Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
HANYA DENGAN SATU JARI


Mario dan putranya tengah membahas Betran yang sudah 3 hari tidak muncul bahkan tak memberi kabar pada mereka. Ada rasa khawatir karena bagi Mario, Betran sudah seperti putranya sendiri dan Marcel sangat menyayanginya bahkan sudah anggap sebagai adiknya sendiri.


"Kenapa Betran tidak ada kabar Pa?" tanya Marcel khawatir.


"Bahkan ponselnya tidak bisa di hubungi" timpalnya sambil terus mencoba menghubungi Betran.


"Papa juga khawatir padanya. Enggak biasanya anak itu seperti ini" jawab Mario risau.


Disaat Ayah dan anak itu tengah mengobrol di dalam ruangannya, tiba-tiba seorang pria yang menggunakan pakaian ala pelayan masuk dengan tergesa-gesa, sampai membuat mereka berdua terkejut.


"Ada apa denganmu?, apa yang membuatmu sampai panik seperti ini?" tanya Mario kebingungan.


"Di... hosh... di bawah sana tuan" jawab pelayan itu sambil mengatur nafasnya.


"Ada apa?, coba tenangkan dirimu dulu" ucap Marcel sambil memberi pelayanan tersebut segelas air. Lalu dengan buru-buru pria itu langsung meneguk air yang di berikan oleh bosnya itu.


"Coba jelaskan dengan pelan-pelan" ucap Mario setelah ia rasa kalau pelayannya sudah lebih tenang.


"Di bawah sana ada 4 orang pria, mereka berempat selalu saja memenangkan permainan yang ada di bawah, bahkan di saat kami sudah membuat kecurangan, mereka masih saja bisa menang dengan mudah tuan. Jika terus-menerus di biarkan, aku takut tempat ini akan hancur" jawab pelayan itu ketakutan.


"Tenang, jangan takut, jangan panik. Kamu undang keempat pria itu ke sini, dan jangan lupa katakan pada penjaga untuk bersiap-siap. Karena sebentar lagi mereka akan berpesta" ucap Marcel tersenyum sinis.


"Baik tuan, saya akan membawa keempat pria itu ke sini. Saya harap mereka berempat bisa segera di lenyapkan" jawab pelayan itu dan langsung buru-buru menuju ke bawah untuk menemui Daniel.


"Kalian semua bersiap-siaplah, sebentar lagi kalian akan berolahraga" ucap pelayan itu pada seluruh penjaga yang berada di depan pintu masuk ruangan pribadi milik Marcel dan Mario.


Dengan buru-buru pelayan itu menghampiri Daniel yang tengah asyik menikmati kemenangannya yang terus menghampirinya, bahkan sampai membuat lawan mainnya serta para pekerja yang berada di sana merasa pusing karena mengalami kerugian yang begitu besar.


"Tuan-tuan sekalian, bos kami ingin bertemu dengan kalian berempat" ucap pelayan itu dengan sopan.


"Untuk apa mereka ingin bertemu dengan kami?" tanya Fauzi berpura-pura tak tertarik.


"Bos kami memang selalu mengundang orang-orang hebat yang sudah berhasil memenangkan permainan di tempat kami secara berturut-turut. Mereka ingin memberi sebuah penghargaan dan kenang-kenangan yang tidak akan bisa tuan-tuan lupakan" jawab pelayan itu tersenyum.


"Wah, sepertinya kita akan menjadi tamu kehormatan ni" ucap Fauzi sambil menatap ke arah Daniel yang hanya tersenyum mengikuti permainan dari Fauzi.


"Maka dari itu, tuan-tuan sekalian di persilahkan untuk ke atas secepat mungkin" ucap pelayan itu tersenyum.


"Baiklah-baiklah, karena kalian terlalu memaksa. Maka kami tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini" ucap Daniel sambil merentangkan kedua tangannya ke atas untuk merenggangkan otot-ototnya.


"Ayo kita temui pemilik tempat ini" ajak Daniel bangkit dari tempat duduknya.


"Mari tuan, saya antarkan kalian ke atas" ucap pelayan itu sedikit membungkuk.


