
Hanabi masih saja terus menundukkan kepalanya, ia tak ingin memperlihatkan wajah kesedihannya karena merasa malu untuknya menangis seorang pria di depan istrinya.
Leny terus mencoba menenangkan dan meyakinkan Hanabi kalau dia itu bisa. Hanabi juga sosok wanita yang cantik menurut Leny, bahkan dia lebih cantik dari istri pemimpin Dark Shadow itu dalam pandangan matanya Leny.
"Kamu itu cantik Hanabi, bahkan lebih cantik dari aku. Pasti kamu bakal menemukan lelaki lebih baik dari suamiku ini" ucap Leny sambil mengelus punggung Hanabi.
"Apa yang di katakan oleh Kakak kamu itu benar sayang, aku tak ingin kamu terus berlarut dalam kesedihan" sambung Joe menggunakan bahasa Jepang. Sedangkan Hanabi masih saja terus diam sembari merenungi kata-kata dari Leny dan Kakaknya.
"Kak Leny.." lirih Hanabi sendu. ( menggunakan bahasa Inggris )
"Iya sayang" jawab Leny tersenyum.
"Ma...maaf hiks...hiks... maafkan aku" ucap Hanabi senggugukan.
"Untuk apa kamu meminta maaf?, kamu tidak ada salah apa-apa kok" Leny tersenyum sambil mengangkat kepala Hanabi yang sedari tadi menunduk saja, lalu ia menyeka air mata Hanabi yang sudah membanjir pipinya.
"Sudah sayang, tidak perlu menangis lagi. Anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran hidup kamu. Mungkin jodoh kamu bukan Daniel, atau mungkin jodoh kamu lebih baik dan lebih tampan dari suamiku" timpal Leny tersenyum menghibur Hanabi.
"Iya Kak, aku akan belajar untuk mengikhlaskan semua takdir ini" jawab Hanabi tersenyum paksa.
"Memang melewati ujian dari Tuhan itu yang paling berat adalah sabar dan juga ikhlas. Karena manusia memiliki akal dan juga nafsu yang lebih besar dari semua mahkluk yang di ciptakan-Nya" ucap Leny tersenyum dan Hanabi juga ikut tersenyum.
"Wah istriku bijak banget. Ilmunya hampir mengimbangi Nurul" sambung Daniel tersenyum.
"Iiihhh Ayah!, ilmu Nurul jauh di atas Bunda. Dia itu sudah menyandang sebagai Ustadzah, sedangkan Bunda belum pernah Khatam Al - Qur'an" jawab Leny mengaku dan tersipu malu.
"Apa yang sedang kalian berdua bahas?" sela Hanabi memotong karena Daniel dan Leny berbicara menggunakan bahasa Indonesia.
"Tidak ada sayang" jawab Leny tersenyum ( menggunakan bahasa Inggris ).
"Kak?, a..apa aku boleh memelukmu?" pinta Hanabi ragu-ragu. Leny hanya tersenyum dan langsung memeluk Hanabi tanpa menjawab apa-apa.
Hanabi sedikit terkejut lalu ia langsung membalas pelukan dari Leny. Pelukan yang sangat menghangatkan dan begitu membuat nyaman. Daniel dan Joe tersenyum senang melihat kedua wanita cantik itu saling aku.
Leny melepaskan pelukannya lalu mengelus kepala Hanabi di sertakan dengan senyuman manisnya.
"Kamu itu cantik, dan aku yakin pasti kamu akan menemukan sosok lelaki yang lebih baik dari suamiku" ucap Leny tersenyum sambil mengelus kepala Hanabi.
"Jangan seperti Kakak kamu itu. Dia ganteng-ganteng tapi masih saja jomblo. Dia terlalu banyak memilih atau tidak normal ya?" timpal Leny berbisik dan Hanabi hanya terkekeh mendengarnya.
"Hey-hey nona muda, aku mendengarnya loh" sela Joe protes. Membuat Hanabi dan Leny tertawa lepas seakan mengejek Joe.
"Benar juga ya. Kalo Kak Joe belum menikah, bagaimana aku bisa menikah lebih dulu nanti?" tanya Hanabi mengejek.
"Tuh dengerin Adik kamu berbicara, emangnya kamu mau di langkahin oleh Adikmu sendiri ha?" sambung Leny ikut mengejek. Sedangkan Joe hanya cemberut kesal.
