
"Leny?" ucap wanita itu.
"Loh kok kamu bisa kenal padaku?" tanya Leny kebingungan.
"Ini aku Vinny, teman SD kamu. Masa lupa sih"
"Masya Allah. Aku sampai pangling loh" ucap Leny sedikit bingung karena melihat teman SD nya menggunakan hijab
"Hehe. Apa kabar?" tanya Vinny sembari memeluk Leny
"Baik, kamu gimana?" tanya Leny balik membalas pelukan dari Vinny.
"Alhamdulillah, aku juga baik kok" jawab Vinny.
Mereka terus berpelukan untuk melepaskan rasa rindu yang sudah lama tidak bertemu karena sebuah alasan. Sampai akhirnya Daniel mendehem untuk memberi tau kalau Daniel juga berada di sana. Sontak mereka berdua langsung melepaskan pelukannya setelah Daniel menegurnya.
"Oiya, kenalin ini Suami aku, dan ini putra kami" ucap Leny memeluk lengan Daniel
"Halo, aku Daniel" ucap Daniel hanya sedikit membungkuk karena tidak mau menyentuh Vinny yang merupakan bukan muhrimnya.
"Aku Vinny" jawab Vinny tersenyum mengikuti hal yang di lakukan oleh Daniel barusan
"Oiya. Kalau pria kecil yang tampan ini siapa namanya?" tanya Vinny sembari mengelus Damin dengan gemas.
"Damin Tante" jawab Leny tersenyum.
"Wah. Tampan banget sih anak kamu Leny" ucap Vinny semakin gemas dengan ke tampanan dari Daniel junior itu
"Tentu saja dong, liat dulu dong Ayahnya" sambung Daniel terkekeh.
"Hahaha. Ada-ada saja Suami kamu ini Leny" Vinny juga terkekeh.
"Udah ayo masuk dulu. Gak enak, kok ngobrol di luar" ajak Vinny mempersilahkan Leny dan sang suami untuk masuk kedalam rumah Vinny.
Leny dan Daniel mengikuti Vinny masuk kedalam rumah yang nampak lumayan mewah. Setelah berada di dalam, terlihat susunan yang begitu rapi dan tertata pada tempatnya.
"Kamu dari dulu memang selalu mementingkan kebersihan dan kerapian ya" ucap Leny sembari melihat sekeliling isi rumah milik Vinny.
"Udah kebiasaan dari kecil" jawab Vinny
"Ayo kalian duduk dulu, aku ambilkan minum dan beberapa cemilan dulu" timpal Vinny sambil menunjuk ke arah sebuah sofa.
"Aduh gak usah repot-repot, seperti sama orang lain saja" ucap Leny.
"Udah tidak apa-apa, hitung-hitung melepas rasa rindu kita" jawab Vinny tersenyum dan langsung bergegas ke dapur.
"Paman, Tante, Rere boleh gak main sama adiknya Paman dan Tante?" tanya Rere yang sedari tadi hanya melihat Damin yang terus memakan sebuah roti favoritnya.
"Boleh dong sayang" jawab Leny tersenyum sembari membelai kepala Rere.
"Damin main sama Kakak Rere dulu ya sayang" ucap Daniel sembari menurunkan Damin untuk duduk di depan Rere.
Terlihat Rere yang begitu bahagia saat bermain dengan Damin, ia juga begitu sangat menjaga Damin agar tidak terjatuh dari duduknya. Karena ia berfikir kalau Damin masih belum terlalu kuat untuk duduk sendirian.
Tak lama kemudian Vinny datang sambil membawa sebuah nampan yang berisikan 2 buah gelas dan beberapa cemilan yang berada di atasnya.
Pada saat melihat putrinya begitu bahagia bermain dengan Damin, Vinny tersenyum senang karena akhirnya putrinya sudah memiliki teman bermainnya.
"Rere sayang, di jaga dede bayinya ya. Jangan sampai jatuh" ucap Vinny sambil meletakkan nampan yang ia pegang di atas meja.
"Iya Mama" jawab Rere tersenyum manis.
"Oiya. Ngomong-ngomong, suami kamu kemana?, gak baik seperti ini kalau tidak ada suami kamu di rumah" tanya Daniel yang sadar kalau kehadirannya di tengah-tengah kedua wanita cantik itu terasa sangat tidak pantas, meski ia datang bersama istrinya.
"Papanya Rere tadi keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan rumah. Karena kami kan baru 5 hari pindah ke kompleks ini, jadi masih ada beberapa barang yang kurang" jawab Vinny menjelaskan.
Tiba-tiba seorang pria masuk kedalam dengan membawa beberapa kotak. Pria itu tidak lain adalah suami dari Vinny.
"Assalamualaikum" ucap pria itu sembari masuk membawa kotak yang lumayan tinggi.
"Wah ada tamu. Maaf ya, saya bawa barang ini ke belakang dulu" ucap pria itu dan langsung bergegas menuju dapur untuk meletakkan kotak-kotak yang ia bawa tadi.
