Suamiku Pemimpin Assassin

Suamiku Pemimpin Assassin
UNDANGAN TERBUKA


Leny sudah bisa tenang karena kelompok yang di pimpin oleh suaminya adalah kelompok yang baik, bukan kelompok penjahat yang menghakimi orang sesuka hati mereka.


Ibu Rani ikut senang melihat menantunya yang mau menerima pekerjaan yang di lakukan oleh Daniel, meskipun pekerjaan itu bisa membahayakan keselamatannya dan juga putranya. Namun Leny percaya kalau suaminya bisa melindungi keluarga kecil mereka.


Setelah sang mertua pergi, Leny mengambil sesuatu yang ia beli di mall siang tadi. Terlihat raut wajah yang penuh dengan rasa gembira ketika ia mengambil sebuah bag yang berisikan beberapa baju yang ia beli tadi.


"Oh iya suamiku. Tadi kan Bunda ke mall di daerah kota Tokyo. Terus waktu Bunda masuk ke toko baju, Bunda membeli baju couple untuk kita bertiga" ucap Leny sambil mengambil baju yang ada di dalam bag belanjaannya.


"Tada..." timpalnya tersenyum menunjukkan 3 buah baju pada sang suami.


"Ko..kok pink sih Honey?" tanya Daniel sedikit terkejut.


"Kan biar lucu suamiku, pasti Damin sama Ayah jadi makin tampan deh" jawab Leny tersenyum bahagia.


"Huufftt" Daniel menghela nafasnya.


"Ayah gak suka ya?" tanya Leny cemberut seakan merasa kecewa.


"Enggak kok Honey, Ayah suka kok, suka banget" jawab Daniel sedikit panik karena melihat wajah sang istri yang terlihat sedih.


"Bohong" ucap Leny cemberut.


"Beneran dong" jawab Daniel dan langsung mengambil baju berwarna pink dari tangan Leny lalu ia langsung memakainya.


"Iya lucu banget, Ayah terlihat lebih muda" timpal Daniel tersenyum dan Leny langsung memeluk Daniel.


"Maafin Ayah ya Honey, udah buat Bunda sedih" ucap Daniel mengelus kepala Leny yang masih memeluknya dan Leny hanya mengangguk saja.


"Bunda sama Damin nanti bakal pakai bajunya, jadi kita bakal couple bertiga" ucap Leny mendongak menatap sang suami yang tersenyum padanya kemudian Daniel mencium kening Leny lalu mereka saling berpelukan lagi.


"Yaudah, ayo kita mandi bertiga" ajak Daniel dan Leny mengangguk lalu menggendong Damin yang tengah duduk di ranjangnya sambil melihat kemesraan dari kedua orang tuanya. Kemudian mereka bertiga menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Disisi lain Kevin yang tengah sibuk dengan laptopnya di dalam kamar untuk mencari seluruh informasi tentang William dan grup Valkery karena sewaktu di markas, ia belum menuntaskan pekerjaannya. Tiba-tiba ia terkejut saat ada sebuah email masuk ke dalam email miliknya. Ketika ia tau siapa pengirim email tersebut, ia langsung tersenyum sinis.


"Ternyata sampah ini berani juga ya. Sepertinya dia bukan sampah biasa, kami harus sedikit waspada" gumam Kevin tersenyum sinis sambil melihat isi dari email tersebut.


"Kau akan ku urus nanti" timpalnya dan ia langsung melanjutkan pekerjaannya kembali.


Pukul 19.15 waktu setempat. Keluarga Daniel sudah berada di restoran hotel untuk segera menikmati makan malam secara bersama-sama. Namun mereka masih menunggu kedatangan Daniel dan Leny agar mereka semua bisa makan malam bersama.


Ketiga mereka bertiga tiba, keluarga Daniel sedikit terkejut melihat penampilan Daniel dan keluarga kecilnya yang menggunakan pakaian yang kompak. Namun yang membuat mereka semakin terkejut ketika melihat pemimpin Dark Shadow itu yang menggunakan baju berwarna pink.


"Apa aku tidak salah lihat?" tanya Fauzi terkejut melihat Daniel dari atas sampai bawah.


"Seorang pria gagah dan yang terkuat di antara kita menggunakan baju berwarna pink?" timpalnya tertawa mengejek sang Kakak.


"Papa!" tegur Angel sambil mencubit pinggang Fauzi dan berhasil membuat pria itu mengadu kesakitan.


"Sakit Ma" rengek Fauzi.


"Habisnya Papa tidak sopan. Masa sama Kakaknya seperti itu" jawab Angel geram menatap sang suami, sedangkan yang di tatap hanya tersenyum kikuk dan yang lainnya hanya bisa menggeleng melihat tingkah dari Fauzi.


