Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
DION BERAKSI


Dion menuruti perintah sang kakak, dia langsung bergegas menuju tempat parkir untuk mengambil mobil mereka, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki yang mencurigakan sedang mengawasi kakaknya. Dion bersembunyi di balik pohon tak jauh dari pria yang menurutnya sangat mencurigakan itu.


Saat pria misterius itu mengeluarkan ponselnya, Dion segera menggunakan indera pendengaran untuk mendengarkan apa yang si pria itu rencanakan.


"Halo bos. Kita gagal, salah satu anak buah gugur" ucap si pria misterius tersebut


"Apa?!, jadi peristiwa ini memang sudah di rencanakan?!" gumam Dion geram


"Dasar bodoh!, untuk membunuh seekor kecoak saja kalian bisa gagal?!" sang bos marah


"Ta..tapi, salah satu dari mereka sepertinya bukan orang biasa bos" jawab pria itu gugup


Dion mulai emosi, dia langsung buru-buru melangkah mendekati lelaki misterius tersebut, dan langsung mencengkram erat lengan pria itu.


"Siapa kau?!, apa yang kau rencanakan?!" ucap Dion penuh emosi


"Ahrrkkkk!," pria itu menjerit


"Jawab!" Dion semakin mencengkram genggamannya


"Bu..bukan urusanmu" teriak pria itu menahan sakit


Dion semakin geram, dia memelintir cengkramannya, sehingga terdengar suara seperti tulang yang patah.


"Arhkkkkk!!!!" teriak pria itu, namun Dion tetap tidak peduli


Pria itu mencoba melawan, dia mencoba menendang Dion, namun sayangnya tendangannya gagal, dengan mudahnya Dion menghindar.


"Percuma saja kau melawan, nyawamu ada di tanganku" ucap Dion datar


"Jawab!" teriak Dion sekali lagi


"Kau tidak akan mendapatkan jawabannya, walaupun kau membunuhku" tantang pria itu sambil menahan sakit


"Kau memang membuat kesabaranku habis!" ucap Dion geram


"Hahaha. Jika kau sanggup, coba kau bunuh aku" ucap pria itu semakin menantang walaupun tangan sebelahnya sudah tidak bisa digunakan lagi.


"Ha?, ha ha ha ha ha" tawa Dion seperti orang kerasukan


"Jangan berlagak jago, lihat tanganmu sudah tidak bisa di gunakan kembali" ejek Dion dengan suara datar dan tatapan menghina


Saat tangan si pria ingin mengambil pistolnya, dengan sigap Dion menendang wajah pria tersebut sehingga membuatnya tersungkur.


Dengan sangat santai Dion melangkahkan kakinya menuju pria yang sudah tak berdaya itu. Saat tangan si pria ingin mengambil sesuatu dari balik pinggangnya, dengan cepat Dion menginjak pergelangan tangannya yang masih bisa bergerak itu, hingga membuat tulangnya patah juga.


"Sudah kubilang, jangan macam-macam" ucap Dion santai dan berjongkok di hadapan pria tersebut


"Jika kau ingin membunuh, maka bunuh saja!, jangan menyiksaku begini!" rengek pria itu menahan sakit pada kedua lengannya


"Sebelum aku tau siapa yang menyuruhmu, maka aku belum bisa membunuhmu. Lagi pula aku juga belum puas menyiksamu" jawab Dion acuh


Dion melihat ponsel milik si pria tadi yang tergeletak di atas tanah, dengan langkah malas Dion mendekati ponsel tersebut dan mulai berbicara pada penelepon yang tertulis nama bos besar pada layar tersebut.


"Halo bos?" ucap Dion santai


"Si.. siapa kau?!, dimana pemilik handphone ini?!" tanya pria di sebrang sana sedikit terkejut


"Huaaammm. Sepertinya dia sedang tertidur" jawab Dion sambil menguap


"Kau!, sebaiknya kau jangan macam-macam, atau...." ucap bos besar itu terjeda karena di potong oleh Dion


"ATAU APA?! HAH?!, INGIN MENGANCAMKU?! DASAR PENGECUT!" teriak Dion semakin emosi


"Berani sekali kau berkata seperti itu bocah tengil!"


