
Dion terus berusaha berjalan menuju ke toilet dengan tenaga yang tersisa pada tubuhnya. Rasa khawatir pada keadaan sang istri mengalahkan rasa sakit pada tubuhnya yang mengalami luka.
Dion semakin risau saat daun telinganya mendengar Ayu yang terus muntah-muntah tanpa henti. Membuat Dion semakin memaksa langkah kakinya.
"Sa...sayang" lirih Dion sambil terus berjalan dengan paksa.
Dion melihat istrinya tengah muntah-muntah di toilet dari balik pintu. Rasa sedih dalam hatinya terlukis pada wajahnya.
"Sa...sayang?" panggil Dion dengan wajah sedihnya. Akan tetapi Ayu tak menghiraukan karena ia terus saja muntah-muntah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Dion penuh rasa khawatir, dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Ayu sambil terus muntah-muntah.
Sedangkan mereka yang berada di luar tepatnya di depan ruangan Dion terlihat rasa risau pada diri mereka terutama pada Rani yang begitu khawatir karena kedua putranya sedang mengalami luka dan Ayu yang tengah memeriksa keadaan Dion tak kunjung keluar dari ruangan tempat dimana Dion di rawat.
Tak lama kemudian Leny menghampiri mereka dengan wajah senang tanpa adanya ekspresi sedih terlukis di wajah cantiknya.
"Apa suami kamu baik-baik saja sayang?" tanya Ibu Rani setelah Leny mendekati dirinya.
"Baik kok Bu. Alvin hanya mengatakan kalau Ayahnya Damin hanya butuh istirahat saja karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatannya, selebihnya sudah aman" jawab Leny tersenyum.
"Syukurlah" ucap Ibu Rani namun dengan wajah yang nampak masih sedih.
"Ada apa dengan Ibu?, Ibu terlihat sedang risau?. Apa Dion baik-baik saja?" tanya Leny khawatir yang melihat wajah sang mertua seperti itu.
"Ibu juga tak tau sayang. Karena Ayu yang langsung memeriksa keadaan suaminya, namun sampai saat ini dia belum keluar dari dalam ruangan itu. Bahkan sudah satu jam lebih" jawab Ibu Rani khawatir.
"Ibu takut terjadi apa-apa pada Dion dan Ayu menjadi syok" timpalnya risau.
"Ibu tenang saja, Leny yakin Dion baik-baik saja kok. Mungkin mereka berdua sedang bermesraan di dalam sana" ucap Leny tersenyum agar sang mertua bisa berfikir positif.
"Tapi hati kecil Ibu tidak berkata seperti itu sayang, Ibu benar-benar sangat khawatir" jawab Ibu Rani.
"Yaudah. Kalau Ibu merasa seperti itu, Leny akan memeriksa keadaan mereka di dalam" ucap Leny dengan lembut.
"Tolong ya sayang" ucap Ibu Rani dengan tatapan memohon.
"Iya Ibuku sayang" jawab Leny tersenyum dan langsung berjalan menuju ke ruangan Dion berada.
"Tok...Tok... Tok..." Leny mengetuk pintu secara berulang kali namun tidak ada jawaban dari keduanya.
"Dion, Ayu..." Leny terus mencoba memanggil mereka namun hanya ada keheningan saja.
"Kalau kalian tidak menjawab, aku bakal masuk ni" ucap Leny dan masih saja tidak ada jawaban dari mereka berdua.
Karena merasa sedikit risau, dengan wajah panik Leny langsung membuka handle pintu pada ruangan itu dan ketika ia masuk kedalam, kedua bola matanya tak melihat satupun orang yang berada di ranjang. Ia hanya mendengar suara orang sedang muntah-muntah yang berasal dari arah toilet.
"Siapa yang sedang muntah-muntah?" gumam Leny bertanya.
Dia mempercepat langkahnya berjalan menuju ke arah toilet. Setibanya ia di sana, matanya langsung terbelak saat melihat Dion yang tengah bersandar pada pintu toilet dan Leny semakin mendekati arah toilet.
"Ada apa?, kenapa kamu malah berada di sini?" tanya Leny khawatir dan belum menatap ke dalam toilet.
