Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
TAMU SPESIAL


Daniel dan Takaoka berjalan menuju ke ruangan guru. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua nampaknya sudah semakin akrab dengan adanya candaan di antara mereka berdua. Daniel selalu mengatakan pada Takaoka untuk tidak perlu merasa sungkan jika berada bersamanya, dia juga berpesan agar menganggap mereka adalah sebagai seorang sahabat bukan atasan dengan bawahan. Takaoka hanya bisa menurut dan berusaha agar tidak merasa canggung jika berada di dekan Daniel.


Orang-orang yang melihat kedekatan antara Takaoka dengan Daniel merasa senang namun ada juga yang merasa penasaran karena sehari yang lalu mereka berdua sedang mengalami masalah yang sangat serius dan Takaoka menatap Daniel dengan tatapan penuh rasa kebencian, namun pada hari ini semua tatapan itu berubah 180 derajat karena Takaoka menatap Daniel dengan tatapan kagum dan penuh rasa hormat.


Di tengah perjalanan menuju ke ruangan guru, tiba-tiba Daniel di hampiri oleh dua siswi dan mereka berdua langsung memberikan sebuah bekal makanan untuk sarapan paginya Daniel.


"Selamat pagi Daniel Sensei" sapa salah satu dari siswi itu gugup.


"Pagi" jawab Daniel tersenyum dan Takaoka juga ikut tersenyum.


"Pa..pa.. pagi Takaoka Sensei" sapa kedua siswi itu merasa gugup bercampur rasa takut karena kedua siswi itu begitu mengenali sosok Takaoka dengan julukan guru yang sangat kejam.


"Pagi" jawab Takaoka tersenyum tulus namun justru malah membuat mereka berdua semakin ketakutan karena melihat senyuman dari Takaoka.


"Tidak apa-apa, jangan takut seperti itu" ucap Daniel mencoba menenangkan kedua siswi tersebut.


Melihat raut wajah dari kedua siswi yang menggambarkan seperti ketakutan melihat Takaoka, membuat Takaoka merasa bersalah dan sedih. Namun itu semua juga akibat dari perbuatannya juga karena menjadi sosok guru yang begitu kejam terhadap murid-murid yang bersekolah di tempat itu. Daniel yang sadar akan keadaan, ia langsung mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan maksud dari kedatangan kedua siswi cantik itu.


"Lalu, apa yang ingin kalian sampaikan hingga menghentikan kami?" tanya Daniel.


"I..i..ini Sensei, mohon di terima" jawab kedua siswi itu memberikan dua buah kotak makanan dengan wajah yang menunduk malu.


"Apa ini?" tanya Daniel sedikit bingung.


"I..ini untuk sarapannya Sensei" jawab salah satu dari mereka yang masih menunduk.


"Kenapa kalian sampai repot-repot membuatkan ini untuk saya?" tanya Daniel merasa tidak enak.


Mereka berdua langsung mendongak dan menjawab secara serentak "Tidak kok Sensei. Kami merasa tidak kerepotan".


"Mohon di terima Sensei" ucap mereka penuh harap.


Daniel terus melihat wajah dari kedua siswi itu yang terus memasang wajah imutnya hingga membuat hati Daniel luluh juga dan mau tak mau Daniel harus menerima pemberian dari kedua siswi cantik itu.


Daniel menghela nafasnya lalu tersenyum lalu ia berkata "Ya, baiklah-baiklah".


"Lain kali jangan seperti ini ya. Saya tak mau membuat kalian berdua kerepotan" timpal Daniel sambil menepuk-nepuk kepala dari kedua siswi tersebut.


"Tapi. Kalau kami tidak merasa kerepotan, berarti kami berdua boleh memberikan ini untuk Sensei setiap hari dong?" tanya salah satu dari siswi itu tersenyum bahagia.


Daniel hanya menggeleng saja lalu ia menjawab "Terserah kalian". kemudian kedua siswi itu langsung pamit pada Daniel dengan raut wajah yang penuh rasa gembira karena Daniel mau menerima pemberian dari mereka.


Daniel melihat Takaoka yang tengah termenung. Ia tau kalau rekannya itu tengah merasa bersalah atas perbuatannya selama ini. Dia sadar kalau cara ia mengajar selama ini memang benar-benar cara yang salah dan begitu tidak manusiawi sampai membuat para siswa-siswi bahkan guru-guru merasa takut jika berada atau berhadapan dengan dirinya.


"Iya tuan muda, anda benar. Saya tidak boleh menyerah dan akan terus mencoba untuk meyakinkan mereka kalau Saya ini bukan Takaoka yang keji seperti dulu" jawab Takaoka tersenyum semangat.


