Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
KITA INI KELUARGA


Sebelum pergi dari kantor milik William, Daniel beranjak ke toilet untuk membuka silikon yang menutupi wajah aslinya agar orang-orang tidak mengenali pria yang masuk ke dalam ruangan William tadi.


Di dalam toilet, Daniel termenung menatap kaca yang ada di depannya. Ia memikirkan tentang keluarganya yang pasti akan menjadi target utama penyerangan William nantinya.


Daniel mengepalkan tangannya dan menatap dirinya dengan wajah geram melalu pantulan cermin.


"Apa aku sudah terlalu lemah sekarang?!. Apa terlalu lunak?" gumamnya bertanya-tanya.


"Bahkan bocah kemarin sore sampai berani mencari masalah denganku!" timpalnya.


Daniel menghela nafasnya lalu ia mengambil ponselnya dari dalam saku, kemudian ia menghubungi para bawahannya, bahkan ia meminta pada para kelompok lain untuk ikut serta dalam rapat kali ini.


Daniel sudah mulai kehabisan kesabaran menghadapi pria pemilik gedung tersebut. Ia berpikir, jika harus berperang, maka semua musuhnya harus musnah dan tak akan ia biarkan satupun yang hidup.


Setelah selesai memberi tau para bawahannya, Daniel langsung membuka silikon yang menempel di wajahnya lalu ia mencuci mukanya agar terlihat lebih segar dan pikirannya menjadi tenang sebelum ia pergi meninggalkan gedung milik William.


Ayah satu anak itu membersihkan semua tanda-tanda benda yang ia gunakan tadi agar tidak ada orang yang curiga dengan apa yang ia lakukan tadi. Ia menyimpan semua barang-barang yang ia kenakan ketika bertemu dengan William, lalu ia keluar dari dalam toilet tanpa ada yang curiga sedikitpun. Bahkan resepsionis dan penjaga tempat itu tidak menghentikan langkahnya saat ia keluar dari gedung menuju ke mobilnya, seakan-akan mereka terkena hipnotis oleh Daniel.


Mobil Daniel langsung menuju ke sebuah gedung yang merupakan markas tempat mereka berdiskusi untuk membahas peperangan besar yang akan mendatang nantinya.


Dalam pikirannya hanya memusnahkan semua musuhnya dan melindungi keluarganya dari orang-orang yang berani menganggu kehidupannya.


"Tidak ada satupun makhluk yang boleh menyentuh keluarga ku!. Bahkan jika tergores sedikit saja, akan ku kejar dia sampai sejauh manapun ia pergi" gumam Daniel geram mencengkram setir mobilnya.


"Green gun, Valkery, apapun nama grup kalian!. Semua akan ku musnahkan kelompok badut seperti itu!. Tidak ada lagi rasa kasian untuk kelompok-kelompok yang cuma bisa membuat orang lain merasa terancam dan tidak nyaman. Semua harus musnah!!" timpalnya tersenyum psikopat.


Mobil yang di kendarai oleh Daniel telah sampai di sebuah gedung besar yang merupakan markas Dark Shadow, dan ternyata baru Daniel yang sampai di tempat itu. Namun dia tidak mempermasalahkan jika pada bawahannya datang terlambat karena ia juga memberi kabar secara mendadak.


Daniel masuk ke dalam gedung tersebut lalu ia langsung duduk di kursinya. Kemudian Daniel mengeluarkan rokok favoritnya dan menghisapnya. Daniel menatap ke langit-langit gedung itu sambil membuang uap rokoknya secara kasar.


Ia termenung menatap langit-langit ruangan miliknya. Daniel terus berfikir tentang keluarganya, lalu ia tersenyum saat mengingat wajah istri dan anaknya yang tersenyum terhadapnya.


"Ayah berjanji akan terus melindungi kalian. Tidak akan pernah Ayah biarkan senyuman itu menghilang dari wajah kalian" gumam Daniel masih terus menatap ke arah langit-langit.


Tak lama kemudian Rian dan Adik-adiknya Daniel sampai di markas mereka. Namun Daniel masih termenung. Rian mendekati Daniel lalu menyentuh pundak sang Adik hingga berhasil membuat Daniel tersadar dari lamunannya.


"Eh, Kak" sapa Daniel tersadar dari lamunannya.


"Kenapa kamu melamun?" tanya Rian khawatir.


"Diskusi siang tadi gagal Kak" jawab Daniel bersandar pada kursinya.


"Gagal?. Maksudnya pemimpin grup Valkery tidak ingin berdamai?" tanya Fauzi dan di anggukan oleh Daniel.


"Baguslah jika grup band sampah itu tidak ingin berdamai, aku bisa dengan leluasa untuk membalaskan dendam Kakakku" sambung Wulan tersenyum aneh.


"Apa aku sekarang ini sudah terlalu lemah ya?" ucap Daniel bertanya-tanya.


