Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KEBENARAN YANG TERUNGKAP DARI SEBUAH MIMPI


Seorang pria tampan tiba-tiba berada di sebuah taman, namun dalam keadaan waktu malam. Hal tersebut membuat dirinya merasa sangat bingung dan bertanya-tanya kenapa dirinya bisa berada di sebuah taman di malam hari.


Pria itu berjalan dengan goyah menuju ke sebuah kursi besi yang tersedia di taman tersebut. Kursi yang di terangi dengan sebuah lampu taman.


Lalu pria itu terduduk di kursi tersebut, sambil melihat ke sekelilingnya. Terlihat begitu gelap dan tak ada orang sedikitpun yang berada di taman tersebut, hanya pria itu seorang diri.


Kemudian ia menatap ke arah bawah sambil merenungi dengan apa yang sedang ia alami, dia bertanya-tanya pada dirinya, kenapa ia bisa berada di tempat tersebut di malam hari.


"Apa yang terjadi padaku?, kenapa aku tiba-tiba berada di tempat ini malam-malam begini?" tanya pria itu kebingungan, dengan terus menatap ke arah bawah. Karena terlalu bingung, pria itu sampai mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Arghhh!" kesal pria itu mengacak-acak rambutnya.


Lalu udara di taman itu tiba-tiba berubah menjadi dingin, membuat pria itu merasa kedinginan. Pria itu hanya bisa memeluk dirinya sendiri sambil terus mengusap-usap kedua lengannya sendiri.


"Kenapa tiba-tiba jadi dingin begini?" gumam pria itu kedinginan.


"Aku jadi semakin bingung" timpalnya semakin cepat mengusap-usap kedua lengannya karena merasa udaranya semakin dingin menurutnya.


Disaat sudah merasa semakin bingung bercampur rasa dingin yang semakin lama semakin dingin, pria tersebut menjadi semakin kesal karena tak menemukan satu orangpun yang berkeliaran di taman tersebut.


Karena sudah tak tau harus berbuat apa, pria itu hanya pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Namun, ketika ia termenung meratapi apa yang ia alami, tiba-tiba dua orang pria menghampiri dirinya. Hal tersebut membuat pria yang tengah terduduk seorang diri itu merasa sangat kebingungan karena melihat ada cahaya yang begitu terang menyinari kedua pria yang berjalan menuju ke arahnya.


Merasa tak percaya, pria itu menggosok-gosok kedua mata dengan tangannya berharap bahwa semua yang ia alami hanyalah sebuah mimpi.


Namun, setelah melakukan hal itu sebanyak lebih dari satu kali. Semuanya terasa sia-sia karena kedua pria yang berjalan ke arahnya semakin dekat, dan cahaya yang terpancar dari kedua pria itu terasa sangat hangat baginya.


"Dion" panggil salah satu pria yang terlihat masih muda, dan pria itu tersenyum sambil menyentuh pundak pria yang baru saja di panggil dengan nama Dion.


"Ke...kenapa anda bisa tau nama saya?" tanya pria yang di panggil Dion itu terkejut.


"Tentu saja aku tau, karena aku yang memberikan nama tersebut" jawab pria paruh baya itu tersenyum.


"Senyuman itu sangat mirip dengan senyuman Kakak dan juga Damin" batin Dion mulai berkaca-kaca.


"Apa jangan-jangan anda..." ucap Dion yang semakin berkaca-kaca.


"Ya, aku ini..." ucapan pria paruh baya itu terhenti karena secara tiba-tiba Dion langsung memeluknya.


"Papa..." tangis Dion pecah dalam pelukannya pria paruh baya tersebut.


"Iya nak, aku ini Papamu" jawab pria paruh baya itu tersenyum sambil mengelus-elus punggung Dion.


"Dion sangat merindukan Papa dan Mama" ucap Dion menangis senggugukan dalam pelukan pria paruh baya tersebut. Sedangkan pria itu hanya diam sambil mengelus-elus pundak Dion.


