Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
OPERASI LANGSUNG


Dion langsung mendatangi Daniel yang sedang asyik mengobrol dengan Souji. Kedatangan Dion membuat mereka langsung terkejut karena melihat ada dua orang Daniel yang hampir sama sekali tidak ada perbedaan dari wajah mereka.


"Ke..kenapa tu..tuan muda ada dua orang?" tanya Souji terbata-bata.


"Oh iya. Ini saudara kembar ku, Dion" ucap Daniel menjelaskan.


"Ternyata tuan muda memiliki saudara kembar?" tanya Souji yang masih terkejut belum percaya.


"Iya, kami juga baru tau kalau kami ini kembar. Karena selama ini dia tinggal besama Adiknya Mamaku di Jerman" jawab Daniel.


"Salam kenal tuan muda" sapa Souji membungkuk dan membuat Dion terlihat kebingungan.


"Kak?" tanya Dion dengan wajah kebingungan menatap Daniel dan Daniel hanya mengangkat kedua bahunya saja.


Lalu Alvin mendekati mereka bertiga dan langsung menanyakan penyakit pasien yang akan ia tangani, tanpa basa-basi lagi mengingat kalau mereka juga butuh waktu untuk istirahat.


"Langsung ke intinya saja" ucap Alvin serius.


"Dimana pasien yang harus aku tangani?, apa penyakit yang ia alami?" timpal Alvin bertanya secara to the point'.


"Bu..bukankah anda ini seorang dokter yang di juluki sebagai si tangan ajaib?" tanya Souji terbata-bata menatap Alvin, dan Alvin hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Itu hanya julukan dari orang-orang. Aku cuma seorang dokter biasa seperti dokter-dokter pada umumnya" jawab Alvin.


"Pa..pasti putraku akan sembuh jika di tangani oleh anda langsung" ucap Souji tersenyum bahagia.


"Akan aku usahakan untuk mengobatinya ya, anda bantu lewat doa saja" jawab Alvin memberi semangat.


"Oh iya, ngomong-ngomong. Penyakit apa yang di derita oleh putramu?" tanya Alvin.


"Dia mengalami pendarahan pada bagian kepala dan sampai hampir merusak saraf pada bagian kepalanya" jawab Souji sedih.


"Apa? penyebabnya?" tanya Alvin lagi.


"Beberapa hari yang lalu, Anakku dan teman-temannya melakukan kebiruan di sebuah sekolah yang dimana ternyata tuan muda Daniel menjadi pengajar di sekolah tersebut" jawab Souji. Namun pada saat Souji ingin melanjutkannya, tiba-tiba Alvin menghentikannya karena ia tau siapa yang membuat putranya Souji sampai terluka seperti itu.


"Bisa anda jelaskan tuan muda?" tanya Alvin menatap Daniel dengan tatapan sinis nya.


"Haha, oke-oke, santai dong, jangan menatapku seperti itu" jawab Daniel terkekeh sambil mengangkat kedua tangan sedikit.


"Coba jelaskan!" ucap Alvin sedikit menekan.


"Tu..tunggu dulu tuan Alvin. Ini bukan kesalahan tuan muda, ini semua murni kesalahan putra saya dan karena kebodohannya juga" sela Souji membela Daniel.


"Bagaimana kamu tau percakapan kami?, sedangkan kami menggunakan bahasa Indonesia?" tanya Alvin sedikit bingung.


"A..aku bisa melihat dari raut wajah anda kalau anda sedang menyudutkan tuan muda" jawab Souji menjelaskan.


"Sebaiknya kau langsung obati saja putranya dia, jangan malah mengintimidasi ku" ucap Daniel menegur.


"Bilang aja kau mencari aman" jawab Alvin sambil menoyor jidat Daniel dan Daniel hanya tertawa lalu Alvin langsung masuk ke ruangan ICU tersebut untuk segera mengoperasi pasiennya.


Di sisi lain terlihat Ayu dan Chelsea sangat bahagia bermain dengan Damin karena sudah lama mereka tidak bertemu. Ayu tak ingin melepaskan pelukannya dari Damin dan terus memberi kecupan kasih sayang pada bayi yang sudah ia anggap sebagai putranya sendiri.


"Damin sayang, Mama sangat merindukanmu" ucap Ayu sambil terus menciumi wajah Damin dan membuat Damin terkekeh geli.


Chelsea hanya tersenyum melihat tawa dari Damin yang begitu imut menurutnya. Ia menjadi tak sabar ingin segera menjadi istri dari Alvin dan ingin segera memiliki momongan juga.


"Kamu kenapa Chelsea?, kok melamun?. Jangan melamun yang aneh-aneh loh" tanya Leny menggoda.


"Tentu saja kamu juga harus bahagia. Kan kamu juga bagian dari keluarga kami" ucap Leny tersenyum sambil memegang pundak Chelsea.


