
Kedua pria itu duduk sambil mengobrol dan tatapan mereka terus mengarah ke api unggun yang menjadi alat penerang untuk menemani malam mereka.
Daniel dan Hyuga mengingat masa-masa di saat mereka yaitu keluarga dari Dark Shadow menjalankan misi dalam dan harus bersembunyi di tengah hutan sambil di temani dengan bungkus rokok favorit mereka masing-masing. Sudah banyak puntung rokok yang telah mereka habiskan untuk teman mereka mengobrol.
Hyuga juga sedari tadi terus saja menguap mempertandakan kalau matanya sudah tak mampu bertahan. Sedangkan Daniel masih terjaga dan terus menghisap rokoknya.
"Sepertinya aku sudah mulai mengantuk kapten" ucap Hyuga sambil menguap.
"Jika kau mengantuk, tidur saja" jawab Daniel santai sambil membuang asap rokoknya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Hyuga.
"Aku tidak mengantuk, aku akan berjaga" jawab Daniel lalu menyalakan satu batang rokoknya yang baru.
"Baiklah kapten, terserah kau saja" ucap Hyuga dan terpaksa harus pergi tidur meninggalkan Daniel yang masih terjaga.
Di sisi lain tepatnya di rumah bak istana yang berada di tengah hutan tersebut, terdapat puluhan atau ratusan orang-orang yang tengah berjaga di seluruh area tersebut namun beberapa dari mereka sudah banyak yang beristirahat dan bermain kartu untuk menemani waktu berjaga mereka mengingat waktu yang sudah tengah malam.
Sedangkan pemimpin mereka yaitu Sonoshi sedang berbaring di dalam kamarnya dengan sebuah ranjang yang sangat besar. Akan tetapi ia tidak bisa tertidur dan pikirannya tiba-tiba menjadi tak tenang seakan-akan bakal terjadi sesuatu padanya.
Pria itu terus mengganti posisi baringnya namun tetap saja tidak bisa tertidur. Lalu ia langsung terduduk dan langsung menundukkan kepalanya sambil memijit pelipisnya yang menegang.
"Ada apa denganku?, kenapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak seperti ini?" gumamnya sambil terus memijat kepalanya sendiri.
Karena waktu sudah terlalu larut malam dan besok dia harus mengerjakan aktivitasnya, dia terus memaksa tubuhnya untuk bisa tertidur.
Pada saat ia ingin berbaring, secara sekilas ia seperti melihat seorang pria yang memakai sebuah topeng berdiri lumayan cukup jauh dari ranjangnya.
Merasa terkejut, Sonoshi yang sudah berbaring, kembali membuka matanya dan langsung duduk karena ingin mencoba memastikan apa memang benar ada sosok yang ia lihat secara kilat barusan.
Namun, saat ia melihat ke arah depan, sosok pria bertopeng tersebut tak ada di sana dan semakin membuatnya gelisah.
"Apa memang perasaanku saja?" gumamnya terheran-heran namun pikirannya semakin tidak tenang.
"Arkh!. Mungkin hanya perasaanku saja" timpalnya dan langsung membaringkan tubuhnya kembali.
Dalam keadaan mata yang terpejam, Sonoshi merasa kalau ada orang yang sedang mengawasinya tepat di atasnya.
Benar saja, ketika ia membuka matanya lagi, sosok pria bertopeng itu berada tepat di atas kepalanya dengan posisi duduk di tepi ranjangnya sambil mengarahkan sebuah pedang tepat di depan mata Sonoshi.
Seketika suasana langsung berubah menjadi menegangkan dan Sonoshi sudah berkeringat dingin karena ujung pedang yang sangat tajam itu tepat berada di depan matanya dalam jarak kurang lebih 5 CM dari tempat ia tergelatak dan sudah tak berdaya.
Sonoshi semakin terkejut bercampur rasa takut saat ia sudah mengetahui bahwa pria yang berada tepat di hadapan itu adalah sosok pria nomor satu di Asia.
