Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MENYUSUL


Alvin dan Chelsea langsung kembali ke rumah sakit untuk menyampaikan perintah dari Daniel agar mereka berempat menyusul Daniel yang sudah berada di Jepang terlebih dahulu. Alvin semakin penasaran dengan apa yang di perintahkan oleh Daniel karena Daniel tidak menjelaskan kenapa ia menyuruh mereka berempat kembali kesana.


"Dulu aku di suruh ke sini, sekarang aku di suruh kembali ke sana. Entah apa maunya" ucap Alvin menggerutu sambil menggandeng tangan Chelsea menuju ke ruangan Ayu.


"Sayang, kamu tidak boleh mengomel seperti itu. Mungkin memang ada hal yang sangat penting dari Daniel" tegur Chelsea menasehati.


"Iya tapi kenapa dia tidak langsung memberi tau saja sayang?" keluh Alvin bertanya.


"Ya bisa saja kalau masalah ini tidak bisa di jelaskan lewat telepon. Harus secara langsung" jawab Chelsea.


Sesampainya mereka berdua di depan ruangan milik Ayu, Alvin langsung mengetuk pintu ruangan tersebut dimana ada pasangan suami istri yang sangat romantis di dalam tempat tersebut.


"Masuk" jawab Ayu.


"Ada apa?, kenapa kau terlihat buru-buru seperti itu?" tanya Dion penasaran.


"Aku mendapat kabar, tidak. Lebih tepatnya sih sebuah perintah" jawab Alvin.


"Pemerintah?, siapa yang berani memberi perintah pada seorang dokter terkenal seperti kamu?" tanya Ayu menyambung.


"Satu-satunya orang yang bisa membuat Alvin seperti ini adalah Kakak ipar kamu" jawab Chelsea terkekeh.


"Mau apa Kak Daniel itu?" tanya Dion penasaran.


"Dia meminta kita pergi ke menyusul mereka" jawab Alvin, dan membuat Dion tersedak air yang sedang ia minum.


"Uhuk-uhuk" Dion terbatuk-batuk dan Ayu membantu suaminya dengan menepuk-nepuk pundaknya.


"Kenapa tiba-tiba dia ingin kita menyusul kesana?" tanya Ayu sambil masih menepuk pundak sang suami.


"Aku juga tidak tau, dia hanya memerintahkan kita ke sana tanpa memberikan alasan yang kuat" jawab Alvin mengangkat kedua bahunya.


"Dia memang seperti itu" ucap Dion menggelengkan kepalanya, lalu ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Kamu mau menelpon siapa sayang?" tanya Ayu.


"Siapa lagi kalau bukan orang yang memberi perintah ini" jawab Dion sambil menunggu sang Kakak mengangkat telepon darinya. Tak butuh waktu lama, Daniel langsung mengangkat panggilan dari kembaran tersebut.


"Halo Adikku sayang, tumben ni nelepon Kakaknya, ada apa?" tanya Daniel terkekeh.


"Gak usah sok manis. Apa mau mu sampai kau menyuruh kami ke Jepang juga?" jawab Dion sedikit kesal.


"Santai dong Adikku, jangan galak-galak gitu sama Kakaknya sendri" ucap Daniel terkekeh.


"Ayolah Kak serius sedikit" ucap Dion mengeluh.


"Hahaha. Kita sudah lama tidak bertemu, apa kau tidak merindukanku?" tanya Daniel sekadar melepas rindu pada sang adik.


"Jadi Kakak meminta kami kesana cuma karena kau rindu pada kami?" tanya Dion sedikit kesal.


"Hahaha itu hanya salah satunya saja. Ada hal yang lebih dari itu" jawab Daniel dan membuat Dion semakin jengkel dengan jawaban dari sang Kakak.


Tiba-tiba Leny mengambil ponsel Daniel dan langsung berbicara pada Dion seakan-akan mengancam mereka kalau mereka tidak mau datang menyusul.


"Halo, hey Adik durhaka!. Udah sebaiknya kalian cepat-cepat kemari, atau kalian tidak ku beri izin untuk bertemu dengan Damin lagi!" ucap Leny mengancam.


"Eh, eh. Jangan seperti itu dong Kakak ipar" jawab Dion dengan raut wajah yang langsung berubah seketika setelah menerima ancaman dari Leny.


"Baik-baik, besok kami akan kesana" timpalnya menurut.


