Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENGEMBALIKAN


Mendengar penjelasan dari dokter tersebut, mereka semua langsung buru-buru mengikuti sang dokter masuk kedalam ruangan dimana Nenek Ani di rawat.


Sedangkan Daniel tidak mengikuti mereka masuk kedalam karena ada hal yang harus segera ia selesaikan agar inti dari masalah yang menimpah Nenek Ani bisa terselesaikan dan tidak ada lagi orang-orang yang berani mengganggu keluarganya.


Ayah Leo yang menyadari apa yang akan di lakukan oleh putranya itu, merasa sedikit khawatir karena jika sudah menyangkut dengan keluarganya, ia akan paham apa yang akan terjadi dengan amukan Daniel yang sulit untuk di kendalikan. Jadi Ayah Leo harus menemani putranya menuju ke rumah sosok wanita yang berada di genggaman tangan Daniel itu.


Leny yang menyadari akan hilangnya sang suami dari mereka, langsung kebingungan mencari keberadaan Daniel yang pergi tanpa pamit pada Leny.


Ditengah-tengah rasa kebingungannya, tiba-tiba Daniel mengirim pesan singkat ke ponsel Leny kalau ia ada urusan penting yang harus segera di urus.


Leny malah merasa semakin khawatir dengan suaminya itu. Ia langsung menelpon Daniel berharap tidak terjadi apa-apa pada suaminya itu.


"Ayah mau kemana?" tanya Leny lewat panggilan telepon.


"Ayah ada urusan sedikit Honey, gak lama kok" jawab Daniel sembari berjalan menuju ke mobilnya.


"Lagian Ayah juga bareng sama Ayah Leo kok" timpal Daniel agar Leny tidak khawatir.


"Yaudah kalian berdua hati-hati, cepat kembali" ucap Leny dengan wajah sedikit masam karena Daniel tidak pamit terlebih dahulu dengannya.


"Iya Honey. Ayah titip Damin ya istriku, paling lama nanti malam Ayah dan Ayah Leo kembali" jawab Daniel.


"Ih... Ayah!. Bunda gak mau tau pokoknya Ayah harus balik cepat, jangan sampai malam titik" ancam Leny dengan nada bicara yang manja.


"Iya, iya. Siap Bu bos" jawab Daniel pasrah.


"Yaudah Ayah tutup dulu teleponnya ya, Ayah mau menyetir" timpal Daniel.


"Iya, hati-hati suamiku. Love you" jawab Leny.


"Love u to" balas Daniel, dan Ayah Leo hanya tersenyum melihat hubungan dari putranya yang begitu mesra.


"Hubungan kalian mengingatkan Ayah dan Ibu Rani 15 tahun yang lalu" ucap Ayah Leo terkekeh.


"Bukanya Ayah ini tipe lelaki yang dingin?, bagaimana Ayah dan Ibu bisa seperti itu?" tanya Daniel menggoda.


"Haha. Kamu jangan membuka kartu" tawa sang Ayah sembari memakai seatbelt.


"Dan kamu copy paste dari Papa kandung kamu. Kak Elang itu terkenal dengan kekonyolannya, sama sepertimu" timpal Ayah Leo.


"Apa mungkin kalau Dion itu menurun sifat dari Mama?" tanya Daniel sembari mengemudikan mobilnya.


"Mungkin. Karena Mama kalian itu sosok wanita yang lemah lembut, pemalu, ceroboh. Tapi, Papa kalian selalu berkata kalau Mama kalian itu sosok wanita yang begitu sempurna di matanya, mau menerima kekonyolannya" jawab Ayah Leo menjelaskan.


"Andai saja dulu Ayah bisa bertindak lebih cepat, mungkin mereka berdua masih ada di sini dan kita akan hidup bahagia" timpal Ayah Leo menatap kearah jendela.


"Ayah, sudahlah. Ini semua sudah takdir yang di atas, kita sebagai hambanya harus menerima itu semua dan menjalankan sesuai jalanya" sela Daniel agar suasana di dalam mobil tidak gelap.


Mobil terus melaju sedikit kencang agar mereka bisa segera tiba di rumah dukun yang sudah membuat Nek Ani sampai terkena serangan itu. Kebetulan rumah dukun sesat itu masih berada di daerah Bandung, jadi mereka bisa segera menyelesaikannya dengan cepat dan segera kembali ke rumah sakit.


"Hey setan!. Apa maksudmu menyerang keluargaku?!" tanya Ayah Leo.