"Bukan Kakak yang melemah, tapi musuh kita yang belum pernah merasakan ketakutan ketika berhadapan dengan Kakak" ucap Kevin yang menjawab.


"Kevin benar, kamu tidak melemah Adikku, justru menurutku kamu semakin bertambah kuat setiap harinya. Bahkan jika kami berempat mengeroyok kamu, pasti kami tidak akan sanggup menahan kekuatan yang kamu miliki sekarang ini" ucap Rian serius, sedangkan Daniel hanya termenung.


Disaat mereka berlima sedang berdiskusi, seluruh bawahannya Daniel sampai di markas. Bahkan kelompok yang kemarin mengantarkan Daniel juga ikut dalam pertemuan besar kali ini karena Daniel yang memanggil mereka semua.


Daniel berdiri dari kursinya lalu berjalan ke depan. Kemudian ia bersandar pada mejanya dengan bersilang dada dan menatap ke arah para bawahannya yang memberi hormat padanya.


"Terima kasih banyak karena kalian mau datang ke markas kita" ucap Daniel tersenyum.


"Satu kehormatan bagi kami bisa di undang oleh anda tuan muda" jawab Banba dengan sopan.


"Terima kasih pak tua" ucap Daniel tersenyum.


"Ada apa tuan muda?, ada hal yang sangat penting sampai anda mengumpulkan kami semua?" tanya Yosuke yang merupakan pemimpin dari Blue Fire.


"Aku butuh bantuan kalian semua untuk menyelesaikan masalah ini" jawab Daniel serius menatap seluruh bawahannya.


"Bantuan apa tuan muda?, kami siap pasang badan untuk anda" tanya Mizaki, pemimpin Red Hunter.


"Ini tentang Green gun " jawab Daniel.


"Green gun?. Bukankah kelompok itu sudah kita musnahkan waktu perang besar itu tuan?" tanya Banba terkejut.


"Green gun memang sudah musnah beberapa tahun yang lalu. Tapi ada William yang merupakan putra dari pemimpin Green gun, dia membentuk sebuah kelompok yang bernama Valkery. Merekalah yang ingin mengajukan bendera peperangan pada kita, tidak lebih tepatnya padaku" jawab Daniel menjelaskan.


"Dua hari yang lalu, dia mengutus seseorang untuk melakukan sesuatu padaku. Istriku hampir celaka di buatnya" timpal Daniel menjelaskan inti permasalahannya.


"Kurang ajar!. Berani sekali mereka melakukan hal seperti itu pada nona muda kita!" sambung Takaoka emosi.


"Tuan muda, tolong biarkan aku ikut dalam peperangan ini!. Aku tidak terima ada orang yang berani menyentuh keluarga anda" pinta Takaoka emosi.


"Tujuanku mengumpulkan kalian, adalah ingin meminta bantuan kalian untuk memenangkan peperangan yang mereka minta. Aku tidak akan memaksa kalian semua untuk harus ikut denganku, aku hanya ingin meminta bantuan pada siapapun diantara kalian yang bersedia menemaniku" ucap Daniel menatap serius ke arah bawahannya.


"Kami pasti akan ikut tuan muda, tidak perlu ragu-ragu lagi. Nyawa kami semua milik anda" jawab salah satu dari bawahannya Daniel.


"Benar tuan muda. Kebaikan anda tidak akan pernah mampu kami bayar, bahkan jika di tukarkan dengan nyawa kami sekalipun" sambung yang lainnya.


"Pikiran juga keluarga kalian. Ini peperangan, bukan bertamasya. Aku tidak ingin sampai ada di antara kalian yang harus kehilangan nyawa hanya masalah pribadiku ini" ucap Daniel meyakinkan mereka.


"Masalah anda adalah masalah kami juga tuan. Karena kita ini bukan sebuah organisasi atau kelompok Assassin lagi. Tapi kita ini keluarga" jawab Yosuke.


"Benar!. Tuan muda sendiri yang selalu berkata kalau kita ini saudara, keluarga. Kita harus saling membantu satu sama lain jika ada salah satu di antara kita yang terkena masalah yang tidak bisa di selesaikan seorang diri" sambung Mizaki.


"Bagi kami, anda itu bukan hanya sekedar pemimpin saja. Tanpa anda minta, kami pasti akan membantu anda" ucap Banba menambahkan.


"Terima kasih banyak jika kalian semua bersedia untuk membantuku" jawab Daniel tersenyum bahagia.


"Dan satu lagi. Aku benar-benar minta tolong pada kalian untuk selalu mengawasi serta melindungi keluargaku yang lainnya. Terutama Anak istri serta Adikku" timpal Daniel memohon.


"Tanpa anda minta, kami pasti akan melindungi mereka dari bayang-bayang. Tidak akan kami biarkan satu lalat pun yang berani mendekat" jawab Yosuke serius dan di setujui oleh seluruh orang yang berada di sana.