"Kak, kami ini keluar negeri loh, bukan keluar kota" ucap Dion menjelaskan.


"Apa yang kalian khawatirkan?, masalah tiket?" tanya Leny menerka.


"Itu Kakak tau. Kan kami harus membeli tiket untuk terbang kesana. Bukan terbang dengan karpetnya Aladin" jawab Dion menjelaskan.


"Bodoh banget sih kamu jadi Adik ipar!" ucap Leny sedikit kesal sedangkan Dion hanya terkekeh saja mendengar amukan dari Leny.


"Gunakan pesawat pribadi saja, jangan di bawa pusing. Ingat!, kau mempunyai seorang Kakak yang sudah tidak perlu di ragukan lagi" timpal Leny.


"Iya Kak, iya. Kami akan segera kesana sesuai perintah Kakak" jawab Dion menuruti perintah dari Leny.


"Nah, gitu dong. Yaudah kami tunggu kalian secepatnya" ucap Leny dan langsung menutup ponselnya.


"Udah beres Ayah" timpal Leny tersenyum sambil menyerahkan ponsel milik Daniel dan sedangkan Daniel hanya tersenyum sambil menggeleng saja.


"Gimana rasanya di omelin oleh Kakak ipar sayang?" tanya Ayu mengejek.


"Udah deh sayang, sebaiknya kita menurut saja. Daripada singa betina mengamuk lagi" jawab Dion yang sudah tak mau kalau dirinya di omelin oleh Leny lagi.


"Sebenarnya sih aku juga merindukan Damin, lebih cepat lebih baik sih" ucap Ayu tersenyum.


"Yaudah lebih baik kita bersiap-siap saja. Sebelum di amuk oleh singa betina lagi" ucap Dion.


"Yaudah aku dan Chelsea harus pulang untuk mengemas barang-barang kami" ucap Alvin pamit.


"Nanti kalian langsung ke lapangan pesawat pribadi milik Damin saja ya" jawab Dion dan di anggukan oleh mereka berdua.


Kemudian mereka semua langsung kembali ke rumah masing-masing mengemasi barang-barang untuk mereka bawa ke negara sakura tersebut menyusul keberadaan Daniel dan yang lainnya.


"Aku Yakin pasti ini ada sangkut pautnya denganku" ucap Alvin menebak.


"Kenapa kamu begitu yakin sayang?" tanya Chelsea.


"Aku sudah tanda dari nada bicaranya tuan muda. Jika dia berkata dengan nada bicara seperti itu, maka aku sangat di butuhkan nya" jawab Alvin sambil fokus pada setir mobilnya.


"Persahabatan kalian memang sangat kuat ya sayang. Meskipun jarang bertemu, tali persahabatan kalian tidak perlu di ragukan lagi" ucap Chelsea tersenyum sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Alvin.


Sore harinya mereka berempat sudah berkumpul di sebuah lapangan tempat dimana dimana jet pribadi milik Daniel terparkir. Mereka berempat langsung mendapatkan sambutan penuh kehormatan dari orang-orang yang bertugas menjaga keamanan di tempat tersebut.


"Selamat sore tuan dan nona, lama tidak bertemu" sapa salah satu penjaga itu memberi hormat.


"Selamat sore pak. Bagaimana keadaan kalian?" tanya Dion.


"Kami semua baik-baik saja tuan muda. Kami sudah siap mengawal penerbangan kalian" jawab para pengawal pribadi mereka.


"Terima kasih kalian semua sudah begitu setia pada keluarga kami" ucap Dion tersenyum.


"Seharusnya kami semua yang berterima kasih pada keluarga tuan muda. Karena kebaikan hati dari tuan Daniel, kami semua bisa menghidupi keluarga kami masingmasing. Beliau sosok pemimpin yang sangat mengagumkan bagi kami" jawab salah satu dari mereka.


"Haha udah deh, kalian jangan terlalu memuji dia. Nanti telinganya panas" tawa Dion.


"Mau sampai kapan kita mengobrol?, kita harus buru-buru kesana, perjalan kita jauh" tegur Ayu menyela.


"Maaf-maaf nona" ucap salah satu dari pengawal tersebut.


"Yaudah sebaiknya kita segera menyusul kesana, sebelum nyonya muda mengeluarkan tanduknya" ajak Chelsea dan membuat mereka semua tertawa.