
"Maaf ni tuan muda, wanita cantik yang berada di sebelah nona Wulan itu siapa ya?" tanya seorang pria yang tengah mengemudikan mobil.
"Dia itu istri dari tuan besar!" jawab Fauzi yang berada di sebelah kursi pengemudi
"Apa?!" ucap sang supir yang tiba-tiba menginjak rem dan sampai membuat kepala Fauzi terbentur bodi mobil itu
Fauzi di buat kesal dengan perlakuan dari sang supir yang tiba-tiba langsung menginjak pedal rem secara mendadak. Akibat perbuatannya yang sembarangan itu membuat jidat Fauzi sedikit memerah.
"Apa-apaan sih?! kenapa kau mengerem mendadak?!" protes Fauzi sedikit emosi
"Ma..maaf tuan, sa..saya hanya terkejut saja saat tau kalau ada nona besar di mobil ini" jawab sang supir merasa bersalah
"Maksud kamu aku?" tanya Leny menunjuk dirinya sendiri
"I..iya nyonya, suatu kehormatan besar bagi saya bisa mengantarkan nyonya" jawab sang supir tersebut
"Oh, kalau begitu terimakasih" ucap Leny tersenyum
"Tidak usah sungkan nyonya" jawab sang supir membalas senyuman Leny
"Udah jalan!. Kita udah gak ada waktu lagi" tegur Fauzi sembari memukul kepala bagian belakang milik supir tersebut
"Hehehe. Maaf tuan" jawab sang supir dengan senyuman cengengesan
Mobil mewah itu kembali melaju menuju ke tempat Alvin berada. Leny semakin khawatir dengan keadaan sang suami yang di rawat di salah satu rumah sakit di Indonesia. Perasaannya semakin gelisah karena mobil yang mereka kendarai tak kunjung sampai ke rumah sakit tempat si tangan ajaib itu berada.
"Masih lama lagi ya?" tanya Leny dengan wajah yang sangat gelisah
"Sebentar lagi sampai kok nyonya" jawab sang supir
"Oh iya. Mohon maaf sebelumnya, kenapa tiba-tiba tuan dan nyonya ingin bertemu dengan tuan Alvin?" tanya supir itu penasaran
"Kakakku sedang kritis" jawab Wulan yang sedari tadi hanya terdiam
Wajah sang supir menunjukkan ekspresi bahwa ia seakan tak percaya dengan apa yang di alami oleh tuan besarnya itu yang menurutnya adalah sosok pria yang sangat kuat dan tak terkalahkan.
"Ba.. bagaimana bisa tuan?" tanya supir itu lagi dengan raut wajahnya yang sudah mulai menunjukkan ekspresi kesedihan
"Panjang ceritanya. Sebaiknya kau lebih cepat menyetirnya" ucap Leny memberi perintah
"Baik nyonya" jawab sang supir dan mulai mempercepat laju mobilnya
Sekitar 20 menit mereka membelah jalanan kota Tokyo tersebut, akhirnya Leny dan yang lainnya sudah sampai di sebuah gedung besar dengan lantai yang begitu tinggi di depannya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Leny
"Sudah nyonya" jawab sang supir
tanpa menunggu sang supir yang berniat untuk membukakan pintu mobil untuknya, dengan buru-buru Leny langsung keluar dan sedikit berlari menuju gedung besar nan tinggi itu.
Fauzi, Kevin, dan Wulan juga tak bisa tinggal diam. Mereka bertiga juga langsung pergi menyusul sang kakak yang sudah pergi menuju gedung itu lebih dulu.
"Kak tunggu kak" panggil Wulan yang sedikit berteriak karena jarak mereka yang agak berjauhan
Leny tak menghiraukan panggilan sang adik, justru ia langsung menuju masuk menerobos pintu utama rumah sakit tersebut tanpa memperdulikan kedua orang penjaga keamanan yang memberikan sebuah senyuman ramah terhadapnya. Fauzi dan Kevin hanya menggeleng saja melihat tingkah dari sang kakak yang terlihat sangat terburu-buru itu.
Sesampainya Leny di depan meja resepsionis rumah sakit itu. Ia langsung menanyakan kepada kedua suster yang tengah menjaga meja resepsionis tersebut tentang keberadaan sang tangan ajaib berada.
