
Setelah melewati malam romantis itu, kini Alvin dan Chelsea semakin bahagia melewati hari-hari mereka berdua. Kedua orangtua Chelsea juga sangat menyukai Alvin dan berharap ia menjadi menantu mereka kelak.
Hampir setiap hari mereka berdua menghabiskan waktu bersama, dan Chelsea semakin manja terhadap Alvin, sampai-sampai Chelsea tidak ingin berjauhan dari Alvin walau satu hari saja.
Pada saat ketika ada salah satu kata yang sangat melukai hati Alvin dan Alvin harus meninggalkan Chelsea karena perkataan tersebut. Padahal Chelsea tidak bersungguh-sungguh ingin mengatakan hal itu. Namun Alvin yang memang begitu perasa, hingga perkataan itu membuat Alvin sangat kecewa dan begitu terluka.
Kejadian itu terjadi pada saat Alvin dan Chelsea tengah berada di teras rumah Chelsea. Seperti biasa Chelsea selalu membawakan makanan dan minuman yang sama-sama mereka sukai.
Namun entah angin darimana Chelsea berkata seperti itu kepada Alvin, sampai-sampai Alvin langsung pergi meninggalkan dirinya.
"Sayang, apakah kamu dekat dan berpacaran denganku hanya untuk mengincar harta serta posisi sebagai pengganti Papa?." tanya Chelsea sembari meletakkan toples yang berisi sebuah coklat.
Alvin yang tengah meminum minuman kalengnya sedikit terkejut dan langsung menghentikan aktivitasnya. Kemudian ia meletakkan minuman kaleng yang ia pegang di atas meja.
"Apa kamu beranggapan aku sejahat itu?, apa kamu berpikir jika aku hanya menginginkan kekuasan saja?" tanya Alvin santai dengan tatapan mata yang kecewa.
"Kebanyakan pria seperti itu sayang. Mereka mendekati wanita yang kaya raya, hanya untuk mengincar kekayaan wanita tersebut. Setelah semua telah ia dapatkan, maka wanita itu akan di tinggalkan begitu saja" jawab Chelsea menjelaskan.
Alvin menghela nafasnya kemudian ia langsung berdiri sembari berkata tanpa menatap wajah Chelsea "Baiklah, jika kamu berfikir seperti itu. Aku akan pergi, dan aku tidak akan menggangu hidup kamu lagi".
Chelsea yang mendengar perkataan tersebut langsung terkejut, dan dadanya seperti terasa berat dan sulit untuk mengatur nafasnya.
"Apa yang kamu katakan sayang?, apa kamu memang tidak mencintaiku?" tanya Chelsea yang menahan rasa sedih.
"Aku tidak mencintaimu?, haha. Kalau aku tidak benar-benar tulus mencintaimu, untuk apa aku menghabiskan waktuku selama ini bersamamu?" ucap Alvin bertanya balik.
"Kamu sendiri yang beranggapan kalau aku hanya mengincar hartamu?, aku hanya ingin mengambil alih posisi Papa?. Kalau kamu berfikir aku sejahat itu, lebih baik aku pergi dari hidupmu!. Aku sama sekali tidak pernah ada niatan untuk melakukan semua itu!" timpal Alvin.
"Sayang!. Jangan pergi, aku mohon. Aku minta maaf, aku tidak ada maksud untuk melukai perasaanmu" ucap Chelsea yang sudah meneteskan air mata.
"Maaf?, mungkin aku yang harus meminta maaf. Aku tidak sadar akan posisiku, aku tidak sadar derajat kita berbeda. Maaf aku terlalu bodoh untuk mencintai seorang wanita yang memiliki tingkatan di atas langit" ucap Alvin dengan nada suara yang sangat penuh rasa kecewa.
"Kita ibaratkan bumi dan langit. Memang saling melengkapi, namun tidak mungkin bisa bersatu" timpal Alvin.
Chelsea semakin histeris dan menyesali perkataannya tadi. Namun, Alvin tidak memperdulikan itu semua lagi, ia sudah terlanjur kecewa.
Sebelum pergi, Alvin menyempatkan bertemu dengan kedua orangtuanya Chelsea untuk mengucap pamit, namun dengan alasan ada pekerjaan mendadak.
Seusainya Alvin pamit, ia langsung pergi dari rumah mewah itu dan meninggal Chelsea yang terus menangis histeris.
"Tidak ku sangka, aku akan terluka lagi" ucap Alvin dengan nada datar namun tidak sama sekali menatap kearah Chelsea.
"Sayang.." lirih Chelsea memanggil, namun Alvin langsung pergi meninggalkan Chelsea sendirian.
Flashback end...