Setelah semua barang bawaannya ia letakkan, pria itu langsung buru-buru mendatangi Daniel dan Leny yang berada di ruang tamu.
Sesampainya pria itu di tempat mereka, ia sedikit terkejut karena melihat Daniel yang ada di rumahnya. Pria itu seakan sangat mengenali sosok Daniel.
"Pak Daniel?" sapa pria itu.
"Pandu?" tanya Daniel mencoba memastikan.
"Loh, kalian sudah saling kenal?" tanya Vinny penasaran.
"Tentu saja Papa sangat kenal dengan tuan muda Daniel Ma. Beliau ini adalah Bos di kantor tempat Papa bekerja. Sosok Bos yang sangat baik." jawab sang suami menjelaskan.
"Jadi sosok Bos yang selama ini Papa ceritakan pada Mama, ternyata suami dari sahabat Mama sendiri?" tanya Vinny yang begitu tak menyangka.
"Tu kan, kamu selalu melebih-lebihkan Pandu" ucap Daniel seakan risih kalau selalu di puji oleh Pandu yang sangat menghormati sosok Daniel, karena Daniel begitu humble pada seluruh karyawannya termasuk pada Pandu.
"Bunda juga gak tau kalau suaminya Vinny itu salah satu karyawannya Ayah" ucap Leny sedikit terkejut.
"Pandu ini manager di kantor kita Honey. Kinerja dia sangat baik, dan merupakan manager yang jujur" jawab Daniel menjelaskan.
"Udah dong Pak, bapak jangan berkata seperti itu, saya jadi gak enak" ucap Pandu sedikit malu kalau Daniel selalu memujinya.
"Itu memang faktanya Pandu" ucap Daniel tersenyum.
"Udah dong. Ini kan bukan di kantor, kenapa malah membahas kantor coba?" sela Leny.
"Iya Buk Bos, maaf" ucap Pandu sedikit menunduk.
"Kok Buk Bos pula" tanya Leny sedikit risih dengan panggilan itu.
"Kan nona istri dari Pak Bos, jadi wajar dong saya panggil seperti itu" jawab Pandu menjelaskan.
"Gak perlu sampai seperti itu. Lagian ini bukan di kantor" ucap Leny menasehati.
"Panggil Leny saja, dan kalau suamiku, sebut Daniel saja. Gak usah pake kata Tuan atau Bos-bos segala, kan kita ini tetangga" timpal Leny.
"Baik, akan saya usahakan Buk Bos" jawab Pandu yang sedikit merasa canggung.
"Terserahmu lah Pandu, capek aku ngomong panjang lebar samamu" ucap Leny sedikit kesal.
"Hehe, Maaf-maaf" ucap pandu terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
Di sela-sela obrolan mereka yang penuh canda tawa, tiba-tiba ponsel Daniel berdering, dan obrolan mereka juga langsung terhenti sejenak karena suara ponsel Daniel yang menghentikan obrolan mereka.
"Kalian ngobrol saja dulu. Aku mau mengangkat telepon dulu" ucap Daniel sembari bangkit menuju keluar untuk mengangkat teleponnya.
Setelah berada di teras, Daniel langsung menekan icon hijau pada layar ponsel dan langsung menanyakan pokok bahasan yang sudah ia tunggu dari kemarin.
"Kenapa baru sekarang menghubungi ku?" tanya Daniel to the point.
"Maaf tuan, karena target juga baru saja mengubungi saya" jawab seseorang dari seberang telepon.
"Lalu bagaimana?" tanya Daniel.
"Dia akan datang 2 hari lagi. Karena hari ini dia berkata akan ada urusan dan membatalkan rencana untuk menemui saya pada hari ini" jawab pria itu menjelaskan.
"Bagus!. Terus lakukan tugasmu dengan baik dan jangan sampai dia menaruh curiga padamu. Berhati-hatilah, jaga dirimu dan juga istrimu dari orang gila seperti dia. Aku jauh tidak ada di dekat kalian, jadi aku tidak bisa melindungi kalian sepenuhnya jika terjadi apa-apa pada kalian. Jadi, kalian harus bisa menjaga diri sampai aku berada di sana" ucap Daniel menasehati.
"Iya tuan, terima kasih atas perhatiannya. Maaf sudah pernah membuat anda terkena masalah. Saya berjanji setelah masalah ini beres, saya akan terus bekerja sesuai perintah anda. Jadi, tolong izinkan saya dan istri saya berkerja di bawah perintah anda tuan" pinta pria tersebut.
"Masalah itu kita bahas nanti, setelah urusanku dengannya beres, dan kalian juga terkena masalah dengannya lagi" jawab Daniel.
"Kalau begitu cukup sampai di sini dulu. Terima kasih atas informasinya" timpal Daniel dan langsung menutup ponselnya dan langsung meletakkannya ke dalam saku celana lalu kembali ke dalam rumah milik Pandu.