
Di dalam kamar Daniel dan Leny sedang menikmati peperangan mereka di atas ranjang. Ditambah putra mereka tengah tertidur pulas di atas ranjang bayi miliknya, membuat mereka berdua menjadi semakin tenang dan bergairah melakukan peperangan yang mengeluarkan keringat kenikmatan itu.
Suara yang keluar dari mulut Leny menambah rasa semangat untuk Daniel melakukan penyerangan pada setiap inci tubuh indah istrinya itu. Tak ada satupun bagian tubuh yang Daniel lewati. Baginya, hanya Leny yang bisa membuat ia tergila-gila.
"Aku mencintaimu" bisik Daniel.
"Aku lebih mencintaimu" balas Leny dengan wajah yang membuat Daniel semakin bergairah melihatnya.
Dengan sangat lembut Daniel menciumi setiap sudut wajah istrinya, kemudian secara perlahan bibir Daniel sudah menuju ke bibir Leny yang tipis dan sangat lembut ketika bibir mereka saling beradu.
"Ayaaaahhhh...." lirih Leny dan membuat Daniel semakin mempercepat gerakannya hingga membuat Leny semakin tak karuan menerima serangan kenikmatan dari suaminya itu.
Setelah suara yang sangat merdu di telinga Daniel keluar dari mulut Leny, kini Leny langsung terbaring lemas di atas pelukannya Daniel dan Daniel hanya mengelus pundak sang istri yang sudah kehabisan tenaga akibat perbuatannya barusan.
"Bunda udah gak sanggup?" bisik Daniel sambil mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ayah kan belum keluar, jadi Bunda mau sampai Ayah keluar. Kan gak baik kalau melayani suami sampai tidak puas, dosa tau" jawab Leny dengan suara manjanya.
"Mau lanjut?" tanya Daniel menggoda dan Leny hanya mengangguk saja, membuat Daniel tertawa gemas melihat sang istri yang masih memeluk tubuhnya.
Sudah satu jam lebih mereka Bermandikan keringat di atas kasur, dan Leny sudah beberapa kali mencapai puncaknya sedangkan Daniel baru sekali, namun ia merasa tak tega melihat sang istri yang sedari tadi melayani dirinya sampai Leny terbaring lemas di atas ranjang.
"Kita udahan ya Honey" ucap Daniel berbisik di telinga sang istri yang berada di sampingnya sambil memeluk erat tubuh atletisnya Daniel.
"Ayah yakin?, nanti Ayah belum puas. Bunda gak mau berdosa" tanya Leny cemberut sambil menyentuh wajah sang suami.
"Ayah puaaassss... banget Honey" jawab Daniel tersenyum kemudian ia mencium kening istrinya itu.
"Yakin?" tanya Leny memastikan dan di anggukan oleh Daniel.
Setelah menerima jawaban yang melegakan hatinya, lalu Leny meminta Daniel untuk terus memeluknya hingga mereka tertidur pulas tanpa adanya sehelai benang pun yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Mereka berdua tertidur sampai sore dan Daniel terbangun karena mendengar suara Damin yang mengoceh layaknya seorang bayi yang tengah bermain. Daniel terduduk di atas ranjangnya dan melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore waktu Jepang. Kemudian ia melihat ke arah ranjang sang putra dan ia melihat putranya sudah terduduk di ranjangnya sambil tersenyum menatap Daniel dengan menampakkan beberapa gigi yang baru tumbuh.
"Yayah" panggil Damin dan Daniel tersenyum menatap putranya yang memanggil dirinya.
Daniel masih terduduk beberapa saat di atas ranjang seakan mengumpulkan nyawa karena ia juga baru terbangun dari tidurnya akibat peperangan yang mereka lakukan siang tadi. Setelah beberapa saat ia bangkit dari ranjang dan mendatangi putranya yang semakin tersenyum melihat sang Ayah yang mendekati dirinya.
"Anak Ayah udah bangun dari tadi ya?" tanya Daniel sambil menggendong putranya dan mencium pipi Damin.
"Ayahhh...." lirih Leny dengan suara khas seperti baru bangun tidur.
Leny menepuk-nepuk kasur di sebelahnya dan menyadari kalau tubuh Daniel sudah tak ada di sampingnya. Lalu perlahan ia membuka matanya setelah kedua matanya terbuka, ia langsung mencari keberadaan sang suami yang sudah hilang dari samping ia tertidur tadi.
"Ayaaaahhhh!" panggil Leny dengan suara lemas karena baru bangun.
"Ada apa Honey?, Ayah di sini" jawab Daniel sambil menggendong putranya.