"Yes, that's right, Miss. Is there anything we can help with?"(Ya benar, nona. Ada yang bisa kami bantu? ) tanya salah satu resepsionis wanita tersebut
"I want to meet him" ( Saya ingin bertemu dengan dia ) jawab Leny
"Sorry, did you make an appointment beforehand?" ( Maaf, apakah Anda membuat janji sebelumnya? ) tanya salah satu resepsionis tersebut
"not yet" ( belum ) jawab Leny
"Sorry, if you haven't made an appointment, we can't meet you with him" ( Maaf, jika nona belum membuat janji, kami tidak dapat mempertemukan Anda beliau )
"Please, meet me with him. This is very important" (Tolong, pertemukan aku dengannya. Ini sangat penting) pinta Leny memohon.
"I'm sorry miss. This has become a rule of our hospital" ( mohon maaf nona. Ini sudah menjadi peraturan rumah sakit kami) jawab sang resepsionis dengan sopan
Karena merasa sedikit kesal, Leny terus menerus memaksa kedua resepsionis itu sampai membuat sedikit keributan. Merasa sudah mengganggu, kedua resepsionis itu langsung memencet sebuah tombol, dan tak lama kemudian kedua orang pria yang menggunakan baju hitam mendatangi mereka.
Kedua resepsionis itu menjelaskan bahwa wanita cantik yang berada di depan mereka sudah membuat sebuah keributan di tempat mereka bekerja dan meminta kedua satpam itu untuk segera meminta Leny untuk keluar dari tempat mereka bekerja.
Leny yang merasa tak terima, malah memberontak dan membuat kedua petugas keamanan itu sedikit kesal melihat perlakuan Leny yang semakin memperkeruh suasana di rumah sakit tersebut.
Fauzi, Kevin, Wulan yang melihat kalau sang kakak dalam masalah pun langsung buru-buru mendatangi mereka, kemudian ketiga adiknya Leny langsung melerai mereka.
Terjadi sebuah perdebatan antara Fauzi dan kedua petugas keamanan tersebut. Perdebatan antara mereka sampai menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit tersebut.
"Ada apa ini? kenapa kalian berbuat kasar terhadap Kakakku" tanya Fauzi ( berbahasa Jepang)
"Mohon maaf tuan. Tapi kakak anda membuat keributan disini" jawab salah satu petugas keamanan tersebut ( berbahasa Jepang )
Leny yang memang tidak begitu paham dalam berbahasa Jepang, ia justru hanya melongo melihat percakapan antara adiknya dengan kedua pria berpakaian hitam tersebut.
"Maaf tuan dan nona. Yang dikatakan kedua bapak ini benar, kakak anda sudah membuat ketidaknyamanan di tempat ini" potong salah satu resepsionis tersebut ( berbahasa Jepang )
Wulan yang sedari tadi hanya diam ikut terbawa emosi karena mendengar ucapan mereka yang seakan menjelekkan kakaknya itu.
"Tolong kalian jaga lisan kalian!" tegur Wulan dengan nada yang sedikit meninggi ( berbahasa Jepang )
Leny hanya mengkerut kan keningnya saja sembari menyimak pertikaian antara adiknya dengan para pekerja di rumah sakit tersebut. Ia juga merasa kalau pertikaian antara mereka semakin besar meskipun ia tak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan.
"Kevin, ada apa sih?. Mereka berbicara apa?" tanya Leny dengan sedikit berbisik-bisik
"Mereka berkata kalau kakak sudah membuat keributan di rumah sakit ini, mereka merasa terganggu. Kemudian Wulan dan Fauzi merasa tak terima dengan perkataan mereka" jawab Kevin menjelaskan sedangkan Leny hanya mengangguk mengerti.
Merasa semakin kesal, kemudian Fauzi mengeluarkan sebuah kartu yang terselip pada salah satu kantong dompetnya dan langsung menunjukkan ke depan mata dari kedua petugas keamanan itu. Kartu Itu sukses membuat kedua petugas keamanan tersebut langsung terdiam tak berkata apa-apa lagi. Kemudian kedua petugas keamanan itu hanya menunduk saja, seakan takut dan menyesal karena sudah membuat mereka tersinggung.
"Apa kalian sudah paham?" tanya Fauzi dengan nada dinginnya ( berbahasa Jepang )
Sedangkan keempat pekerja rumah sakit tersebut hanya terdiam dan sudah berubah menjadi ketakutan saat mengetahui identitas dari mereka.
"Apa kalian tidak tau siapa wanita yang kalian katakan pengganggu itu?" tanya Wulan menambahkan ( Berbahasa Jepang )
Kedua resepsionis itu sedikit mengangkat kepalanya dan sedikit menatap kearah Wulan, kemudian mereka berdua menggeleng lalu menundukkan kepalanya lagi.
"Dia itu istri dari pemimpin Dark Shadow!" timpal Wulan sedikit berbisik pada keempat orang tersebut dan membuat mereka berempat langsung terkejut bercampur rasa takut yang menyelimuti diri mereka.