
Ronny mencoba menjelaskan pada Silvia kalau Daniel akan baik-baik saja, dan alhasil Silvia pun perlahan mulai tenang.
"Huh!. Kalau Ronny yang menjelaskan baru kamu bisa tenang" goda Leny
Silvia menyenggol lengan Leny dengan pelan dan berkata "Ih apaan sih kamu"
"Tuh kan pipinya merah" goda Leny lagi tertawa
"Ihhh.. Leny!" tegur Silvia manja dengan wajah yang memerah
"Hahaha. Kalau begini kan kamu jadi lebih manis" ucap Leny mencubit pipi Silvia seakan tak pernah ada pertikaian di antara mereka berdua
Silvia menunduk dan berkata dengan lirih "Maafkan semua perlakuanku ya, sekarang aku sadar kalau Daniel memang bukan jodohku"
Leny tersenyum dan merangkul Silvia lalu ia menjawab "Tidak apa-apa, mulai sekarang kita berteman, dan jangan kejar Suamiku lagi, oke?!"
Silvia mengangkat kepalanya dan menanggung sambil tersenyum sambil berkata "Oke!. Aku berjanji akan belajar melupakan Daniel, terimakasih"
Kemudian kedua wanita cantik itu saling berpelukan dan melupakan masalah mereka. Hal itu membuat Daniel tersenyum bahagia melihat Istri dan temannya sudah berbaikkan.
Daniel menatap ke delapan pria yang mengelilinginya, dengan senyuman sinisnya kemudian dia berkata "Baiklah, karena suasana hatiku sedang bagus. Aku akan melayani kalian dengan selembut mungkin, kuharap kalian tidak lemah"
Kedelapan pria itu semakin emosi karena merasa jika mereka terlalu di remehkan oleh sosok pria yang mereka kelilingi itu.
"Sudah mau mati aja belagunya minta ampun" ucap salah satu dari mereka seakan meremehkan Daniel
"Istriku!. Apa yang ingin kamu perbuat pada sampah-sampah ini?" tanya Daniel meminta saran
Leny meletakkan satu jarinya di atas dagu seraya berfikir "Hmmm.. Terserah kamu Suamiku, yang penting harus ada satu atau dua tulang mereka yang kamu patahan" Leny tersenyum manis.
Daniel mengangguk dan menjawab "Sesuai keinginan kamu tuan putri"
Silvia menggandeng lengan Leny dan berkata "Kamu gila ya?!. Kamu sedang mengandung!, jangan minta hal yang aneh-aneh deh"
Leny tersenyum dan menarik hidung milik Silvia seraya berkata dengan gemas "Itu salah mereka!, siapa suruh membuat keributan di sini"
Wulan mendekati Leny dan Silvia lalu merangkul mereka sambil berkata "Wah gini dong!. Aku senang kalian jadi akur begini"
"Silvia aku juga minta maaf karena pernah berbuat kasar padamu" timpalnya
Silvia menggelengkan kepalanya dan menjawab "Tidak-tidak, justru aku yang harus meminta maaf. Maaf ya Wulan"
"Yaudah, sekarang ini kan kita sudah berteman" ucap Wulan tersenyum
"Tapi kamu jangan coba-coba untuk dekati Kevin ya?" ancam Wulan berbisik
Silvia tersenyum dan menjawab "Kamu suka sama Kevin?"
"Suuttt!!!. Jangan keras-keras, nanti dia jadi ge-er" ucap Wulan menutup mulut Silvia dengan satu jarinya
Kevin mendekati ketiga wanita cantik itu dan bertanya "Ada apa ini?!, kok bisik-bisik"
"Bukan urusan kamu capung!" ucap Wulan menunjuk kening Kevin
Di sisi lain, Daniel masih belum bergerak untuk menghabisi satu persatu orang yang menantangnya. Dia hanya menunggu mereka untuk melakukan pergerakan, dan benar saja, salah satu dari pria yang mengelilingi Daniel tiba-tiba bergerak dan langsung melancarkan pukulannya, namun Daniel dapat menghindarinya dengan sangat mudah.
