Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
GEDUNG TUA


Setelah puas menemani sang Istri berolahraga pagi hari, kini keduanya sudah kembali ke rumah mewah milik Nek Ani. Mereka kembali dengan perasaan gembira dengan Leny yang di gendong oleh sang Suami tercinta.


"Wah wah. Cucu nenek sudah pulang" ucap Nek Ani menyambut kepulangan Cucu kesayangannya.


"Pengantin baru darimana nih?" goda Wulan mengejek


"Suttt!. Jangan berisik!" ucap Leny protes dan membuat mereka tertawa.


"Sudah-sudah, ayo kita sarapan. Kalian pasti sudah kelaparan" ucap Nek Ani mengajak mereka untuk masuk kedalam.


Setelah sampai kedalam, Daniel dan Leny tak langsung menuju ke meja makan. Mereka berdua menuju ke kamar hanya sekedar untuk membersihkan diri dari keringat yang sudah lengket pada tubuh pasangan Syahputra itu.


"Sayang... Mau mandi bareng" rengek Leny dengan manja


"Iya-iya ayo" jawab Daniel menggendong sang Istri menuju ke kamar mandi.


Mereka berdua hanya membersihkan diri saja tanpa ada drama perang dalam kamar mandi. Jika mereka melakukan hal itu, tentu saja membuat Nek Ani dan Wulan harus menunggu mereka sampai berjam-jam lamanya.


Setelah 15 menit mereka berdua saling membersihkan diri, kini keduanya sudah melangkah menuju meja makan dimana sang Nenek dan juga Adik mereka sudah menunggu.


"Wah akhirnya pengantin baru keluar juga" ucap Wulan menyindir dan membuat Nek Ani hanya menggeleng saja melihat tingkah dari cucunya itu.


"Sudahlah Sayang jangan kamu godain terus Kakak kamu tu" ucap Nek Ani memperingati sang Cucu


"Hehe iya Nek" jawab Wulan cengengesan.


"Yaudah ayo makan!. Bayiku sudah kelaparan ini" ucap Leny menepuk-nepuk perutnya dengan lembut.


Daniel menarik kursi untuk sang Istri dan duduk di sebelahnya. Seperti biasa Leny langsung melayani sang Suami untuk mengambilkan nasi dan lauk pauk yang di sukai Suami tercintanya itu.


Saat Daniel ingin menyulangkan sendok kedalam mulutnya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering dan ada pesan masuk dari orang yang meneleponnya pagi tadi.


Daniel penasaran dan membuka isi pesan tersebut "📨Temui aku nanti siang, aku akan menunggu kedatangan anda tuan📨" ( isi pesan tersebut)


Daniel menyunggingkan senyumnya dan meletakkan ponselnya di atas meja di sampingnya lalu memulai sarapannya kembali.


"Siapa?" tanya Leny menyelidik


"Biasa nomor-nomor gak jelas. Mereka mengirimkan pesan kalau aku menang lotre, entak kapan aku ikut undian" jawab Daniel santai dengan makanan yang penuh di mulutnya.


"Makan dulu!. Jangan berbicara sambil makan!" tegur Nek Ani, dan membuat pasangan itu langsung diam.


Lalu mereka berempat melanjutkan sarapan tanpa adanya obrolan dan hanya di temani suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring mereka.


Setelah selesai sarapan, Daniel duduk santai di teras rumah Nek Ani hanya sekedar menikmati secangkir kopi dan beberapa batang rokok favorit miliknya.


Ponselnya berdering lagi dan ada pesan masuk dari orang itu lagi "📨 Aku sangat menantikan kedatangan anda tuan Daniel!📨"


"Anak ini terlalu terobsesi!" gumam Daniel dan meletakkan ponselnya di atas meja lalu ia kembali menikmati kopi beserta rokoknya itu.


______________________________


Siang harinya Daniel bersiap-siap untuk pergi menemui seorang pria yang sudah menunggunya dari tadi pagi.


Setelah selesai menidurkan sang Istri, Daniel diam-diam pergi keluar tanpa sepengetahuan orang-orang yang berada dirumah sang Nenek agar tak timbul pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya bingung untuk menjawab pertanyaan itu nantinya.


