Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
AKAN KUCARI WALAU DI NERAKA


Daniel semakin emosi mendengar perkataan yang di sampaikan oleh mainannya barusan. Bahkan karena terlalu marah, sampai-sampai ia mengeluarkan seluruh auranya dan membuat area sekitar menjadi berat dan semakin panas.


"Kak, kendalikan emosimu, tolong ingat kami yang di sini" rintih Fauzi mencoba menenangkan Daniel yang semakin tak terkendali.


"Daniel, jangan begini, kami tak sanggup menahan beban dari auramu" timpal Rian


Wulan yang sedang berada di rumah bersama Leny juga sampai merasakan aura milik sang kakak.


"Ada apa ini?, mengapa kak Daniel sampai mengeluarkan seluruh auranya?" batin Wulan termenung


"Ada apa dek?" tanya Leny karena melihat sang adik tiba-tiba termenung


"Dek, adek?!" ucap Leny mengibas-ngibaskan tangannya di depan mata Wulan


"Ah!, tak apa kak" jawab Wulan terbuyar dari lamunannya


Leo yang sedang bersantai di teras rumah dengan secangkir kopi dan tak lupa juga di temani oleh istri tercinta. Ia juga sampai merasakan kalau ada yang tidak beres dengan anak angkatnya itu.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Rani melihat Leo yang tiba-tiba menunda menyeruput kopinya.


"Putra kita Bu, sepertinya dia sedang dalam masalah" jawab Leo khawatir


"Maksud Ayah siapa?, Daniel? Dion?" Rani menjadi panik


Leo menghela nafasnya dan berkata "Daniel Bu, dia sampai mengeluarkan seluruh auranya. Ayah takut sedang terjadi apa-apa pada Leny atau Wulan, sehingga membuat putra kita marah besar sampai mengeluarkan seluruh auranya".


"Ayah jangan membuat Ibu takut" ucap Rani semakin takut


"Sebaiknya Ibu hubungi Leny" pinta Leo


Dengan sigap Rani langsung mencari kontak dan menelpon nomor telepon yang bertuliskan menantuku..


"Halo Ibu?"


"Syukurlah" gumam Rani


"Bu?"


"Eh iya sayang, gimana kabar kamu sayang?" tanya Rani


"Baik kok Bu" jawab Leny


"Wulan dimana sayang?" Rani mencari keberadaan putri tercintanya


"Ini ada di samping Leny Bu"


"Syukur deh kalian baik-baik saja sayang" ucap Rani


"tumben Ibu menelepon ni, ada apa?" tanya Leny menggoda


"Memangnya Ibu gak boleh gitu rindu sama menantu dan putri kesayangan Ibu?" tanya Rani pura-pura ngambek


"Hehe. Boleh kok Bu, Kami di sini juga rindu pada Ibu dan Ayah" jawab Leny


"Yaudah, nanti malam Ayah dan Ibu akan berkunjung ke sana sayang" ucap Rani


"Wah, beneran Bu?!" tanya Leny bahagia


"Tentu saja sayang" jawab Rani yakin


"Baiklah Bu, nanti Leny akan memberitahu Daniel" ucap Leny bersemangat


"Loh kemana anak nakal itu?" tanya Rani menyelidiki


Leny menghela nafasnya dan menjawab "Tadi dia izin ingin ziarah ke makam kedua orangtuanya dan Nenek. Dia tadi pergi bareng Dion, tapi sampai sekarang belum juga kembali" jawab Leny sedih


"Hmm. Yaudah nanti Ibu bakal kasih hukuman pada dua lelaki nakal itu, berani sekali dia membuat menantu Ibu bersedih" ucap Rani geram


"Hehe, terimakasih Ibuku sayang" jawab Leny tersenyum


"Yaudah Ibu tutup dulu teleponnya ya sayang" ucap Rani


"Iya Ibu" jawab Leny


Tut.. Tut.. Tut..


"Fuuhhh. Syukur mereka baik-baik saja sayang" ucap Rani tenang karena mendengar kabar kalau menantu dan putri kesayangan baik-baik saja, dan hanya di balas dengan anggukan oleh Leo.


Didalam markas....


Daniel masih tetap emosi dan auranya semakin lama semakin meningkat. Membuat Fauzi dan Rian sampai menelan ludahnya karena terlalu takut melihat Daniel sampai semarah itu setelah mendengar nama Petir Hitam.


"Kak.. jangan buat kami mati konyol karena auramu yang semakin berat dan panas ini" protes Fauzi


Bahkan Gaon sampai ketakutan melihat tuannya sampai sebegitu marahnya. Gaon tidak berani mendekati Daniel dan dia hanya terduduk sambil mendengkur dengan suara seperti terancam bahaya.


Fauzi memberanikan dirinya dan memukul Daniel agar dia tersadar kalau masih ada orang dan juga hewan kesayangannya di tempat itu.


