Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
CAPUNGNYA WULAN


Daniel semakin tak karuan karena jalan menuju tempat Istri dan Adiknya begitu macet dan membuat sang pemimpi Dark Shadow semakin panik.


"Apa tak ada jalan lainnya?" ucap Daniel geram


"Sabar Kak, mungkin Fauzi dan Kak Rian sudah ada disana untuk membantu Wulan" Kevin mencoba menenangkan Daniel.


___________________________________


Beberapa lelaki yang menghadang Wulan dan Leny sudah di tumbangkan oleh Wulan seorang diri, namun tenaga Wulan juga sudah mulai habis karena menghalangi mereka sendirian.


Leny sangat kagum pada Adiknya itu. Walaupun dia seorang wanita, namun dia bisa mengalahkan lebih dari 10 orang dari mereka.


"Hahaha. Segini aja kemampuan kalian?!" ucap Wulan meremehkan


Meski nafas Wulan sudah ngos-ngosan dan detak jantung berdetak kencang karena lelah, akan tetapi dia masih sanggup mengikuti pergerakan dari musuh-musuhnya bahkan tidak tergores sedikitpun.


"Kau hebat sekali Adikku" gumam Leny dengan mata yang berbinar


"Ayo kita lanjut lagi!" teriak Wulan bersemangat


"Sombong sekali kau!" ucap salah satu dari mereka


"Sebagai seorang wanita, kau harus lebih lemah lembut dan melayani kami para lelaki" timpal yang lainnya


"Hahaha!. Buat apa aku melayani lelaki lemah seperti kalian" Wulan tertawa terbahak-bahak


"Kau!" ucap pria itu geram


"Maju!" tantang Wulan


3 orang lelaki itu melompat dan ingin melancarkan pukulan untuk Wulan. Namun sayangnya pukulan mereka masih dengan mudahnya di hindari oleh Wulan.


Wulan seperti penari profesional saat menghindari pukulan yang mereka berikan.


"Sudah?, sekarang giliranku!" ucap Wulan meregangkan jemarinya


Wulan mulai bergerak mengejar mereka, gerakannya begitu lincah. Memang cocok jika Kevin memanggilnya dengan sebutan kucing kecilnya.


Pukulan Wulan tak ada yang meleset satupun, bahkan ada sebagian dari mereka yang sampai sekarat.


Wulan berbeda dengan Daniel. dia tidak mau membunuh musuhnya terkecuali jika memang harus terpaksa menghilangkan nyawa para musuh-musuhnya. Sedangkan sang Kakak, dia seperti iblis yang kejam, telinganya mendadak seperti menjadi tuli jika mendengar musuhnya meminta ampun terhadapnya.


Ketika Wulan tengah fokus melawan para musuhnya, ternyata salah satu dari mereka menyelinap untuk membuka paksa pintu mobil yang terkunci.


Leny menyadari kalau ada seorang lelaki yang tengah mendekatinya. Dia melihat sang Adik tengah fokus melawan para musuhnya, sedangkan pria itu sudah semakin dekat dengan mobil milik Wulan.


Leny ketakutan, dia terus berdoa dan memegangi perutnya. Air matanya menetes deras sangking ketakutannya, dia berdoa agar sang Suami segera sampai dan melindunginya.


"Ayah tolong, Bunda dan Anak kita dalam bahaya" lirih Leny gemetaran


Pada saat pria itu ingin memukul jendela kaca mobil itu, tiba-tiba tongkat besinya di tangkap oleh seseorang, dan dia juga langsung mendapatkan terjangan oleh teman dari orang itu hingga terpental menghantam pohon.


"Kak Rian? Fauzi?" lirih Leny mulai tenang


"Ck,ck,ck. Lelaki sampah!, beraninya cuma sama perempuan aja" ucap Fauzi menyilangkan kedua tangannya


"Kak Rian? Kak Fauzi?" Wulan terkejut bercampur bahagia


"Maafkan aku Adikku, kami terlambat" ucap Fauzi merangkul leher Wulan


"Tidak masalah Kak, tanpa kalian pun aku bisa membereskannya" ucap Wulan sombong


"Sial!, ternyata mereka ada bala bantuan" batin salah satu dari mereka


"Wanitanya saja bisa membuat kami kalah telak begini, apa lagi kedua lelaki itu" gumam mereka berkeringat dingin


"Hey!, kalian pasti dari Petir Hitam kan?" ucap Fauzi dengan sorot mata ingin membunuh


"Bukan urusanmu kami dari mana!" ucap salah satu dari mereka menantang


"Wah, wah. Udah mulai nyolot" timpal Rian


"Jadi mereka dari Petir Hitam kak?" tanya Wulan


"Mungkin" jawab Fauzi


"Aduh kok lemah banget sih?" ucap Wulan mengejek


"Jangan sombong kalian!, kalian hanya bertiga" ucap salah satu dari mereka


"Hahaha, sedangkan aku yang sendri aja bisa menghabisi 10 di antara kalian" jawab Wulan meremehkan


"Sebaiknya persiapan kuburan untuk kalian bertiga" ejek pemimpin mereka


"Ptffftt" mereka menahan tawa


"Lucu sekali, jangan sampai malah kalian yang menggali kuburan untuk kalian sendri. Hahaha" ucap Fauzi memegangi perutnya


Tiba-tiba bala bantuan pihak musuh datang dengan jumlah sampai 50 orang, dan mereka pada Petir Hitam merasa seperti di atas langit.


Leny menjadi takut karena jumlah musuh yang terlalu banyak, sedangkan mereka hanya bertiga saja.


