Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERASAAN ANEH


Silvia menjaga Ronny sudah lebih dari satu Minggu, dan mereka juga sudah seringkali meributkan hal yang tak penting sama sekali.


Kondisi Ronny juga semakin lama semakin membaik, dan membuat Daniel sangat senang akan keadaan dari pria yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


Hari ini Ronny sudah bisa pulang dan Silvia juga masih membantunya dengan alasan untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sampai tuntas.


"Aku sudah sembuh, kamu tidak perlu merawatku lagi" ucap Ronny sambil membereskan barang-barangnya


"Aku hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabku saja" jawab Silvia membantu mengemasi barang-barang milik Ronny.


"Kalau begitu terimakasih" ucap Ronny


"Hem" balas Silvia yang fokus merapikan tas milik Ronny


"Kalau di lihat-lihat, wanita ini baik juga, tapi sayangnya dia terlalu terobsesi pada Daniel" batin Ronny


"Jika kau jadi kekasihku, aku akan menjagamu dengan baik" batinnya lagi


"Astaga!, apa yang aku pikirkan?!. Bodoh kau Ronny" gumam Ronny menggelengkan kepalanya agar tersadar akan pikiran anehnya


"Kamu kenapa?" tanya Silvia yang bingung melihat ekspresi wajah Ronny yang sangat aneh.


"Ah, ti..tidak ada" jawab Ronny menjadi gugup


"Dasar cowok aneh!" cetus Silvia mengancingkan ransel milik Ronny


Saat Silvia ingin melangkah kedepan untuk memberikan ransel milik Ronny, tiba-tiba kakinya tersalip pada kakinya sendiri sehingga membuatnya tersandung dan terjatuh. Karena refleks Ronny yang sangat cepat, Ronny langsung bergerak dan menangkap tubuh Silvia yang akan terjatuh sampai ke pelukannya.


Dua pasang mata saling bertemu selama sekitar satu menit, mata mereka saling pandang dan timbul perasaan yang sangat aneh dari pria dan wanita itu. Wajah mereka sama-sama memerah dan jantung keduanya berdetak tak karuan.


"Ada apa ini?!, apa mungkin aku suka pada pria aneh ini?!" batin Silvia yang menatap Ronny tanpa berkedip


"Kenapa jantungku berdetak tak karuan begini?, apa yang terjadi?, apa mungkin aku jatuh hati pada wanita ini?" batin Ronny terus menatap mata Silvia.


Adegan itu juga sampai di tonton oleh kedua pasangan Daniel dan juga Dion. Ayu dan juga Leny merasa senang melihat Ronny dan Silvia berpelukan seperti itu, mereka berpikir kalau Ronny dan Silvia akan berjodoh, jadi Leny tak perlu merasa khawatir kalau Silvia akan mengejar Suaminya lagi.


"Selamat ya Ronny" ucap Daniel mengagetkan Ronny dan Silvia yang saling pandang dalam pelukan


Silvia dan Ronny terkejut sehingga membuat Silvia mendorong paksa pria yang sudah menyelamatkan dirinya tadi sampai membuat Ronny mundur beberapa langkah.


"A..apa yang kamu lakukan dasar cowok aneh!" ucap Silvia dengan emosi namun wajahnya memerah menahan malu


"Ma..maaf, aku juga tak tau!. Tiba-tiba tubuhku bergerak dengan sendirinya" jawab Ronny tak kalah gugupnya


"Ala, dasar modus!" celetus Silvia menyilangkan kedua tangannya dan menyebikkan bibirnya


"Idih!. Untuk apa aku modus sama wanita gila seperti kamu" jawab Ronny tak kalah ketusnya


"Apa yang kamu katakan tadi?!" tanya Silvia melototi Ronny


"Selain gila ternyata kau tuli juga ya" ucap Ronny ikut melototi Silvia


keduanya saling memicingkan mata dan pandangan mereka semakin mendekati kemudian mereka membuang muka masing-masing seakan saling membenci.


"Ehkem-ehkem!. Awas jangan benci-benci banget, entar jadi saling cinta loh" tegur Leny menggoda


"Hahaha bener itu" ucap Ayu ikut menggoda mereka


"Tidak akan!" jawab Silvia dan Ronny bersamaan


"Hahaha, tu kan bener!" goda Leny lagi.


"Nona jangan begitu dong, ya kali aku bisa jatuh cinta pada wanita gila itu" ucap Ronny dengan wajah memelasnya


"Ih!. Sorry lah ya, aku juga tak mungkin suka pada cowok aneh sepertimu" cetus Silvia memalingkan wajahnya


"Udah-udah!. Pasangan gila dan aneh jangan ribut lagi!. Ingat ini rumah sakit, bukan pasar malam" tegur Daniel ikut menggoda mereka


"Enak aja!. Meski aku harus mencintai pria lain, lebih baik aku tidak memilih pria aneh itu!." ucap Silvia tak terima


"Hey!. Aku juga tak mungkin akan menikahi wanita gila sepertimu!" cetus Ronny


"Bagus dong!. Aku juga tak akan menerima lamaran darimu!" balas Silvia tak kalah ketusnya


Daniel memegang pelipisnya dan menggelengkan kepalanya lalu berkata "Haduh sampai kapan perdebatan ini akan berakhir!"