"A..a...apa anda adalah si Akai raion?" tanya Sonoshi ketakutan.
"Siapa aku itu tidak penting" jawab pria itu dengan nada dinginnya.
"Yang terpenting, dimana mereka?!" timpal pria bertopeng itu bertanya.
"A...a...apa yang maksud anda?, si...siapa yang anda maksud?" tanya balik Sonoshi dengan wajah ketakutannya.
Merasa geram, pria bertopeng itu menempelkan ujung pedangnya yang runcing serta begitu tajam ke leher Sonoshi dan membuat Sonoshi semakin ketakutan.
Keringat dingin semakin membanjiri seluruh wajah dan tubuh Sonoshi. Rasa perih pada lehernya membuatnya ingin mengompol di celana.
"JAWAB!" ucap pria itu dengan nada penuh penekanan sampai membuat tubuh Sonoshi bergetar hebat karena sangking ketakutannya.
"Apa kau ingin benda ini menembus ke tenggorokan mu itu hah?!" timpal pria itu mengancam.
"Me.. mereka semua ada di dalam ruangan, tepatnya di ruang bawah tanah. Di sana terdapat sebuah kamar dan mereka ada di dalamnya" jawab Sonoshi ketakutan.
"Ta..tapi sa..saya berani bersumpah tuan!. Kalau saya tidak menyakiti atau berbuat macam-macam pada mereka" timpal Sonoshi menjelaskan.
"Lalu, apa maksud dan tujuanmu menculik mereka semua?!" tanya pria itu.
"Sa..saya ingin mempercantik mereka, lalu kemudian sa..saya ingin menjual mereka ke orang-orang di beberapa negara" jawab Sonoshi ketakutan.
Pria bertopeng itu hanya diam saja dan ia menarik pedang yang menempel di leher Sonoshi. Kemudian pria bertopeng itu mengayunkan pedangnya ke arah Sonoshi seakan ingin menusuk kepalanya.
Sonoshi yang sudah pasrah akan ajal yang akan menjemputnya hanya pasrah dan menutup matanya. Namun sepersekian detik ia memejamkan mata, ia merasa kalau benda tajam itu seakan tidak menusuk ke kepalanya.
Karena merasa bingung bercampur rasa takut, Sonoshi memberanikan diri untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ternyata sosok pria bertopeng tersebut sudah tidak ada di atas kepalanya.
Sonoshi langsung terduduk dengan nafas yang ngos-ngosan. Rasa takut menyelimuti dirinya mengingat kejadian tersebut beberapa menit yang lalu.
"Apa semua itu tadi tanya mimpi buruk saja?. Tapi kenapa kejadian tadi seperti nyata?" gumamnya ketakutan dan masih berkeringat dingin.
Hyuga yang masih tertidur pulas di dalam shelter kayu itu, menyadari kalau Daniel tidak ada berada di dalamnya. Hyuga bangun dan duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawanya karena habis tertidur.
Setelah semua nyawanya sudah terkumpul di dalam tubuh, Hyuga bangkit dan berjalan keluar. Saat ia sudah berada di luar, ia langsung terkejut saat mendapati kalau Daniel tidak berada di luar dan hanya dia seorang diri yang berada di tempat perkemahan mereka.
"Kemana anak itu?. Buang air, atau sedang berpatroli?" gumamnya kebingungan.
Pada saat Hyuga ingin bergerak mencari keberadaan Daniel, tiba-tiba tubuhnya berhenti seakan mati langkah. Hyuga bisa merasakan aura berat milik Daniel dan membuat Hyuga merasa geram karena ia tau kalau Daniel bergerak seorang diri menyelinap ke dalam rumah mewah yang berada di tengah hutan tak jauh dari tempat mereka berkemah.
"Sial!. Bisa-bisanya dia bergerak seorang diri!" gumamnya geram.
"Lagi-lagi kau melakukannya seorang diri kapten!. Kau pergi ke sana di saat aku sedang lengah ya?!" timpalnya tersenyum sinis.