Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
PERAYAAN


Setelah usai mengumumkan tentang penggantian manager yang baru, Daniel dan Leny kembali ke hotel untuk meminta pada para pekerjanya agar mempersiapkan acara yang di katakan oleh Leny barusan.


"Baiklah, aku dan suamiku harus kembali ke hotel untuk mempersiapkan semuanya, agar kalian bisa menikmati acara nanti malam dengan nikmat" ucap Leny tersenyum sambil memegang pundak Olivia yang ikut tersenyum.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya nona Syahputra" ucap Olivia dan memeluk Leny lagi.


"Tidak masalah Oliv, tidak usah di pikirkan. Ini rezeki dari semua kesabaran dan kehebatan kamu" jawab Leny membalas pelukan Olivia.


Daniel tersenyum melihat istrinya bisa menemukan teman yang baru di negara sakura itu. Ia hanya bisa mendukung apapun yang ingin Leny lakukan selama hal itu positif dan membuat sang istri bahagia.


Namun tiba-tiba mereka di ganggu dengan suara dering ponsel milik Daniel yang terus berdering tanpa henti. Karena merasa risih, Daniel langsung mengecek ponselnya dan melihat siapa yang sudah berani mengganggu waktu bahagianya.


"Joe?" gumam Daniel setelah melihat layar ponselnya.


"Siapa Ayah?" tanya Leny.


"Joe" jawab Daniel dan langsung mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.


"Kon'nichiwa, tomoyo ( halo temanku )" sapa Daniel dengan nada ramah.


"Tidak usah sok manis kapten!" jawab Joe sedikit ketus.


"Hahaha, kenapa kau tiba-tiba marah Pak kepala sekolah?" tanya Daniel tertawa.


"Mau sampai kapan kau menikmati waktu liburanmu?" tanya Joe to the point.


"Memangnya ada apa?" tanya Daniel balik.


"Kau sudah membuat kepalaku pusing karena pertanyaan dari murid-murid kesayanganmu itu, yang terus menanyakan keberadaan mu kapten" jawab Joe mengeluarkan uneg-unegnya.


"Bahkan mereka sampai melakukan keributan yang lebih dari sebelum kau berada di sini!" timpalnya.


"Hahaha. Aku pikir ada masalah besar, ternyata hanya itu saja" ucap Daniel tertawa dan membuat Joe semakin kesal.


"Ayolah kapten. Saat ini jangan bercanda dulu, kau harus segera kembali ke sini" ucap Joe mengeluh.


"Iya-iya, aku akan kembali besok jika semua urusanku telah selesai" jawab Daniel.


"Okey, kau akan ku tunggu besok" ucap Joe dan langsung mematikan panggilannya.


"Cih!. Dasar" decak Daniel dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Ada apa Ayah?" tanya Leny penasaran.


"Joe meminta Ayah untuk segera kembali mengajar" jawab Daniel.


"Lalu?" tanya Leny lagi.


"Mungkin besok Ayah akan kembali mengajar" jawab Daniel menambahkan.


"Yaudah. Tapi jangan ada keributan lagi" ucap Leny mengancam.


"Iya kalau tidak ada yang memulainya" jawab Daniel santai.


Leny dan Daniel langsung pergi menuju ke hotel untuk mempersiapkan acara nanti malam. Para karyawannya juga kembali bekerja dengan rasa semangat yang semakin tinggi karena mereka sudah memiliki manager yang baru dan sangat peduli pada rekan kerjanya.


Meskipun Olivia sudah resmi menjadi manager yang baru, akan tetapi tidak pernah menurutkan rasa semangat dan jujurnya dalam bekerja. Ia tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan dari teman barunya itu yang merupakan seorang wanita yang sangat baik hati dan ia menganggapnya sebagai penyelamat hidupnya yang telah menderita sejak kedua orang tuanya berpisah.


"Bu manager, anda sudah menjadi atasan kami. Tapi kenapa anda malah mengerjakan hal yang seharusnya kami kerjakan?" tanya Fazrul salah satu karyawannya.


"Selagi aku masih bisa menyelesaikannya sendiri, aku tidak akan merepotkan kalian" jawab Olivia tersenyum.


"Tidak usah meminta izin kalau ingin mengambil pekerjaan dari Ibu manager kita Fazrul" ucap Cindy yang merupakan sahabat dari Olivia langsung merebut proposal yang sedang di kerjakan oleh Olivia.


