
Wulan semakin histeris melihat lelaki yang ia cintai itu terluka, apa lagi ia terluka karena melindunginya, membuat Wulan merasa seperti wanita yang bodoh.
"Dek, kamu yang tenang ya. Kevin pasti akan baik-baik saja kok" ucap Rian mencoba menenangkan Wulan
"Aku bodoh Kak, aku sangat ceroboh!.. hiks.. hiks.." Wulan masih menangis.
Kevin yang awalnya memejamkan matanya, perlahan ia membukanya dan menyentuh pipi Wulan untuk menenangkannya.
"Su..dah, i..ni bu..bukan salah ka.. kamu kuc... cing kecil...ku.. uhuk..uhuk" ucapan Kevin terbata-bata
Kevin membelai pipi Wulan dan memberikan senyuman indahnya untuk sang wanita cantik itu.
"Hiks... hiks.. sudah jangan tersenyum gitu, jijik aku lihatnya" jawab Wulan tersenyum kecut sambil menyeka air matanya.
"Hehe" Kevin membelai pipi Wulan.
"Kevin sebaiknya kau jangan banyak bicara, hematkan tenagamu itu agar tidak terjadi hal yang kita tidak inginkan" sela Rian memperingati
"Ha..ha.. Kakak te..tenang saja, a..aku ku..kuat kok, a..aku tidak a..akan ma..mati semudah.. itu. huft..huft.." Kevin tersenyum kearah Wulan
"Sudah sebaiknya kau tidur saja capung bodoh!. Jangan buang-buang tenangmu itu, pake senyum segala" ucap Wulan sendu dengan senyuman yang terpaksa.
Rian menghela nafasnya "Sudah sekarat gitu masih saja cekcok"..
_________________________________________
Daniel menatap puluhan musuhnya dengan tatapan seperti iblis yang ingin segera melahap mangsanya, namun karena musuh merasa lebih banyak, membuat mereka menyombongkan diri.
"Apa yang kau lihat hah?!, sadar posisi dong!. Kalian hanya berdua!, Sedangkan kami lebih dari 50 orang" ucap salah satu dari mereka
"Puftt" Fauzi menahan tawanya
"Kenapa kau tertawa hah?!. sudah sadar akan tewas?" ucap mereka meremehkan
"Kenapa mereka hanya berdua saja?" ucap Leny panik
"Suamiku semoga kalian selamat" timpal Leny
"Memangnya kenapa jika kami hanya berdua saja ha?!. Bahkan dia ( Fauzi ) sendri saja bisa membereskan kalian. Benar kan?" ucap Daniel geram
"Hahaha. Tentu saja bisa Kak. Jadi Kakak ingin memberikan mereka semua untuk mainanku seorang diri?" tanya Fauzi memastikan
Daniel merangkul leher Fauzi dan menjitak-jitak kepala sang Adik dengan geram "Tidak bisa!, mereka harus membayar perbuatan mereka"
Daniel melepaskan rangkulannya dan mulai memandangi mereka dengan tatapan amarah yang sangat kuat.
"Fauzi, apa kau membawa apa yang aku minta tadi?" tanya Daniel dengan nada datar
"Oh tentu saja aku bawa Kak" jawab Fauzi semangat dan langsung menuju ke bagasi mobil miliknya
"Ini dia Kak" ucap Fauzi menyerahkan sesuatu pada Daniel
Daniel menerimanya dan tersenyum sinis.
"Halo Ryu Ken!, ayo kita bersenang-senang!. Aku akan memandikanmu dengan darah yang masih segar-segar" Daniel berbicara dengan benda kesayangannya.
Ryu Ken adalah katana/pedang kesayangan Daniel, pedang itu sudah banyak memakan korban di saat mereka tengah bertempur. Sudah hampir 5 tahun Daniel menyimpan pedang kesayangannya itu, dan kini dia harus menggunakannya kembali.
Pedang yang sangat tajam. Pedang itu mampu membelah tubuh musuhnya dengan sangat mudah, bahkan tercincang-cincang sampai halus.
Fauzi juga membawa senjata yang berupa double stick, benda tumpul kesayangan Fauzi. Senjata itu juga selalu ia bawa ketika tengah bertempur bahkan mereka sering melakukan kombinasi dengan senjata masing-masing.
"Kau siap?" tanya Daniel dengan senyuman psikopatnya.
"Haha tentu saja" jawab Fauzi dengan senyuman sinisnya
"Wah wah Kakak curang!" ucap Fauzi ikut berlari
Fauzi mulai mengayunkan double stick miliknya. Gerakannya seperti petarung master shaolin yang sangat hebat, pukulan double sticknya tak ada yang meleset. Meski pun senjata itu tumpul, namun bisa membuat orang yang terkena pukulannya tak berdaya dan darah mulai bercucuran.
"HAHAHA!. LAGI! LAGI!.. MAJU KALIAN B4N6S4T! HAHA! HAHA! HAHAHA" tawa Daniel seperti orang yang kurang puas dengan apa yang ia dapat
Ayunan demi ayunan pedang Daniel membelah seluruh tubuh musuhnya. Mulai dari tangan, badan, batok kepala, bahkan sampai perut targetnya mengeluarkan organ dalamnya.