"hehehe, terima kasih karena kalian mau menerima aku dan Alvin sebagai anggota keluarga kalian juga" jawab Chelsea tersenyum bahagia.


"Tentu saja dong Kak" sambung Wulan memeluk leher Chelsea secara tiba-tiba dari belakangnya dan membuat Chelsea sedikit terkejut.


"Ih kamu ini, mengejutkanku saja" ucap Chelsea sambil mengelus pergelangan tangan Wulan yang terus memeluknya.


"Oh iya Kakak ipar?. Kenapa tiba-tiba kalian meminta kami ke Jepang dan kenapa pula harus ke tempat ini?" tanya Ayu penasaran.


"Ini semua karena perbuatan dari Ayahnya Damin, dia telah melukai salah satu siswa yang membuat onar di sekolah tempat ia mengajar beberapa hari yang lalu" jawab Leny.


"Meskipun itu tidak secara sengaja" timpalnya menjelaskan.


"Tumben suamimu mau bertanggung jawab?" tanya Chelsea.


"Karena siswa yang terluka itu adalah putra dari salah satu bawahan suamiku yang sangat setia padanya. Jadi kami harus bertanggung jawab" jawab Leny.


"Semua dokter yang bertugas di tempat ini sudah menyatakan bahwa mereka tidak sanggup dan tidak berani melakukan operasi pada kepala putra dari bawahannya suamiku karena bagian sarafnya hampir rusak dan yang bisa melakukan pengobatan itu hanya Alvin saja. Sebab itu kami meminta kalian semua datang kemari untuk menangani pasien" timpal Leny menjelaskan dengan detail.


"Lihatlah suamimu itu Kak Ayu. Dia menjadi pusat perhatian dan para bawahan Daniel memberi hormat padanya" ucap Chelsea terkekeh melihat ke arah Dion yang mengekspresikan kebingungan.


"Aku juga sangat bingung, kenapa mereka semua sangat menghormati kita?. Bahkan sejak kita keluar dari pintu pesawat" ucap Ayu bertanya-tanya.


"Itu semua karena Daniel yang begitu di hormati di negara ini. Makanya kita semua di perlakukan seperti ini" batin Chelsea yang mengetahui identitas dari pemimpin Dark Shadow itu.


"Tidak apa-apa Adik ipar, lama kelamaan kalian bakal terbiasa kok" ucap Leny tersenyum.


"Jadi seperti ini rasanya menjadi sosok yang begitu di hormati ya?" tanya Ayu dan Leny hanya tersenyum.


Satu jam kemudian Alvin keluar dari ruangan ICU bersama beberapa dokter dan juga suster yang ikut membantu serta menyaksikan keterampilan dari si tangan ajaib itu dengan mata kepala mereka sendiri.


Hanya rasa kagum yang bisa mereka ungkapkan saat melihat Alvin yang sedang melakukan operasi pada pasien itu.


"Bagaimana tuan keadaan putra saya?" tanya Souji dengan tatapan mata yang penuh rasa berharap.


"Kamu tenang saja. Putramu sudah aman dan sudah melewati masa kritis juga" jawab Alvin tersenyum sambil menepuk pundak Souji.


"Benarkah tuan?" tanya Souji menatap Daniel yang tersenyum sambil mengangguk.


"Jika Alvin berkata seperti itu, berarti memang putramu sudah baik-baik saja" jawab Daniel tersenyum.


Souji menangis bahagia dan secara reflek tubuhnya langsung bersujud di kaki Daniel untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya yang begitu besar karena sudah membuat putranya selamat.


"Apa yang kau lakukan bodoh?!" tanya Daniel sambil mengangkat tubuh Souji yang terus bersujud di kakinya.


"Jangan bersujud padaku, bersujud lah pada Tuhanmu. Sampaikan rasa bahagia mu padanya" timpal Daniel tersenyum dan terus memegangi kedua bahunya milik Souji.


"Terima kasih banyak tuan Alvin. Anda begitu berjasa dalam hirup saya. Bahkan nyawa ini saja tidak mampu membayarnya" ucap Souji dan langsung memeluk tubuh Alvin.


"Sudahlah, jangan terlalu berlebihan seperti itu. Ini semua karena pertolongan dari Tuhan, mungkin melalui perantara hambanya" ucap Alvin menepuk-nepuk punggung Souji yang menangis tersedu-sedu dalam pelukan Alvin.


"Berhenti menangis!. Malu sama tato yang menghiasi tubuhmu ini!" tegur Daniel terkekeh dan mereka semua tertawa mendengarnya agar Souji ikut tertawa.


"Hehehe, iya tuan muda. Aku terlalu bahagia sampai mengeluarkan ingus begini" jawab Souji dan mereka tertawa lagi.