"BRUGKKKHH "


Benar saja, pukulan Fauzi membuat Daniel langsung tersadar dari amarahnya, dan perlahan-lahan auranya menurut dan mulai normal.


Daniel mengatur nafasnya dan menatap Rian, Fauzi, serta Gaon hewan kesayangannya itu. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya melihat Gaon sampai ketakutan melihat tuannya saat emosi tadi.


Daniel memanggil Gaon dengan lembut, dan sontak Gaon langsung mendekati sang tuannya.


"Maaf ya kawan, aku tidak sadar dengan emosiku, dan sampai membuatmu ketakutan" ucap Daniel menggelitik dagu Gaon dan di balas dengan jilatan dari lidah besar sang singa raksasa itu.


"Ada apa Kak?, mengapa Kakak sampai semarah itu?" tanya Fauzi pada Daniel yang tengah asyik bermain dengan Gaon.


Daniel berhenti menggelitik Gaon dan menjawab pertanyaan dari Fauzi "Petir Hitam dan terutama Eko Purnomo Suryono. Dia yang telah membuat kedua orangtua kandungku dan Kakek meninggal dunia"


"Apa?!, jadi tuan dan nyonya besar meninggal bukan karena murni kecelakaan?" tanya Rian terkejut


Daniel menggeleng dan menjawab dengan datar


"Bukan kak. Memang Papa dan Mamaku meninggal karena kecelakaan, tapi di sabotase oleh Eko itu"


"Kurang ajar!, dasar bajingan!" ucap Fauzi geram mengepal tangannya


"Aku akan mencarinya sampai dapat, walau harus ke neraka sekalipun" ucap Daniel datar namun dengan tatapan membunuh melihat bangkai lelaki yang telah di makan Gaon tadi


"Kami akan ikut Kak" ucap Fauzi geram


"Iya tentu saja, aku akan ikut" timpal Rian sama ikut geram


"Terimakasih kalian selalu mau membantuku" ucap Daniel tersenyum manis


"Tentu saja. Kau itu Kakakku, dan aku juga akan marah karena mereka yang membuat kedua orangtua Kakak meninggal" jawab Fauzi menepuk pundak Daniel.


"Terimakasih Kak, Zi, kalian memang Kakak dan Adikku yang berharga" ucap Daniel terharu.


Di sebuah cafe Dion dan Ayu tengah asyik menikmati makan siang mereka dengan hangat dan penuh cinta di antara mereka berdua.


"Tadi kamu kok bisa bareng Daniel?, memangnya kalian habis darimana?" tanya Ayu memulai obrolan


"Kami tadi habis ziarah ke makam kedua orangtua kami dan Nenek" jawab Dion meminum airnya


"Sebenarnya sih tadi aku berniat ingin membelikan perlengkapan bayi untuk anak Kak Daniel, tapi gagal karena ada masalah sedikit" ucap Dion kesal mengingat masalah tadi pagi


"Masalah apa?" tanya Ayu penasaran


"Saat kami sampai di depan pintu mall, aku hampir tertembak, kalau bukan karena Kak Daniel yang menarikku, mungkin aku akan tewas" jawab Dion kesal


"Apa?!, terus kamu tidak kenapa-kenapa kan?, mana yang sakit?, apa perlu aku periksa?" tanya Ayu panik mengecek tubuh Dion, dan membuat Dion terkekeh karena Ayu yang begitu perhatian padanya.


"Haha. Aku tidak apa-apa Buk Dokter cantik, kan tadi aku bilang aku di tarik oleh Kakakku. Jadi peluru itu meleset dan mengenai pintu mall itu" jawab Dion menenangkan Ayu.


Drrt.. Drrt.. Drrt.. (Handphone milik Dion tiba-tiba bergetar)


"Hallo Bu?" jawab Dion


"Kamu dimana sayang?" tanya Rani


"Aku sedang di cafe bersama Ayu" jawab Daniel


"Dimana Kakakmu?" tanya Rani mencari keberadaan anak tampannya yang satu lagi.


"Aaa.. hmm, di.. di" Dion bingung harus mencari alasan untuk keberadaan sang Kakak


"Dimana sayang?!, jangan coba-coba bohong sama Ibumu ini ya" ancam Rani


"Tadi Kakak bilang ada urusan di kantor, setelah mengantarkan aku ke rumah sakit tempat Ayu bekerja Bu" ucap Dion berbohong


"Bener? awas kalau kamu bohong ya sayang!" ancam Rani lagi


"Beneran Ibuku sayang" jawab Dion meyakinkan sang Ibu


"Yaudah bagus deh sayang. Oh iya nanti malam Ayah dan Ibu akan kerumah Kakakmu, kamu harus datang, dan jangan lupa ajak Anita dan Yoga, Calon menantu Ibu juga" ucap Rani seperti memerintah


"Siap Ibuku sayang" jawab Dion tersenyum dan menutup telponnya.


"Ibu meminta kita kerumah Kak Daniel nanti malam" jawab Dion melihat wajah penasaran dari Dokter cantiknya itu.