Leny melihat sang Suami seperti itu menjadi takut. Tubuhnya bergetar, perutnya seperti mual. dia merasa jijik melihat tubuh manusia yang sudah terpisah-pisah, otak berceceran, usus sampai keluar dari dalam perut, dan wajah tampan milik sang Suami sudah memandikan darah dari musuhnya.
"Sayang hentikan, aku sudah mual" gumam Leny.
Fauzi mengangkat musuhnya lalu melemparkan kearah Daniel, kemudian Daniel menebasnya dan tubuh orang yang di lempar oleh Fauzi terbelah dua seperti buah semangka.
"Yeesss..! Nice" Fauzi mengacungkan jempol
Puluhan orang sudah tak bernyawa di buat oleh Daniel dan Fauzi. Mereka yang masih hidup, ingin melarikan diri dan menjauh dari dua orang monster yang semakin lama semakin menggila.
"Kak!, aku yakin mereka dari Petir Hitam!" teriak Fauzi tengah fokus mengayunkan senjatanya.
Daniel menghentikan aksinya sejenak kemudian menatap Fauzi "Kau serius?" tanya Daniel dan di balas anggukkan oleh sang Adik
Daniel menoleh lagi, lalu melanjutkan aksinya kembali. Kali ini Daniel semakin mengganas saat tau kalau mereka dari Petir Hitam.
"Aku akan memusnahkan seluruh orang yang berada di dalam Petir Hitam. Hahaha!" Daniel tertawa psikopat.
___________________________________________
Mobil yang Rian bawa sudah sampai di sebuah rumah sakit milik Elang, Ayah kandung Daniel dan Dion. Setelah mengetahui kalau sang Ayah memiliki rumah sakit, Daniel mendatangi tempat itu dan menemui orang kepercayaan sang Papa, lalu orang kepercayaan sang Papa menyerahkan rumah sakit itu untuk Daniel dan Dion, sesuai dengan wasiat dari sang direktur utama dari rumah sakit itu.
Dion meminta tunangannya untuk bekerja dan mengelolanya. Dengan senang hati Ayu menerimanya. Bukan karena Ayu yang haus akan jabatan, melainkan ini permintaan dari kekasihnya, jadi Ayu senang menerima permintaan dari lelaki yang sangat ia cintai itu.
Wulan berlari ke ruangan Ayu untuk segera menolong Kevin si capung kesayangannya itu. Banyak staf dan para suster memberi hormat pada Wulan karena mereka tau kalau Wulan adalah Adik dari sang pemilik rumah sakit tersebut.
Seorang suster langsung menghampiri Wulan yang tengah berlari dengan wajah yang panik.
"Ada apa nona? kenapa anda begitu panik?" tanya suster yang bernama Rahma
"Rahma tolong bawa temanku, dia terluka parah, dia didalam mobil Kak Daniel!. Aku akan memanggil Kak Ayu" jawab Wulan terburu-buru
"Baik" jawab Rahma dan langsung berlari mengambil brankar kemudian segera menuju tempat yang di arahkan Wulan tadi.
_____________________________________________
Hampir semua orang-orang Petir Hitam yang berada di tempat Daniel mengamuk telah tercincang. Sudah tak ada kesempatan untuk hidup bagi mereka sekarang. Daniel memang tak akan membiarkan mereka selamat, apa lagi mereka adalah anggota Petir Hitam yang telah membuat kedua orangtuanya meninggal dunia.
Mereka semua sudah habis di cincang oleh Daniel dan Fauzi. Daniel menyuruh Fauzi membawa cincangan tubuh mereka ke markas agar menghilangkan rasa lapar dari hewan kesayangannya.
Kini tinggal 1 orang saja yang masih berdiri. Dia melihat tubuh semua temannya sudah hancur dan tercincang seperti daging yang terjual di pasar.
Ketakutannya semakin hebat saat Daniel melangkahkan kaki menuju kearahnya. Daniel tersenyum sinis menatap pria yang sudah kencing di celana.
"Kau tenang saja, aku tidak akan membunuhmu" ucap Daniel datar, dan tentu saja membuat pria itu bernafas lega
"Tapi kau harus membawaku ke tempat persembunyian kalian, aku ada urusan dengan si tua bangka itu" timpal Daniel dengan tatapan tajam
Daniel mengarahkan pedangnya ke arah lelaki tersebut dan ujung pedangnya yang sangat tajam dan runcing itu sudah menyentuh leher si pria yang dari Petir Hitam itu untuk memberikan ancaman agar dia menurut.
Akibat ujung pedang yang sangat tajam milik Daniel, lehernya sampai mengeluarkan sedikit darah dan membuat ketakutan si pria itu muncul kembali.
"Ba..baik tu..tuan, saya akan mengantarkan kalian. Tapi tolong jauhkan benda ini" ucap pria itu ketakutan.
"Bagus!" jawab Daniel dan menurunkan pedangnya..