"Aku hanya mengikuti perintah dari tuan yang memeliharaku saja" jawab sosok wanita tersebut.


"Lalu, dimana rumahnya?" tanya Ayah Leo.


"Tuan muda yang merantai leherku ini sudah tau dimana tempat tinggal dukun itu. ia melacaknya dengan auraku yang berada di tempat aku tidur atau sarang aku di sana" jawab sosok wanita itu ketakutan.


"Apa masih lama Nak?" tanya Ayah Leo.


"Tidak Ayah. Setelah melewati perempatan ini, kita sudah sampai" jawab Daniel.


"Apa yang sebenarnya terjadi Nak?, kenapa tiba-tiba ada orang aneh yang menyerang Nenek Ani?" tanya Ayah Leo penasaran.


"Aku juga tidak begitu paham Ayah, karena mahkluk ini juga hanya menjelaskan tidak terlalu detail" jawab Daniel.


"Dia hanya tau kalau dukun itu jga di bayar seseorang untuk menyerang keluarga kita, yang awalnya ingin menyerang ku, tapi setan ini gak bisa menembus pagar ghaib yang ada di rumahku, jadi dia malah menyerang Nenek Ani" timpal Daniel menjelaskan.


"Apa jangan-jangan ini semua perbuatan musuh kita?" tanya Ayah Leo


"Kemungkinan besarnya sih iya" jawab Daniel.


"Ayah pikir sudah tidak ada musuh lagi yang bertindak dan kita bisa menjalani hidup dengan tenang. Tapi ternya ada aja orang-orang yang belum puas dengan Dark Shadow. Mereka juga mau melakukan penyerangan apapun agar kita kalah" ucap Ayah Leo panjang lebar.


"Aku juga terus memikirkannya Ayah. Apa ada orang yang memiliki dendam terhadap Dark Shadow?, terutama padaku" ucap Daniel bertanya.


"Inilah resiko menjadi raja di kegelapan, ada saja musuh yang ingin mencapai tempat tersebut. Kita semua harus berhati-hati pada orang- seperti itu, kita harus benar-benar menjaga keluarga" ucap Ayah Leo menasehati.


Setelah melewati obrolan yang sedikit panjang, ternyata mereka sudah sampai di depan rumah dukun yang pembawa masalah tersebut. Dengan buru-buru Daniel dan Ayah Leo menuju ke rumah tersebut.


Daniel terus menggenggam rantai ghaib yang berada di tangannya, sedangkan sosok wanita tersebut hanya pasrah mengikuti langkah Daniel. Ia sudah tidak bisa melawan lagi, jika ia melawan juga pun percuma karena kekuatannya jauh dibawah mereka.


Daniel berjalan mendekati pintu rumah itu, dan langsung mengetuk pintu rumah dukun tersebut.


"TOK... TOK..." Daniel mengetuk pintu.


"Permisi... paket..." ucap Daniel sembari mengetuk pintu


"Sebentar!!" sahut seorang lelaki yang berada di dalam rumah tersebut.


Tanpa rasa curiga orang yang berada di dalam rumah tersebut langsung membuka pintu rumahnya, karena merasa kalau memang ada kurir paket yang datang untuk mengantarkan pesanan salah satu yang tinggal di rumah tersebut.


Setelah pintu terbuka, bukanya di sambut dengan sebuah paket melainkan sebuah pukulan yang lumayan sangat keras menghantam tepat mengenai wajah pria yang berstatus dukun tersebut.


Pria itu langsung melangkah mundur beberapa meter dan memegangi wajahnya yang sangat sakit bahkan ia hampir pingsan karena pukulan yang Daniel berikan.


"Si...siapa kalian hah?!" tanya dukun tersebut sambil memegangi wajahnya.


"Apa kau tidak kenal sosok wanita ini?!" tanya Daniel sembari mengelus-elus kepala sosok wanita yang memeluk kakinya Daniel dan masih dalam keadaan terikat rantai.


Mata dukun itu langsung terbelak melihat sosok wanita yang begitu penurut dan begitu nyaman dalam genggaman Daniel.


"Hey kau!, kenapa kau berada di sana?!. Aku ini tuanmu!, bukan dia!" ucap dukun tersebut merasa tidak terima.


"Aku sudah tidak mau bekerja untukmu lagi. Aku ingin hidup bebas dan menjadi setan yang akan melakukan apapun dengan keinginanku sendri, bukan menjadi peliharaan manusia busuk sepertimu!" jawab sosok wanita tersebut dan membuat dukun itu semakin murka.