
Daniel dan yang lainnya seperti terpojok, dan para pria yang menggunakan obat terlarang itu merasa sudah di atas angin, mereka juga beranggapan kalau Daniel akhirnya bisa di kalahkan juga.
"Siapa kalian?!, apa mau kalian?!" tanya Daniel dengan santai
"Hahaha!. Sebut saja malaikat maut!" jawab salah satu dari mereka yang merupakan seorang pemimpin dari para orang gila itu.
"Aku Johan!. Pemimpin Petir Hitam yang baru!. Hahaha!" tawa pria itu
"Hadeh!. Baru aja selesai berurusan dengan orang yang katanya pemimpin Petir Hitam!, ini ada lagi pemimpinnya!" keluh Fauzi
"Kalian apa tidak punya pekerjaan?!" tanya Fauzi lagi
"Apa maksudmu?!" tanya Johan
"Kau lihat gedung yang masih berasap itu?!" jawab Fauzi menunjuk kearah sebuah gedung yang baru saja mereka bakar
"Disana ada pria tua yang bernama Edi, beserta para anak buahnya!. Ia juga mengklaim bahwa ia adalah pimpinan dari Petir Hitam!" timpal Fauzi
"APA?! KALIAN SUDAH MEMBUNUH PAMANKU?!" tanya Johan dengan nada yang lantang
"KALIAN BUNUH AYAHKU!, KALIAN JUGA MEMBUAT KAKAKKU MENJADI CACAT!, KINI KALIAN JUGA MEMBUNUH PAMANKU!" teriak Johan dengan keras
Tiba-tiba "Brugghh!!" suara pukulan keras mengarah pada wajah Johan
"Berisik!" tegur Daniel sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
Dengan cepat Johan bangkit dan membersihkan bekas darah pada sudut bibirnya. Kemudian ia tersenyum sinis sembari menatap Daniel seakan meremehkannya.
"Haha!. Hanya segitu saja pukulan dari pria terkuat di Asia?!" tanya Johan meremehkan
"Bahkan untuk membunuh seekor nyamuk saja tidak mempan!" timpalnya tertawa terbahak-bahak.
"Kau seperti orang gila ya?!" tanya Leny
"Hahaha!. Untuk saat ini kalian bisa berkata seperti itu!" ucap Johan tersenyum licik
"Setelah para lelaki busuk ini mati!. Kalian para wanita akan menjadi pelayan b1rah1 kami!" timpalnya tertawa
"Haha!, coba saja jika kalian mampu menyentuh para wanita ini!" ucap Daniel tertawa
"Sudah mau mati masih saja bertingkah!" ucap Johan tak terima
Johan memberikan kode pada anak buahnya untuk menyerang Daniel dan yang lainnya. Namun bukannya panik, justru mereka malah tersenyum menghadapi para orang-orang yang sudah menggunakan sebuah obat-obatan terlarang itu.
"HAHAHA!. AYAH, PAMAN, KAKAK, DENDAM KALIAN AKAN TERBALASKAN!" tawa Johan menatap langit.
"SREEEETTTT!" suara tebasan benda tajam
"Bacot!" ucap Daniel setelah memenggal kepala salah satu dari anak buahnya yang mencoba menyerang Daniel dan Leny.
"Mereka akan berhenti jika mereka mati kan?" tanya Daniel tersenyum psikopat sembari mengelus pedangnya
"Maka tinggal tebas saja!" timpalnya tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba angin berhembus dan langsung menghilangkan asap yang berasal dari sebuah bom yang di lemparkan oleh anak buah Johan tadi.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar suara hembusan angin di sekitaran mereka semua. Daniel tersenyum sinis menatap Johan dan seluruh anak buahnya yang ikut menatap Daniel dengan senyuman meremehkan.
Tiba-tiba dengan cepat Daniel langsung menyerang para anak buah Johan dengan pedangnya yang tajam itu. beberapa kepala dari anak buah Johan sudah terpisah dari tubuhnya akibat tebasan dari pedang milik Daniel yang begitu sangat tajam, dan para anak buah Johan yang sudah di penggal Daniel otomatis sudah tak bernyawa lagi.
Daniel menendang salah satu kepala yang berada di dekatnya ke arah Johan yang tengah tertawa terbahak-bahak karena merasa ia akan memenangkan pertarungan kali ini.
Kepala dari anak buahnya mengenai tubuh Johan, sampai membuatnya terjatuh dan kepala yang tak memiliki tubuh itu menindih tubuh milik Johan.
Setelah ia sadar dari tawanya yang seperti orang gila, ia langsung di kejutkan saat melihat beberapa anak buahnya sudah tak bernyawa dengan tubuh yang sudah tak menyatu lagi.
Johan menatap Daniel yang tengah bersenang-senang memainkan senjatanya yang ia tebaskan pada tubuh anak buahnya yang berada di depan Daniel.
"Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku cepat menyusul mereka" gumam Johan berubah menjadi takut melihat Daniel mengamuk seperti orang yang tak waras.
"Meskipun aku sudah mengkonsumsi obat itu, jika di tebas dengan pedang, sama saja bakal game over ni!" timpalnya melangkahkan kakinya mundur secara perlahan.
Saat Johan melangkah mundur, tiba-tiba tubuhnya seperti menabrak seseorang yang menghalanginya, dan ia langsung di pukul sampai tersungkur lagi.
"Cih!, sudah ku bilang!. Pukulan yang kalian berikan tak ada rasanya di tubuhku!" ucap Johan sembari Bangkit dan membersihkan tubuhnya dari kotoran yang menempel.
"Bagus dong!, jadi aku bisa puas memukulimu!" ucap Hyuga seseorang yang menghalang-halangi langkah Johan tadi.
"Hahaha coba saja!" tantang Johan, namun matanya langsung menatap Daniel yang terus mencincang para anak buahnya.
"Aku harus bisa lolos dari orang bodoh ini!" gumam Johan menatap serius ke arah Hyuga
Hyuga langsung melompat dan memukul Johan tepat di dadanya sampai membuat Johan lagi-lagi tersungkur ke tanah. Namun lagi-lagi Johan tetap tak merasakan sakit sedikitpun pada tubuhnya.
"Hahaha akhirnya aku menemukan musuh yang menyenangkan!" ucap Hyuga merasa sangat bahagia.
"Selama ini musuh yang kami hadapi sangat lemah dan kalah dalam sekali pukul" timpalnya menendang wajah Johan, hingga tubuhnya menghantam sebuah pohon.
Suara yang di timbulkan dari benturan antara tubuh Johan dan pohon itu terdengar sangat keras, jika Johan tidak mengkonsumsi obat terlarang itu, mungkin ia sudah pingsan sejak pertama kali mendapat pukulan dari Daniel.
Hyuga melihat Johan yang sudah kelelahan, nafasnya terlihat seperti terbata-bata dan membuat Hyuga tersenyum seperti meremehkan Johan.
"Hahaha, apa kau sudah lelah?" tanya Hyuga tertawa
"Bukankah kalian semua sudah menjadi abadi setelah mengkonsumsi obat aneh itu?!" timpalnya dengan nada meremehkan
Leny berteriak keras menyemangati sang suami yang tengah asyik bermain dengan katana kesayangannya itu. Sedangkan Koury dan Silvia hanya menggeleng saja melihat tingkah dari sahabat mereka.
"Kamu apa gak merasa jijik atau mual gitu?" tanya Silvia
"Kenapa harus jijik?, justru aku menikmati pertunjukan yang di suguhkan oleh suami-suami kita" jawab Leny tersenyum menatap sang suami.
"AYAH! BUAT LEBIH KEJAM LAGI!" teriak Leny meminta pada sang suami
"OKE SIAP LAKSANAKAN BOSKU!" jawab Daniel ikut berteriak
Para anak buah Johan yang tadinya merasa akan menang, nyali mereka tiba-tiba langsung menciut setelah melihat tubuh dari para rekannya sudah terpisah-pisah.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Daniel tiba-tiba sudah berada di depan salah satu anak buah Johan yang masih bernyawa. Daniel tersenyum sinis sembari terus menatap calon mainannya itu.
Sedangkan pria yang sudah di targetkan oleh Daniel sudah ketakutan, dan tubuhnya seakan tak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, bahkan keringatnya juga bercampur dengan air kencingnya.
Daniel mengayunkan pedangnya dan langsung menebas kaki kiri pria malang itu sampai membuatnya tersungkur ke tanah karena kehilangan salah satu kakinya.
Teriakan dari pria malang itu seperti sebuah energi untuk Daniel dan memulihkan rasa lelahnya setelah mencincang beberapa mainannya tadi.
Tebasan kedua, Daniel memotong lengan kanan pria itu dan teriakannya sampai membuat para rekannya semakin ketakutan melihat adegan itu tepat di depan mata mereka.
Nafas pria itu seperti sudah di ujung ubun-ubun, namun Daniel tetap tak memperdulikannya, ia masih ingin bermain dengan pria yang sudah cacat itu.
Daniel tersenyum dan melangkah mendekati kepala pria yang sudah terkapar tak berdaya itu. Kemudian ia mengangkat pedangnya dan langsung menancapkan ujung mata katana miliknya tepat di kepala si pria malang itu.
Tubuh pria malang itu langsung kejang-kejang dan ia juga langsung menghembuskan nafas terakhirnya setelah ujung pedang milik Daniel menancap tepat di kepalanya.
"HAHAHA!, LAGI, LAGI, HAHAHA" tawa Daniel seakan orang tak waras yang sudah kehilangan akal.