"Yaudah Ayo kita harus kembali ke ruangan" ajak Daniel sambil menepuk pundak Takaoka dan di balas dengan senyuman oleh Takaoka.


Daniel dan Takaoka kembali melanjutkan perjalanan mereka berdua untuk segera menuju ke ruangan guru mengingat sebentar lagi mereka akan segera mengajar di kelas masing-masing. Ini juga menjadi kesempatan bagi Takaoka untuk menunjukkan kalau ia bisa berbuah menjadi guru yang baik seperti guru idola yang berada di sebelahnya.


Sesampainya mereka berdua di ruangan guru, Joe langsung menyambut Daniel dengan sifat kekanak-kanakan dari mereka berdua dan mereka semua yang berada di dalam ruangan itu sudah terbiasa dengan sifat mereka berdua.


"Wah kau kemana saja Daniel Sensei" sapa Joe dan berusaha ingin memeluk Daniel seakan-akan sudah tak lama bertemu.


Namun Daniel langsung mendorong tubuh Joe yang ingin memeluk dirinya karena merasa sedikit risih dengan sifat Joe yang membuat malu.


"Ayolah kapten, aku sangat merindukanmu" rengek Joe dan masih tetap ingin memeluk Daniel. Akan tetapi Daniel malah menepuk jidat Joe lalu menoyor jidat Joe.


"Tidak usah lebay, geli tau. Istriku saja tidak sampai sepertimu" tegur Daniel sambil memiting leher Joe dan mereka berdua tertawa bersama.


"Hahaha, ampun Sensei" ucap Joe tertawa dan rekan guru yang lainnya hanya tertawa sambil menggeleng saja.


Kini Daniel dan guru-guru yang lainnya sudah berada di kelas masing-masing sesuai jam mata pelajaran mereka. Takaoka juga sedang mengajar dan kali ini ia mendapat kelasnya Hiroto yang merupakan murid-muridnya Daniel. Ini menjadi kesempatan untuk Takaoka karena ia ingin meminta maaf pada seluruh murid yang berada di kelasnya Daniel.


Setelah berada di dalam kelas, mereka semua langsung terdiam dan tak mau memandang wajah Takaoka yang berada di depan mereka. Namun Takaoka terus mengingat nasehat dari Daniel kalau ia tidak boleh menyerah dan terus meyakinkan semua orang kalau dia sudah berubah.


"Ano.. Semuanya, saya ingin meminta maaf pada kalian semua atas semua perbuatan saya selama ini" ucap Takaoka membungkukkan tubuhnya di hadapan Hiroto dan murid yang lainnya.


Hiroto serta para murid-murid yang lain langsung terkejut melihat sosok guru yang begitu kejam tiba-tiba membungkukkan badannya dan terus memohon maaf padanya. Suasana di dalam kelas pun berubah menjadi canggung dan hening dengan Takaoka yang masih terus membungkuk. Daniel hanya tersenyum melihat ketulusan dari perubahannya Takaoka terhadap murid-muridnya di balik pintu.


Daniel melihat arloji miliknya, ia tersenyum karena waktu juga sudah menunjukkan untuk pulang. Jadi ia memutuskan kembali ke hotel karena ada istri dan anaknya yang sudah menunggu kepulangannya.


Daniel mengemudikan mobilnya dengan sangat santai menuju ke hotel miliknya. Karena situasi jalanan tidak terlalu ramai, jadi tidak ada kemacetan yang harus menahan dirinya di tengah jalan hingga ia bisa dengan cepat kembali ke hotelnya.


Setelah sampai di hotel, ia langsung menuju ke arah kamar untuk mengobati rasa kangennya pada kedua orang yang sangat ia cintai itu. Namun, ketika ia membuka pintu kamar, Daniel justru tidak menemui keberadaan istri dan putranya di dalam kamar.


Ketika ia ingin mencari keluar, tiba-tiba Pak Haris lewat Daniel pun langsung menghentikan si kepala hotel dan menanyakan keberadaan dari istri dan putranya.


"Tadi saya melihat nona muda sedang berada di restoran hotel bersama yang lainnya. Mereka seperti sedang berkumpul karena ada tamu spesial yang datang. Itu saja sih yang saya tau dari nona muda tuan" jawab Pak Haris menjelaskan.


"Kalau begitu terima kasih Pak" ucap Daniel dan langsung menuju ke restoran hotel.


Daniel semakin mempercepat langkahnya karena ia juga penasaran dengan tamu yang di katakan spesial oleh Pak Haris barusan. Setibanya ia di restoran, dia langsung terkejut karena tamu spesial yang datang itu tidak lain adalah Ayah dan Ibunya.


"Loh?. Ayah dan Ibu?" tanya Daniel terkejut melihat kedua orang tuanya yang tengah bermain dengan putra tampannya itu.