Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
MEMBURU KANCIL


"Kakak pikir aku ini beban?. Kakak tenang saja, kamu tinggal duduk sambil minum segelas kopi dan tunggu kabar baik dariku"


Yuddy menjawab


"Haha. Baik-baik, kakak akan menunggu kamu, kakak harap kali ini kamu berhasil dan kembali dengan keadaan selamat"


Novi langsung buru-buru mendatangi kediaman keluarga Daniel agar segera membicarakan rencana untuk memburu si kancil itu. Ketika sampai, dia langsung menemui Daniel yang sedang berlatih dengan Wulan.


"Tolong kita hentikan dulu Latihan para guruku"


Daniel menangkap pukulan Wulan dan menatap Novi


"Ada apa?, apa ada yang serius?"


Novi mengeluarkan sebuah peta, itu adalah tempat terakhir kali dia berburu si kancil. Kali ini Novi harus berfikir secara jernih agar bisa menangkap mangsanya. Karena dia bersama Daniel, jadi dia tidak merasa ragu lagi untuk terus melangkah.


Dengan bekal ilmu beladiri yang telah ia pelajari dari Wulan dan Daniel, maka dia bisa merasakan sedikit percaya diri kali ini. Novi bertanya kepada Daniel strategi apa yang harus mereka lakukan agar tidak banyak memakan korban lagi.


Daniel meletakkan tangannya di dagu dan berkata


"Ini sedikit rumit. Pertama, aku harus mengetahui identitas dari target kita. Kedua, akan sulit untuk menangkapnya jika kita membawa banyak orang, karena kita harus menyerang dan melindungi mereka yang sama sekali tidak memiliki ilmu beladiri. Sebaiknya kamu tidak usah membawa mereka, aku akan meminta bantuan pada rekanku saja yang telah berpengalaman dalam hal ini"


Novi mengerutkan keningnya dan bertanya


"Lalu berapa orang yang akan kita bawa kali ini?"


"5 orang saja sudah cukup" jawab Daniel


Novi melotot dan berkata


"Kamu yakin?!, ini bukan permainan anak-anak"


Daniel menyilang kan kedua tangannya


"Itu sudah lebih dari cukup"


Novi kesal dan berkata


"Daniel tolong dong jangan bercanda"


Daniel menatap Novi dan menjawab


"Apa mataku terlihat seperti bercanda?"


Wulan berkata


"Novi, sudah kamu tenang saja, percaya saja padanya"


"Baiklah jika itu bisa membawa keberhasilan maka aku akan percaya" jawab Novi


Novi menceritakan seluruh indentitas milik Indra si kancil. Dari yang dia dengar, bahwasanya Indra sudah menikah dan tinggal di pinggiran daerah Jakarta timur.


"Bagus, kita bisa menanyakan keberadaan dia pada istrinya"


Novi menjawab


"Itu semua percuma, aku sudah kesana, namun tidak membuahkan hasil"


Daniel mengeluarkan ponselnya dan menelpon Fauzi untuk mencari informasi tentang Indra Prananda itu. Selang 5 menit, Fauzi mengirimkan detail dari target mereka.


"Bagus, kita sudah menemukan beberapa tempat persembunyiannya"


Novi bertanya


"Apa?!, bagaimana mungkin?, mengapa cepat sekali kamu mendapatkannya"


Daniel tersenyum dan menjawab


"Masalah mencari kancil sudah ketemu, hanya tinggal memburunya saja"


"Baiklah, lalu kapan kita akan memulainya?" timpal Novi


Daniel menjawab


"Karena banyak persiapan yang harus kita lakukan, maka kemungkinan seminggu lagi kita akan bergerak"


"Kalau begitu aku pulang dulu untuk mempersiapkan semuanya" timpal Novi.


MARKAS BLACK DRAGON


Hasan yang sangat marah dan semakin dalam dendamnya terhadap Daniel karena banyak anak buahnya yang tewas di tangannya. Dia terus memutar otaknya, bagaimana caranya dia bisa menghabisi pria yang bernama Daniel itu.


Tiba-tiba Indra datang dan membawa beberapa botol minuman keras, untuk menenangkan pikiran Hasan yang sedang kacau.


"Bos. Ayo kita minum, lupakan sejenak masalah kamu"


Hasan duduk dan mengambil gelas yang telah di isi oleh Indra. Mereka bersulang dan tak henti-hentinya meminum itu. Lama kelamaan Hasan menjadi mabuk dan bicaranya mulai ngelantur. Dia dan Indra terus mentertawakan hal yang sama sekali tidak penting.