"Hahaha, sudah kubilangkan, persiapkan makam untuk kalian bertiga" ucap pemimpin mereka sombong.


"SERANG!" ucap pemimpin mereka tegas


Dengan semangat para anggota Petir Hitam menyerang Rian dan yang lainnya


Mereka bertiga juga menyerang maju dan memukuli para orang-orang dari Petir Hitam dengan semangat.


"Hahaha sudah lama aku tak sesenang ini" ucap Fauzi tertawa lepas namun pukulannya tak pernah meleset


"Kau benar Adikku. Sebelum Daniel datang, kita harus membersihkan mereka semua" ucap Rian bersemangat


"Iya kau benar Kak. Jika Kak Daniel sudah di sini, pasti kita tak dapat bagian lagi" jawab Fauzi tertawa


"Bagaimana kalau kita taruhan?!" tantang Wulan


"Siapa diantara kita yang menumbangkan mereka terbanyak, maka dia dapat traktiran. Bagaimana?" timpal Wulan


"Oke" jawab Fauzi dan Rian serentak


"Kurang ajar!, mereka manusia atau bukan sih?" gumam pemimpin mereka


Seluruh musuh mereka tak mampu untuk mendekati mobil yang di tempati oleh Leny. Setiap ingin mendekat, pasti mereka langsung di tumbangkan oleh ketiga anggota Dark Shadow itu.


Pemimpin yang membawa mereka semakin kesal sendri melihat orang-orang yang ia bawa seperti tak ada yang berguna dan tak ada yang mampu menyerang balik.


Disaat Wulan tengah lengah, pemimpin mereka mulai merencanakan sesuatu untuk membuat salah satu dari rombongan Rian terluka.


Iya tersenyum sinis dan mengeluarkan pisaunya lalu perlahan mengendap-endap mendekati dari belakang Wulan.


Pria itu tertawa jahat dan akan segera melancarkan serangannya, ia akan menusuk bagian perut milik Wulan.


"Rasakan ini dasar Wanita J4L4N6" ucap pria itu melompat dan mengarahkan pisaunya ke arah Wulan


"WULAAAANNNN!!!" Teriak Leny dalam mobil namun tak dapat di dengar oleh mereka


Wulan berbalik, namun tak ada kesempatan untuk menghindari pisau itu, dia hanya menutup mata dan tiba-tiba.


"Cusshh" pisau tertusuk


Wulan membuka matanya namun tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya, namun dia melihat sosok lelaki yang sudah berdiri di depannya menghadap kearah pria yang menusukkan pisau itu. dan ternyata pria itu yang tertusuk pisau tersebut


"Haha. Apa yang kamu lakukan kucing kecil? dasar selalu ceroboh" ucap pria itu tertawa kecil menahan pisau yang berada di perutnya


"KEVIN!!" ucap Wulan terkejut


"KEVIN?!" teriak Rian dan Fauzi


Pria yang menusuk pisau itu langsung di terjang oleh Daniel sampai terpental masuk ke jurang dan otomatis mati di sana.


Mata dari seluruh Anak buah dari Petir Hitam terbelak dan terkejut karena dengan mudahnya Daniel menendang orang yang memimpin mereka hingga terpental jauh.


Kaki Kevin mulai gemetar, darah terus mengalir dari balik perutnya. Pisau yang menancap di perut Kevin langsung di cabut oleh Daniel dan langsung di lempar ke arah musuhnya dan langsung menancap di keningnya.


Pertahan kaki Kevin mulai goyah, dia langsung terjatuh ke bekalang dan dengan sigap Wulan menangkap tubuhnya Kevin sehingga membuatnya terjatuh dalam pangkuan Wulan.


Wulan mulai menangis melihat lelaki yang sebenarnya ia cintai itu terluka. Kevin menyeka air mata Wulan dengan jemarinya, dan ia menenangkannya.


"Kenapa capung?...hiks... kenapa?...hiks... kau BODOH sekali capungku...hiks...?" ucap Wulan menangis


"Hehe, kamu jangan menangis kucing kecilku. A..aku..baik..baik sa..saja" jawab Kevin terbata-bata menahan perih di perutnya.


"Hiks...hiks... Kau bilang kau sayang padaku?!, kau bilang kau cinta padaku.... hiks... dan kau bilang kau hiks..hiks..ingin menjagaku?!, tapi kenapa KAU MALAH SEPERTI INI!" tangisan Wulan semakin menjadi-jadi.


Daniel berjongkok dan melihat wajah Kevin sudah mulai pucat. Sorot mata Daniel seperti menahan amarah, Daniel begitu emosi melihat adiknya sampai terluka parah dan sang Adik perempuannya sampai menangis histeris.


Daniel berdiri membelakangi mereka, ia mengepalkan tangannya.


"Bawa dia segera kerumah sakit" ucap Daniel datar membelakangi mereka


Wulan mendongak dengan tangisan tersedu-sedu, dan terus menatap sang Kakak yang berdiri membelakanginya. ia merasakan aura milik sang Kakak sudah keluar hampir setengahnya.


"TUNGGU APA LAGI?! CEPAT BAWA DIA KERUMAH SAKIT!" teriak Daniel


Rian dan Fauzi membantu Kevin untuk masuk ke dalam mobil Daniel. Kevin di letakkan di dalam kursi belakang dan kepalanya di tahan oleh paha Wulan, lalu Rian yang mengemudikan mobil milik Daniel dengan cepat, tinggal lah hanya Daniel dan Fauzi yang akan menghadapi orang-orang dari Petir Hitam tersebut....