Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
WELCOME TO THE SYAHPUTRA FAMILY


Ayu terkejut mendengar perkataan Dion barusan, hatinya begitu bahagia sampai air matanya harus menetes karena sudah tak bisa membendung rasa haru dalam dirinya.


"Kenapa kamu menangis?, apa kamu menolak lamaranku?" tanya Dion sendu dan hanya di balas gelengan oleh Ayu.


"Lalu kenapa kamu menangis seperti itu?" Dion khawatir.


"Iya, aku mau" jawab Ayu masih menangis


"Beneran?" tanya Dion antusias dan hanya di jawab dengan anggukan oleh Ayu


"Yeaayyy" Dion senang dan langsung memeluk Ayu. Membuat semua keluarga mereka tersenyum bahagia, terutama Leny yang memang sudah mengharapkan Ayu untuk menjadi bagian dari keluarganya.


"Welcome to the Syahputra family." ucap Daniel


"Hahaha" mereka semua tertawa


"Selamat ya anak Ibu, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Suami" ucap Rani memegang pundak Dion


"Hehehe. Terimakasih kasih Ibu" jawab Dion langsung memeluk Rani


"Jadi Mama gak di peluk ni?" tanya Anita cemberut


Daniel langsung memeluk Anita, dan membuat Anita terkejut lalu tersenyum serta membalas pelukan Daniel.


"Sama aja kan Mama?" tanya Daniel menggoda


"Iya sayang, kalian sama-sama anak Mama" jawab Anita tersenyum bahagia dalam pelukan Daniel yang begitu hangat.


"Sudah-sudah, jangan terlalu lama memeluk Istri papa" tegur Yoga bercanda


"Hahaha, Papa cemburu sama anak sendiri?" goda Anita


"Enggak Ma, Papa takut malah Papa ikut menangis" jawab Yoga terkekeh-kekeh


"Hmm.. Andai saja Mas Elang dan kak Aqila masih ada, pasti mereka akan sangat bahagia melihat anak-anaknya sudah mendapatkan kebahagiaan mereka sendiri" ucap Anita menjadi sedih


Rani mendekati Anita dan langsung memeluknya "Sudah Nita. Aku yakin Ayah, Ibu, kak Elang dan juga kak Aqila pasti ikut bahagia di surga sana"


Daniel melihat raut wajah dari kedua wanita paruh baya yang sangat ia sayangi itu. Perlahan emosinya meningkat karena mengingat kematian Nenek, Kakek, serta kedua orangtuanya.


Dia selalu bersumpah akan membalas perbuatan yang telah Petir Hitam lakukan terhadap keluarganya. Terutama pemimpin mereka, Daniel berjanji akan melenyapkan mereka dengan tangannya sendiri.


"Mama, Ibu. Sudah dong jangan sedih lagi, nanti aku dan Dion akan ikut sedih" ucap Daniel menenangkan kedua wanita paruh baya itu yang sudah ia anggap Ibunya sendri


"Yang di katakan oleh putra kita itu benar, sebaiknya kita berdoa saja untuk keluarga kita yang telah berada di surga sana" timpal Yoga dan di anggukan oleh Leo


"Iya-iya" jawab Anita dan Rani berbarengan


"Kak, kalian berdua jangan sampai tertukar pasangan kalian masing-masing ya" ucap Wulan memecah kesediaan mereka


"Ya kalau tertukar sih kan gapapa, itung-itung mencicipi. ya kan sayang?" tanya Daniel menggoda Leny


"Coba aja" jawab Leny tersenyum manis namun dengan aura seperti ingin membunuh Suami nakalnya itu.


"Eh, eh, ampun, ampun Bunda. Ayah bercanda" jawab Daniel ketakutan


"Hahaha" mereka semua tertawa melihat tingkah dari pasangan Suami-istri itu


"Eh kok kakak sih, kan sebentar lagi aku akan jadi adik ipar dari Suamimu" ucap Ayu tak terima


"Ih. Tapikan sebelum kenal Dion, aku adalah adikmu" jawab Leny tak terima juga.


