Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KUNJUNGAN YANG MENAKUTKAN


Setelah Daniel membagikan makanan-makanan yang ia terima dari siswi-siswi yang mengidolakannya ke pada guru-guru yang berada di ruangan itu, mereka semua langsung menikmati makanan yang lumayan banyak itu secara bersama-sama.


Haruka juga menikmati makanan pemberian dari Daniel dengan tatapan matanya yang tak lepas dari Daniel yang tengah asik bercanda dengan Joe.


"Kapten, kalau istri anda mengetahui ini, bisa-bisa anda bakal di goreng nanti" ucap Joe mengejek.


"Oleh karena itu aku hanya memakan makanan ini sedikit saja, supaya nanti ketika istriku datang membawakan bekal makan siang, aku bisa makan itu" jawab Daniel dengan makanan yang penuh di mulutnya.


Para guru yang melihat keakraban Joe dengan Daniel hanya tersenyum sambil menikmati makanan mereka yang baru saja di berikan oleh Daniel. Mereka merasa suasana di ruangan tersebut menjadi sedikit lebih berwarna karena adanya Daniel di antara mereka. Karena sebelum Daniel berada di sekolah tersebut, kepala sekolah mereka tak pernah seceria itu.


"Dengan adanya Daniel Sensei di sini, sekolah ini nampak seperti lebih hidup ya" ucap Miu pada rekan sebelahnya.


"Iya, Daniel Sensei membawa pengaruh positif pada Joe Sensei dan sekolahnya" jawab rekannya tersenyum.


"Apalagi dengan kehebatan yang ia lakukan semalam, dia langsung menjadi guru idola baru di sekolah kita" tambahnya.


Didalam kamar hotel, Wulan menemani sang kakak yang nampak terlihat gelisah karena sedari tadi Leny hanya terus mondar-mandir dengan raut wajah yang penuh rasa khawatir.


"Kakak kenapa sih?" tanya Wulan yang tengah memangku Damin di atas ranjang.


"Gak tau dek, pikiran kakak dari tadi gak tenang terus" jawab Leny sambil terus mondar-mandir.


Mata Leny juga tak bisa lepas dari jam di tangan dan juga yang tertempel di dinding kamar hotelnya, hati serta pikirannya tak bisa lepas dari sang suami sedari subuh tadi.


"Kevin udah bangun belum ya dek?" tanya Leny dengan raut wajah khawatir.


"Tadi aku lihat dia sedang sibuk di kamar kak" jawab Wulan.


"Apa kita susul aja ya kakakmu di sana?" tanya Leny.


"Untuk apa kak?, lagian ini masih pagi, kak Daniel juga pasti sedang mengajar di sana" ucap Wulan mencoba menenangkan kakaknya itu.


"Kakak gak bisa tenang kalau belum bisa melihat wajah Ayahnya Damin" jawab Leny gelisah.


"Kakak kenapa sih?, kok aneh banget deh" tanya Wulan yang menjadi khawatir.


"Entah kenapa, setelah kakak dan Ayahnya Damin selesai sholat subuh tadi, tiba-tiba pikiran kakak terus memikirkan kakakmu itu, kakak merasa akan terjadi sesuatu padanya" jawab Leny menjelaskan.


"Kak, kakak tau kan suami kakak itu siapa?. Hampir seluruh orang sangat mengenalnya, apa lagi ini tempat dimana dia menjadi seorang pemimpin yang sangat di takuti di negara ini. Dark Shadow punya nama yang besar di sini kak, semua itu berkat kerja keras dari kak Daniel yang sudah membuat Dark Shadow menjadi yang nomor satu di negara ini" ucap Wulan menjelaskan dan berharap Leny bisa lebih tenang.


"Selama kami menjadi adiknya kak Daniel, tak ada satupun yang bisa mengalahkannya kak. Dia satu-satunya orang yang bisa menghabisi seratus orang dengan luka sangat ringan" timpal Wulan.


"Kita harus kesana ya dek, kamu dan Kevin temani kakak" ucap Leny memerintah.


Kemudian Leny menarik tangan Wulan dan membawanya ke kamar Kevin untuk dia ajak ke sekolah dimana Daniel mengajar.


"Kak pelan-pelan dong" ucap Wulan protes karena Leny menariknya dengan sedikit paksaan.


"Mumpung ini masih pagi, pasti kakakmu sedang berada di ruangannya" ucap Leny buru-buru menuju kamar Kevin.


Setibanya Leny di depan pintu kamar Kevin, ia langsung mengetok pintu kamar itu dengan buru-buru dan membuat Kevin yang berada di dalam sedikit terkejut karena ia sedang mengerjakan tugas kantor yang di berikan oleh Riski sambil melakukan panggilan video lewat salah satu aplikasi untuk rapat.


"Kevin!, Kevin!. Buka pintunya dek" ucap Leny sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.


"Ada apa Kevin?, kenapa berisik sekali di kamarmu?" tanya Riski karena suara ketukan pintu kamar Kevin sampai terdengar olehnya.


"Siapa lagi kalau bukan istrinya sahabatmu itu" jawab Kevin terkekeh.


"Buruan dek!, buka! ini urgent" ucap Leny yang terus mengetuk pintu tanpa henti.


"Yaudah kita sudahi dulu meeting ini, sebaiknya kau temui dulu kakakmu itu" ucap Riski sambil tertawa.


"Haha oke-oke" jawab Kevin sambil menutup laptopnya kemudian ia bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu kamarnya.


"Ada apa kak?" tanya Kevin setelah ia membuka pintu kamarnya.