Daniel sampai dibuat stress oleh Ronny dan Silvia yang meributkan hal yang sama sekali tidak penting menurutnya. Dia juga tak bisa melerai keduanya karena itu akan membuat kesenangan dari Istrinya menghilang.


"Oh iya, untuk merayakan kesembuhan dari Ronny. Bagaimana kita ke sebuah pantai aja!" ucap Daniel memberikan usul agar mengalihkan perdebatan diantara Ronny dan Silvia


"Setuju!" ucap Leny dan Ayu semangat menaikkan tangannya.


"Dan Silvia harus ikut!. Karena dia harus menjaga Ronny. Takutnya nanti luka Ronny akan kambuh lagi" ucap Leny mencari alasan


"Tidak mau!" ucap Ronny dan Silvia berbarengan lagi.


"Kalian harus ikut!" ucap Leny menatap Ronny dan Silvia seperti seekor elang yang ingin menyambar mangsanya, sehingga membuat yang di tatap menjadi ketakutan


"Apun dah ni ibu hamil!. Serem banget" batin Ronny bergidik ngerih


"Ternyata Istri Daniel sangat mengerikan jika marah seperti itu. Aku jadi takut untuk mendekati Daniel lagi" batin Silvia menelan ludahnya


"Bagaimana? mau ikut atau tidak?!" tanya Leny sekali lagi dan mereka berdua hanya menurut seperti terkena hipnotis oleh pesulap profesional.


"Bagus!. Jangan buat aku naik darah lagi!" ucap Leny tersenyum senang dan membuat mereka bisa bernafas lega


________________________


Dihari Minggu, mereka semua akan berangkat ke sebuah pantai terdekat karena mengingat usia kandungan Leny yang sudah tak muda lagi. Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke pantai Ancol agar tak terjadi apa-apa pada kandungan Leny nantinya.


"Maaf ya Honey, kita tidak bisa pergi jauh karena aku tak ingin kamu dan bayi kita sampai kenapa-kenapa" ucap Daniel sembari fokus menyetir


Leny menyenderkan kepalanya pada pundak Daniel dan berkata "Apa yang kamu pikirkan Suamiku?!. Tidak masalah bagiku pergi kemanapun asalkan ada kamu di sampingku"


Daniel tersenyum dan mengelus kepala Istrinya yang semakin hari semakin manja terhadapnya.


Ehkem-ehkem!. Ingat ada kita berdua di belakang kalian!" tegur Kevin yang tengah duduk di kursi belakang bersama dengan Wulan


"Kalau kamu ingin seperti ini, minta dong sama kucing kecilnya kamu itu dong!" goda Leny


"Apaan sih Kak?!" protes Wulan dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu


Kevin menatap Wulan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, senyuman manis dari wajah Kevin membuat Wulan semakin gugup dan membuat bulu kuduknya berdiri karena merinding melihat wajah dari Kevin.


"Ga..gak usah berfikir yang aneh-aneh deh capung!. ku tampol kamu nanti!" ancam Wulan menaikan tangannya membentuk sebuah tinjuan.


"Ih galak banget sih kucing kecilku ini" ucap Kevin gemas dan mencubit pipi Wulan sehingga membuat wajah milik Wulan menjadi semakin merah karena malu. Sedangkan Daniel dan Leny hanya tersenyum saja melihat pasangan yang saling cinta itu.


Setelah keributan yang dibuat oleh Kevin dan Wulan selesai, kini sudah tak ada lagi obrolan di antara mereka. Leny juga hanya bergulat manja pada Suami tercintanya itu. Mata Wulan lama kelamaan menjadi semakin berat, dan beberapa kali ia juga menguap karena menahan kantuknya yang semakin lama semakin berat.


Tiba-tiba Wulan menjatuhkan kepalanya pada pundak Kevin dan membuat Kevin sedikit terkejut karena Wulan yang tiba-tiba langsung bersandar padanya.


Kevin tersenyum dan berkata "tidurlah, aku akan menjagamu" Kevin tersenyum manis


Wulan menatap Kevin dan berkata dengan lirih "Awas kalau sampai mencuri kesempatan"


Kevin merangkul tubuh Wulan agar kepalanya semakin nyaman berada di pundak si capungnya itu, dan dengan senang hati Wulan semakin mendekati kepalanya sehingga kepalanya sampai menyentuh dagu dari Kevin.


Kevin mengelus kepala Wulan dan mencium pucuk kepala Wulan lalu berkata "Tidurlah yang nyenyak kucing kecilku"


Wulan tersenyum dalam pelukannya Kevin, ada perasaan senang dalam dirinya mendapatkan perlakuan romantis yang sederhana dari capungnya itu, lalu secara perlahan dia mulai menutup matanya dan sudah mulai memasuki mimpi indahnya.