"I..istriku Kak" jawab Dion sambil menunjuk ke arah depan dan Leny mengikuti arah dari jarinya Dion.
"Apa kamu ada salah makan pagi tadi?" tanya Leny lagi.
"Tidak Kakak ipar, aku memakan yang biasa kita makan pagi tadi" jawab Ayu menyeka bibirnya yang basah karena sehabis muntah-muntah.
"Apa istriku baik-baik saja Kak?" tanya Dion khawatir.
Leny belum menjawab pertanyaan dari Dion, ia terus memperhatikan Ayu yang terus saja muntah-muntah, namun tidak ada yang keluar dari dalam perutnya. Kemudian ia teringat pada saat mengandung Damin karena apa yang di rasakan oleh Ayu, sama persis dengan apa yang ia rasakan waktu itu.
"Waaaaaahhhhh!!!!. Sepertinya sebentar lagi kalian berdua akan menjadi orang tua" ucap Leny kegirangan.
"Ma...maksud kamu?" tanya Ayu kebingungan.
"A...apa yang Kakak katakan?" sambung Dion bertanya.
"Kemungkinan istri tengah mengandung" jawab Leny tersenyum menjelaskan.
"Hamil?" tanya Dion dan Ayu secara bersamaan. Leny hanya mengangguk sambil tersenyum saja.
"Tapi ini masih tebakan aku saja ya. Kita harus memastikannya lagi" ucap Leny.
Ayu menunduk sambil mengelus perutnya yang masih rata. Lalu tiba-tiba air matanya menetes lagi membuat Leny dan Dion menjadi kebingungan.
"Kamu kenapa?, kok malah sedih?" tanya Leny mengelus pundak Ayu.
"Sayang, kamu kenapa?, apa ada yang sakit?" sambung Dion bertanya dengan raut wajah yang khawatir.
"Aku senang jika memang di dalam rahimku ini ada janin. Tapi aku sedih. Di saat aku sedang mengandung, suamiku harus di rawat di tempat ini dan tidak bisa menjaga kami" jawab Ayu menangis senggugukan.
"Sayang, aku hanya mengalami luka ringan saja, dan tidak perlu harus sampai menginap di sini" sela Dion memotong.
"Sebentar lagi luka ini juga bakal sembuh kok, dan kita akan menjaga calon bayi kita bersama-sama" timpalnya berjongkok sambil mengelus kedua pipi Ayu.
"Bener?, kamu gak bakal terluka seperti ini lagi?, dan kita berdua akan menjaga calon bayi kita?" tanya Ayu sendu.
"Iya istriku, aku berjanji akan selalu ada dan tidak akan mengalami luka lagi. Ini yang terakhir kalinya" jawab Dion yakin.
Dion mengelus kedua pipi Ayu kemudian ia mencium keningnya dan mereka berdua langsung berpelukan. Sedangkan Leny hanya menatap mereka dengan tatapan iri karena suaminya masih berada di ruangan UGD dan sedang tertidur pulas.
"Apa aku kalian anggap sebagai seekor nyamuk?" tegur Leny sedikit kesal dan mereka berdua langsung melepaskan pelukannya lalu saling cengengesan.
"Kami tidak menganggap Kakak seperti itu. Tapi kami menganggap kalau Kakak itu seperti seekor singa betina yang sangat menyeramkan" jawab Dion dan ia tertawa bersama Ayu. Sedangkan Leny merasa sedikit jengkel karena ejekan dari Adik iparnya itu.
"Jadi, kamu ingin merasakan terkaman dari singa betina yang kejam ini?" tanya Leny geram.
"Ti...tidak Kak, ampun, ampun" jawab Dion ketakutan dan terkekeh.
"Arrkkkhhh, sial! punggungku!" ucap Dion kesaksian karena tiba-tiba mengalami nyeri pada punggungnya.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, aku akan menyuruh dokter untuk mengobati mu, dan aku akan meminta Alvin untuk memastikan kalau istri kamu benar-benar hamil atau hanya ada sebuah lemak saja di dalam perutnya" ucap Leny membantuk Dion bangkit dan Ayu juga langsung ikut membantu untuk menggandeng suaminya menuju ke ranjang.