menemani Ibu dan yang lainnya" jawab Daniel menatap Dion dengan tatapan serius.
Mereka hanya diam saja melihat perdebatan antara dua pria kembar yang tampan itu. Mereka sangat paham maksud dari Daniel yang melarang Dion untuk ikut dalam peperangan mereka. Tapi mereka tak ingin ikut campur dalam urusan mereka berdua.
"Aku tau apa yang ada di pikiran Kakak saat ini" ucap Dion yang sudah paham dari isi kepala Daniel.
"Jika aku ikut kalian, pasti aku akan menjadi beban kalian saja kan?, aku hanya menghambat pergerakan kalian kan?!" tebak Dion yang sudah tau apa yang Daniel cemaskan.
"Kamu itu saudara kandungku satu-satunya. Meskipun kita sempat berpisah lama, tapi aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Aku tidak sanggup melihat Mama Anita, Papa Yoga, Ayah Leo, Ibu Rani, istrimu, dan keluarga kita yang lainnya bersedih karena melihat kamu sampai kenapa-kenapa. Sebagai seorang Kakak, aku harus bisa menjaga kamu dan yang lainnya" jawab Daniel menjelaskan.
"Aku bukan beban, aku bukan Dion yang lemah seperti dulu. Kakak sendiri yang melatihku hingga aku menjadi seorang pria sejati. Aku juga bisa mengalahkan satu atau lebih dari grup Valkery itu" ucap Dion mencoba meyakinkan sang Kakak.
"Aku paham, aku mengerti apa yang kamu katakan. Tapi ini perang besar, kamu belum pernah berada di posisi seperti itu. Aku tak ingin melihat kamu sampai kenapa-kenapa" jawab Daniel masih belum bisa percaya dengan kemampuan sang Adik.
"Kakak sendiri yang berkata kalau aku ini saudara kandungmu satu-satunya. Seharusnya kamu tau kalau ada darah Papa, Mama, dan juga Kakek, yang mengalir di dalam tubuh kita. Jika saja Kakak mampu, kenapa aku tidak?" ucap Dion yang masih terus mencoba meyakinkan Daniel.
"Aku sudah berjanji kepada Papa, Mama, Kakek, dan juga Nenek, untuk menjaga kamu dan keluarga kita. Tolong jangan keras kepala Dion!, aku tidak ingin kamu sampai menyusul mereka" jawab Daniel sedikit tegas pada Dion agar Dion bisa mengerti.
"Kakak tidak hidup seorang diri, ada kami keluarga kamu yang saling menjaga satu sama lain. Jangan menanggung beban besar itu sendirian, tolong percaya pada kami kalau kami juga bisa menjaga amanah dari orang tua kita" bantah Dion menasehati Daniel.
"Ayah akui, kehebatan mu sebagai seorang Assassin adalah yang kedua setelah Kakek kalian. Tapi kamu harus bisa menerima bantuan dari saudara-saudara kamu yang lainnya. Apa yang di katakan oleh Adikmu itu benar, kamu hidup tidak sendirian. Ada Ayah, Kakak kamu, Adik-adik kamu, yang bisa membantu dirimu" potong Ayah Leo yang sedari tadi hanya menyimak saja dan akhirnya angkat bicara membantu Dion untuk meyakinkan Dion.
"Ayah percaya pada potensi yang Adik kamu miliki. Dia juga bisa seperti dirimu, karena Dion dan kamu adalah putra Ayah. Orang tua itu harus percaya pada anak-anak, jadi Ayah percaya kalau Dion juga bisa" timpal Ayah Leo membantu Dion untuk meyakinkan Daniel.
"Ada kami yang senantiasa membantu dan menjaga keluarga ini. Percayalah pada Adikmu sendiri, Kakak yakin kalau Dion juga bisa. Kami juga siap untuk membantu dan melindunginya, kamu fokus pada William saja. Percayakan keselamatan Dion pada kami" timpal Rian menyentuh pundak Daniel sedangkan Daniel hanya terdiam menunduk.
Daniel diam saja setelah mereka semua memberi nasehat padanya. Dia juga ingin percaya pada kemampuan yang dimiliki oleh Dion. Akan tetapi dia tak ingin melihat kalau Adik kandungnya itu sampai terluka, apa lagi sampai kehilangan nyawanya.