"Bukanya aku tak ingin menikah, aku ingin sekali. Tapi sulit mencari yang pas" jawab Joe mengeluh.
"Tuh bener kan Hanabi. Kakak kamu terlalu banyak memilih" sela Leny memotong, dan Hanabi hanya tertawa kecil.
"Wanita yang seperti apa lagi yang ingin kamu mau Joe?, yang sempurna?. Di dunia ini tak ada yang namanya manusia sempurna, kitalah yang membentuk pasangan kita menjadi sempurna" timpal Leny menasehati.
Tiba-tiba Daniel memukul kepala Joe dan membuat Joe terkejut karena perbuatan Daniel barusan.
"Muncungmu kalau berbicara gak pernah di filter dulu ya" ucap Daniel geram.
"Berarti selama ini kau memiliki perasaan pada istriku?" timpalnya geram.
"Eh, tenang dulu dong kapten, bukan itu maksudku" jawab Joe sedikit panik.
"Jika kelak aku menikah, aku ingin wanita itu memiliki sifat yang sama seperti istrimu. Baik, sangat menyayangi keluarga, memiliki banyak teman, orang-orang senang jika berada di dekatnya, dan yang paling penting itu cantik" timpalnya menjelaskan sambil tersenyum.
"Hmmm... Sepertinya wanita seperti itu tidak mungkin ada lagi deh selain aku" sela Leny memotong.
"Karena wanita seperti ku ini the one and only, hanya satu di dunia ini. Tidak ada yang memilikinya lagi, selain suamiku ini" timpal Leny mengejek sambil memeluk lengan Daniel.
"tuh dengerin" sambung Daniel menambahkan.
"Eleh, pantang di puji" jawab Joe memutar bola matanya jengah.
"Semua itu tergantung pada dirimu Joe, kamu kepala keluarganya. Bagaimana kamu mendidik dan mengarahkan dia, ya seperti itulah istrimu kelak" ucap Leny serius.
"Ya sukur-sukur istrimu nanti istri yang penurut dan yang paling penting seiman" timpalnya dengan wajah serius.
"Coba tanya pada Adikmu, pasti banyak tu teman-teman kuliah dia yang cantik-cantik. mana tau ada yang pas di hatimu" sambung Daniel menyarankan.
"Sebenarnya tidak perlu jauh-jauh sih suamiku. Di sini juga ada sosok wanita yang seperti itu. Sahabatnya Ayah saja yang kurang peka" sela Leny memotong.
"Siapa yang anda maksud?" tanya Joe penasaran.
"Mungkin jika Adik kamu melihatnya, pasti dia sudah tau siapa wanita tersebut" jawab Leny tersenyum sambil menatap Hanabi. Sedangkan Hanabi hanya memasang ekspresi wajah penuh tanda tanya.
"Kok aku?" tanya Hanabi bingung.
"Kamu itu seorang wanita, dan kamu pasti tau wanita mana yang cocok untuk Kakak kamu yang jomblo karatan itu" jawab Leny menjelaskan.
"Ya menurut Kak Leny, siapa wanita yang cocok untuk Kakakku?" tanya Hanabi meminta saran.
"Sebenarnya ada sih" jawab Leny tersenyum penuh arti dengan jari telunjuknya di letakkan di atas dagu.
"Wanita yang baik, lemah lembut, penyayang, cantik, dan mungkin aku kalah cantik darinya" timpalnya tersenyum.
"Wah siapa Kak?, aku jadi penasaran?" tanya Hanabi penuh semangat.
"Hey kapten, lihat kedua wanita itu. Aku seperti sebuah barang lelang saja" keluh Joe mengadu.
"Kalau untuk urusan ini aku angkat tangan. Aku tak berani ikut campur, kau tau sendiri kan bagaimana istriku itu" jawab Daniel tak ingin ikut campur.
"Tolong bantu aku kapten" pinta Joe memohon, sedangkan Daniel hanya tertawa saja.
Sebenarnya ada perasaan senang dalam diri Joe melihat Leny dan juga Adiknya menjadi akrab seperti sahabat lama yang sudah bertahun-tahun kenal. Benar menurutnya kalau Leny itu adalah sosok wanita hebat dan banyak orang-orang yang senang jika berteman dengannya. Daniel juga adalah sosok pria hebat yang bisa mendidik keluarga menjadi seperti itu.