Hasan berkata dengan nada mabuk


"Aku ingin membalaskan dendam sepupu dan para anak buahku"


"Aku akan membantumu dengan sekuat tenaga bos" jawab Indra


Karena mabuk berat, wajah mereka menjadi merah dan membicarakan hal-hal aneh.


"Bagaimana jika kita mencari para gadis cantik?"


Indra menjawab


"Haha. Aku setuju bos"


Di tempat lain, Daniel menyuruh Novi untuk menemuinya di sebuah cafe. Karena tak ingin Leny mengetahuinya, jadi mereka putuskan untuk berdiskusi di tempat lain. Daniel sudah terlebih dahulu sampai di cafe itu, dan 15 menit kemudian Novi sampai di cafe dengan menggunakan seragam kebanggaannya.


"Wah ibu polisi sudah sampai" Daniel tersenyum


Novi menjawab


"Sudah jangan bercanda dulu. Apa yang akan kita bahas?"


Daniel tertawa dan berkata


"Haha. Kamu terlalu bersemangat. Sabar, kita tunggu yang lainya sampai dulu"


Di luar cafe, sudah ada 3 mobil mewah terparkir di halaman cafe itu. Orang-orang sangat mengagumi keempat mobil mewah yang sedang terparkir di halaman termasuk mobil Daniel yang telah sampai terlebih dahulu. Pemilik mobil-mobil mewah itu tak lain iyalah, Leo, Rian, dan juga Fauzi. Mereka bertiga langsung masuk menuju cafe dan segera menemui Daniel.


"Hey kak!, sudah lama tidak bertemu"


Daniel terkejut dan menatap Fauzi


"Eh kalian sudah sampai"


Novi menatap mereka bertiga dan berkata


"Mereka ini orangnya?. Lalu mengapa kamu juga membawa seorang kakek-kakek?"


Daniel kesal dan menjawab


"Hus!. Sembarangan, dia adalah ayahku. Beliaulah yang mengajari kami semua beladiri, termasuk juga Wulan"


Novi menatap Leo dan berkata


"Eh. Maaf tuan saya tidak tau kalau anda adalah guru mereka semua"


Leo tersenyum dan melambaikan tangannya


"Tidak masalah tidak masalah. Lalu apa yang kita bahas kali ini"


mereka bertiga duduk dan Daniel berkata


"Zi, apa kamu masih ingat tadi pagi aku memintamu untuk mencari tau tentang Indra Prananda?"


Fauzi menjawab


"Iya tentu saja masih kak, memangnya ada apa?"


Daniel menatap Novi dan menjelaskan


"Wanita ini adalah Novi, dia teman dekat Leny sewaktu kuliah dulu. Dia juga seorang anggota kepolisian dan juga adik kandung dari inspektur Yuddy"


Leo angkat bicara dan berkata


"Lalu apa hubungannya dengan kita?"


Daniel menjawab


"Begini ayah, Novi mempunyai tugas untuk menangkap seorang bandar narkoba yang sangat licik. Sudah dua bulan kasus ini tak bisa ia selesaikan, dan sudah banyak rekanya yang gugur dalam misi ini"


Rian bertanya


"Lalu kamu ingin kita membantunya menangkap orang tersebut?"


"Iya kak. Awalnya juga aku tak begitu peduli dengan masalah yang sedang ia alami, namun karena Leny yang memintaku untuk membantunya, maka aku bersedia untuk membantunya"


Fauzi tertawa dan menjawab


"Haha. kakak kan bisa mengatasinya sendiri, mengapa kami juga harus turun tangan?, jika kami ikut pun percuma kak. Kami hanya jadi penonton saja, karena sudah kakak musnahkan terlebih dahulu"


Rian memukul kepala Fauzi dan berkata


"Sembarangan, dengarkan dulu kakakmu berbicara sampai selesai"


"Hehe. iya kak maaf bercanda" timpal Fauzi tertawa


Daniel tersenyum dan berkata


"Mungkin yang kamu katakan itu benar Zi. tapi, apa kamu tau siapa orang yang membantu Indra itu?"


Fauzi menggelengkan kepala


"Black Dragon" tegas Daniel


Leo terkejut dan memukul meja


"Apa?!. Black Dragon?, maksud kamu orang-orang yang telah membuat menantuku terluka?!"


Daniel menganggukkan kepalanya


"Iya ayah"


Leo berdiri dan berkata dengan tegas


"Kalau begitu ayah akan ikut!"


Rian dan Fauzi juga berkata


"Kami juga ikut"


Rian tersenyum dan berkata


"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya kita akan segera bisa meratakan seluruh orang-orang yang berada di dalam kelompok itu"