Daniel menghela nafasnya lalu menjawab "Baiklah, aku akan izinkan kamu ikut" mendengar jawaban dari Daniel membuat mereka merasa bahagia.
"Tapi, besok kau harus aku latih untuk persiapan 3 hari ke depan. Agar mental yang ada dalam dirimu itu menjadi semakin kuat" timpal memberi syarat.
"Apapun akan ku lakukan. Aku akan buktikan kepada kalian kalau aku ini bisa!. Aku tidak ingin menjadi pria yang selalu di lindungi terus-menerus, aku juga ingin melindungi keluarga ini" jawab Dion menatap Daniel dengan serius.
"Aku juga semangatmu. Besok persiapkan diri dan mental mu untuk menerima latihan khusus dariku. Jangan mengeluh, apa lagi sampai menyerah di tengah jalan" ucap Daniel tersenyum sinis.
"Aku ini seorang laki-laki. Laki-laki itu tidak banyak bicara, tapi omongannya yang di pegang. Jika aku sudah berjanji, maka akan aku tepati" jawab Dion ikut tersenyum sinis.
"Melihat kalian berdua, mengingatkan Ayah pada Papa kalian. Dulu sewaktu kami belum menemukan jalan masing-masing dan masih di dalam Dark Shadow. Kami berdua selalu bersama-sama untuk memberantas para musuh-musuh kami" sela Ayah Leo memotong.
"Tapi, semenjak dia memilih jalan untuk menjadi seorang dokter yang hebat. Mau tidak mau kami harus terpisah karena Papa kalian harus kuliah ke Korea Selatan untuk mengejar mimpi yang selama ini ia bicarakan padaku" timpal Leo sendu.
"Kenapa Papa malah memilih jalan yang berbeda dari Kakek dan Ayah?" tanya Dion penasaran.
"Dulu, Nenek kalian adalah seorang dokter. Kakek dan Nenek kalian bertemu pada saat Kakek kalian membantu salah satu anggota Dark Shadow yang terluka untuk di rawat di tempat Nenek kalian dan ternyata, rumah sakit itu juga milik Nenek kalian. Di situlah terjadi buih-buih cinta di antara mereka berdua" jawab Ayah Leo tersenyum menceritakan kisah dari kedua orang tuanya.
"Sifat Nenek kalian ternyata menurun ke Papa kalian. Di setiap kami selesai berperang, Papa kalian pasti merasa tidak tega melihat banyak rekan atau musuh yang terluka apa lagi ada yang sampai kehilangan nyawanya. Rasa ingin menolongnya selalu timbul dalam diri Papa kalian. Jadi, dia memutuskan untuk pergi untuk melanjutkan sekolahnya ke Korea Selatan agar bisa menjadi seorang dokter yang hebat" timpal Ayah Leo tersenyum.
"Sebenarnya Kakek kalian tidak mengizinkan pada Papa kalian untuk mengejar cita-citanya. Di situ terjadi perdebatan yang sangat hebat di antara mereka berdua, bahkan Papa kalian langsung pergi dari rumah tanpa ada persetujuan dari Kakek kalian. Karena Kakek kalian ingin menjadikan Kak Elang sebagai penerus Dark Shadow " tambah sang Ayah menjelaskan.
"Apa yang Kakek lakukan pada saat Papa pergi dari rumah?" tanya Dion yang semakin penasaran.
"Kakek kalian itu orangnya sangat keras dan begitu tegas. Ia tidak mau jika perintah atau perkataan darinya sampai di bantah. Seumur hidupnya, baru Papa kalian lah yang berani membantahnya, dan pada akhirnya hati Kakek kalian yang keras seperti batu itu luluh juga, bahkan mendukung apapun yang di inginkan oleh Kak Elang dan kepemimpinan Dark Shadow di berikan pada Ayah" jawab Ayah Leo menatap Daniel dan Dion secara bergantian sedangkan mereka berdua hanya mengangguk-angguk mengerti saja setelah mendengar cerita masa lalu dari Papa kandung mereka berdua.