"Kak jangan lama-lama ya, paling tidak habiskan mereka dalam 15 menit. Jika kau tak sanggup, biar aku saja yang melakukannya" tegur Dion sambil melihat arloji di pergelangan tangannya
Daniel tersenyum sinis dan berkata "15 menit?, itu terlalu lama Adikku. Membereskan mereka hanya butuh waktu paling lama 5 menit doang"
"Namun aku masih ingin bermain-main terlebih dahulu" timpalnya
"Kau tenang saja Dion!, calon keponakan kamu itu tidak akan menyusahkan ibunya" ucap Daniel meyakinkan sang Adik
"Kau jangan meremehkan kami!" tegur salah satu penantang
"Hahaha. Aku tidak meremehkan kalian!, tapi kalian memang bukan tandinganku!" jawab Daniel santai
Salah satu dari mereka mulai menyerang Daniel lagi, dia berharap serangan kali ini bisa mengenai pria yang menurut mereka itu terlalu sombong dan angkuh
"Rasakan ini!!!" ucap pria itu mengarahkan tinjunya pada wajah Daniel
Daniel menguap dan menepis tinjuan yang mengarah padanya, sehingga membuat pria malang itu tersungkur ke tanah. Orang-orang yang melihat kejadian itu malah semakin menyemangati Daniel serta memaki-maki kedelapan pria pengganggu itu.
Daniel menatap pria yang masih tersungkur di tanah itu. Dengan senyuman psikopatnya, Daniel langsung menendang wajah pria yang terbaring di atas tanah itu dengan sedikit tenaga miliknya, namun tendangan itu mampu mematahkan hidung pria malang itu.
"ARHKKKKK!!!! SIALAN KAU!" teriak pria malang itu sambil memegangi hidungnya yang sudah mengeluarkan banyak darah
"BERANI SEKALI KAU MELAKUKAN ITU PADA TEMANKU?!" teriak rekan pria itu merasa tak terima
"Lalu kalian mau apa hah?!" ancam Daniel menendang dada pria itu lagi sehingga membuat 3 tulang rusuknya patah
"ARHKKKKK!!!" teriak pria itu kesakitan
Daniel menoleh menatap sang Istri yang tengah asyik menikmati pertunjukan yang di sajikan oleh Suami tercintanya kemudian Daniel bertanya "Bagaimana Istriku?, apa kamu merasa senang?!"
Leny menyilangkan kedua tangannya dan mengangguk-angguk sambil berkata "Bolehlah, tapi masih kurang Suamiku. Setidaknya buat seperti si tua bangka itu"
Daniel menghela nafasnya dan berkata "Itu tidak mungkin bisa Istriku"
wajah Leny berubah menjadi cemberut dan bertanya dengan nada yang seakan sedang kecewa "Kenapa?"
"Aku tidak membawa Ryu Ken!. Jadi aku tidak bisa mencincang mereka" jawab Daniel
"Hmm, yaudah deh. Buat mereka cacat saja" ucap Leny seakan tak memiliki beban
"Cincang?!, cacat?!. Ini pasangan apa sih?!, sadis banget!" gumam Silvia bergidik ngerih
Mendengar kata cincang dan cacat. Membuat pria yang terluka itu semakin ketakutan, karena ia sudah tak bisa bergerak apalagi untuk berdiri.
Sedangkan teman si pria malang itu berubah menjadi ketakutan dan ingin melarikan diri dari monster yang berwujud manusia. Namun mereka juga tak mungkin tega meninggalkan teman mereka yang sudah tak berdaya itu.
"Sial!, kami salah memilih musuh!" batin salah satu dari mereka
Daniel memandangi wajah mereka satu persatu, kemudian Daniel tersenyum seakan meremehkan mereka semua dan ia berkata "Kenapa kalian jadi diam saja?. Tadi berlagak seperti singa!, kenapa sekarang berbuah seperti kucing yang terkena air?!"
"Kalian tidak akan bisa lolos dariku!. Setidaknya organ tubuh kalian harus ada yang rusak terlebih dahulu" ancam Leny menyilangkan kedua tangannya
"Kenapa diam saja hah?!, tadi kalian sudah membentak Kakakku!. Kenapa sekarang berbuah menjadi ayam sakit?!" tegur Wulan
Silvia hanya diam saja, dalam hatinya merasa sangat bingung dengan orang-orang yang berada di keluarga Daniel. Dia juga baru tau kalau pria yang selama ini ia cintai ternyata ia adalah seorang pria yang sangat kejam.
Silvia memberanikan diri untuk mendekati Leny dan ingin menenangkan teman barunya itu agar permintaan anehnya bisa ia lupakan.
"Leny udah dong!. Lepaskan saja mereka, jangan buat masalah" ucap Silvia merangkul lengan Leny.
"Iya mereka akan aku lepaskan, tapi mereka harus cacat dulu!" jawab Leny tersenyum manis
"Ingat!. Kamu sedang mengandung loh, gak baik melakukan hal-hal seperti itu" tegur Silvia mengingatkan
Leny tersenyum dan mengelus perutnya kemudian ia berkata "Sayangnya ini permintaan anakku"..