"Hahaha, tidak masalah. Suami kamu memang seperti itu, maklumi saja" jawab Daniel tertawa sambil mengelus kepala Fauzi dengan gemas.


"Biarin saja, nanti bakal Kakak belikan kamu baju daster lalu bakal kami pakaian ke kamu" sambung Leny dan mereka semua tertawa mendengar celotehan dari Leny barusan.


"Ampun Kak, gak lagi deh" jawab Fauzi memasang wajah memelas.


"Hahahaha" mereka semua semakin tertawa melihat wajahnya Fauzi.


"Cucu Nenek tampan sekali" ucap Ibu Rani tersenyum gemas melihat outfit yang di kenakan oleh Damin.


Leny mendadani putranya dengan setelan pakaian yang sama dengan dirinya dan sang suami namun tak lupa juga Leny memakaikan sebuah topi secara terbalik, sehingga membuat bayi tampan itu semakin menggemaskan.


"Iya, tampan sekali Anak Mama dengan setelah pakaian seperti itu" sambung Ayu menatap Damin dengan begitu gemasnya.


"Sudah, ayo-ayo kita makan. Ayah sudah lapar" sela Ayah Leo memotong dan mereka tertawa bersama setelah mendengar perkataan Leo barusan.


Daniel dan keluarganya menikmati makan malam bersama dengan suasana bahagia tanpa ada rasa kepikiran terhadap masalah yang sedang mereka alami. Daniel juga terlihat tidak memperdulikan William yang telah mengancam dirinya. Karena baginya hanya membuang waktu saja jika terus memikirkan anak kemarin sore baginya.


Damin menjadi pusat perhatian oleh para keluarganya, terutama pada Ayu dan Ibu Rani yang sedari tadi terus bermain dengan bayi tampan itu.


Setelah selesai makan malam, Kevin mengajak Daniel dan para pria untuk mengobrol secara serius. Sedangkan Leny dan sang mertua yang mengerti tentang masalah itu langsung mengajak para wanita untuk bermain bersama putra tampannya agar diskusi para lelaki bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya gangguan dari mereka.


Setelah para wanita pergi, barulah Kevin memulai obrolan tentang email yang ia dapatkan sore tadi.


"Tadi aku mendapatkan sebuah email dari sampah itu Kak" ucap Kevin menatap Daniel dengan serius.


"Sepertinya kita tidak bisa terlalu meremehkan anak itu" timpalnya menatap yang lainnya.


"Apa isinya?" tanya Daniel penasaran.


Kevin mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan isi yang ada di dalam email miliknya kepada sang Kakak.


"Halo pengecut!. Bagaimana? sudah siap untuk menerima kekalahan?. Jika kau memang seorang pria yang memiliki julukan Akai raion, temui ******aku tiga hari dari undangan ini aku kirimkan******, di gunung iwafune. Kita akan berperang di sana. Jangan jadi pengecut!, jika kau seorang lelaki, datang ke tempat tersebut. Jika kau dan kelompok mu tidak datang, jangan salahkan aku jika banyak orang-orang terkasih mu yang akan menjadi korban atas ketakutan mu itu " isi pesan dari William.


Daniel mengeratkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya setelah membaca isi pesan tersebut. Ia langsung menunjukkan wajah kejamnya sambil tersenyum aneh sehingga mereka yang melihatnya hanya bisa menelan ludahnya secara kasar. Sedangkan Ayah Leo hanya menghela nafasnya melihat wajah sang putra yang berbuah menjadi seperti itu.


"Tahan emosimu, jangan terpancing oleh isi pesan itu. Kita harus berpikir dengan jernih agar grup Valkery itu bisa kita musnahkan seperti Gren gun beberapa tahun yang lalu" tegur Ayah Leo menepuk kepala Daniel.


"Di sana akan menjadi kuburan mu sampah!" ucap Daniel geram mengepalkan kedua tangannya.


"Haaa... Sudah lama aku tidak berolahraga" sambung Fauzi merenggangkan kedua tangannya ke atas.


"Jangan merengek mohon ampun jika sudah terpojok nanti ya" ucap Rian tersenyum sinis menatap ke arah luar.


Mereka semua menjadi tidak sabar menunggu hari peperangan itu tiba. Sedangkan Ayah Leo cuma bisa menggeleng melihat wajah para putranya yang menggambarkan akan kehausan sebuah darah.


"Jika memang harus perang, maka kita tidak boleh sampai kalah. Tunjukkan pada mereka siapa Dark Shadow yang sebenarnya, agar tidak ada lagi orang-orang bodoh yang membuang nyawa mereka secara sia-sia" ucap Ayah Leo menasehati para anak muda tersebut.