"Cindy... Itukan belum selesai, kenapa kamu langsung merebutnya" tanya Olivia cemberut.


"Ibu manager Olivia tersayang. Ibu itu atasan kami, jadi ini semua bukan pekerjaan Ibu manager lagi" jawab Cindy mencubit pipi Olivia.


"Tapi itu tanggung loh" ucap Olivia mengeluh dan mencoba merebut map yang sedang ada pada tangan Cindy.


"No, no, no" jawab Cindy menggeleng.


"Jadi apa yang harus aku kerjakan coba?, jika semua pekerjaanku kalian rebut semua" keluh Olivia cemberut menyandarkan tubuhnya pada kursi miliknya sambil bersilang dada.


"Anda bisa berdiri dan mengawasi pekerjaan kami saja" jawab Cindy tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Olivia yang masih cemberut karena pekerjaannya di ambil oleh sahabatnya itu.


"Ibu, Adik-adikku. Sekarang Kakak sudah naik jabatan Bu, kita bisa hidup lebih layak lagi" batin Olivia tersenyum sedih.


"Terima kasih Leny, kamu pahlawanku" timpalnya menitihkan air mata bahagianya.


Kini Leny dan Daniel sudah berada di hotel mereka. Leny langsung meminta pada Pak Haris untuk mempersiapkan semua yang sudah ia katakan pada karyawannya pagi tadi.


Dengan semangat Pak Haris langsung mengerjakan tugas yang diberikan oleh Leny. Ia memerintahkan pada bawahannya untuk mendekor hotel itu dengan sangat indah dan memasak makanan-makanan yang istimewa untuk merayakan Olivia yang Leny angkat menjadi manager di hotelnya.


"Kita tidak boleh membuat nona muda kita malu, dan jangan sampai mengecewakan tamu-tamu yang beliau undang" ucap Haris memberi peringatan.


"Baik Pak!" jawab para bawahannya tegas.


Leny yang merasa membosankan jika terus berada di dalam kamar. Ia memutuskan untuk ikut membantu para koki hotelnya yang sedang memasak di dapur. Kedatangan Leny ke dapur membuat mereka semua terkejut dan langsung memberi hormat pada sang nona muda.


"Ma..maaf nona muda, kenapa anda malah berada di tempat kotor ini?" tanya si kepala koki terkejut.


"Aku merasa sangat bosan jika harus berdiam diri terus di dalam kamar" jawab Leny dan langsung mengambil pisau untuk ia gunakan memotong daging.


"Tidak usah nona muda, biar kami saja" ucap salah satu dari koki wanita.


"Sudah tidak apa-apa, biarkan aku juga ikut membantu. Karena salah satu tamu yang aku undang itu adalah sahabatku. Jadi, aku ingin memberikan masakan yang sangat spesial untuknya" jawab Leny tersenyum.


"Ta..ta..tapi kami takut tuan muda akan marah" ucap wanita itu gugup.


"Kamu tenang saja. Dia tidak akan melakukan hal itu pada kalian, aku yang akan menjaminnya" jawab Leny tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.


"Di cari-cari kemana rupanya di sini" ucap seorang pria dan membuat para pekerja dapur langsung terkejut ketakutan. Sedangkan Leny masih asik mengerjakan pekerjaan dapurnya.


"Tu...tu...tuan muda" ucap si kepala koki ketakutan karena keberadaan Leny di dapur dan melakukan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan.


"Kenapa kamu terlihat seperti ketakutan begitu?" tanya Daniel.


"Maafkan kami tuan, kami tidak berhasil melarang nona muda melakukan itu" jawab si kepala koki yang takut kalau mereka akan mendapatkan amukan dari Daniel.


"Tenang saja. Aku tau istriku ini" ucap Daniel tersenyum sambil mengelus kepala Leny yang masih sibuk mengiris bumbu dapur lainnya.


"Kalian tidak perlu takut, karena ini bukan salah kalian. Lebih baik biarkan dia yang memasak dan kalian menjadi asistennya untuk hari ini" timpal Daniel.


"Tapi, ini akan sangat melelahkan untuk nona muda" ucap kepala koki khawatir.


"Jangan khawatirkan aku" ucap Leny tanpa menoleh karena ia sibuk dengan talenan dan pisaunya.


"Sebaiknya kalian turuti saja perintah dari pemilik tempat ini" timpalnya.


"Ba...baik nona" jawab mereka semua dan langsung membantu Leny untuk menyimpan sajian makan malam untuk para tamu-tamu spesialnya Leny.