
Ketika mereka berempat sudah berada di luar gedung itu, Fauzi langsung melakukan hal yang di perintahkan oleh Daniel tadi waktu mereka berada di dalam gedung tersebut.
"Hahaha" Fauzi tertawa jahat sambil menatap gedung yang sedang dilahap api.
"Udah" tegur Kevin dengan geram sembari memukul kepala Fauzi.
"Gak kau lihat itu kakakmu udah menunggu di helikopter. Matanya udah tajam banget itu" timpal Kevin menatap Leny dengan rasa ngerih.
"Kalian mau pulang, apa mau tidur di situ hah?!" tanya Leny geram.
"Iya-iya kak, tunggu!!!" jawab Fauzi sembari berlari menuju helikopter yang mulai menyala. Sedangkan Kevin hanya menggeleng saja dan ikut berjalan di belakang Fauzi.
Setelah mereka semua berempat sudah berada di dalam helikopter, sang pilot langsung menerbangkan helikopternya pergi menjauh meninggalkan gedung yang sudah menjadi abu, dan mayat-mayat yang berada di dalam juga sudah tidak bisa di kenali lagi.
"Ayah, memangnya harus seperti itu ya?" tanya Leny.
"Seperti itu apanya Honey?" tanya Daniel balik.
"Itu loh. Setiap Ayah selesai melakukan pembantaian, apa harus di bakar tempatnya?" ucap Leny bertanya.
"Ya begitulah, itu juga buat menjadi sebuah ancaman bagi orang-orang yang mencoba mencari masalah dengan Ayah. Supaya mereka semua bisa tau bagaimana akibatnya jika mencari masalah dengan keluarga kita" jawab Daniel tersenyum.
Karena begitu lelah akibat penyiksaan yang Leny lakukan terhadap perusak nama kelompok yang di pimpin oleh suaminya itu, perlahan Leny tertidur di pundak Daniel. Bagaimana tidak ada tempat yang nyaman untuk tidur selain di pundak sang suami.
"Maaf tuan muda, kita mau keman?" tanya sang pilot.
"Kembali saja ke hotel" jawab Daniel sambil merenggangkan tubuhnya.
"Baik, siap laksanakan" ucap sang pilot dengan semangat.
Dengan cepat sang pilot langsung menerbangkan helikopternya menuju ke tempat yang di perintahkan oleh Daniel barusan.
Dari atas, Daniel menikmati langit malam negara yang ikonik dengan menara Eiffel tersebut. Sudah lama dia tidak pergi ke negara tersebut semenjak berstatus sebagai seorang suami dan juga seorang Ayah.
Kemudian ia menatap Leny yang tengah tertidur pulas dalam pelukannya. Daniel tersenyum bahagia lalu ia mencium pucuk kepala sang istri dan memeluknya semakin erat.
"Makasih ya Honey, kamu sudah melahirkan seorang putra yang begitu tampan dan juga sudah menjadi seorang istri serta seorang ibu terbaik bagiku" gumam Daniel sambil mengelus-elus kepala istrinya.
"Ayah yakin Damin pasti bakal menjadi seorang putra yang begitu hebat, dan kelak ketika ia dewasa, dia akan menjaga kita di hari tua kita nanti" timpal Daniel tersenyum dan ikut memejamkan matanya dengan menyandarkan kepalanya pada kepala sang istri.
"Nampaknya dua kakak iblis kita sedang tertidur tu" bisik Fauzi pada Kevin dan di anggukan oleh Kevin.
"Aku gak habis pikir, ternyata kak Leny bisa sekejam itu" ucap Kevin.
"Aku takut kalau dia marah, bisa lebih gila dari yang tadi" sambung Fauzi.
"Ya pasti bakal lebih menyeramkan. Secara suaminya sangat kejam pada musuh" tambah Kevin.
"Kalian berdua sudah berani mengghibah kakak kalian sediri ya!" tegur Wulan dengan geram sambil menjewer kedua telinga lelaki yang berada di depannya.
"Ahk, sakit kucing kecil" sambung Kevin.
Secara perlahan Wulan melepaskan tangannya dari kedua telinga mereka berdua dan berkata dengan geram "Makanya jangan ngomong yang enggak-enggak tentang kakakku".
"Bukan begitu maksudnya loh dek. Kamu apa gak khawatir dengan keadaan kak Leny kedepannya?" tanya Fauzi.
"Khawatir apa maksud kakak" tanya Wulan balik.