"Aku memang benar-benar bodoh ya Aisyah, aku telah menyia-nyiakan seorang pria seperti Alvino" ucap Chelsea tersenyum pahit sambil menangis.
Alvin yang dari mendengar semua curhatan hati Chelsea yang begitu tulus di makam Aisyah sedikit tersentuh dan ada rasa penyesalan dalam dirinya karena sudah pergi meninggalkan wanita yang sangat tulus kepadanya.
Dengan sedikit perasaan ragu Alvin ingin menyentuh dan membelai kepala Chelsea yang tengah menangis di depan makam Aisyah, namun Alvin memberanikan diri untuk melakukan itu.
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku sudah mendengar semuanya" ucap Alvin sembari mengelus-elus kepala Chelsea.
Chelsea sangat terkejut karena mendengar suara yang sangat ia kenali itu. Seorang pria yang selama ini ia cari akhirnya berdiri tepat di belakangnya.
Dengan perlahan Chelsea melihat kearah belakang, dan terlihatlah wajah Alvin yang tengah tersenyum tulus terhadapnya. Senyuman itu membuat Chelsea semakin menangis histeris.
Kemudian Alvin mengangkat tubuh Chelsea untuk berdiri dan langsung memeluknya. Chelsea masih menangis dalam pelukan Alvin, dan Alvin masih tetap menenangkan Chelsea yang terus menangis.
"Cup cup, jangan nangis lagi ya" ucap Alvin dengan lembut dan terus membelai-belai kepala Chelsea.
Kemudian Alvin melepas pelukannya, dan menatap wajah Chelsea yang sudah sembab karena menangis. Alvin tersenyum kecil sembari menghapus air mata yang terus keluar dari kedua bola mata Chelsea.
"Udah ya, jangan nangis lagi" ucap Alvin dengan sangat lembut dan mengelus-elus pipi Chelsea.
"Ka.. hiks.. hiks... hiks...kamu jahat!" ucap Chelsea terputus-putus karena menangis.
"Iya maaf ya, aku sudah buat kamu bersedih" ucap Alvin yang masih membelai pipi Chelsea.
"Hmm. Aku yang seharusnya minta maaf. Kalau bukan karena ucapanku yang seperti itu, pasti kita sudah menikah, dan mungkin kita juga sudah memiliki 1 atau 2 buah hati" ucap Chelsea dengan nada manja sembari menyeka air matanya sendri.
"Haha anak ya" sambung Alvin sambil mencubit hidung Chelsea.
"Maaf ya sayang, aku udah pergi" ucap Alvin dan langsung memeluk Chelsea kembali, dan di anggukan oleh Chelsea.
"Aku juga minta maaf, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu pada kamu sewaktu dulu. Aku benar-benar bodoh" ucap Chelsea yang semakin erat memeluk Alvin.
"Iya-iya sayang. Udah ya yang lalu biar berlalu. Sekarang kita buka hidup yang baru, dan Aisyah sebagai saksinya" ucap Alvin tersenyum menatap makam Aisyah.
"Kamu benar sayang. Aku juga ke sini ingin meminta restu dari Aisyah. Aku harap ia mau merestui hubungan kita" sambung Chelsea yang ikut tersenyum menatap makam Aisyah.
Kemudian Alvin mengeluarkan sebuket bunga kesukaan Aisyah dan ingin di letakkan di atas makam sang kekasih pertamanya dulu. Namun Chelsea berfikir kalau bunga itu untuk dirinya.
"Apa bunga itu untukku sayang?" tanya Chelsea tersenyum.
"He..! Ini untuk Aisyah" jawab Alvin sembari menyentil kening Chelsea dengan lembut.
"Hehe. Aku pikir bunga itu untukku" ucap Aisyah terkekeh.
Kemudian Alvin menuntun Chelsea untuk ikut berjongkok di samping makam milik Aisyah, dan Alvin mulai berbicara pada tubuh Aisyah yang sudah tertimbun tanah.
"Aisyah, bidadariku. Aku datang ni, tapi aku kesini tidak sendirian. Aku membawa seorang wanita yang akan menjadi istriku kelak. Kamu tenang aja, wanita ini sama sepertimu kok, cintanya yang tulus sama miripnya dengan cintamu padaku dulu" ucap Alvin tersenyum pahit, dan Chelsea mencoba menenangkan Alvin dengan mengelus-elus pundaknya.
"Kamu memintaku mencari wanita yang terbaik untuk menjadi pendampingku di masa depan kan?, dan sekarang Sudah ku temukan kok. Aku sudah bahagia sayang. Ku harap kamu juga bahagia di atas sana ya" timpal Alvin dan langsung mencium batu nisan milik Aisyah, sedangkan Chelsea hanya tersenyum haru sambil menangis lagi.