"Iya itu kan dulu kakak ipar" jawab Ayu tersenyum manis


"Ah sudahlah, aku masih geli mendengar kalau kakak memanggil dengan itu"


"Hahaha. Nanti kan bakal terbiasa sayang" ucap Rani menyela perdebatan antara menantu dan calon menantunya itu


"Tu dengerin apa kata Ibu wahai kakak iparku" goda Ayu.


Acara makan malam bersama berjalan lancar dan menjadi kebahagiaan untuk pasangan Dion dan juga Ayu sang Doker cantiknya itu.


Ayu merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga Daniel. Meski dia tak mendapatkan cinta dari Daniel, setidaknya dia mendapatkan cinta dari Dion, seorang lelaki tampan yang sangat mirip dengan Daniel.


Leo, Daniel, Rian, dan juga Fauzi. Mereka berempat sedang berbincang-bincang secara pribadi jauh dari para keluarga lainnya.


Mereka membahas tentang amarah Daniel siang tadi, sampai membuat seluruh auranya keluar dan membuat mereka yang merasakanya seperti berada dalam jalan kematian.


"Katakan pada Ayah, apa yang terjadi tadi siang padamu nak?" tanya Leo memulai pembicaraan mereka


"Itu semua karena Petir Hitam Ayah" jawab Daniel datar namun dengan tatapan seperti iblis pembunuh.


"Awalnya ada sebuah teror yang menghampiri aku dan Dion, seorang penembak jarak jauh ingin membunuh salah satu dari kami, untung saja aku bisa menyelamatkan adikku" timpal Daniel masih dengan tatapan yang sama


"Aku yakin sampah itu juga berasal dari Petir Hitam Ayah" ucap Daniel lagi


"Kurang ajar!, jika saja Ayah bisa menemukan si Eko dan langsung melenyapkannya dari dulu, mungkin Papa dan Mama kamu masih bisa berkumpul bersama kita di sini" ucap Leo penuh penyesalan.


"Sudah Ayah, ini semua bukan kesalahan Ayah. Mulai saat ini aku ingin mengambil alih pemburuan Petir Hitam, dan akan ku buat mereka membayar semua perbuatan mereka, terutama si tua bangka itu" ucap Daniel geram


"Kak, jangan lupakan kita. Beri kami juga sebuah kesenangannya, aku ingin mencoba kekuatan para Petir Hitam itu" ucap Fauzi bersemangat


"Aku ikut" ucap Wulan tiba-tiba datang dan bergabung bersama mereka


Daniel tersenyum dan langsung merangkul Wulan. Dia sangat menyayangi adik perempuannya itu seperti adik kandungnya sendri, karena dia memang tak punya saudara kandung yang berjenis kelamin perempuan.


"Apa kamu ingin membuat Istriku menerkam Kakakmu ini hm!?" ucap Daniel geram menarik hidung Wulan


"Apa yang Kakak bicarakan?" tanya Wulan bingung tak tau maksud perkataan dari sang Kakak.


"Kamu kan tau Kakakmu itu sangat menyayangi dirimu. Jika kamu sampai kenapa-kenapa, bisa habis aku di terkam olehnya karena tak bisa menjagamu" jawab Daniel menunjuk ke arah Leny yang tengah asyik bermain dengan Aska dan Keyla


"Jadi Kakak pikir jika aku ikut dalam pertarungan, aku hanya akan menjadi beban kalian saja gitu?" tanya Wulan menyebikkan bibirnya.


"Bukan begitu adikku sayang.. Aku tak ingin kamu sampai terluka, dan aku tak ingin melihat istriku akan bersedih kalau melihat adiknya sampai terluka" ucap Daniel menjelaskan


"Kak, aku ini juga seorang petarung, dan aku juga bagian dari Dark Shadow. Jadi Kakak tenang saja, aku pasti bisa melawan mereka juga. Dan satu lagi, aku juga dendam kepada mereka, karena mereka yang sudah merenggut nyawa Kakek, Nenek, Papa, dan juga Mama" ucap Wulan serius


"Susah memang kalau punya adik yang sangat keras kepala" ucap Daniel memutar bola matanya


"Sudahlah, nanti biar Ayah yang akan menjaga Adikmu ini" ucap Leo mengelus kepala Wulan.


"Tidak usah Tuan, biarkan aku saja yang menjaga wanita yang manis itu" jawab pria misterius yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka semua..