"Kami khawatir kalau kak Leny bisa lebih berbahaya kedepannya, dan yang lebih kami takutkan lagi, di masa mendatang banyak musuh dari kak Daniel yang mengincar kak Leny untuk mengancam kak Daniel untuk mengalah" jawab Fauzi menjelaskan.
"Kalau itu yang kalian takutkan, kita harus bisa melindungi kak Leny dan juga Damin" ucap Wulan.
"Sebagai seorang adik yang sudah di jaga dan di rawat oleh Ayah dan Ibu Rani, kita harus membalas kebaikan mereka dengan menjaga keselamatan mereka semua. Aku tau kalau kekuatan kita jauh di bawah kak Daniel, tapi kita juga adalah keluarga, dan kalian pasti tau kalau sebagai seorang keluarga, kita harus bisa saling menjaga satu sama lain" timpal Wulan menjelaskan panjang lebar.
"Memang yang kau kamu katakan itu benar adikku. Kami sangat menyayangi mereka berdua. Walaupun aku dan kan Daniel tidak ada ikatan darah, tapi bagiku kak Daniel adalah sosok kakak yang begitu hebat" tambah Fauzi.
"Aku juga tak ingin melihat mereka terluka lagi, cukup satu kali aku melihat mereka berdua terluka akibat perbuatan musuh kita" ucap Kevin.
"Apa kalian masih ingat apa yang di katakan kak Daniel saat dia melatih kita?" tanya Kevin.
"Meski kekuatan kalian bertiga jauh di bawahku, tapi aku membutuhkan kalian untuk membantuku dan menyempurnakan kekuatanku, bagiku kalian bukan bawahan ku. Kalian bertiga adik-adikku yang paling berharga. Meskipun kita tidak ada ikatan darah, aku sangat menyayangi kalian " ucap mereka bertiga secara bersamaan.
"Tentu saja aku mengingat semuanya. Perkataan kak Daniel pada waktu itu sangat tulus dari hatinya. Aku juga sangat menyayanginya. Bagiku, dia sosok kakak lelaki yang begitu bertanggung jawab terhadap adik-adiknya" ucap Wulan tersenyum.
"Sudah banyak pengorbanan dan kebaikan yang dia lakukan untuk kita. Sekarang giliran kita untuk membalas semua itu" ucap Fauzi.
"Kita harus bertambah kuat dan melindungi keluarga kita" sambung Kevin.
"Aku Bahagia kalian bertiga begitu sangat menyayangi aku dan keluarga kecilku. Tapi kalian juga ingat, kalian itu adikku. Sudah menjadi tugas seorang kakak yang menjaga adik-adiknya" ucap Daniel yang tiba-tiba mengejutkan mereka.
"Loh, kakak mendengar semuanya?" tanya Kevin sedikit terkejut.
"Haha tentu saja" jawab Daniel.
"Kalian tidak perlu berkorban sampai sejauh itu. terutama kau Fauzi, kau juga sudah memiliki keluarga sendiri yang harus kau prioritaskan. Ingat, musuh kita bukan hanya mengincar aku dan keluargaku saja. Jadi yang harus kita lakukan harus saling melindungi" timpal Daniel.
"Iya kak aku paham, tapi kebanyakan musuh itu mengincar kakak di bandingkan dengan kami semua, jadi yang harus kami lindungi itu kakak dan kak Leny" jawab Fauzi menjelaskan.
"Aku paham, dan aku sangat berterimakasih pada kalian yang begitu menyayangi aku serta anak dan istriku. Tapi kalian jangan terlalu mengkhawatirkan itu semua. Selama aku masih bernyawa, tak akan kubiarkan satupun lalat yang berani menyentuh keluarga kita" ucap Daniel.
"Kalian juga tau betapa kesepiannya aku dulu. Umur 5 tahun sudah di tinggal kedua orangtua, usia 11 tahun nenek yang sudah merawat ku juga pergi untuk selamanya. Pada saat itu aku merasa kalau aku adalah orang yang paling tidak beruntung, tapi semua itu berubah setelah aku bertemu pertama kali dengan Leny" timpal Daniel tersenyum menatap sang istri yang masih tertidur pulas di pelukannya.
"Dan aku juga sangat bersyukur ternyata aku memiliki seorang paman dan bibi yang begitu sangat menyayangiku dan membesarkanku seperti anak kandung mereka sendiri. Jadi saat aku menemukan kalian bertiga, aku langsung berfikir kalau kalian memang pantas menjadi adik-adikku, karena aku sangat menyayangi kalian" tambah Daniel tersenyum menatap ketiga adiknya yang duduk di belakangnya.
"Kami juga menyayangi kakak" jawab Wulan mewakili Fauzi dan Kevin.