"Sial?! bagaimana dia tau namaku?" gumam pria itu


"Kenapa anda diam saja orang tua?!" tanya Dion santai


"Kau jangan berlagak sok hebat bocah!, sebaiknya kau jangan macam-macam sebelum kau menyesal" ancam pria itu


"Hahahaha. Kau mengancamku pak tua?" tanya Dion mengejek


"HEY BOCAH!, JAGA SOPAN SANTUNMU!" teriak pria tersebut


"HOY TUA BANGKA!, PELANKAN SUARAMU!, TELINGAKU TIDAK TULI! teriak Dion tak mau kalah


"DAN KAU BICARA SOAL SOPAN SANTUN?!, SEBAIKNYA KAU BERCERMIN TERLEBIH DAHULU, JIKA KAU SEORANG LELAKI DAN BENAR-BENAR SEORANG BOS!, SEBAIKNYA KAU KELUAR DARI KANDANGMU!, JANGAN BERANINYA HANYA MENYERANG DARI BELAKANG!, DASAR TIDAK PUNYA SOPAN SANTUN!" tantang Dion


"Kau memang benar-benar sudah bosan..." ucapan pria itu lagi-lagi terputus karena Dion sudah mematikan panggilannya dan langsung membanting handphone milik pria yang sudah tak berdaya itu lalu menginjak-injaknya hingga hancur


Setelah selesai menghancurkan handphone tersebut, Dion menatap pria yang sudah hampir sekarat itu. Dengan senyuman sinis Daniel mendekati pria itu lagi dan berjongkok di samping pria itu.


"Hmm, sebaiknya ku apakan sampah satu ini" ucap Dion berfikir menatapi seluruh tubuh pria tak berdaya tersebut


"Sudahlah, sebagai kau bunuh saja aku!, aku tak mau di siksa begini" ucap pria itu memohon namun tak di hiraukan oleh Dion


"Sudah kubilang, kau tak berhak untuk menentukannya, terserahku mau ku apakan kau!" ucap Dion dingin


Sebelum pria itu berbicara lagi, Dion langsung memukul tengkuk lehernya dan membuatnya tak sadarkan diri.


Dengan santai Dion mengangkat tubuh pria yang sudah tak berdaya itu seperti mengangkat karung beras, dan Dion langsung menuju ke tempat sang kakak berada.


_____________________________


"SIAL!" teriak seorang pria memukul meja di depanya hingga membuatnya patah


"Berani sekali kau bocah!, lihat saja, kau akan ku buat menyesal dan menderita sehingga membuatmu memohon ampun di kakiku"


"HAHAHAHA HAHAHA"


_______________________________


Daniel melihat sang adik sedang membawa sesuatu. Karena penasaran, Daniel langsung menghampiri Dion dan menanyakannya


"Siapa yang kau bawa?, apa kau sudah tidak normal?" tanya Daniel mengejek


"Sembarangan. Sepertinya pria ini salah satu dari orang yang kakak lukai tadi" ucap Dion


"Lalu?, apakah dia sudah mati?" tanya Daniel memastikan orang yang di bawa Dion


"Belum, aku hanya membuatnya tak berdaya saja" jawab Dion santai


"Bagus, sebaiknya kita hubungi Fauzi dan Kak Rian, untuk membawa sampah ini ke markas. Kita bisa menggali informasi darinya" ucap Daniel tersenyum sinis


"Percuma Kak, aku sudah lelah mengintrogasinya, namun hasilnya nihil" jawab Dion sambil menggelengkan kepalanya


"Hahaha. Itu karena kau masih menggunakan cara yang lembut, lihat saja apa yang akan kulakukan nanti" jawab Daniel dengan senyuman psikopatnya


"Kau tunggu di sini, aku akan mengambil mobil" ucap Daniel melangkah namun di tahan oleh Dion


"Tunggu kak, bagaimana dengan mayat orang itu?" tanya Dion menunjuk orang yang tak bernyawa dan telah di kerumuni orang-orang


"Kau tenang saja, aku sudah menelepon inspektur Yuddy untuk melakukan otopsi pada sampah itu" jawab Daniel santai dan meninggalkan Dion


Di tengah perjalan menuju tempat parkir, tak lupa pula Daniel menghubungi Rian dan Fauzi untuk memberi tau tentang mainan baru mereka..