Pelayan tersebut berjalan terlebih dahulu menaiki anak tangga satu persatu, di ikuti oleh Daniel serta ketiga saudara. Sepanjang melewati anak tangga, pelayan itu tersenyum penuh arti karena sebentar lagi tempat tersebut akan menjadi kuburan mereka berempat.


"Hoo... Jadi itu bodyguard mereka" gumam Daniel tersenyum sinis sambil terus menatap satu persatu penjaga dengan tatapan santai tanpa rasa takut sedikitpun.


"STOP!" ucap salah satu dari penjaga yang berada di sana dengan tegasnya.


Dengan santai Daniel dan ketiga saudaranya berhenti tanpa adanya rasa takut di dalam diri mereka. Sedangkan sang pelayan yang membawa Daniel tadi hanya tersenyum yakin seakan-akan para bodyguard itu bisa menghabisi empat pria yang ia bawa.


"Mau apa kalian?!" tanya pemimpin dari bodyguard tersebut.


"Lah lucu" sela Fauzi tertawa.


"Hey!, apa yang kau tertawakan?!" tanya salah satu dari bodyguard itu dengan nada kesal.


"Sudah jelas aku mentertawakan kalian" jawab Fauzi tertawa dan Kevin ikut tertawa. Sedangkan Daniel dan Rian hanya tersenyum sinis saja.


"Apa tujuan kalian ke sini hanya untuk mengantarkan nyawa dengan sukarela?" tanya pemimpin dari bodyguard tersebut.


"Pfftt" Fauzi lagi-lagi tertawa namun ia tahan.


"Kau!" tegur anak buahnya geram dan hendak memukul Fauzi. Namun dengan santainya Fauzi dapat menghindar, dan bahkan ia sempat menendang b0k0ng pria yang memukulnya tadi sampai tersungkur dengan posisi kepalanya masuk ke dalam tong sampah.


"Perhatikan langkahmu, hahaha" tawa Fauzi terbahak-bahak.


"Kalian membuat kesabaran ku habis!" geram si pemimpin dari bodyguard itu seraya mengeluarkan seluruh aura yang ia miliki dan langsung mengarahkan tinjunya ke tempat Daniel berdiri.


Namun dengan mudahnya Daniel menahan pukulan keras dari pria itu menggunakan satu jari telunjuknya. Pelayan dan para anak buahnya hanya bisa tercengang melihat kejadian tersebut.


"Apa hanya segini saja kekuatan penuh milikmu?" tanya Daniel sambil terus menahan kepalan tinju dari pria tersebut.


Kemudian Daniel menyentil dahi pria yang memukulnya tadi sampai membuatnya tumbang tak sadarkan diri. Pelayan dan para bodyguard tersebut semakin terkejut melihat pemimpin mereka tumbang dengan sangat mudahnya.


Karena sudah ketakutan, pelayan itu langsung memerintahkan para bodyguard yang lainnya untuk menyerang Daniel dan yang lainnya. Kemudian Daniel memberikan kode untuk ketiga saudaranya. Dengan senyuman bahagia, mereka bertiga langsung mengobrak-abrik para bodyguard tersebut hingga membuat mereka kalah dalam sekejap.


Pelayan yang membawa mereka di buat ketakutan saat menyaksikan rekan-rekannya sudah tumbang tak bernyawa, dan hanya menyisakan ia seorang diri saja. Saat pelayan itu ingin kabur, dengan cepat Daniel langsung menendang wajah pelayan tersebut hingga terpental menghantam dinding.


Setelah seluruh bodyguard yang menjaga tempat tersebut serta pelayan itu kalah, Daniel mengajak ketiga saudaranya ke acara utamanya, yaitu ruangan milik pemimpin dari ******Harimau Berdarah******.


Setibanya mereka berempat di depan pintu masuk, tanpa tindakan lembut Kevin langsung menendang pintu tersebut sampai membuatnya rusak dan kedua orang yang berada di dalam sampai terkejut.


Kemudian Fauzi melemparkan sesuatu ke arah kedua pria yang berada di dalam ruangan itu. Kedua pria tersebut di buat semakin terkejut setelah mengetahui apa yang sudah di lemparkan oleh Fauzi.


"Betran?!, Rocky?!" ucap Mario terkejut saat melihat dua buah kepala yang sudah tidak memiliki tubuh berada di depan mereka berdua.