Dengan santai Daniel mengendarai mobil mewah miliknya membelah jalan raya kota Bandung. Cuaca yang sedikit mendung menyelimuti kota Bandung saat ini.


"Semoga Istriku belum bangun" timpalnya


Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit lebih, akhirnya mobil mewah Daniel sudah sampai tujuan dan sudah terparkir rapih di depan gedung yang jauh dari kota. Gedung yang tak berpenghuni berada di dalam hutan yang tak pernah di lalui oleh orang-orang lain.


"Apa benar ini tempatnya?" gumam Daniel dan langsung keluar dari dalam mobil


"Benar sih" ucap Daniel melihat map yang ia dapatkan dari pria itu pagi tadi.


Daniel melangkahkan kakinya menuju ke dalam gedung yang terlihat kosong tanpa adanya orang, namun ada sebuah mobil Jeep yang terparkir tak jauh dari pintu utama gedung tersebut.


Dengan santai Daniel membuka pintu utama gedung itu. Saat pintu sudah terbuka, terdapat sosok lelaki yang seumuran dengannya tengah duduk santai membelakangi Daniel.


"Akhirnya sudah sampai" ucap pria itu memutar kursinya untuk menghadap ke arah Daniel.


Dua pasang mata bertemu dan saling bertatap selama beberapa menit. Terlihat mata yang begitu menakutkan dari pria yang tengah duduk di kursi yang sedang menatap Daniel tanpa berkedip sedikit pun, namun Daniel hanya menganggap tatapan itu tak berarti apa-apa baginya.


"Ada apa? jangan menatapku seperti itu!. Aku masih suka pada wanita" ucap Daniel memasukan salah satu tangannya kedalam saku.


"Oh maaf tuan" ucap pria itu berdiri


"Apa yang kau inginkan?, cepat! waktuku tak banyak" tanya Daniel santai tanpa rasa takut sedikitpun


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Tony, dan saya adalah pemimpin Rembulan Hijau di daerah ini" ucap pria yang bernama Tony itu.


"Lalu?, apa yang kau kamu?, balas dendam?" tanya Daniel santai seakan tak tertarik


"Hahaha, santai tuan santai. Saya juga tak terima dengan perlakuan tuan terhadap para Anak buah saya sewaktu di pasar kemaren siang" ucap Tony menatap Daniel dengan senyuman manis


Daniel menguap dan berkata dengan malas "Yaudah kalo ingin membalas dendam cepat kita selesaikan. Aku muak berada disini"


"Hahaha!. Apa tuan tak takut aku melakukan perbuatan licik?" ancam Tony


"Terserah!. Jika tak ada yang harus di bincangkan lagi!, aku akan pergi" ucap Daniel santai


"Anda seperti terlihat meremehkanku tuan" protes Tony sedikit emosi


"Kalau sudah tau! untuk apa di perjelas lagi!" jawab Daniel dengan malas


"Benar-benar sombong!. Tak pikir tempat untuk berlagak sombong ya!" ucap Tony tak terima


Tony menepuk tangannya beberapa kali, setelah itu keluar beberapa pria yang sekitar berjumlah 10 orang, dan tak lupa juga dengan tangan robot yang sudah terpasang pada tangan mereka semua.


Mereka langsung mengelilingi Daniel dan dengan pandangan yang penuh amarah menatap Daniel yang berada di dalam lingkaran mereka semua.


Tony tersenyum meremehkan dan berkata "Bagaimana?!, sudah takut?!"


Daniel menghela nafasnya dan memegangi jidatnya lalu berkata dengan santainya "Kau pikir aku takut?"


"Sudah mau mati saja masih sombong!" ucap salah satu pria yang berada dalam lingkaran itu


"Sayang sekali ini adalah tempat terakhir tuan Daniel bernafas" ucap Tony meremehkan


Daniel memasukkan kedua tangannya kedalam saku dan menatap Tony dengan senyuman penuh arti lalu berkata "Haha. Apa yang kau katakan?. Sebelum kalian mati!, sebaiknya hubungi dulu bos besar kalian untuk segera mengurus makam kalian semua, dan jangan lupa suruh dia siapkan uang kompensasi untuk keluarga kalian!"