"Hah?, ngapain kak?. Ini masih jam setengah tujuh" tanya Kevin melihat arloji miliknya.


"Gak usah banyak tanya, cepat kamu siap-siap" ucap Leny.


"Udah capung jangan membuat tambah ribet lagi, turuti saja" sambung Wulan.


"Iya-iya" jawab Kevin masuk kedalam untuk mengambil kunci mobil miliknya.


Kini Daniel dan Joe sedang asyik bercanda karena Joe mengambil makanan yang ada di tangan Daniel, membuat Daniel ingin merebutnya kembali sampai terjadi candaan saling rebutan makanan.


Guru-guru yang berada di dalam ruangan itu hanya tertawa melihat tingkah Joe dan Daniel yang seperti anak kecil yang sedang berebut makanan.


"Kau kan sudah ada makanan sendiri kampret!" ucap Daniel yang berusaha mempertahankan bekal makan yang ia pegang.


"Ayolah kapten, masa kau kasih cuma buah-buahan doang" keluh Joe mencoba merebut makanan milik Daniel.


"Ya setau aku kan kampret emang makan buah, jadi cocok buatmu" jawab Daniel mengejek.


Di luar sekolah tiba-tiba ada beberapa mobil datang dan terparkir tepat di depan pintu gerbang sekolah itu. Satpam yang sedang menjaga di pos miliknya pun langsung bingung melihat banyaknya jumlah mobil yang berhenti di depan gerbang.


Kemudian segerombolan pria keluar dari dalam mobil dan mata dari satpam itu terfokus pada seorang pria dengan tubuh yang di hiasi dengan sebuah tato sambil membawa pedang di tangannya.


"Hah? Bukankah itu bos Yakuza?" gumam satpam.


lalu beberapa anak buah dari seorang Yakuza itu langsung menendang pintu gerbang sekolah milik Joe tanpa berkata apa-apa dan membuat gerbang itu langsung tumbang. Kemudian para pria yang menyeramkan itu langsung masuk kedalam sekolah.


"Sebentar, ada apa ini?, kenapa tuan-tuan sekalian tiba-tiba menghancurkan tempat ini?" tanya sang satpam sambil menghadang para pria itu yang ingin menerobos masuk ke sekolah.


Tanpa menjawab pertanyaan dari sang satpam, si bos itu hanya memberikan sebuah isyarat pada anak buahnya dan salah satu dari anak buah Yakuza itu langsung memukul satpam itu hingga membuatnya tersungkur di lantai.


"Udah, jangan di hajar lagi!. Aku tidak ada urusan dengan kacung itu" ucap si bos Yakuza menghentikan salah satu anak buahnya yang ingin mencoba menghajar satpam itu lagi.


Mereka semua langsung masuk kedalam meninggalkan sang penjaga sekolah yang masih terkapar di atas lantai karena pukulan dari anggota Yakuza itu yang sangat keras tepat mengenai wajahnya.


"Aku tidak boleh membiarkan orang-orang itu sampai masuk ke dalam sekolah, apalagi sampai membuat murid-murid di sini terluka" ucap sang penjaga sekolah berusaha bangkit.


"Aku di tugaskan oleh tuan Joe untuk menjaga sekolah ini, keamanan tempat ini sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya" timpalnya dan langsung berlari mencoba menghentikan para pria menyeramkan itu.


Satpam itu terus mengejar para Yakuza itu yang terus berjalan menuju ke ruangan guru karena mereka tau kalau orang yang telah melukai anak dari bos mereka berada di dalam ruangan itu.


"Ingat!. Kita hanya menghabisi orang yang telah membuat putraku masuk rumah sakit, jangan ada orang lain yang kalian lukai!" ucap si bos Yakuza itu memperingati.


"Aku hanya ingin membalas dendam pada guru itu" tambahnya.


Satpam itu berhasil menghadang para Yakuza itu yang sudah mendekati ruangan guru. Namun para anak buah Yakuza tersebut langsung menghajar satpam itu lagi. Meskipun satpam itu terus menerima pukulan telak, ia terus mencoba bangkit dan menahan para pria menyeramkan itu dengan sisa tenaganya.


"Ka..kalian jangan coba-coba berani membuat onar di sini" ucap satpam itu dengan suara yang mulai melemah dan wajah yang sudah babak belur.


Para siswa-siswi yang melihat kejadian tersebut hanya ketakutan karena tiba-tiba ada seorang Yakuza yang datang ke tempat mereka belajar, dan pandangan mereka tak lepas dari satpam sekolah mereka.


"Kenapa ada seorang Yakuza di sekolah kita?" tanya salah satu murid sekolah tersebut.


"Kasian banget pak satpam kita, dia sampai babak belur seperti itu" ucap Ahim yang berada di kelas milik Daniel.


"Apa tidak ada yang bisa menolongnya" sambung Gunpei.


Tanpa pikir panjang Hiroto langsung berlari menuju ke tempat dimana satpam mereka yang sedang berjuang mempertahankan keamanan tempat ia bekerja. Tiba-tiba ia langsung menerjang salah satu dari anggota Yakuza itu hingga membuat pria itu tersungkur.


"Mau apa kalian hah?!, kenapa kalian memukuli pak satpam kami sampai parah seperti ini?!" tanya Hiroto sambil menopang tubuh satpam tersebut.


"Hi.. Hiroto-kun, kenapa kamu kemari?. Disini be.. berbahaya" ucap sang satpam dengan nada lemah.


"Pak satpam tak perlu khawatir, saya akan membantu bapak untuk mengusir orang-orang tua ini" ucap Hiroto membantu satpam itu dan membawanya ke tempat yang sedikit lebih aman.