Mendengar suara barusan, Leny langsung terduduk dengan mata yang masih sayu menatap kedepannya dimana ada dua lelaki tampan yang menatap dirinya dengan rambut berantakan.
"Hmm.. Anak Bunda udah bangun rupanya" ucap Leny sambil menguap.
"Ayah gak tega Honey" jawab Daniel sambil mengelap wajah Damin yang tengah asik bermain ludahnya sendiri.
"Lagian Ayah juga baru bangun gara-gara mendengar suara si kecil ini" timpal Daniel menimang Damin.
"Huaaammmm" Leny menguap.
"Kalau Bunda masih ngantuk, yaudah tidur aja lagi. Ayah sama Damin mau mandi dulu" ucap Daniel.
"Bunda ikut" ucap Leny dengan suara masih lelah.
"Bunda juga mau mandi bareng suami dan anak Bunda" timpal Leny sambil berdiri dari ranjangnya lalu menuju ke sang suami yang tengah menggendong putra mereka.
"Ndaaa.." panggil Damin terkekeh-kekeh.
"Ayah.... Gendong" rengek Leny sambil memeluk Daniel yang tengah menggendong putra mereka.
"Ayah kan lagi gendong Damin, gimana Ayah mau gendong Bunda?" tanya Daniel sambil memeluk Leny juga.
"Gendoonggg" rengek Leny seperti bayi kecil.
Daniel tersenyum dan menghela nafasnya lalu ia berkata "Iya-iya" kemudian Daniel mengangkat tubuh Leny dengan tangan kanan lalu Damin berada di tangan kiri.
Kini Leny dan Damin berada di gendongannya Daniel dengan Leny di gendongan bagian kanan, sedangkan Damin berada di bagian kirinya Daniel.
"Bayi raksasa ku" ucap Daniel sambil mencium pipi Leny dan pipinya Damin secara bergantian.
Kemudian Leny merangkul leher Daniel dan kakinya juga ia lingkarkan ke pinggang sang suami lalu ia juga ikut membalas ciuman dari Damin setelah itu ia membenamkan wajahnya di leher Daniel.
Daniel berjalan menuju ke kamar mandi dengan posisi masih menggendong istri serta putranya dengan raut wajah nampak biasa saja tanpa rasa berat sedikitpun meskipun ia menggendong Leny dengan sebelah tangan.
"Bunda, buka pintu kamar mandinya dong, tangan Ayah gak bisa" ucap Daniel dan Leny langsung membuka handle pintu kamar mandinya.
Sesampainya mereka di dalam kamar mandi, dengan perlahan Daniel menurunkan istri dan putranya di dalam bathtub lalu tak lupa ia melumuri tubuh mereka berdua dengan sebuah sabun kemudian Daniel menyalakan kran air hangat dan ia langsung ikut berendam bersama istri serta putra kecilnya itu dengan posisi Daniel duduk di paling belakang sambil memangku Leny yang memangku Damin.
Terlihat Damin yang begitu bahagia berada dalam pelukan kedua orang tuanya. Leny juga nampak bahagia karena ia memiliki seorang suami dan putra yang sangat mencintai dirinya.
"Makasih ya Ayah" ucap Leny tersenyum sambil mengelus-elus tubuh Damin dengan air hangat berbusa itu.
"Makasih buat apa Honey?" tanya Daniel yang sedang mengelus punggung belakang istrinya menggunakan sabun.
"Karena Ayah sudah menjadi suaminya Bunda dan Ayah juga menjadi sosok suami yang begitu menyayangi Bunda sama Damin" jawab Leny tersenyum melirik ke arah belakang.
Daniel ikut tersenyum, lalu tanpa menjawab ia langsung menyambar bibir indah istrinya dan Leny juga membalas ciuman tersebut dengan mata tertutup seakan menikmati perlakuan lembut penuh kasih sayang dari suaminya.
Karena terlalu asik mereka berdua, sampai-sampai Damin menepuk-nepuk air sampai mengagetkan Daniel dan Leny yang sedang menikmati bibir satu sama lain hingga memaksa mereka menyudahi permainan tersebut karena Damin menggangu mereka.
"Aduh, maaf ya sayang. Bunda lupa kalau ada anak Bunda yang tampan ini" ucap Leny tersenyum sambil mencium bibir putranya.
Tak butuh waktu sampai lama, mereka bertiga menyudahi acara mandi bersama mengingat karena adanya Damin yang ikut mandi bersama mereka, jadi mereka berdua tak ingin berlama-lama berendam, takut sang putra terkena flu.