"Maafkan Kakek ya nak, kalau bukan karena Kakek, kamu dan Kakakmu pasti tidak mengalami hal yang sangat berat ini" ucap seorang pria yang lebih tua dari pria yang di peluk oleh Dion. Pria tua itu hanya bisa mengelus-elus kepala Dion sambil terus menyesali perbuatannya.


Lalu Dion melepaskan pelukannya, kemudian ia menatap pria tua tersebut.


Melihat Dion yang tersenyum, membuat sang Papa ikut tersenyum sambil mengelus-elus pundaknya Dion.


"Aku dan Kakak masih mempunyai Ayah Leo, Ibu Rani, Papa Yoga, dan juga Mama Anita Kek. Jadi kalian tidak usah khawatir, apa lagi merasa bersalah" ucap Dion tersenyum.


"Oh iya Pa. Aku dan Kak Daniel juga sudah menikah. Papa memiliki seorang cucu yang sangat tampan dan senyumannya sangat mirip dengan Papa. Istriku juga saat ini sedang mengandung anak kembar kami. Aku harap, kelak mereka lahir, mereka menjadi kebanggaan keluarga kita ya Pa" timpal Dion tersenyum bahagia.


"Iya nak. Papa dan Mama pasti akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua anak-anak Papa" jawab sang Papa tersenyum sambil mengelus-ngelus kepala Dion.


"Mama dan Nenek dimana Pa?, Kek?" tanya Dion mencari keberadaan kedua wanita tersebut.


"Mama dan Nenek kamu ada kok nak. Saat ini mereka sedang berada di tempat lain" jawab sang Papa


"Tapi, Papa yakin. Kalau di sini, akan selalu ada kami. Kami akan selalu menjaga kalian berdua" timpal sang Papa menyentuh dadanya Dion.


"Aku merasa menjadi Adik yang tidak berguna bagi Kakak Pa" ucap Dion menundukkan kepala.


"Kak Daniel yang selama ini menjaga keluarga kita, tak peduli apa yang ia rasakan, dia akan terus tetap melindungi keluarga kita Pa. Sedangkan aku, aku hanya menjadi beban untuknya" timpalnya sedih.


"Nak, jangan pernah kamu berfikiran seperti itu. Papa yakin, Kakak kamu sama sekali tidak berfikiran seperti itu" ucap sang Papa menasehati.


"Kak Daniel menjadi pemimpin yang sangat hebat Pa, bahkan ia sudah melampaui Kakek dan Ayah Leo. Aku merasa sangat jauh darinya Pa. Aku ingin sekali berdiri di sampingnya, dan membantunya dengan kekuatan yang aku miliki. Jika saja aku kuat, mungkin aku bisa membantu Kak Daniel melindungi keluarga kita Kek" ucap Dion sedih.


"Kamu itu kuat Nak, bahkan kamu jauh lebih kuat dari Kakek dan juga Leo. Kakek yakin kamu bisa menjadi yang terkuat di Dark Shadow setelah Kakakmu" ucap sang Kakek tersenyum.


"iya Kek" jawab Dion tersenyum.


"Tujuan Kakek dan Papamu ke sini, Kakek ingin menyampaikan sebuah kejadian yang sebenarnya Nak" ucap sang Kakek menatap Dion serius.


"Kejadian?, kejadian apa yang Kakek maksud?" tanya Dion penasaran.


"Ini tentang hal yang di alami oleh Papa dan Mama kalian nak" jawab sang Kakek.


Kemudian sang Kakek menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi pada kematian kedua orang tuanya Daniel dan juga Dion, hingga Dion mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.




Dion semakin memanas dan semakin tak terkendali menghajar setiap orang-orang yang menghalangi langkahnya untuk menuju ke arah Mario yang masih terkapar.



Sedangkan saudara-saudaranya menjadi kebingungan melihat Dion yang tiba-tiba mengamuk dan menghajar orang-orang dari Harimau Berdarah dengan begitu sangat ganas, namun pandangan matanya hanya tertuju pada Mario yang tergeletak tak berdaya di lantai.